Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Ekstra Bab 4


__ADS_3


...Sejauh apapun mereka berada. Jika sudah berjodoh maka tak akan ada halangan untuk bertemu dan bersatu....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Terlihat seorang anak kecil tengah menonton televisi diruang keluarga. Matanya menatap serial drama yang menunjukkan sepasang kekasih tengah berjalan bersama. Hingga adegan dimana mereka berdua membeli suatu barang membuat Reyn mengingat sosok teman masa kecilnya.


Dia segera turun dari sofa lalu berlari menuju kamar mama dan papanya. Dia mengetuk pintu itu dengan tak sabaran. Tak peduli apapun yang terpenting keinginannya terpenuhi.


"Mama…Papa!" teriaknya dengan tak sabaran.


Suara teriakan itu tentu membuat Ibu Adeeva segera berjalan ke arah cucunya. Tak lama bersamaan dengan sampainya wanita tua itu. Pintu kamar terbuka dan muncullah sosok Reno yang sedang mengusap matanya dengan wajah lesu. 


"Ada apa, Reyn?" tanya Reno dengan mulut menguap.


"Papa, ayo belanja!" ajaknya menarik tangan Reno.


Pria itu menahan tangan putranya. Dia mengerutkan keningnya menatap Reyn dan Ibu mertuanya bergantian. 


"Reyn kenapa, Bu?" tanya Reno dengan pelan. 


"Ibu juga gak tahu. Tadi dia nonton televisi sendirian dan Ibu sedang membuatkan susu untuknya."


"Ayo, Papa! Kita belanja!" ajaknya tak sabaran.


Reno menghela nafas pelan. Jujur saat ini dirinya sangat lelah. Dia baru saja datang dari perjalanan bisnis bersama Bara untuk yang terakhir kalinya lalu dia dibangunkan oleh anaknya ini.


Dia dengan pelan mensejajarkan tubuhnya dengan Reyn. Lalu mengusap kepala anak itu dengan penuh kasih.


"Reyn mau belanja apa memangnya?" 


"Gelang," sahut anak itu dengan mata berbinar.


"Gelang?" ulang Reno dengan pandangan tak mengerti.


"Iya, Papa. Reyn mau beli gelang kembar buat Aya juga." 


Pria itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ternyata waktu tidurnya diganggu karena anaknya sangat bucin dengan putri sahabatnya itu. 


Benar-benar kelakuan Reyn ini 11 12 dengan dirinya. Kebucinannya pada sang istri ternyata menurun pada Reyn kecil.


"Nanti malam saja yah, Reyn? Papa mau tidur sebentar," pinta Reno dengan wajah lelahnya.


Kepala kecil itu menggeleng. Dia bersedekap dada dengan tatapan menolak. Jika sudah begini, Reno tak bisa membujuk putranya.


Keras kepala Reyn adalah keturunan dirinya dan sang istri. Apa yang anak itu inginkan kali ini, apalagi untuk Athaya. Maka jiwa memaksanya akan keluar.


"Baiklah. Kita belanja sekarang. Kamu ganti baju dulu sama Nenek yah. Papa juga mau mandi," kata Reno pada anaknya.

__ADS_1


Wajah yang mulanya murung mulai berganti cerah. Bocah itu meloncat bahagia dengan bertepuk tangan. Reyn sangat bahagia saat papanya tak pernah menolak keinginannya itu.


"Mama diajak, Pa?" tanya Reyn sebelum beranjak pergi.


Reno menggeleng. "Mama dan Adek Revano sedang tidur. Jadi kita pergi berdua aja yah. Bagaimana?" 


"Gakpapa. Ayo, Pa! Bersiap!" 


...🌴🌴🌴...


Like father like son. Itulah kalimat yang tepat untuk sepasang ayah dan anak itu. Entah kebetulan apa, ternyata keduanya memakai pakaian yang sama. Celana pendek dengan kaos putih membalut tubuh mereka. Lalu sepatu putih semakin menambah karisma kedua pria berbeda usia itu. 


Mereka keluar dari mobil bersamaan. Kemudian tanpa kata, Reyn menggandeng tangan papanya sambil melangkah masuk ke dalam mall.


Wajah keduanya yang tampan dengan kemiripan 99 persen membuat semua orang tahu jika keduanya adalah anak dan ayah. Mereka sangat terlihat kompak dan membuat beberapa pasang mata wanita tertuju pada keduanya.


Wajar saja. Pawang mereka sedang di rumah. Maka pesona ayah dua anak dengan anak pertama sangat amat terlihat jelas.


"Kita ke tempat aksesoris ya?" tanya Reno pada putranya.


Reyn mengedikkan bahunya. Dia tak tahu harus mencari kemana gelang itu. Yang pasti, setahu dia. Jika di pusat pembelanjaan pasti ada yang menjual gelang.


"Yang pasti Reyn mau gelang kembar sama Aya, Pa!" 


Reno hanya bisa mengusap dadanya. Anaknya ini benar-benar dewasa belum waktunya. Anak umur 4 tahun sudah sangat bucin pada wanita lain. 


Namun, bayangan dimana dia ingat jika tinggal beberapa hari lagi, Bara dan keluarganya pergi meninggalkan Indonesia. Membuat Reno mengeratkan genggamannya pada sang putra. 


"Papa dimana?" tanya Reyn tak sabaran.


Reno menarik tangan putranya. Dia segera memasuki store aksesoris yang langsung disambut oleh para pelayannya.


"Kami ingin mencari gelang kembar untuk anak sekecil ini. Apa ada?" tanya Reno menepis rasa malunya.


Dia menunjuk putranya yang menatap petugas itu dengan pandangan penuh harap.


"Ada, Tuan. Mari kesini!" 


Anak dan Ayah itu berjalan mengikuti langkah wanita berpakaian dengan rok pendeknya. Reno segera menggendong putranya karena tak mau melihat hal tak senonoh.


"Ini, Tuan!" 


Perlahan Reno menurunkan tubuh anaknya. Fia mensejajarkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Reyn dengan puas. 


"Kayak gini?" tanya Reno pada putranya.


Kepala mungil itu menganguk. Matanya berbinar melihat beberapa model gelang kecil sampai dewasa tergantung disana. 


"Kamu bisa pilih apa saja yang kamu inginkan," kata Reno pada putranya.


"Buat Aya juga?" tanya Reyn menoleh ke arah sang Papa. 

__ADS_1


"Boleh." 


Reyn tersenyum lebar. Dia segera melangkah ke depan dan mulai melihat gelang-gelang itu. Semua yang ia rekam melalui televisi segera ia cari hingga menemukan gelang tali warna hitam. 


Lalu Reyn segera bergeser dan melihat barisan bando lucu disana. 


"Papa ini bagus buat Aya?" tanya Reyn menunjuk sebuah bando pink seperti Cooky pada papanya.


"Bagus. Aya suka pink, 'kan?" kata Reno yang membuat kepala Reyn mengangguk.


Dia mengambil bando itu satu lalu kembali bergerak mencari benda yang lain. Anak empat tahun itu masih suka bermain dengan apa yang ia lihat. Apa yang dia rekam dalam otaknya, itulah yang dia mengerti. 


Entah itu benar atau salah. Hanya yang mereka tahu ya luarnya saja. 


"Papa, Reyn mau ini?" tanya Bara menunjuk sebuah kaos kaki lucu kecil.


"Buat siapa?" 


"Adek Revano," celetuknya yang membuat Reno tersenyum bangga. 


Ajaran yang selalu dirinya dan sang istri berikan ternyata berdampak baik pada anak pertamanya itu. Tak pernah ada persaingan atau rasa iri dalam diri Reyn. Bocah itu bahkan selalu mengerti meski Adeeva sering menjaga adiknya tapi ia tak pernah marah.


Kasih sayang antara Reno dan Adeeva mereka curahkan dengan adil. Jika Adeeva bersama Revano maka Reno yang menemani Reyn. Jadi hal sederhana itu membuat Reyn tak pernah merasa diduakan oleh keberadaan adiknya.


"Bagaimana sudah?" tanya Reno yang membantu barang belanjaan putranya itu.


Suami Adeeva tak pernah bertanya untuk siapa atau apapun. Dia membiarkan anaknya membeli apapun yang membuatnya senang.


"Boneka boleh?" 


"Boleh," ujar Reno dengan mengangguk.


"Tapi Cooky, Papa. Terus Reyn mau yang ada nama Reyn disana sama Aya. Bisa?"


"Kita cari nanti yah lewat online. Lalu kita tanyakan pada adminnya apa bisa dikasih nama atau nggak."


Akhirnya Reno segera membayar semua belanjaan putranya. Dia juga tak lupa memesan boneka Cooky melalui online dan mencoba menanyakan tentang apakah bisa diberi nama atau tidak.


"Kapan kita ketemu Aya, Pa. Reyn gak sabar kasih hadiah ini sama, Aya!" 


Reno memaku. Dia baru ingat jika pertemuan yang anaknya harapkan akan menjadi perpisahan juga. Matanya terpejam sejenak dengan helaan nafas berat.


"Tiga hari lagi kita ketemu sama Aya. Okey?"


"Okey!" 


~Bersambung


Hah ini kok kayak mau mewek lagi kalau udah pamit pisah-pisah.


Kurang apa ekstra bab sebanyak ini. Bahkan masih ada lagi, haha. Kalau aku nglunjak minta like, komen vote. Boleh gak sih? hahaha

__ADS_1


Kaborr.


__ADS_2