Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Reno VS Ayah Adeeva


__ADS_3


...Aku tak bisa memaksa kehendak pada wanita yang kucintai. Biarkan dia berdamai dengan masa lalunya hingga mau memaafkan pelaku perusak mentalnya sendiri....


...~Reno Akmal alfayyadh...


...🌴🌴🌴...


"Bener-bener kalian berdua, laknat!" seru Reno mendengus.


"Hee, kalo gue gak balik. Lo nikah juga bakal ditunda," sindir Bara pada sahabatnya itu. "Apa gue berangkat lagi aja?" 


"Coba aja kalau Lo berani. Gue acak-acak tu perusahaan!" 


"Kalau perusahaan gue bangkrut. Lo juga yang kesusahan, 'kan?" ledek Bara yang membuat tangan Reno terkepal.


Dia kalah telak. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya memang benar. Jika perusahaan Bara runtuh. Ia akan bekerja apa?


Hasil kerjanya sebagai sekretaris sekaligus tangan kanan Bara membuat gajinya sangat tinggi. Mencukupi kebutuhan Adeeva saja, tanpa gadis itu bekerja sudah sangat cukup.


"Udah, Sayang. Ngalah aja," kata Adeeva mengusap punggung kekasihnya. 


Dia hanya bisa menahan tawanya saat perdebatan itu dimenangkan oleh Bara. Perdebatan khas orang dewasa yang saling bersahabat sangat amat berbeda. 


Tak ada pertengkaran yang lama. Tak ada perdebatan yang nyata. Mereka hanya saling menyindir untuk bahan candaan di antara keduanya.


Akhirnya mereka mulai memasuki mobil milik Reno. Bara duduk di samping pria itu. Sedangkan Almeera dan Adeeva duduk di bagian tengah. Lalu anak-anak duduk di kursi belakang dengan tangan yang mulai asyik memainkan ipad.


"Apa Reno sudah menemui Ayahmu, Va?" tanya Almeera pada sahabatnya.


Adeeva menghela nafas pelan. Perlahan dia mulai menceritakan apa yang terjadi kepadanya dan ibunya selama Almeera liburan. Kenyataan yang langsung diberikan Tes DNA oleh Reno. Hingga cerita ibunya yang membuat Adeeva tak tahu harus merasa senang atau bahagia. 


"Aku terlahir dari hasil pemerkosaan, Ra. Kakek dan nenek dari ayahku yang tahu semuanya tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Mereka dipanggil terlebih dahulu," kata Adeeva bercerita.


"Jadi kamu menikah tidak perlu…" 


"Ya. Nasabku ya ibuku dan aku tak berhak dinikahkan oleh ayah kandungku sendiri," lirihnya sambil menunduk.


Almeera mengusap kepala sahabatnya dengan pelan. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Adeeva saat ini.

__ADS_1


Wanita itu hanya butuh dukungan semangat. Adeeva sedang mengalami masa untuk menerima semua takdir yang sudah diberikan kepadanya. Memang bukan hal mudah tapi semua itu bisa dilalui dengan pelan-pelan.


"Jadi, Reno bisa menikahi Adeeva kapanpun?" tanya Bara setelah keheningan menyapa mereka. 


"Iya. Apalagi Ibu sudah memberikan restu," sahut Adeeva mengangguk.


Bara menoleh menatap sahabatnya yang sedang fokus menyetir. Dia menepuk pundak Reno dengan kuat yang membuat pria itu menoleh sejenak.


"Keputusan semuanya ada di tangan Lo, Ren." 


"Gue tau." 


...🌴🌴🌴...


Akhirnya disinilah dirinya. Seorang pria tampan dengan pakaian santai menginjakkan kaki di depan sebuah rumah yang dulu pernah ia datangi.


Rumah dimana dia pernah meninggalkan seorang ayah yang sedang bermasalah dengan istri dan putri kandungnya.


Reno, pria itu sudah mengambil keputusan. Bagaimanapun hubungan nasab Adeeva dengan ayah kandungnya. Tetap saja, sebagai seorang kekasih dan calon suami. Reno ingin mendapatkan restu dari calon mertuanya.


Sahabat Bara itu juga sudah yakin bahwa ayah calon istrinya pasti mulai sadar. Lebih tepatnya pasti Ayah Adeeva mulai menyesal dengan apa yang selama ini dia lakukan pada istri dan anak tunggalnya.


Reno menghirup udara segar lebih banyak sebelum melangkah. Dia sudah tak bisa mundur lagi. Dirinya sudah mengambil keputusan.


Keputusan yang dengan sengaja ia lakukan sendiri. Setelah tadi mengantar Bara dan Almeera serta kedua anaknya. Dia juga mengantarkan sang kekasih ke apartemen. Reno beralasan ingin mengerjakan sesuatu yang membuat Adeeva mau ditinggal. 


Pelan, tangan Reno terangkat. Dia mengetuk pintu yang terlihat tertutup rapat. Halaman rumahnya terdapat banyak daun berserakan. Rumah ini sangat tak terawat. Hingga membuat Reno tersenyum miris melihatnya. 


Ternyata ditinggal istri dan anak, membuat kehidupanmu sangat jungkir balik, Ayah, gumam Reno dalam hati. 


Tak lama suara kunci diputar dan dibukanya pintu itu. Muncullah sosok yang dulu sangat ia benci.


"Kamu!" seru Ayah Adeeva terkejut.


Bukan hanya Ayah Adeeva saja. Reno pun sama terkejutnya. Penampilan Ayah Adeeva sangat memprihatinkan.


Tubuh yang dulunya tegap. Sekarang terlihat mengurus. Rahang tegas yang mulus itu terlihat mulai berjambang dan tak terawat. Kantung matanya menghitam menandakan bahwa jam tidur pria paruh baya itu tak benar.


"Bolehkah saya masuk?" tanya Reno memecah keheningan di antara mereka.

__ADS_1


Ayah Adeeva tak menolak. Dia memberikan jalan untuk Reno masuk dan mereka mulai duduk berhadapan.


"Apa kabar?" tanya Reno dengan menatap Ayah Adeeva miris.


"Seperti yang kamu lihat!" kata Ayah Deeva dengan suara lemah.


Reno menelan ludahnya paksa. Dia seakan kesulitan merangkai kata memulai dari mana. Penampilan calon mertuanya benar-benar membuatnya merasa tak tega. 


"Saya datang kesini untuk meminta restu pada Anda," ucap Reno memulai.


Ayah Adeeva yang semula menunduk perlahan mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah pria muda di depannya ini dengan perasaan tak karuan.


"Bagaimanapun hubungan Anda dengan Adeeva. Lalu kenyataan di antara kalian. Anda masih berhak sebagai ayah kandungnya," ujar Reno melanjutkan.


"Aku ayah yang gagal," sahut Ayah Adeeva sambil memalingkan wajahnya. "Bukan gagal lagi. Aku tak berhak dipanggil ayah olehnya." 


Air mata menetes di sudut mata pria paruh baya tersebut. Reno bisa melihat bagaimana penyesalan dalam diri calon mertuanya itu. Bagaimana kesedihan yang pria itu rasakan tentu bukan drama receh yang ditangkap oleh Reno.


"Aku tak memiliki hak untuk memberikan restu kepada putriku. Sejak kecil aku tak pernah merawatnya. Aku tak pernah mengadzani dia saat pertama kali lahir. Aku tak mau menggendongnya bahkan mengajaknya bermain saja aku tak pernah," ucap Ayah Adeeva dengan suara seraknya. "Jadi, untuk apa kau datang kesini?" 


"Untuk meminta restu," kata Reno dengan tegas. "Sejahat apapun Anda, dalam diri Adeeva terdapat darah Anda juga." 


"Hanya darah saja tapi kata maaf, dia tak akan memiliki kata itu untukku." 


Reno menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui perkataan Ayah Adeeva. Untuk kata maaf, entahlah apakah kekasihnya itu mau memaafkan pria di depannya ini atau tidak.


"Tapi bukankah sebenci apapun seorang manusia, mereka akan luluh ketika melihat orang yang dibenci mulai sadar. Mulai berubah dan menunjukkan bahwa mereka menyesali semua hal yang pernah dilakukan." 


Ayah Adeeva menatap Reno lagi. Hatinya seakan tersentuh oleh kata-kata pria muda di depannya ini.  


"Berjuanglah untuk putrimu, Ayah. Aku tau memang sulit. Namun, pasti ada sebagian hati Adeeva yang kosong dan terisi oleh namamu seorang," kata Reno menyemangati. "Bagaimanapun seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya." 


~Bersambung


Bener gak?


Sebenci apapun seorang anak, pasti masih ada hati untuk orang tua mereka.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2