Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Narumi dengan Hidupnya


__ADS_3


...Penyesalan datangnya selalu di akhir. Ketika kita sudah merasakan kehilangan, disanalah baru kita merasa bahwa keberadaannya sangat berarti....


...~Narumi Alkhansa...


...🌴🌴🌴...


Seorang perempuan tengah duduk tenang di sebuah kursi roda dengan tatapan mengarah ke depan. Dirinya tak mampu melihat tapi telinganya mampu mendengar suara anak-anak yang sedang bercanda ria. 


Senyumannya mengembang. Saat bisa ikut merasakan bagaimana bahagianya anak-anak yang sedang bermain dan bercanda tawa. Tanpa beban dan begitu lepas. Tanpa tahu permasalahan orang dewasa yang membuat mereka bisa berlari kesana kemari.


Tak ada dendam apapun dalam dirinya. Dia merasa hidupnya jauh lebih tenang saat ini. Walau terkadang saat malam menjelang, kesunyian dan kesepian kembali merayap.


Bayangan sang kekasih yang telah meninggal dengan sejuta kenangannya mampu membuatnya menangis setiap malam. Menyesali hal-hal yang membuat mereka harus berpisah sejauh ini. Menyesali waktu yang sudah diabaikan hanya untuk sebuah tujuan tak jelas. 


Tanpa sadar, air matanya mengalir dari sudut matanya. Saat dirinya kembali dilanda rasa rindu pada seseorang. Seorang pria yang mampu membuatnya merasa dicintai dan dihargai. Siapa lagi jika bukan, Adnan.


"Mbak Rumi," panggil seorang anak yang berlari mendekatinya.


"Ya?" sahutnya setelah menghapus air mata yang menetes. "Ada apa, Shana?" 


"Kenapa Mbak Rumi menangis?" tanya anak itu sambil memegang tangan Rumi.


Rumi memaksakan senyumannya. Dia berusaha menggapai wajah anak itu sampai kulitnya bisa merasakan sentuhan. Walau dirinya tak bisa melihat, dia yakin jika anak di depannya ini pasti sangat cantik.


"Mbak hanya rindu pada seseorang." 


"Apa kekasih, Mbak Rumi?" tanya anak itu penasaran.


Rumi mengangguk dengan air mata kembali menetes.


"Ya."


"Kalau rindu, ya tinggal ketemu, Mbak. Kan rindunya bisa sembuh," celetuk anak yang usianya sekitar umur 9 tahun. 

__ADS_1


"Iya. Nanti Mbak mau melepas rindu," kata Narumi membalas. "Ah iya, Shana ngapain kesini?" 


Narumi berusaha mengalihkan perhatian anak itu. Dia tak mau pikirannya terus tertuju pada sosok Adnan yang sudah tiada dan membuat Shana melihat bagaimana terpuruknya dia. 


"Hampir saja aku lupa, Mbak," ujar Shana dengan menepuk jidatnya. "Ibu panti memanggil kita untuk makan siang." 


"Baiklah. Ayo kita makan!," ajak Narumi pada Shana. "Mbak takut nanti anak-anak lama menunggu kita." 


Ya, Narumi Alkhansa. Perempuan yang hanya bisa duduk diam di atas kursi roda. Tak bisa melihat dan berjalan itu, saat ini tinggal di sebuah panti asuhan. 


Berkat dirinya yang memang sudah kembali berusaha untuk memiliki semangat hidup. Dengan bantuan support dari perempuan yang pernah disakitnya, membuat Narumi sadar akan semua kesalahannya.


Dia tak mau terjebak lagi dengan kenikmatan dunia. Dirinya hanya ingin menikmati hidupnya saat ini. Sendirian tanpa pendamping di sisinya. Dirinya benar-benar mencintai keadaannya yang sekarang. 


Saat kursi rodanya baru sampai di rumah panti utama dengan bantuan Shana yang mendorong bersama temannya. Akhirnya telinga Narumi bisa menangkap suara berisik anak-anak yang sedang menunggu makan. 


"Kenapa lama sekali, Nak?" tanya Bu Panti mengambil alih kursi rodanya. 


Dia mendorongnya dan mendekatkan di sisi meja yang lain. 


"Shana nggak keberatan kok. Malah Shana seneng dorong kursi, Mbak Rumi," sahut Shana dengan bahagia.


Bibir Narumi tersenyum. Walau dia tak mampu menatap wajah-wajah orang di sekitarnya. Namun, ia bisa merasakan ketulusan sikap dan sifat mereka padanya. 


"Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah merawat dan menerima Narumi untuk tinggal disini," kata Narumi dengan menggapai tangan Bu Panti dan menggenggamnya. 


"Sama-sama. Sekarang ayo makan!"


Akhirnya berdoa bersama mereka lakukan. Lalu kemudian dengan penuh perhatian, Ibu Panti menyuapi Narumi dengan pelan. Tak ada paksaan apapun. Mereka benar-benar menyayangi Narumi semenjak kedatangan wanita itu. 


Apalagi Ibu Panti sudah mendengar semua cerita hidup Narumi dari bibirnya sendiri. Wanita paruh baya itu tak menyangka jika Narumi mengatakan semuanya dengan jujur.


Bagaimana jahatnya dia dulu, Narumi mengakuinya. Sehingga hal itulah yang membuat Ibu Panti menyayanginya dengan tulus. Merawatnya seperti anaknya sendiri tanpa merasa terbebani.


Setelah acara makan siang selesai. Narumi segera dibawa ke dalam kamarnya dengan Ibu Panti. Wanita paruh baya itu membantunya berbaring di atas ranjang dan menyelimutinya dengan baik.

__ADS_1


"Bangunkan Narumi untuk shalat ya, Bu," katanya meminta tolong.


"Iyah. Ibu bakalan bangunin kamu dan kita shalat berjamaah," kata Ibu panti mengelus kepala Narumi dengan lembut. 


"Apa Tuhan bakalan maafin semua dosa Rumi, Bu?" tanyanya dengan mata menatap ke langit-langit kamar. 


"Tentu. Bukankah Tuhan maha pemberi maaf?" 


"Tapi kesalahan Rumi terlalu banyak," lirihnya sambil mengusap air matanya yang menetes.


Ibu Panti menggenggam tangan wanita di depannya. Menyalurkan kekuatan dalam dirinya agar Narumi tak terus-terusan menyesali segala hal yang sudah dia lakukan dan membuat orang-orang disekitarnya celaka.


"Sebanyak apapun dosa seorang manusia. Mau setinggi gunung pun, Tuhan akan memberikan maaf kalau Narumi benar-benar menyesali semuanya. Mencoba memperbaiki diri dan berubah agar tak melakukan kesalahan itu lagi," nasehat Ibu Panti dengan pelan. "Manusia tak ada yang sempurna, Nak. Mereka memiliki aib besar di dirinya masing-masing. Hanya saja Tuhan dengan baik menutupinya dari semua orang."


Perkataan yang begitu dalam dan nasehat yang selalu terlontar dari Ibu Panti membuat Narumi merasa hatinya tenang. Apalagi wanita paruh baya ini tak pernah menghakimi masa lalunya. Bahkan dengan sayang, Ibu Panti memeluknya ketika ia berani jujur akan apa yang sudah dia lakukan. 


"Sekarang ayo istirahat!" ucap Ibu Panti membenarkan letak selimutnya. "Selamat tidur, Nak." 


Setelah kepergian Ibu Panti. Narumi kembali membuka matanya. Dia sudah tak merasa sendirian disini. Keberadaan Ibu Panti seakan menggantikan sosok ibunya yang sudah tiada. 


Kesabarannya, kelembutannya dan perhatiannya benar-benar membuat hati Narumi yang dingin tak tersentuh kembali hangat.


Kasih sayang yang dulu sangat ia dambakan akhirnya bisa ia rasakan lagi. Walau itu bukan dari sosok ibu kandungnya. Namun, Narumi sudah merasa bersyukur. 


Bersyukur atas nikmat Tuhan yang masih memberikannya kesempatan untuk bernafas, memperbaiki diri dan menyadari segala hal yang sudah ia lakukan. 


"Terima kasih, Almeera. Terima kasih sudah menyadarkanku atas apa yang aku lakukan. Terima kasih sudah mau memaafkanku meski salahku padamu terlalu banyak," lirihnya dalam diam sambil menghapus air matanya yang terus mengalir. 


"Untuk kekasihku, Adnan. Maafkan keegoisanku dulu yang membuatmu selalu mengalah. Maafkan segala ambisiku yang membuatmu banyak berkorban. Maafkan segala keinginanku yang membuatmu harus berakhir dengan mengenaskan. Aku benar-benar merasa kehilangan. Aku baru menyadari jika aku sangat mencintaimu. Selama ini uang membuatku lupa akan cintamu dan sekarang, biarkan aku hidup dengan bayang-bayangmu sampai Tuhan memanggilku untuk kembali ke sisinya." 


~Bersambung


Hemm bab ini aku ngetiknya sambil nangis. Jujur aku bener-bener suka part pendosa yang selalu sadar akan kesalahannya.


Ah yang gak suka sama mbak rumi. gak papa gak usah baca tapo bantu scroll ke bawah dan dilike yah. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2