
...Aku tak peduli orang mengatakan bahwa aku bodoh karena menerima pria yang sudah mengkhianati hatiku. Hal utama yang terbaik ketika melihat senyuman kedua anakku saja itu sudah cukup....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Keesokan harinya, Terlihat sepasang suami istri tengah bersiap-siap. Hari ini seperti rencana kemarin, keduanya akan pergi ke psikiater untuk berobat.Â
Almeera tak main-main dalam ucapannya. Dia benar-benar ingin berobat sebaik mungkin dan segera melakukan kewajibannya. Dia tak mau Bara menjadi tak ridho atau tuhan melaknatnya karena sering menolak sang suami.
Namun, Bara tak pernah menyalahkan Almeera sedikitpun. Istrinya itu walau menolak, Bara sangat memahami jika apa yang terjadi karena kesalahannya. Kesalahan di masa lalu yang membuatnya menyakiti hati wanita sebaik Almeera.
"Papa sama Mama mau kemana?" tanya seorang anak perempuan yang baru saja masuk ke kamar keduanya.
Almeera yang saat itu tengah membenarkan jilbabnya lekas menoleh. Dia mengulurkan tangannya agar anaknya segera mendekat.Â
"Papa sama Mama mau keluar sebentar. Bia mau ikut?" tawar Almeera dengan hati-hati.
Anak itu menggeleng. "Bia mau main sama Kakek. Kakek ajak Bia mau tanam sayur-sayuran."Â
"Wahh, seru dong?"Â
"Iya, Mama."Â
Bia, anak berusia lima tahun itu mulai terlihat sembuh dengan traumanya. Baik Almeera, Bara, Darren maupun Mama Tari, berusaha tak membiarkan Bia sendiri. Mereka selalu bergantian mengajak anak itu melakukan kegiatan positif.
Tujuannya apa?
Agar pikiran Bia tak tertuju pada kejadian penculikan itu. Agar Bia juga berani untuk melakukan hal-hal yang berbau dengan kegiatan di luar rumah.
"Baiklah. Nurut sama Kakek yah. Mama sama Papa cuma sebentar," pamitnya lalu mencium dahi anaknya itu.
"Papa juga mau cium, Bia. Masak Mama terus sih," ucap Bara pura-pura merajuk.
Bia tersenyum tipis. Dia segera berjalan ke arah sang papa lalu melingkarkan tangannya di leher Bara.
"Hati-hati, Papa. I love you, cup." Bia menghadiahi sebuah kecupan di pipi Bara yang membuat pria itu tersenyum lebar.
"Tentu, Cantikku. Bia juga hati-hati di rumah."Â
...🌴🌴🌴...
Kedatangan Almeera dan Bara membuat perhatian beberapa orang yang berdiri di depan sebuah rumah tertuju kepada mereka. Psikiater yang keduanya tuju memang salah satu psikiater yang terkenal. Mereka segera berjalan berdampingan menuju pintu rumah yang terlihat terbuka.
Bara segera menekan bel yang ada disana. Tak lama, muncullah seorang perempuan paruh baya dengan wajah teduhnya tersenyum menyambut keduanya.
"Silahkan masuk!" katanya penuh santun.
__ADS_1
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu Anda, Dokter," kata Almeera tak enak hati.
"Itu sudah tugas kami," katanya dengan tersenyum. "Jangan panggil Dokter. Panggil nama saja sudah cukup."
"Tidak, Dokter itu tidak sopan."Â
"Baiklah, panggil dengan panggilan Mbak boleh."
Akhirnya walau merasa canggung, Almeera mengangguk mengikuti perintah wanita itu. Tak mau menunggu semakin lama, psikiater bernama Ida atau sering dipanggil Mbak Ida, segera mengajak Almeera ke sebuah ruangan.
Mereka meninggalkan Bara sendirian di ruang tamu. Almeera kini duduk berhadap-hadapan dengan Mbak Ida. Wajahnya terlihat begitu tegang hingga membuat psikiater itu tersenyum.
"Rilex aja, Bu Meera. Saya tidak menggigit," canda Mbak Ida yang membuat Almeera menghembuskan nafasnya kasar.
"Maaf, Mbak. Saya cuma gugup saja," kata Meera memaksakan tersenyum.
"Gapapa. Rilex, Bu. Tarik nafas dulu dan hembuskan."Â
Almeera benar-benar mengikuti perintah Mbak Ida. Dia menarik nafasnya begitu dalam sampai dirinya sedikit lebih tenang. Pikiran dan tubuhnya sudah tak setegang tadi.Â
Perlahan, Mbak Ida menanyakan permasalahan yang terjadi pada Almeera. Apa yang menjadi ketakutan dalam diri wanita itu.
"Sejujurnya saya benar-benar takut melayani suami saya dalam urusan ranjang setelah permasalahan itu, Mbak," kata Almeera pada akhirnya. "Untuk memaafkan saya sudah ikhlas. Tapi ketika disentuh, bayangan wajah mantan adik madu saya tiba-tiba kebayang."Â
Almeera menyampaikan semuanya tanpa di tutupi. Dia benar-benar ingin sembuh dari traumanya ini. Dirinya ingin keluarganya kembali seperti dulu walau tak bakal bisa utuh.
Why?
Mbak Ida mendengarkan semuanya. Dia menganggukkan kepalanya mendengar cerita Almeera. Sebagai seorang psikiater dia benar-benar salut dengan wanita seperti Almeera.
Wanita yang memilih bertahan di tengah pergolakan batin. Wanita yang berusaha menjadi pribadi lebih baik lagi setelah disakiti berulang kali.Â
Kasus seperti ini sering Ida temukan. Wanita baik masih mau bertahan meski tahu suaminya selingkuh. Wanita baik mencoba menerima suaminya lagi, setelah sang suami benar-benar mencoba berubah.
Tak ada yang salah dengan wanita seperti itu!
Kekuatan tiap perempuan memang berbeda-beda. Lalu rasa jijik ataupun sakit? Melupakan dan memaafkan, semua itu adalah hal lumrah sebagai seorang manusia.
"Cobalah mengingat hal-hal indah dengan suami. Pelan-pelan saja, Bu Meera. Jangan terlalu dipaksakan. Ingatan itu memang didoktrin tanpa sengaja oleh Anda, ketika suami dan adik madu Anda masih menikah dulu. Jadi wajar jika bayang-bayang itu masih ada."Â
Mbak Ida memberikan segala solusinya. Lebih tepatnya memberikan tips agar Almeera bisa menangani traumanya. Ibu dua anak itu manggut-manggut mengerti.
Hingga hampir dua jam lamanya Almeera berada di dalam ruangan. Akhirnya sesi pertama selesai. Wajah lelah dan puas terlihat jelas disana. Bara tentu lalu menyambut kedatangan istrinya dengan khawatir.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya membantu Almeera duduk.
"Iya, Mas."Â
Mbak Ida tersenyum. Dia benar-benar salut dengan pria seperti Bara. Pria yang mau mengakui kesalahannya, mencoba memperbaiki diri menjadi sosok yang lebih baik dan kembali ke keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Pak Bara banyak-banyak bersabar. Coba bantu Bu Meera selalu memikirkan hal-hal menyenangkan. Ciptakan keadaan romantis agar Bu Meera bisa mendoktrin pikirannya dengan hal-hal indah itu."Â
"Baik, Dok."Â
Almeera juga diminta datang kembali seminggu sekali untuk memantau perkembangan dalam dirinya. Akhirnya pasangan itu segera keluar dari rumah psikiater Ida. Bara membantu istrinya duduk dan memasangkan seat beltnya.Â
Setelah itu, perlahan mobil Bara mulai meninggalkan rumah Mbak Ida. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Almeera yang menatap jalanan, mengerutkan keningnya.Â
"Ini, 'kan, jalan mau ke…"Â
"Rumah pohon," lanjut Bara yang membuat Almeera menoleh dan tersenyum.Â
"Apa kita mau kesana, Mas?"Â
"Ya. Sudah lama sekali kita tak berkunjung ke tempat yang banyak kenangan tentang masa kita pacaran," kata Bara dengan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Wajah Almeera begitu berbinar. Dia juga rindu dengan tempat itu. Tempat dimana mereka sering menghabiskan waktunya ketika pulang sekolah.Â
Akhirnya setelah hampir satu jam lebih di perjalanan. Mobil mereka mulai memasuki sebuah perkebunan yang ditumbuhi banyak pohon di sana.Â
Pemilik kebun ini adalah orang tua Bara. Keduanya segera turun saat dua rumah pohon berwarna coklat itu sudah terpampang jelas di sana.Â
Almeera melebarkan senyumannya. Dia segera berjalan dengan cepat menuju salah satu pohon yang ada rumahnya lalu mengusap batangnya seakan sedang mencari sesuatu.Â
Sudut bibir Almeera melengkung ke atas. Saat matanya menangkap sebuah ukiran inisial mereka yang masih terlihat jelas disana.Â
"Ketemu?" tanya Bara dengan melingkarkan tangannya di perut sang istri dan meletakkan dagunya di pundak Almeera.Â
Almeera menganggukkan kepalanya. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya penuh cinta.
"Makasih udah ajak aku kesini, Mas. Rumah pohon ini bener-bener saksi cinta kita saat dulu tuhan kita masih berbeda."Â
Bara mengangguk. Dia benar-benar bahagia ketika melihat istrinya sangat senang dengan kejutannya. Hingga perlahan tatapan Bara tertuju pada bibir Almeera.Â
Bibir wanita yang dulu membuatnya candu. Bibir yang dulu sangat terasa manis untuknya.
"Mas!" panggil Almeera yang membuat Bara langsung merinding.
"Hmm?" sahutnya dengan suara serak.Â
Kedua mata itu saling bertemu. Seakan memancarkan kerinduan yang mendalam. Namun, Bara bisa melihat ketakutan disana yang membuatnya tersenyum.Â
"Waktu kita masih banyak, Sayang. Tidak perlu terburu-buru. Kamu sembuhkan dulu trauma itu dan aku akan menunggunya."
"Cium aku!" Permintaan Almeera yang tiba-tiba membuat Bara terperangah.
~Bersambung
Kira-kira ada kejadian apa di rumah pohon?
__ADS_1
BTW ini novel Mas Bara, jadi mau gak mau aku bakalan fokus ke Mbak Merra dan Mas Bara dulu lalu lanjut cerita Reno Adeeva disini.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.