
...Aku bahagia menemukan wanita sepertimu. Berbeda dengan wanita lainnya dan mampu membuatku merasakan jatuh cinta yang luar biasa....
...~Reno Akmal alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
"Jika seperti ini, kamu semakin cantik," bisik Reno lalu mencium pipi sang kekasih.
Adeeva mendorong tubuh kekasihnya. Dia mencebikkan bibirnya.
"Jangan menggombal!"Â
"Aku tak menggombal, Sayang. Aku serius."Â
Adeeva mengangkat bahunya acuh. Dia berjalan mendekati nakas yang ada di sana dan melihat pigura-pigura yang terpajang rapi disana.Â
Bibir Adeeva tersenyum, tatkala melihat bagaimana tatapan cinta ayah dan ibu Reno. Bahkan bagaimana romantisnya setiap potret membuat bibir Adeeva tanpa sadar tersenyum.
Dia mengelus pigura itu. Hatinya berdenyut sakit saat membayangkan ujiannya dengan Reno berbeda tapi sama.
Jika ia memiliki keluarga utuh, tapi ayahnya yang menghancurkannya. Sedangkan Reno memiliki keluarga bahagia tapi Tuhan yang memisahkannya.
"Memikirkan apa, hmm?" tanya Reno memeluk perut kekasihnya dari belakang.
"Kamu bilang akan mempertemukanku dengan ayah dan ibumu?" tanya Adeeva penuh tanya.
Jujur sejak tadi dia sudah dibuat penasaran. Apa yang dimaksud oleh kekasihnya itu. Bertemu orang tua Reno yang notabenenya sudah meninggal.Â
"Ya. Ayo!"Â
Jantung Adeeva berdegup kencang. Namun, dia berusaha yakin pada kekasihnya itu. Genggaman tangan keduanya semakin erat tatkala pintu belakang antara rumah dengan taman belakang dibuka.Â
Reno terus merekatkan tangan mereka. Sampai mata Adeeva menatap tak percaya. Disana, dibawah pohon rindang terlihat dua gundukan tanah yang diatasnya terdapat bunga-bunga yang masih segar.
Adeeva bisa menebak jika bunga itu baru saja ditaburkan. Kepalanya menoleh dan bersamaan ternyata baik Reno maupun Adeeva saling pandang.
"Ini…" jeda Adeeva meminta penjelasan ke arah calon suaminya.
"Ya. Ini makam kedua orang tuaku, Sayang," kata Reno lalu mengajak calon istrinya berjongkok.
Reno mulai mencabuti rumput yang tumbuh di atasnya. Sedangkan Adeeva, dengan lihainya mengambil daun-daun kering dan membuangnya.Â
Apa yang dilakukan oleh gadis itu tentu membuat Reno tersenyum. Dia tak menyangka jika Adeeva adalah sosok yang peka. Tak perlu diperintah, dia langsung melakukan.
__ADS_1
Bahkan disaat tanah itu kotor, dia tak memiliki rasa jijik atau malas. Bahkan di mata Reno, dia melihat bagaimana antusiasnya Adeeva ikut membersihkannya.Â
"Ayah, Ibu," lirih Reno saat kegiatan mereka selesai.
Pria itu menarik tangan kekasihnya hingga pandangan keduanya bertemu. Baik Reno dan Adeeva saling menyelipkan jari mereka di sela-sela jari dan saling menggenggam erat.Â
"Reno kesini gak sendirian lagi," ujarnya dengan pelan.
Matanya berkaca-kaca. Namun, dia berusaha untuk menahannya karena tak mau membuat Adeeva melihat bagaimana dia menangis.
"Perempuan yang ada di samping Reno ini adalah calon istri Reno," ungkapnya dengan memaksakan senyumannya. "Dia adalah sosok yang akan menemani Reno meniti jalan rumah tangga bersama. Membangun rumah yang bahagia dengan ramainya anak-anak di antara kita."Â
"Assalamualaikum, Ayah, Ibu," sapa Adeeva dengan ramah. "Mungkin perkenalan kita berbeda dengan perkenalan calon menantu pada mertuanya."Â
Adeeva menghapus air matanya yang mengalir. Entah kenapa dia merasa sedih saat berbicara dengan dua makam yang seharusnya ada di hadapan dirinya.
"Tapi meski begitu. Adeeva merasa nyaman disini," lanjutnya dengan mengelus nisan itu. "Adeeva tak bisa menjanjikan apapun. Namun, Ibu dan Ayah bisa melihat dari atas sana bahwa Adeeva akan berusaha setia pada putra kalian."Â
"Adeeva akan berusaha membahagiakan Reno. Berusaha saling menjaga dan memahami."Â
"Ibu dan Ayah dengar, 'kan? Jadi kalian bisa tenang sekarang. Reno sudah ada yang menemani disini."Â
Calon pengantin itu saling menatap penuh cinta. Reno dengan pelan melingkarkan tangannya di bahu sang kekasih hingga keduanya berpelukan dengan posisi berjongkok.
"Sama-sama. Aku juga berterima kasih sama kamu, udah mau bantu aku keluar dari rasa traumaku selama ini," kata Adeeva sambil memajukan wajahnya di ceruk leher Reno. "Kamu berhasil membuktikan bahwa kamu berbeda dari ayahku sendiri."Â
Akhirnya acara pertemuan itu berakhir. Reno mulai mengajak Adeeva berdiri dan keduanya tersenyum di depan dua nisan orang tua Reno.
"Kami pulang dulu, Ayah, Ibu," pamit Reno melambaikan tangannya.
"Adeeva bakalan sering kesini, Bu. Adeeva bakalan ngerawat rumah ini dan makam ayah serta ibu setiap harinya."Â
...🌴🌴🌴...
Suara canda tawa begitu terdengar di sebuah ruangan kantor. Terlihat sepasang keluarga kecil sedang bercanda gurau di sana.
Keadaan ruangan itu benar-benar sangat kacau. Banyak kertas bertebaran di lantai. Lalu bekas minuman dan makanan yang berceceran. Jika ditanya ulah siapa ini?
Yang pasti ulah ayah dan putrinya.
Almeera sangat mengenal betul sikap suami dan anak keduanya ini. Sejak dulu bila Bia ikut, maka Bara tak bisa bekerja. Mereka akan saling bermain antara satu dengan yang lain lalu membuat keadaan ruangan seperti kapal pecah.Â
"Mama, Bia mengantuk," cicit bocah lima tahun itu sambil menguap.Â
Almeera segera menjauhkan pensil warna dan kertas dari kaki anaknya. Lalu Bara, dia segera meraih putrinya itu ke dalam gendongan
__ADS_1
"Ayo cuci tangan dan muka sebelum tidur."
Bara dengan telaten membantu putrinya. Sedangkan Almeera, ibu dua anak itu hanya bisa menghela nafas pelan tatkala melihat bagaimana kacaunya ruangan sang suami.
Dia tak bisa marah. Baik kepada Bara maupun Bia. Ibu dua anak itu terlalu mendukung aktivitas anaknya apapun kegiatannya.
"Ayo, Sayang. Temani Bia tidur. Biarkan kekacauan ini dibersihkan oleh OB," kata Bara meminta istrinya beranjak berdiri.
Almeera menurut. Dia segera mengikuti langkah Bara yang menggendong anaknya menuju ke sebuah ruangan pribadi yang ada dibalik rak buku.
Disana terdapat satu lemari dan sebuah ranjang king size sebagai tempat istirahat Bara sementara.
Perlahan Alemera merebahkan tubuhnya di samping Bia. Dia mengusap punggung bocah itu yang matanya mulai terlelap.
Sepertinya rasa kantuk yang menyerang membuat Bia tak tahan untuk berceloteh lagi. Hingga akhirnya tanpa butuh waktu lama, Bia sudah tertidur dengan nyenyak di pelukan Almeera.
"Sudah tidur putri kita?" bisik Bara yang entah sejak kapan tidur di belakang Almeera.
Pria itu melingkarkan tangannya di perutnya dan mengusap perut Meera dari luar.Â
"Kenapa, Mas?" tanya Almeera pada sang suami.
"Apa anak kita sudah tumbuh di dalam sini?" tanya Bara dengan pelan.Â
Bukannya menjawab. Almeera malah membalikkan tubuhnya hingga keduanya berhadapan. Ibu dua anak itu tersenyum dan mengusap pipi sang suami.
"Entahlah, Mas. Tapi aku yakin jika benihmu pasti sudah berkembang," sahut Almeera dengan yakin.Â
"Ah. Bagaimana kalau kita mencicilnya lagi?" tawar Reno dengan menaikkan salah satu alisnya. "Mungkin dengan menyirami lembah basah itu, anak kita semakin cepat berkembang."Â
Almeera tertawa pelan. Bukannya marah dia merasa geli. Suaminya ini memang bisa saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Aku milikmu, Mas," kata Almeera yang menyambut ajakan suaminya. "Yang pasti, jangan sampai ranjang ini berderit dan putri kita terbangun."
~BersambungÂ
Hai semuanya. Maafkan aku yah. Update telat tapi aku tetap usaha ngetik. Jujur untuk besok aku gtw bisa update apa nggak.
Keadaanku sore ini demam, bapil dan tenggorokan sakit.
kalau besok menghilang, berarti aku gak kuat buat ngetik lagi.
Terima kasih atas dukungan kalian selama ini.
__ADS_1