Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Menendang Bara


__ADS_3


...Ketika perempuan sudah tak bergantung lagi padamu, maka bersiaplah untuk kehilangannya....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Tanpa terasa, waktu terus berjalan dengan cepat. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Hari berganti bulan. Sudah 3 bulan lamanya, Almeera bekerja di perusahaannya sendiri, menjadi General Manager dengan bantuan Adeeva sahabatnya sebagai asisten pribadinya.


Awal bekerja bukanlah hal mudah untuk Meera. Dia harus bangun setiap pagi, menyiapkan segala pekerjaan rumah sampai mengantar putranya sekolah. Tak Ada sedikitpun rasa lelah dalam diri Almeera. Dia melakukan semuanya dengan ikhlas dan bahagia. 


Awal-awal karir memang hal yang begitu sulit. Apalagi setelah vakum begitu lama, membuat kinerja otaknya sedikit lebih lambat. Dia butuh sebuah dorongan hingga sahabatnya itulah yang selalu memberikan masukan baik kepadanya. 


Selama bekerja di perusahaan, Almeera banyak dibantu oleh karyawan disana. Mereka semua bahkan bisa dengan mudah di ajak bekerjasama olehnya. Bahkan tindakan mereka semua baik kepada Meera. Entah karena mereka memang berhati baik atau karena dia adalah putri dari pengusaha kaya raya dan pemilik perusahaan ini.


Sungguh semuanya terasa begitu datar dan semu. Seakan semuanya sama dengan hat Meera saat ini. 


Seiring berjalannya waktu. Lambat laun, Almeera mulai melupakan kepahitan hidupnya. Dia mulai melupakan problema poligami yang dijalani oleh dia dan sang suami. Terlalu fokus pada anak dan karir, membuat Almeera mulai melupakan kesedihannya. Kebutuhan materi sudah dia dapatkan. Keuangan dirinya juga sudah mulai stabil. 


Selama tiga bulan ini, saat Bara memberikan gajinya. Almeera selalu menggunakan uang-uang itu untuk kebutuhan kedua anaknya. Dia tak pernah lagi menggunakan uang sang suami untuk kebutuhan pribadinya. Almeera sudah memakai gajinya sendiri untuk merawat diri dan berbelanja sesuka hati.


Selama tiga bulan juga, hampir setiap hari setelah Almeera pulang kerja, dia sempatkan menuju tempat gym ataupun salon. Dia selalu mengunjungi Jim Fitness Center karena pemiliknya adalah kakaknya sendiri atau gym di rumahnya.


Disana juga, dia akan ditemani seorang trainer perempuan. Dia selalu menemani dan mengawasi Almeera selama kegiatannya berlangsung. Mereka juga mengistimewakan Almeera dengan menerima kunjungan wanita saja jika saat ada adik dari pemilik fitnessnya di sana. Jadi, murni di ruangan itu hanya ada kaum perempuan. 


Jangan lupakan, pola makan yang Almeera jaga selama ini membuat bentuk tubuhnya kembali seperti semula. Alhasil, semua pakaian kerjanya, bisa digunakan kembali.


"Ra," panggil Adeeva sebelum memasuki ruang kerja atasannya.


"Masuk!" 


Adeeva berjalan dengan santai dengan dua berkas di tangannya.


"Wah makin hari makin cantik aja," celetuk Adeeva yang membuat Almeera terkekeh. "Kalau kayak gini mah, kamu gak kelihatan seperti ibu dari dua anak, Ra."


"Terus kelihatan apa dong?"


"Kek janda kembang."

__ADS_1


"Astagfirullah tu mulut," sahut Almeera dengan kesal.


Adeeva hanya mampu tertawa. Namun, apa yang dikatakan olehnya jujur dari dalam hati. Almeera benar-benar berubah. Sahabatnya itu semakin terlihat begitu seksi walau pakaiannya tak ketat. Kulitnya kembali cerah dan merona seperti dulu. Bahkan tak ada tanda kerutan atau kusam sedikitpun. Almeera benar-benar berhasil merubah segalanya dalam waktu tiga bulan. 


"Bercanda doang," ujar Adeeva dengan terkekeh. "Mana mungkin Kak Bara ngelepasin istri cantik begini. Buta dia dong!" 


Tapi buktinya dia memang buta, Va. Dia lupa sama aku dan anak-anakku. Dia gak bersyukur punya istri kayak aku. 


Almeera hanya mampu mengatakannya dalam hati. Jujur selama tiga bulan ini, tak pernah dia menceritakan tentang kehidupan pribadinya pada Adeeva. Dia tak pernah mengatakan poligami yang terjadi pada pernikahannya. 


Almeera benar-benar menjaga aib suaminya. Dia menyimpan semuanya sendiri dan tak mengumbarnya pada siapapun.


"Lebih baik kamu keluar, gih! Aku mau tanda tangani berkas sebanyak ini," usir Almeera secara halus. 


Bukan karena apa. Almeera takut sahabatnya itu lebih dalam bertanya tentang pribadinya. Dia takut akan keceplosan dan membuat citra suaminya menjadi buruk. 


Istri idaman bukan? 


Disaat suaminya sudah menyakiti hatinya berkali-kali. Almeera masih dengan baik menutupi semuanya dari orang lain.


...🌴🌴🌴...


Senyum mengambang begitu lebar di bibir Almeera saat melihat berat badannya kembali turun. Lima kilo lemak terhempas dalam tubuhnya dan membuat badan Almeera semakin terlihat seksi. Diet yang dia lakukan, pola makan yang dia jaga, pola tidur yang dia atur. Tentu membuat dirinya semakin lebih baik. 


Tak ada satupun pekerja pria yang boleh masuk ke rumah utama sebelum mendapatkan izin. Itu adalah peraturan karena dulu Bara suka melihat istrinya tanpa jilbab di dalam rumah. Berpenampilan cantik hanya untuknya sebelum badai menerpa keduanya.


Tangan itu dengan lihai bergerak kesana kemari. Membiarkan keringat mulai terlihat di dahinya. Dia hanya ingin segera menyelesaikan masakannya. Tanpa Almeera tahu, sejak tadi ada sepasang mata yang menatapnya tanpa berkedip. 


Ya, dia adalah Gibran Bara Alkahfi. Pria itu benar-benar terpesona dengan penampilan istrinya. Tubuhnya yang semakin cantik, berisi terkesan seksi. Tentu membuat dirinya ingin berdekatan dengan Almeera.


Jujur sudah lama mereka tak berhubungan. Lebih tepatnya sejak dia poligami, Almeera sudah tak mau berhubungan badan dengannya. Bahkan dia sering melampiaskannya pada sabun mandi jika sudah tak bisa dibendung keinginannya pada istri pertamanya itu. 


"Ra." Sebuah suara yang memanggil namanya membuat Almeera tau siapa pemiliknya. 


"Ya?" sahut Almeera tanpa berbalik. 


Dia masih fokus dengan masakannya sampai dia merasakan nafas seseorang berada di lehernya. Dua tangan kekar memeluknya dari belakang. Kepalanya dia cerukan ke leher jenjangnya lalu menyusup masuk mengecup kulit leher Almeera. 


Dia tentu sangat merasakan. Bagaimana bibir itu mengecup lehernya dengan lembut sampai ke bahunya. Hal itu tentu tanpa sadar membuat Almeera mencengkram spatula yang dia pegang dengan erat dan matanya terpejam.

__ADS_1


Ya tuhan. Desiran ini masih tetap sama.


"Mas," seru Almeera bersuara.


Meski awalnya dia terbuai. Bahkan dia begitu merindukan momen bahagia keduanya. Namun, tanpa sadar dalam benak Almeera membayangkan bagaimana jika Bara melakukan hal yang sama pada Narumi.


Wanita itu terbayang-bayang akan sikap manja Bara jika pada adik madunya itu. Bagaimana mereka bergumul sampai tubuh yang hanya miliknya, disentuh oleh orang lain.


"Mas lepas," kata Almeera mengancam.


Bukanya melepas. Bara malah semakin erat memeluknya. Bahkan kecupan itu semakin intens dan membuat Almeera geram bukan main. 


"Kalau kamu gak lepas. Aku tendang!" ancamnya tak main-main.


Jangan anggap aku hanya mengancam Tuan Bara. Aku benar-benar akan menendangmu jika tangan menjijikkan itu terus memelukku.


Bara semakin gencar. Dia beralih menjilat leher Almeera dan semakin membuat kesabaran wanita berdaster itu habis. Dengan sekali gerakan, bugh!


"Ah." Bara mundur beberapa langkah. 


Dia mengerang sambil memegangi perutnya yang teramat sakit. Sikutan Almeera benar-benar menyakitkan. Jangan lupakan, ibu dari dua anak itu pernah mengikuti pencak silat dan taekwondo saat sekolah. 


Mau main-main sama putrinya Bapak Darren. Jangan harap! 


"Sayang. Kenapa kamu…." jeda Bara dengan dahi berkerut menahan sakit di perutnya. 


"Kamu apa, hah?" sela Almeera dengan ketus. "Aku sudah memperingatimu."


"Aku hanya rindu, Ra. Aku ingin memelukmu," balas Bara dengan menahan sakit itu.


"Rindu?"


Cih. Almeera berdecak. Dia mematikan kompornya dan menatap Bara dengan sengit. 


"Kalau kamu rindu, pergi sana ke rumah Narumi! Minta jatah sama istri mudamu itu." 


~Bersambung


Bagos, Mbak. Mantep. Untung masih disikut. Kenapa gak ditendang burungnya, Mbak.

__ADS_1


Aku yakin yang baca bab ini, bahagia haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.


__ADS_2