
...Sebuah ketakutan pasti akan kembali hadir saat ingatan di masa lalu terbayang-bayang dalam pikirannya. Hal itu memang wajar tapi bisa ditepis dengan mereka saling menguatkan. ...
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Sepulangnya mereka dari belanja. Almeera segera mengajak suaminya ke kamar. Entah kenapa ia butuh sesuatu yang mendinginkan pikirannya. Ia benar-benar marah sekaligus emosi yang memuncak.
Ingatan tentang bagaimana wanita itu menatap nakal suaminya. Membuat sesuatu dalam dirinya tertantang. Dia yakin dirinya masih begitu seksi dan mampu memenuhi sesuatu dalam diri suaminya.
Walau tubuhnya sudah sedikit melebar dengan perut menonjol. Tak membuat kelihaian dirinya untuk memuaskan sang suami berkurang. Ia tetaplah sama. Almeera yang ganas dan nakal ketika berduaan dengan sang suami.
"Sayang…" Tiba-tiba mulut Bara langsung disambar dengan cepat.
Almeera menciumnya dengan ganas seakan melampiaskan kekesalan dan kemarahannya dalam ciuman mereka.
Bara tentu terkejut. Namun, pria itu berusaha mengimbangi gerakan bibir sang istri. Bahkan ketika Almeera menggigit bibir bawahnya hingga perih. Pria itu tak protes.
Bara sangat tahu betul jika istrinya ini sedang emosi. Dia ingin Almeera melampiaskan itu kepadanya agar ia tak memendamnya dan tak akan mempengaruhi kesehatan bayi mereka.
"Aghh!" Bara mengerang saat bibir sang istri berpindah ke lehernya.
Almeera begitu aktif dengan menjelajahi lehernya itu. Memberikan kecupan basah dan gigitan yang membuat ayah dari empat anak itu yakin jika nanti akan ada bekas merah di lehernya.
Bara yang tak mau ketinggalan segera menarik tubuh istrinya. Merapatkan tubuh itu hingga duduk di atas pangkuannya. Dengan sekali gerakan, gamis yang Almeera pakai mulai terlepas dari tubuhnya.
Hanya tersisa pakaian dalam saja yang membalut dua aset penting milik Bara. Aset-aset yang sangat membawanya ke surga dunia hingga tak mampu mengingat apapun.
"Mas!" pekik Almeera terkejut saat jari jemari Bara mulai memasuki inti tubuhnya.
Lembah yang basah membuat tangan Bara bergerak dengan lincah. Keluar masuk bak ular berdansa hingga membuat pemiliknya menjerit nikmat.
"Yang cepat, Mas!" jerit Almeera dengan melentingkan tubuhnya saat ledakan itu hadir dalam dirinya.
Akhirnya ia bisa mengeluarkan cairan cintanya. Bara dengan nakal menunjukkan tangannya yang basah pada istrinya. Jemari dengan ****** ***** Almeera itu segera dilahap habis oleh mulut Bara yang membuat adik Jimmy itu menggigit bibirnya terkesan seksi.
"Ayo kita ke inti acara, Mas!" bisik Almeera lalu menurunkan celana yang dipakai Bara.
Akhirnya keduanya sudah terlihat polos. Almeera dengan pelan mendudukkan dirinya di pangkuan sang suami dengan Bara menyandar di sandaran ranjang.
__ADS_1
Posisi ini sangat nyaman sekaligus naga milik Bara terasa lebih nikmat. Dengan pelan, Bara mengangkat sedikit tubuh istrinya lalu mulai memasukkan naganya yang tegak meronta meminta pulang.
Suara lenguhan terdengar dari bibir keduanya saat Bara berhasil membobol gawang Almeera. Kedua mata mereka saling menatap dengan pancaran penuh kegilaan.
"Bergerak dengan lihai, Sayang. Pijat nagamu ini dengan seksi!" pinta Bara dengan tatapan sayunya.
Almeera yang mendengar semakin bersemangat. Dia menjadi yakin jika suaminya sudah candu akan tubuhnya. Bara tak akan bisa menatap wanita lain lagi jika ia bisa memenuhi keinginan batinnya.
Almeera segera bergerak bak pompa. Ke atas dan ke bawah. Kedepan dan kebelakang secara bergantian, lembut diiringi kedutan dalam lembah basah.
Ibu hamil itu menjadi bersemangat. Dia semakin kencang bergerak dengan dibantu Bara yang sama ikut bergerak. Hingga akhirnya suara jeritan mereka terdengar puas bersamaan inti mereka meledak hebat dan mengenai perut Almeera.
Ya, Bara mencabutnya dengan cepat. Dia mengeluarkannya di luar karena mengingat nasihat orang tua dan dokter. Dia tak bisa keluar di dalam karena takut membuat anak-anaknya kontraksi.
Nafas Almeera terengah-engah. Namun, Almeera puas. Dia puas bisa membuat suaminya selalu mau bersamanya.
"Kamu luar biasa, Sayang," nisik Bara dengan bangga. "Seperti ini terus gapapa. Aku malah makin suka."
Almeera memukul pundak suaminya. Pipinya bersemu merah menyadari bagaimana tingkahnya barusan. Namun, demi keselamatan suaminya. Ia rela melakukan apapun.
"Kamu puas, Mas?"
Almeera tersenyum. Dia percaya pada perkataan suaminya. Kepalanya mengangguk dengan hati yang lega ketika suaminya itu mengatakan hal-hal seperti ini.
Dia segera memeluk Bara dengan erat dan membiarkan tubuh polosnya menempel dengan tubuh Bara. Hingga tak lama, gesekan yang terjadi di antara tubuh keduanya, membuat sesuatu yang semula tertidur kini mulai berontak.
"Mas!" kata Almeera sambil membulatkan matanya.
"Aku masih kurang, Sayang!"
"Astaga!" sahut ibu hamil itu tak percaya.
Saat Bara hendak membajak lembahnya lagi. Sebuah suara panggilan telepon membuat keduanya spontan menghentikan aktivitasnya. Bara dengan pelan mengambil ponsel yang diletakkan di nakas lalu melihat siapa yang mengganggu aktifitas mereka ini.
"Daddy, Sayang!" kata Bara memberikan pada istrinya.
Almeera segera mengangkat panggilan itu. Dia mendekatkan benda pipih itu di telinganya dan mulai berbicara dengan Papa Darren.
"Apa!" seru Almeera dengan mulai beranjak duduk. "Dimana sekarang Kak Kayla, Pa?"
Almeera manggut-manggut hingga panggilan itu terputus. Baik Bara dan Almeera langsung saling menatap.
__ADS_1
"Kak Kayla mau melahirkan, Sayang. Ayo kita ke rumah sakit!"
Bara spontan menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh istrinya. Wajahnya lesu dengan tangan mengusap naganya yang masih setia berdiri.
Almeera yang melihatnya terkekeh. Dia sangat tahu betul jika suaminya pasti sedang sakit kepala.
"Ayo mandi! Ku bantu menidurkan Naga Tampanku ini, nanti."
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah berada di dalam kamar mandi hampir satu jam. Bara dan Almeera keluar dengan wajah bahagia. Keduanya segera berganti pakaian dan keluar dari kamar.
Bumil kembar ini sudah tak sabar menyambut keponakan pertamanya. Dia mengusap perutnya ini yang terasa gelisah agar anak-anaknya tenang.
"Sepertinya mereka juga gak sabar mau ketemu sama saudara mereka, Sayang," kata Almeera mengusap perutnya.
Saat ini keduanya sudah ada di dalam mobil. Bara tentu tersenyum mendengar perkataan istrinya. Tangannya terulur dan mulai mengusapnya dengan lembut.
"Sabar ya anak-anak Papa. Kita pasti aku bertemu beberapa bulan lagi."
Akhirnya perjalanan ini berakhir dengan sedikit terlambat. Waktu yang masih sore, membuat keadaan jalanan lumayan macet.
Bara membantu istrinya untuk turun dan segera masuk ke dalam rumah sakit. Entah kenapa jantungnya sama-sama ikut berdetak kencang saat ruangan yang berbau obat-obat itu mulai ia masuki.
"Kenapa tangan kamu dingin, Sayang?" tanya Bara yang sedang menggenggam tangan istrinya.
"Gak tau, Mas. Aku kek ikut takut aja. Apa bawaan si kembar yah?"
Perlahan Bara menghentikan langkah kakinya. Dia menarik tubuh istrinya lebih dekat dan tangannya mengusap perut istrinya.
"Jangan khawatir, Anak-anak Papa Bara. Papa dan Mama bakalan ada terus untuk kalian. Kita akan berjuang untuk bertemu di dunia ini ya, Nak."
~Bersambung
Kelakuan Mbak Meera emang makin ngadi-ngadi posesifnya. Dia lagi pasang badan takut. Takut Mas Bar oleng lagi, hahaha.
Kehamilan Mbak Meera di bab sebelumnya udah aku benerin yah. Kemarin ngetik di mobil sambil perjalanan bener-bener bikin keliru. Jadi cek baca lagi ya di bab sebelum ini.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
JANGAN LUPA IKUTAN GIVE AWAY DI INSTAGRAM AKU. CEK POSTINGAN @myname_jblack
__ADS_1