Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Puncak Perjuangan


__ADS_3


...Aku tak akan menyerah untuk membawamu kembali kedalam pelukanku. Meski aku harus melawan takdir di antara kita berdua....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


TaK lama dua suster membawa bayi kembar itu ke dalam ruangan yang dipenuhi kesedihan. Bara lekas mengambil salah satu bayinya. Dia menggendongnya dengan penuh kehati-hatian lalu menunjukkannya pada sang istri.


"Lihat, Ma. Ini aku putri kecilmu," kata Bara pada istrinya.


Suara Bara terdengar begitu parau. Pria itu menahan tangisannya. Namun, tak lama terdengar suara tangisan bayi kembar itu yang menggema di ruangan tersebut.


Sepertinya kesedihan yang dialami Bara dan keluarga mampu dirasakan oleh si kembar. Seakan dua anak bayi itu bisa membaca suasana yang sangat memicu tangisan.


Bahkan tangisan mereka semakin kencang saat Bara dengan sengaja meletakkan dua anaknya di sisi kanan dan kiri istrinya. Dia percaya bahwa ikatan anak dan ibu itu nyata. Dia percaya bahwa kedua anaknya pasti mampu membawa istrinya kembali.


Bara yakin istrinya belum meninggal. Almeera hanya tidur sejenak dan pasti akan terbangun lagi.


"Bangun, Sayang! Lihat mereka ingin digendong oleh ibunya. Mereka ingin minum susu darimu, Sayang," ujar Bara mencoba menekan rasa keputus asaan. 


Tangisan keduanya semakin kencang hingga membuat Mama Tari tak sanggup dan tak tega.


"Bara, biarkan Mama…"


"Jangan, Ma," sela Bara dengan cepat. "Bara yakin Almeera pasti akan bangun."


"Ayo, Sayang. Bangun!" seru Bara dengan suara kencangnya.


Tangisan yang semakin kencang membuat dua suster itu akhirnya mendekat. Bara yang mengetahui bahwa dua peremmpuan itu akan mengambil anaknya dari sisi istrinya mulai marah.


"Jangan ambil anakku. Biarkan dia bersama ibunya!" teriak Bara dengan marah.


Suasana yang mulai tak terkendali membuat Papa Darren dan Jonathan segera memegangi Bara. Pria itu semakin meronta tatkala melihat anaknya diambil oleh dua suster itu.


Tangisan kembar semakin kencang tatkala dijauhkan dari sosok ibunya.


"Meera! Aku tak meridhoi kamu pergi. Kamu harus bersamaku. Merawat anak-anak kita!"


Bara semakin meronta minta dilepaskan. Pria itu bahkan mulai memberontak dari tangan Papa mertua dan kakak iparnya.

__ADS_1


"Bangun, Meera. Bangun, Sayang! Kembali disisiku, Istriku."


Bersamaan dengan itu. Suara pendeteksi detak jantung kembali berbunyi. Grafik yang ada disana mulai kembali bergerak hingga membuat dokter yang menangani kepala Almeera terbelalak tak percaya.


"Pasien kembali bernafas!" katanya yang membuat semua orang terkejut.


Itu juga yang dirasakan Bara. Pria itu tak lagi memberontak. Bahkan tubuhnya merosot ke bawah dengan air mata yang mengalir begitu deras.


"Akhirnya kamu kembali, Sayang," ucap Bara yang kemudian tak sadarkan diri.


Pria itu sebenarnya sudah lemah. Tubuhnya yang hanya terisi oleh air dan belum makan. Serta perjalanan dari Singapura ke Jakarta pasti membuatnya lelah. Akhirnya suster segera mengambil brankar dan membawa Bara ke ruang penanganan.


Sedangkan Papa Darren dan Mama Tari hendak mendekati putrinya. Namun, mereka langsung diminta keluar.


"Tolong sembuhkan putri saya, Dok,” pinta Mama Tari dengan begitu penuh harap.


"Semua hanya ada di tangan Allah, Bu, " kata dokter perempuan yang merupakan dokter kandungan Almeera. "Berkat kuasanya, putri ibu kembali sadar."


Mama tari mengangguk. Akhirnya mereka segera keluar dan membiarkan dokter menangani Almeera. 


Mereka benar-benar percaya akan kuasa tuhan. Tak ada yang tak bisa terjadi sampai allah yang menggariskan takdirnya. 


"Anak kita kembali, Pa. Almeera kita tak akan meninggalkan kita," kata Mama Tari pada suaminya.


Papa Darren mengangguk. Dia sendiri pun merasa tak percaya jika jeritan Bara dan tangisan dua cucunya yang baru lahir mampu membuat Almeera kembali ke sisi mereka.


Ternyata ikatan batin mereka begitu kuat dan membuat mereka tak bisa dijauhkan!


Namun, kembali lagi jika apa yang terjadi adalah kuasa allah. Apa yang terjadi di antara mereka, pada almeera semua sudah sesuai akan porsinya.


"Anak kita memang kuat, Ma. Dia bisa bertahan untuk Bara dan anak-anaknya."


...🌴🌴🌴...


Akhirnya operasi Almeera berhasil. Ibu dari empat orang anak itu dimasukkan ke ruang icu, Almeera akan menjadi salah satu pasien yang kesehatannya akan terus dipantau oleh para dokter.


Bagaimanapun yang terjadi padanya memang sangat berbahaya dan membutuhkan pantauan yang intens.


Sedangkan di ruang penanganan. Terlihat seorang pria yang baru saja bangun dari pingsannya. Dia menatap langit-langit kamar hingga ingatannya kembali ke kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.


Bara lekas beranjak duduk. Namun, kepalanya sakit membuatnya mengaduh hingga para suster yang berjaga segera mendekat.

__ADS_1


"Apa Anda merasa pusing?" tanya suster pria pada Bara.


"iya. Kepala saya sakit," ujar Bara dengan jujur.


Bara segera dibantu direbahkan lagi. Suster mulai mengecek kondisi bara.


"Anda jangan kemana-mana dulu yah. Kondisi anda masih lemah," kata suster itu.


Bara tak menggubris. Namun, kepala pria itu mengangguk seakan mengiyakan perkataan sang suster. Setelah dirasa suasana aman. Bara lekas mencabut infus yang menusuk tangannya. Lau dia segera menyelinap keluar dengan tubuh yang oleng.


Tubuhnya yang lemah memang butuh istirahat yang cukup. Namun, kembali lagi. Bara ingin mencari tahu kondisi istrinya.


Hingga saat dia ingin meneruskan langkah kakinya dan kabur dari ruang penanganan itu. Tiba-tiba Papa Darren dan Mama Tari yang berniat menemui menantunya terkejut.


"Kamu ngapain disini, Bar! Kamu masih lemah, Nak," kata Mama Tari menatap Bara.


"Bara ingin ketemu Almeera, Ma. Tolong bawa Bara ke ruangan istri Bara," pintanya penuh harap. 


Melihat kondisi bara yang seperti ini membuat ibu dari tiga anak itu tak tega. Dia langsung menatap suaminya seakan meminta jawaban.


"Ayo, Ma."


Akhirnya Papa Darren membantu menantunya berdiri dengan tegak. Siapa yang tega membiarkan Bara berjalan dengan sempoyongan. Wajahnya yang pucat menjadi bukti bahwa ia sedang tak baik-baik saja. 


Setelah berjalan hampir lima menit. Mereka sampai di ruang icu dimaa Almeera berada. Orang tua Almerra segera berbicara dengan pegawai ICU untuk membukakan sedikit gorden pembatas antara keluarga dengan pasien.


Ini memang bukan jam kunjungan. Namun, melihat bara yang terus membuat para penjaga icu mengizinkan.


Bara segera mendekati kaca pembatas itu. Lalu dia mulai mengusapnya tatkala tirai yang menutup ruangan istrinya dibuka.


Bara menatap sosok istrinya yang terbaring dengan lemah. Jauh di lubuk hatinya dia bersyukur, akhirnya Almeera miliknya kembali. Kembali di pelukannya dan di antara keempat anaknya.


'Terima kasih, Sayang. Sudah mau bertahan demi aku dan anak-anak. Setelah ini tak akan ada lagi yang mampu memisahkan kita berdua dan empat anak kita."


~Bersambung


Loh loh tamat eh.. Iya tamat loh ini!


Kaborrr


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat kasih bonchap ehh haha.

__ADS_1


__ADS_2