Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Awas!


__ADS_3


...Sebuah kehidupan tak selamanya akan berakhir bahagia tapi juga tak selalu berakhir penuh kesedihan. Setiap kejadian yang kita lalui bersama pasti akan ada pertemuan dan perpisahan. Entah itu berakhir dengan happy ending atau sad ending. Aku bahagia sudah hidup bersamamu. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Tanpa sadar waktu terus berjalan dengan cepat. Sudah satu minggu Bara berada di Singapura. Komunikasi mereka masih begitu terjaga erat ketika Bara memiliki waktu luang. 


Pekerjaan pria itu benar-benar sangat sibuk. Bahkan mereka sering bertelepon di malam hari dikarenakan hanya saat jam itulah pria itu bisa menghubungi dan menemaninya. 


Tujuh hari tanpa Bara membuat Almeera dan anak-anaknya uring-uringan. Namun, mereka tetap berusaha menjalani aktivitas seperti biasanya. Walau terkadang ada perasaan malas dan lelah. Namun, mereka berusaha untuk tetap menjalaninya. 


Seperti kali ini, hari ini adalah waktu libur. Almeera, Bia dan Abra malah menghabiskan waktu di kamarnya. Ketiganya sedang menelpon papanya yang baru saja sampai di hotel. mereka langsung berebut untuk siapa yang berbicara terlebih dahulu dengan papanya.


“Kapan Papa pulang?” tanya Bia yang muncul di layar ponsel itu.


“Pekerjaan Papa tinggal sedikit lagi tapi Papa masih harus menjenguk kakek dan nenek.”


“Apa nenek dan kakek gak bisa diajak kesini, Papa?”


Kepala Bara menggeleng. Jika boleh dia sendiri yang akan mengajak orang tuanya untuk kembali ke Indonesia. Namun, dokter untuk abinya tak mengizinkan.


Melihat jawaban Bara tentu membuat Bia merasa sedih. Dia sudah sangat merindukan papanya kali ini.


“Jangan sedih. Papa pastikan akan pulang sebelum adik lahir,” kata Bara dengan serius.


“Bia tunggu.”


Setelah dua anak itu selesai berbicara dengan Bara. Mereka segera kembali fokus dengan gadgetnya masing-masing. Mengabaikan Almeera yang kini berjalan ke arah balkon kamarnya untuk berbicara lebih pribadi dengan suaminya itu.


Bara tersenyum. Akhirnya dia bisa berduaan dengan istrinya. Sosok yang sangat ia rindukan setiap malam.


“Apa kabar, Istriku?” tanya Bara dengan tersenyum.


“Aku merindukanmu. Mas,” sahut Almeera dengan tatapan penuh kerinduan.


Jangan katakan Almeera lebay. Selama kehamilannya dia tak bisa lepas dari sosok suaminya ini. Kemanapun Bara berada, pasti Almeera akan ada di sampingnya.


“I miss you too, Honey,” balas Bara lalu memberikan ciuman jarak jauh. “Anak-anak gak nakal, ‘kan?”

__ADS_1


“Enggak, Mas. Mereka berdua baik-baik aja,” kata Almeera sambil mengusap perutnya.


“Dekatkan ponselnya dengan perutmu, Sayang. Aku ingin menyapa mereka berdua.”


Almeera menurut. Dia mendekatkan layar ponselnya itu dan membiarkan suaminya berbicara engan anaknya. Dia hanya bisa menahan air mata ketika Bara mulai berbicara dengan si kembar.


Entah bawaan bayi atau memang Almeera yang sedang rindu. Dia selalu menangis ketika seperti ini. Hingga suara Bara yang kencang menyadarkan Almeera.


“Mereka menendang, Sayang!” pekik Bara dengan bahagia. 


Terlalu banyak melamun. Almeera sampai tak menyadari jika perutnya sejak tadi bergerak. Sepertinya harapan Bara berhasil membuat kedua anaknya yang ada dalam perutnya mengenali suaranya. 


Mereka sangat antusias bergerak kesana kemari saat Bara menceritakan aktivitasnya.


“Mereka mengenali suaramu, Sayang,” kata Almeera sambil mengusap perutnya yang menonjol karena tendangan si kembar.”


“Tentu saja. Mereka anak-anakku. Jadi harus mengenal siapa papanya.”


Almeera memutar matanya malas. Dia selalu mendengar kepedean dalam diri Bara jika menyangkut kedua anaknya ini.


Akhirnya setelah mengobrol dan menghabiskan waktunya. Panggilan itu mulai terputus. Ditambah Bara mendapatkan panggilan dari Reno jika ia harus ke lokasi.


Akhirnya Almeera segera kembali ke kamarnya. Namun, saat dia baru saja masuk, kedua anaknya sudah menghadang langkah kakinya.


“Ke taman yuk, Ma. Bia pengen belajar skateboard sama Abang,” ujarnya sambil memegang kaki Almeera. 


Almeera yang tak tega menolak permintaan Bia dan Abra akhirnya mengangguk. Dia meminta anak-anaknya untuk berganti pakaian agar bisa bermain dengan puas. 


“Mama tunggu di bawah yah!”


Tak sampai sepuluh menit. Akhirnya Bia dan Abraham sudah turun. Keduanya memakai celana olahraga panjang dengan atasan kaos pendek. Diluar cuaca sangat panas yang membuat mereka memilih pakaian ini.


Ketiganya segera meninggalkan rumah orang tua Almeera. Mereka berjalan kaki menuju taman dimana dulu istri Bara itu juga sering bermain disana.


Hari libur membuat keadaan taman sedikit lebih ramai. Banyak anak-anak dari perumahan yang sama dengan Bia dan Abra bermain. Disana juga banyak ibu-ibu yang menemani anaknya bermain. Salah satunya yaitu Almeera. 


Ibu hamil itu menunggu di salah satu kursi yang tersedia disana. Dari tempatnya dia bisa melihat Bia yang sedang diajari oleh abangnya.


Kondisi yang ramai dan kondusif membuat Almeera mulai mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam saku daster panjang yang ia pakai. Setelah itu dia mulai mengecek pekerjaan yang dikirimkan oleh kakaknya.


Walau dirinya sudah tak pernah ke kantor. Namun, pekerjaannya masih berlanjut. Dia harus mengecek semua laporan yang diberikan oleh Adeeva dan Jonathan kepadanya. 

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


Sedangkan Bia dan Abraham. Kedua anak itu begitu fokus belajar skateboard. Dengan penuh kesabaran Abraham mengajar adiknya sampai bisa.Walau Bia masih berusia 5 tahun. Namun, anak itu sudah sangat aktif.


Apa yang menjadi mainan abangny. Dia selalu merasa penasaran dan ingin mencobanya.


“Udah, Bang. Bia capek!” kata Bia sambil duduk dan menyelonjorkan kakinya di lapangan. 


“Ya udah. Kamu tunggu disini yah. Abang mau latihan juga,” ujar Abra pada adiknya.  “Ingat kalau mau kemana bilang sama Abang!”


Bia mengangguk. Dia mengacungkan jempolnya sampai Abraham mulai bermain dengan permainan yang sudah menjadi hobinya itu.


Hanya duduk diam ternyata membuat Bia menjadi bosan. Hingga tatapan anak itu tanpa sengaja melihat seorang badut sedang berjoget di dekat jalan. 


Bia yang sangat menyukai hiburan itu. Dia lekas berdiri. Perhatiannya yang sudah teralihkan membuatnya lupa akan nasihat abangnya. Dia berjalan mendekati jalan raya untuk melihat badut yang berjoget di seberang.


Wajah anak itu begitu bahagia. Bahkan Bia sampai melambaikan tangannya ketika badut itu juga menyapanya.


Hingga Almeera yang telah selesai mengecek laporan. Dia segera menatap ke arah tempat dimana anaknya bermain. Namun, Almeera mulai beranjak berdiri ketika dia hanya melihat putranya saja. 


“Abang, kemana adikmu?” tanya Almeera dengan khawatir, 


“Tadi Bia duduk disini, Ma. Abang nyuruh Bia istirahat karena dia bilang capek.”


kedua orang itu mulai mencari keberadaan Bia. Hingga suara teriakan orang-orang membuat Almeera dan Abra menoleh.


“Hey, Minggir!”


“Minggir, Nak!”


Mata Almeera terbelalak tatkala orang yang diteriaki itu adalah putrinya. Matanya langsung menatap ke arah jalan dan nafasnya menjadi sesak tatkala melihat sebuah mobil truk besar yang oleng.


“Bia! Awas, Nak!”


Almeera mengabaikan dirinya. Dia segera berjalan dengan cepat menuju ke arah putrinya yang ternyata sudah mulai sadar akan keberadaan truk tersebut.Bia sama-sama menjerit dengan mata tertutup.


Dia ketakutan hingga akhirnya kejadian itu terjadi dengan cepat diiringi teriakan semua orang yang ada disana.


“Mama!” 


~Bersambung

__ADS_1


Intinya novel ini mau tamat. Gak bakal ada konflik keras kek pelakor lagi ya woyy!


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya. Kalau ada typo komen ya. Soalnya belum ku revisi bab ini.


__ADS_2