
...Keadaan yang kujalani saat ini benar-benar membuat pikiranku terbelah menjadi dua. Di satu sisi aku takut kehilangan mamaku dan di sisi yang lain. Aku takut kehilangan sandaranku sekaligus....
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
Keesokan harinya.
Seperti janji Bara kemarin pada Almeera. Pagi ini pasangan suami istri itu akan mengunjungi kediaman salah satu sahabat Almeera. Keduanya ingin mengetahui kabar terbaru tentang Mama Zelia sekaligus kabar Zelia sendiri.
Entah kenapa Almeera merasa sahabatnya saat ini membutuhkan sandaran, membutuhkan penguat di saat tersulit di hidupnya.
Almeera sangat mengenal betul bagaimana kehidupan Zelia. Kedekatan sahabatnya itu dengan sosok mamanya membuatnya yakin jika Zelia pasti sedang sangat bersedih saat ini.
"Mas mau ikut masuk atau langsung ke kantor?" tanya Almeera menatap suaminya yang sedang menyetir.
"Aku terserah kamu, Sayang. Kamu maunya aku tungguin atau kamu hubungi aku, kalau mau pulang," kata Bara sambil.menatap istrinya sekilas.
Almeera terdiam. Dia memikirkan apa saja yang akan ia lakukan di rumah Zelia. Namun, jika bersama suaminya kesana. Mungkin sahabatnya akan merasa sedikit malu dengan keberadaan Bara.Â
"Mas ke kantor aja boleh. Nanti kalau Meera pulang, mas tak kabarin. Gimana?" tanya ibu dua anak itu dengan serius.
"Boleh. Yang terpenting jangan banyak pikiran, oke?"Â
"Siap, Suamiku."Â
Akhirnya mobil Bara sudah sampai di depan gerbang. Melihat sosok kepala Bara yang muncul, membuat satpam di rumah Zelia segera membukakan gerbang.Â
Perlahan kendaraan itu terparkir rapi di halaman rumah Zelia. Almeera segera mengambil tangan suaminya dan menciumnya.Â
"Kamu hati-hati ya, Mas. Kalau sampai kantor, hubungi aku," ujar Almeera posesif.
"Siap, Ratuku. Hamba akan menghubungi Ratu setiap waktu," kata Bara sambil memberikan salam hormat layaknya anak sekolah hormat pada bendera.
Almeera segera turun dari mobil dan melambaikan tangannya mengantar kepergian sang suami. Setelah memastikan mobil Bara tak lagi terlihat, ibu hamil itu segera berjalan menuju pintu rumah sahabatnya.
Kedatangan Almeera tentu langsung disambut baik oleh para pelayan yang mengetahui siapa sosok yang datang ke rumah majikannya. Mereka juga segera memanggil anak majikannya yang sedang berada di kamar.
"Ra."
"Li."
Kedua perempuan itu segera beranjak mendekat dan segera merengkuh satu dengan yang lain. Almeera bisa merasakan bagaimana lemahnya sahabatnya ini. Merasakan tubuh Zelia yang bergetar membuat ibu hamil itu hanya bisa diam sambil mengelus punggung sahabatnya itu.
"Makasih udah mau datang kesini," ujar Zelia yang masih dalam pelukan Almeera.
__ADS_1
Suara isak tangis terdengar membuat Meera semakin tak tega.
"Tak ada kata terima kasih di antara sahabat, Li," ujar Almeera mengingatkan. "Bagaimana keadaan mamamu?"Â
Zelia melepaskan pelukan sahabatnya. Dia menepis air matanya yang mengalir tanpa pamit lalu menghela nafas berat.
"Ayo!" ajak Zelia tanpa mengatakan apapun.
Dua sahabat itu saling berjalan bergandengan tangan. Zelia membawa sahabatnya menuju ke kamar orang tuanya dimana mamanya terbaring lemah disana.
Saat pintu kamar itu dibuka. Pemandangan pertama yang dilihat oleh Almeera membuat perempuan itu menutup mulutnya tak percaya.
Disana, terlihat jelas sosok wanita yang sangat menyayanginya layaknya anaknya sendiri sedang terbaring lemah di atas ranjang. Jarum infus terlihat menusuk punggung tangannya dengan selang infus yang menggantung.
Almeera berjalan mendekati sosok lemah itu dengan mata meneteskan air mata. Dia tak menyangka jika ibu dari sahabatnya ini kondisinya cukup memprihatinkan.
"Mama," panggil Zelia pelan yang duduk di samping mamanya sambil mencium punggung tangannya.
Perlahan mata yang mulanya terpejam mulai terbuka. Mata itu begitu redup hingga membuat hati Almeera merasa teriris.
"Coba lihat! Siapa yang datang," kata Zelia dengan suara seraknya menahan tangisan.
Almeera berjalan mendekat. Dia meraih tangan mama sahabatnya itu lalu menciumnya.
"Assalamualaikum, Tante. Almeera datang," sapa Almeera dengan pelan.
"Tante apa kabar?" kata Almeera sambil meneteskan air mata.
Ibu hamil itu tanpa takut memeluk tubuh kurus ibu sahabatnya. Dia benar-benar menatap penuh iba ke arah perempuan yang begitu ramah kepadanya ini.
"Tante baik-baik saja," sahutnya dengan memaksakan senyum.
"Tante harus sembuh. Almeera kesini membawa kabar baik," ujar Almeera dengan tersenyum.
"Kabar apa, Nak?" tanya Mama Zelia dengan pelan.
Almeera membawa tangan ibu sahabatnya di atas perutnya yang rata. Lalu Almeera menggerakkannya seperti mengelus.
"Disini tumbuh anak Meera, Tante. Almeera sedang hamil," kata istri Bara itu dengan bibir yang tersenyum walau matanya menangis.
"Alhamdulillah," sahut Mama Zelia dengan semakin berusaha membuka matanya. "Tante dapet cucu lagi yah?"Â
Almeera tak bisa menahan isak tangisnya lagi. Dia mencium dahi ibu dari sahabatnya dengan lembut. Hal inilah yang membuat Almeera sangat menyayangi Mama Zelia.
Wanita itu sudah menganggap dirinya seperti putrinya sendiri. Tak pernah membedakan kasih sayangnya dengan Zelia. Apalagi ketika ia datang kesini dengan sejuta masalah. Maka Mama Zelia selalu bisa menjadi pendengar yang baik seperti Mama Tari.
"Jangan menangis. Nanti Cucu-cucu tante bakalan sedih," kata Mama Zelia dengan memejamkan matanya.Â
__ADS_1
Almeera mengangguk. "Almeera gak bakal sedih lagi. Tapi Tante janji harus semangat untuk sembuh yah?"Â
"Pasti, Sayang," ujarnya dengan lemah. "Boleh Tante istirahat?"Â
"Iya. Tante tidurlah. Istirahat yang banyak. Almeera dan Zelia akan menemani Tante disini."Â
Akhirnya tak butuh lama. Terdengar nafas Mama Zelia yang sedikit berat sambil memejamkan matanya. Almeera menatap sahabatnya yang sudah menangis begitu hebat.
Bahkan karena tak kuat menahan isakan. Zelia memilih berjalan menuju balkon kamar mamanya.Â
"Li," panggil Almeera mengusap pundak sahabatnya. "Aku tau kamu pasti sedang terpuruk tapi berusahalah kuat demi mamamu."Â
"Aku sedang berusaha, Ra. Aku berusaha kuat demi mamaku," ujarnya dengan meneteskan air mata.
"Kamu gak sendirian. Ada aku, Zelia dan Kak Jim yang selalu support kamu disini," ujar Almeera menggenggam tangan sahabatnya.
Zelia melepaskan genggaman itu. Dia menepis air matanya lalu menatap ke depan.
"Kak Jim belum menelponku, Ra," ujarnya dengan pelan. "Aku merindukan suaranya. Aku merindukannya dan ingin berbagi cerita."
Almeera membelalakkan mata. Dia tak menyangka jika kakaknya itu belum menghubungi sahabatnya ini.
"Kamu serius?"Â
"Ya. Sepertinya pekerjaan Kak Jim banyak, Ra. Sampai dia tak bisa memberikan kabar."Â
Almeera menggeleng. Dia menarik bahu sahabatnya agar Zelia bisa menatapnya juga.Â
"Aku tau kamu benar-benar dalam keadaan sulit sekarang. Tapi ingat! Jangan semuanya dipikirkan. Pikirkan saja kesehatan mamamu sekarang, okey?"Â
Zelia mengangguk. Dia membenarkan ucapan sahabatnya ini. Untuk saat ini, kondisi mamanya lebih penting dari segala hal. Meski jujur di dasar hatinya, ada sesuatu yang memberontak ingin marah dan berteriak pada kekasihnya yang tak ada kabar.Â
"Apa Kak Jim bosan kepadaku?"Â
Perkataan Zelia yang tiba-tiba keluar dari bibirnya membuat Almeera membeliak.
"Apa maksudmu, Li?"
"Aku takut Kak Jim bosan kepadaku dan dia yang menghilang seperti ini adalah cara agar aku memiliki alasan untuk meninggalkannya."
~Bersambung
Sepertinya aku bakalan kasih part Bang Jim dan Zelia deh. Sebelum bener-bener mereka pindah ke novelnya sendiri.
Jangan minta lebih nanti ya. Kisah Bang Jim sudah ada sinopsisnya okey. Sudah aku atur sebaik mungkin.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya. Aku juga mau bikin banner Give Away ya. Soalnya Bab HTS udah 200 bab yeyy.
__ADS_1