
...Kabar ini benar-benar menjadi kado terindah untukku selama aku hidup. Menyenangkan ketika tahu akan ada versi kita kecil perpaduan dengan sosok yang aku cintai....
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
"Kenapa, Sayang?" tanya Reno yang setia berdiri di depan pintu.
Dia khawatir saat melihat istrinya hanya diam sambil menatap tas hitam yang ia ambil.
"Sayang," panggil Reno lagi untuk menyadarkan istrinya dari lamunannya.
Adeeva mendongak. Menatap suaminya dengan pandangan berkaca-kaca. Tanpa kata perempuan itu segera beranjak berdiri dan berjalan melewati Reno tanpa sepatah katapun.Â
Hal itu tentu membuat pria itu khawatir. Dia segera mengambil tas hitam itu dan mengikuti langkah istrinya yang berjalan menuju kamar mereka.
Adeeva segera membuka pintu kamar lalu berjalan menuju kaca rias yang berdiri tegak di sudut ruangan kamarnya. Ia berdiri di sana dengan tatapan penuh harap. Kemudian dia memiringkan tubuhnya dan memegang perutnya dengan kedua tangannya.
"Apa kamu sudah tumbuh disini?" tanyanya sambil berkaca.
Semua yang dilakukan wanita itu membuat tubuh Reno menegang. Pria itu sangat tahu apa yang ada dipikiran istrinya. Hingga saat Adeeva menatap suaminya sampai pandangan keduanya bertemu, keduanya sama-sama berkaca-kaca.
Tanpa kata Reno berjalan mendekati istrinya dan menarik pinggang itu agar semakin dekat.
"Apa disini…" jeda Reno dengan bibir yang sulit untuk berucap.
"Sepertinya iya, Ayank. Aku melihat pembalut milikku tak berkurang untuk bulan ini. Jadi itu tandanya, aku belum mendapatkan menstruasi sama sekali."Â
Reno segera menurunkan tubuhnya. Dia mensejajarkan kepalanya dengan perut Adeeva yang masih rata. Tangannya terjulur dan mengusapnya begitu lembut.Â
Tubuhnya bergetar dengan luapan bahagia yang tak bisa dijabarkan. Jika memang harapan keduanya benar-benar nyata. Ini menjadi tanda hadiah yang sangat besar dari Tuhan.
"Ayo kita ke rumah sakit, Sayang!" ajak Reno dengan semangat.
"Jangan dulu. Aku akan bertanya pada Almeera," kata Adeeva yang tak mau grusa grusu.Â
Akhirnya perempuan itu segera mengambil ponselnya lalu menghubungi sahabatnya yang lebih berpengalaman.Â
"Waalaikumsalam, Va. Ada apa?" tanya suara seorang perempuan yang sangat dikenal dari seberang telepon.Â
"Emm, Ra. Untuk cek kehamilan biasanya kamu langsung ke dokter atau…"
"Siapa yang hamil?" sela Almeera dengan semangat. "Kamu?"Â
"Ini masih praduga. Mangkanya aku pengen ngetes dulu," ujar Adeeva menjawab.
__ADS_1
"Minta tolong Reno buat beli tespek di apotik. Setelah itu…" Almeera benar-benar mengajari Adeeva cara menggunakan benda pipih kecil itu.
Dia segera meminta suaminya berangkat ke apotek untuk membeli tespeknya. Tanpa menunda, Reno tentu segera membelinya. Dia juga sudah tak sabar. Tak sabar dengan kehadiran Adeeva dan Reno kecil di antara mereka.
"Lakukan pagi hari saja, Va. Itu lebih akurat," ujar Almeera saat Reno sudah pergi.
"Kenapa kalau sekarang?" tanya Adeeva ingin tahu.
"Ya gak papa. Tapi petunjuk dokter lebih baik pagi hari saja. Lebih akurat," kata Almeera mengingatkan.
"Oke."Â
"Semoga Adeeva dan Reno junior benar-benar lagi otw yah. Biar anakku ada temannya," kata Almeera sebelum panggilan itu terputus.
Perempuan itu meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Lalu dia berdiri di depan cermin lagi sambil memegang perutnya.
"Semoga kamu beneran udah ada disini ya, Nak. Mama yakin Papa dan Nenek pasti bahagia."Â
Hampir lima belas menit Adeeva menunggu. Akhirnya Reno kembali dengan membawa satu kantung tespek. Mata Adeeva terbelalak tak percaya dengan aksi gila suaminya ini.
"Ayank ini terlalu banyak," kata Adeeva geleng-geleng kepala.Â
"Gapapa. Biar kamu puas ceknya," balas Reno dengan tenang. "Sana coba cek, Sayang. Aku sudah tak sabar!"Â
Adeeva tersenyum. Dia tak menyangka suaminya sama-sama begitu antusias menunggu kabar bahagia ini. Bisa wanita itu bayangkan bila yang diharapkan suaminya benar-benar terjadi akan sebahagia apa Reno saat itu.Â
"Kenapa harus pagi? 'Kan semua sama saja," katanya dengan tak sabaran.
"Lebih akurat aja, Ayank. Sabar yah!" Hibur Adeeva dengan memeluk suaminya.
Reno mencoba lebih bersabar lagi. Sepertinya terlalu bersemangat juga tak baik.Â
"Daripada Mas sedih gini. Temani aku tidur yuk? Mau gak?" goda Adeeva sambil mengerlingkan matanya.
Mendengar kata temani tidur. Otak omes Reno yang tertular oleh Bara langsung aktif. Dia menatap berbinar istrinya yang dengan lucunya menggoda dirinya sebelum masuk ke kamar mandi.
Pria itu tentu tahu apa yang dimaksud Adeeva. Dengan semangat dia segera menyusul istrinya ke kamar untuk membersihkan diri sebelum menemani tidur ala Reno.Â
Tak lama benar saja. Suara kenikmatan itu akhirnya mulai terdengar dari kamar pasangan pengantin itu. Keduanya sepertinya sedang menjelajah laut, mendaki gunung indah yang membuat mereka seperti terbawa ke langit ke tujuh.
...🌴🌴🌴...
Keesokan paginya. Akhirnya Adeeva bangun lebih awal. Gadis itu mulai menurunkan kedua kakinya dengan pelan karena tak mau membangunkan suaminya itu.
Dengan pelan dia mengambil salah satu tespek yang pernah ia lihat dipakai oleh artis-artis di TV dan membawanya ke kamar mandi.Â
Jantung Adeeva berdetak kencang. Dia benar-benar berdebar tak karuan menunggu hasil yang akan ia lihat langsung setelah menunggu 15 menit lamanya.
__ADS_1
Setelah buang air kecil dan meletakkannya di wadah. Dengan pelan gadis itu mulai mencelupkan tespek di tangannya itu sesuai tata cara yang ada di bungkus. Dia juga mengingat bagaimana sahabatnya yang mengajari dirinya menggunakan alat ini.Â
Adeeva bisa merasakan tangannya berkeringat dingin. Dia menelan ludahnya paksa berusaha menenangkan jantungnya yang tak karuan. Matanya terpejam tak berani menatap benda pipih di tangannya ini.Â
Dirinya hanya takut. Takut jika ekspektasi yang dirinya dan suaminya harapkan ternyata tak sesuai kenyataan.Â
"Mau gak mau. Siap gak siap aku harus mengeceknya sendiri."
Akhirnya istri Reno itu mulai membuka matanya. Dia mulai menurunkan pandangannya mencoba melihat hasil yang benda pipih itu berikan.Â
Garis dua.
Hampir saja wanita itu menjerit bahagia tapi segera sadar bahwa ini terlalu pagi. Air matanya mengalir tanpa sadar sangking terlalu bahagianya dirinya melihat hasil yang sangat dinantinya sesuai ekspetasi.Â
Tak mau menunggu terlalu lama. Adeeva segera keluar dari kamar mandi. Dia berjalan ke arah suaminya yang masih terpejam lelah di atas ranjang.Â
Dengan pelan, Adeeva mencium bibir suaminya untuk membangunkan Reno yang masih terbuai dalam mimpi.
"Sayang, bangun!"Â
Reno mulai menggeliat. Namun, matanya tak mau terbuka juga.
"Sayang. Aku punya sesuatu yang harus kamu lihat!" kata Adeeva tak bisa menutupi kebahagiaannya. "Hasil tespeknya sudah keluar."Â
"Apa!" Reno spontan membuka matanya lebih lebar.
Dia mendudukkan dirinya dengan tak sabar dan menatap istrinya yang juga sedang menatapnya.Â
"Mana?" tanya Reno dengan wajah bantal tapi tak menutupi rasa antusiasnya.
Adeeva segera menyerahkan benda pipih itu hingga membuat Reno bisa melihat garis dua yang sering ia lihat di TV. Mata pria itu berkaca-kaca sambil menatap istrinya yang sama menangis.
"Kamu hamil, Sayang. Kamu hamil. Reno kecil udah tumbuh disini!"Â
~Bersambung
Ahh finally bakalan ada versi kecil kalian berdua. Gak sabar banget liat versi ucul dan omes macem Reno, haha.
Kalian juga kepo sama gimana kabar Ayahnya Adeeva 'kan?
Nanti bakalan ada babnya juga.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
Oh iya GIVE AWAY HADIAH MINI GOLD CEK DI FEED INSTAGRAM YA GUYS.
__ADS_1
ini give away beneran. Hadiah utama mini gold. Jadi yuk ikutan!