
...Aku benar-benar sadar jika selama ini anak-anakku yang menjadi korban utama. Aku akan berusaha kembali dan memperbaiki semuanya sebelum terlambat. ...
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
"Apa permintaan Bia sangat sulit, Papa?" tanya Bia lagi saat tak mendapatkan jawaban.
Bara benar-benar mematung. Dirinya merasa seperti dejavu saat ini. Pertanyaan sang putri yang sangat dia cintai seakan menjadi pukulan telak di dalam dirinya. Mata batinnya langsung terbuka. Apalagi ketika melihat kondisi Bia saat ini.
Apakah dirinya setega itu pada anaknya sendiri?
Apakah dirinya rela melihat anak yang sangat bergantungan kepada dirinya mulai menjauh?
Apakah dia rela kehilangan tiga orang berharga yang selalu menemani dirinya 15 tahun?
Tapi apakah dia sanggup melepaskan Narumi sekarang?
Berkelebat bayangan yang memutar di otaknya hingga membuat Bara tak menyadari jika wajah putrinya di penuhi kekecewaaan. Bia lekas membelakangi tubuh sang Papa. Matanya berkaca-kaca saat melihat ekspresi Bara yang berat.
Apakah permintaannya sesulit itu?
Apakah dirinya sudah tak berarti untuk Bara?
Hingga tak lama air mata mulai meluncur deras dari matanya. Bia tetaplah Bia. Bocah yang sangat menginginkan Papanya kembali kepada dirinya. Dia ingin mama dan papanya kembali seperti dulu. Harmonis dan bersamanya setiap hari.
Hingga isakan yang terdengar dari mulut Bia membuat Bara tersadar. Pria itu merasa bersalah. Bahkan bahu Bia yang bergetar membuat Bara mengerti jika putrinya adalah korban atas keegoisannya.
Bara perlahan mengulurkan tangannya. Dia menarik lengan sang putri agar menatap dirinya.
"Pergilah, Pa! Bia akan tinggal bersama Mama dan Abang. Papa sepertinya berat meninggalkan istri baru Papa itu," kata Bia dengan suara seraknya.
"Tatap wajah Papa dulu, Sayang. Jangan seperti ini," pinta Bara dengan nada memohon.
Pelan Bia membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang sudah basah akan air mata semakin membuat rasa penyesalan itu hadir dalam diri Bara. Ya, Bia tetaplah kelemahannya selama ini. Segala yang diinginkan putrinya selalu tak bisa dia tolak. Bahkan meski nyawanya yang diminta, Bara akan berikan.
"Beri Papa waktu untuk bicara sama Tante Rumi, 'yah!" kata Bara dengan pelan.
"Apa maksud, Papa? Apa Papa pilih Bia dan Mama?" cerca Bia dengan setitik tatapan berbinar di matanya.
Ya Tuhan lihatlah! Hanya mendengar aku ingin membicarakannya dulu dengan Narumi, anakku sudah terlihat bahagia. Apa sebesar itu, aku menyakiti mereka bertiga?
"Papa!" sentak Bia sambil menggoyangkan lengan papanya.
__ADS_1
"Sampai ulang tahun, Bia. Papa akan pisah dari Tante Narumi sebelum Bia tiup lilin ulang tahun."
"Janji?" Bia menyodorkan jari kelingkingnya.
Matanya menatap lekat ke wajah sang papa. Dia benar-benar menunggu janji Bara padanya.
"Janji."
Senyuman lebar terbit di bibirnya. Bia benar-benar bahagia tatkala Bara benar-benar menyanggupi permintaannya. Dia yang notabenenya sebagai anak, tak mau papanya pergi meninggalkan keluarga yang sudah menemaninya bertahun-tahun.
Bia seakan mengingat perkataan Abangnya sendiri, Abraham. Saat itu setelah ketiganya bertemu dengan Papa dan istri barunya di rumah yang ingin mamanya beli. Malam harinya, Abraham tidur bersama Bia.
Dua anak pasangan dari Bara dan Almeera itu tidur dalam dekapan keduanya. Waktu yang terus berputar, tak membuat anak umur 4 dan 14 tahun itu terpejam. Bayangan dimana wajah istri kedua papanya berkelebat di dalam otaknya hingga membuat Bia yang tak sanggup segera menatap Abangnya yang sedari tadi diam.
"Apa Mama baru itu jahat, Bang?" tanya Bia dengan polosnya.
"Tentu saja jahat," sahut Abraham dengan pelan.
Dia menurunkan pandangannya hingga mata keduanya saling beradu.
"Tidak ada yang namanya orang baik kalau suka merebut milik…" jeda anak pertama Bara untuk melihat reaksi Bia.
"Orang lain."
"Bagus." Abraham mengangguk. "Orang baik tak akan merusak kebahagiaan orang lain. Tapi wanita itu…"
"Ya. Dia sudah merebut kebahagiaan kita," lirih Abraham dengan suara berat.
"Bia gak mau Papa pergi, Abang. Bia mau Papa ninggalin wanita itu," ucap Bia dengan lugas.
Abraham menghela nafas berat. Dia menatap wajah adiknya dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Abang sudah mengatakan pada Papa. Abang bahkan sudah melakukan ancaman tapi Papa tak mau meninggalkannya."
"Biar Bia yang bicara sama Papa. Bia akan buat Papa memilih kita dan kembali pada pemilik sebenarnya."
...🌴🌴🌴...
Suasana yang tadinya dipenuhi keheningan tiba-tiba berubah. Semua mata menatap ke arah Bara yang baru saja keluar dari ruangan. Baik Jonathan dan Darren membuang wajahnya ke samping. Entah kenapa keduanya tak bisa menatap sosok yang sudah memberikan luka kepada putri dan adiknya itu.
"Boleh kita bicara berdua saja, Ra? Hanya sebentar," kata Bara menatap istri pertamanya.
Sebelum menjawab, Meera menatap Mama dan Papanya. Melihat Tari menganggukkan kepala akhirnya Almeerra menyetujui.
Segera pasangan suami istri itu saling berjalan bersama. Tanpa bergandengan tangan, tanpa kemesraan yang biasa mereka lakukan. Keduanya hanya berjalan beriringan dengan beberapa jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Almeera saat keduanya sampai di taman rumah sakit.
Tubuh wanita itu duduk dengan tenang. Dia hanya menatap punggung Bara yang sedang berdiri membelakanginya.
"Aku akan menceraikan Narumi," kata Bara tiba-tiba yang membuat mata Almeera terbelalak. "Aku menyesali semuanya, Ra."
Bara berbalik. Pria itu menatap istri yang menemaninya disaat suka maupun duka. Ya dia baru menyadari semuanya. Selama ini sebenarnya dia lebih sayang pada Almeera dan kedua anaknya. Hanya saja, keegoisan dalam dirinya terkadang membuat anak dan istrinya tersakiti.
Almeera hanya diam. Dirinya seakan terpaku karena terlalu terkejut dengan perkataan suaminya.
"Bicaralah, Ra!" Bara berjalan mendekat.
Lalu dia menjatuhkan tubuhnya di kaki Almeera dengan kepala menunduk.
"Maafkan aku, Ra. Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tak mau putra dan putriku pergi dari kehidupanku. Aku tak mau kehilangan…."
"Kedua anakmu?" tebak Almeera dengan cepat.
Jantung wanita itu berdebar kencang. Entah kenapa dia menunggu jawaban apa yang akan diberikan suaminya saat ini.
"Bukan." Bara menggeleng. Dia meraih kedua tangan Almeera dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku tak mau kehilangan kalian. Aku baru sadar jika kalian lebih berarti untukku, Ra. Aku mohon beri aku satu kesempatan."
Almeera melepaskan genggaman tangan Bara. Dia beranjak berdiri dan berjalan sedikit menjauh. Matanya menatap tanaman bunga yang tertanam di tanam. Dia menghirup udara segar agar pikirannya sedikit bisa berpikir jernih.
"Entahlah. Aku bahkan tak bisa mempercayai kamu lagi. Kepercayaan mana yang harus aku berikan, jika kamu sudah menghancurkan semuanya?" tanya Almeera dengan serius.
Bara membalikkan tubuh Almeera hingga pandangan keduanya berhadapan. Terlihat sekali banyak luka di mata istrinya. Bahkan dirinya tahu jika apa yang selama ini terjadi, pasti membuat kepercayaan yang dimiliki Almeera kepadanya telah hilang.
"Aku tak meminta kepercayaanmu, Ra. Aku tau jika kesalahanku sangat fatal," jeda Bara dengan tatapan penuh harap. "Aku hanya ingin kamu menungguku kembali meski hatimu belum bisa memaafkanku. Aku benar-benar akan menceraikan Narumi sebelum ulang tahun putri kita yang kelima tahun."
~Bersambung
Kira-kira Bara serius sama ucapannya, apa nggak yah?
Hmm rasanya aku aja yang nulis kisahmu gak percaya, Mas Bar. Hihihi.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya. Kalian boleh nebak-nebak kelanjutannya. Boleh banget tapi jangan ada hujatan mengerikan.
Jangan lupa follow instagram author yah
Mampir juga ke karya temen author dibawah ini
__ADS_1