
...Kau berani mengusik kebahagiaan orang tuaku. Maka jangan salahkan aku jika hidupmu akan terusik....
...~Abraham Barraq Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Tangan lihai anak dari pasangan Almeera dan Bara benar-benar lincah. Dua anak berbeda usia yang lumayan jauh itu begitu damai menggambar di atas wajah wanita yang masih asyik memejamkan matanya. Sepertinya Narumi begitu lelah sampai tak menyadari kehadiran dua perusuh handal yang sedang mengerjai dirinya.
Tawa kekehan terbit di bibir keduanya saat mahakarya luar biasa miliknya telah selesai. Keduanya bertos ria dan menggoyangkan pantatnya saat misi mereka berhasil.Â
Bia segera turun dari ranjang dan membawa tas mungil berisi make up milik mamanya. Dia menghampiri abangnya yang sedang mengambil potret cantik wajah Narumi setelah di make over oleh tangan Bia dan Abraham.Â
"Cantik, Bang," bisik Bia sambil menahan tawanya.
Abraham menoleh. Dia mengacungkan jempolnya lalu membawa adiknya keluar dari kamar. Keduanya benar-benar berhasil merubah wajah wanita yang menjadi mantan istri papanya seperti kucing galak cantik.Â
"Terus sekarang kita ngapain, Bang?" tanya Bia setelah menutup tas mungil di tangannya.
"Kembalikan make up itu. Lalu kita turun ke bawah!"Â
Bia menurut. Gadis kecil itu segera berlalu menuju kamar mamanya dan meletakkan tas itu ke tempat asalnya. Lalu dia berlari ke arah sang abang dan mereka berdua turun kembali ke lantai bawah.
Keduanya berjalan seakan tak melakukan apapun. Bahkan mereka segera duduk di antara Om Jimmy dan Bara yang sedang makan cemilan sambil menonton televisi.
"Anak Papa darimana?" tanya Bara saat Bia duduk dipangkuannya.
"Bia habis belajar dandan, Pa," sahut Bia ambigu.Â
"Dandan?" ulang Bara dengan kening berkerut. "Terus mana hasil dandanannya?"Â
"Sebentar lagi pasti Papa tau hasilnya," ujarnya lalu mulai memakan biskuit coklat yang ada di toples.
Tak lama, Almeera datang memanggil semua orang ke meja makan. Waktu sudah menunjukkan waktu makan siang. Mereka segera mengelilingi meja panjang dengan beberapa kursi yang ada di sana. Lalu segera mendudukkan tubuhnya di kursi masing-masing.
"Kamu ngapain, Ra?" tanya Jonathan saat melihat adiknya tak duduk.Â
Tentu suara anak pertama Darren itu membuat semua yang ada disana menatap Almeera. Ibu dua anak itu sedang mengambil nasi dan lauk pauk lalu meletakkan di atas piring.
__ADS_1
"Aku sedang mengambilkan makanan untuk Narumi, Kak," kata Almeera tanpa beban.
"Biarkan saja dia mati, Ra. Untuk apa kamu mengurusnya sebaik ini?" sungut Jimmy dengan kesal.
"Bagaimanapun Narumi, dia hanyalah manusia biasa, Kak. Tempatnya salah dan khilaf," sahut Meera dengan lembut.Â
"Tapi kamu terlalu baik," ujar Jimmy apa adanya. "Dia sudah jahat padamu. Menjebak suamimu ini. Mengambil ayah anak-anakmu dan hampir membuat kalian bercerai."Â
Jimmy mengatakannya dengan frontal. Dia tak peduli apapun. Menurutnya adiknya itu memang terlalu berlebihan bersikap pada mantan adik madunya.
Jimmy ingin Almeera makan terlebih dahulu, baru mengurus Narumi. Namun, saat ini kenapa yang terjadi sebaliknya.
"Kakak," peringat Almeera melirik anak-anaknya.Â
"Sudah-sudah. Ini meja makan. Kalian dilarang berdebat di tempat ini," nasehat Abi Hafiz yang membuat kakak adik itu terdiam.Â
"Ayo, Ra! Sini!" ajak Bara menarik tangan istrinya. "Kamu makan dulu, baru boleh mengurus Narumi."
Jika sudah Bara yang berbicara maka Almeera tak akan mendebat. Bagaimanapun dia sangat tahu betul jika perintah suaminya, wajib ditaati. Apalagi ini menyangkut kebaikannya.Â
Almeera akhirnya menurut. Mereka semua mulai makan dengan tenang. Tak ada pembicaraan apapun. Hanya suara denting sendok dan garpu yang sesekali terdengar. Hingga suara teriakan yang sangat kencang, membuat mereka yang ada di ruang makan spontan berdiri.Â
"Itu dari kamar Rumi, 'kan?" tanya Almeera dengan yakin.
Semua orang akhirnya bergegas ke kamar Narumi. Meninggalkan dua sosok anak yang masih nyaman duduk di kursi makan. Keduanya bahkan tak mengindahkan kepergian para orang dewasa. Mereka terus makan dengan lahap sambil membayangkan wajah Narumi yang marah.
"Tos!" kata Abra yang langsung disambut oleh Bia.Â
"Bia yakin, Nenek lampir bakalan ngamuk," ujarnya dengan terkekeh geli.
"Biarin aja," sahut Abra dengan mengedikkan bahunya tak acuh. "Lebih baik kita makan."Â
...🌴🌴🌴...
Saat pintu kamar itu baru saja dibuka. Almeera menjerit kaget saat melihat sosok dengan wajah menyeramkan tengah duduk di atas ranjang. Istri Bara itu benar-benar terkejut bukan main.
"Kamu sedang apa, Rumi?" tanya Darren dengan nada sedikit membentak. "Kenapa teriak-teriak?"Â
Darren pura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi. Namun, dalam hatinya dia bangga dengan tingkah kedua cucu hebatnya itu. Maha karya luar biasa yang sangat amat jelas kentara.
__ADS_1
Alis yang tebal berwarna merah. Lalu dahi dengan coretan pelakor ada di sana. Lalu coretan seperti bulu kucing di sekitar pipinya, serta kumis di bawah hidung semakin menambah wajah estetik dalam Narumi.Â
"Lihat wajahku, Om!" teriak Narumi dengan marah. "Pasti ini semua ulah Bia!"Â
"Beraninya memfitnah cucuku?" tanya Darren berkacak pinggang. "Kamu tak tahu, rumah ini atas nama kedua cucuku."Â
Narumi menelan salivanya susah payah. Dia tak percaya bahwa pemilik rumah ini adalah dua anak nakal itu. Dirinya menggeram kesal, berusaha menahan segala amarah yang rasanya ingin meluap.Â
"Kenapa diam?" sindir Mama Tari yang sejak tadi diam. "Apa kamu takut diusir oleh cucuku dari rumah ini?"Â
"Maafin aku, Tante," lirih Narumi dibuat memelas mungkin. "Aku benar-benar terkejut. Ketika baru bangun, wajahku sudah alemong begini."Â
Narumi memegang pipinya sambil menatap cermin yang ia pegang. Entah milik siapa itu, yang pasti saat dia bangun tidur, cermin itu sudah ada di sana.Â
"Kamu bisa tanya, 'kan? Tidak perlu berteriak atau membentak."Â
"Iya, Tante. Sekali lagi maafin Rumi," ucap mantan istri Bara dengan menahan amarah yang begitu besar.Â
Dia mengepalkan kedua tangannya saat semua orang satu persatu meninggalkan kamarnya. Rasanya dia ingin berteriak dan memukul dua anak itu.Â
Lihat saja nanti! Jika drama ini berakhir, aku akan memukul dua cecunguk itu! Batin Rumi menjerit.Â
Setelah semua orang mulai meninggalkan ruangan Narumi. Di sana hanya menyisakan Almeera. Istri Bara dengan sabar mengambilkan pembersih wajah dan kapas.
"Ayo bersihkan wajahmu dulu lalu makan siang!"Â
Narumi mengangguk. Dia segera menghapus segala coretan itu di wajahnya meski tak bisa sebersih semula. Hingga sebuah langkah kaki mungil terdengar dan membuat keduanya menoleh.Â
"Halo, Tante Rumi!" sapa Bia dengan ramah. "Wajah Tante benar-benar perfect."Â
Anak kedua Bara dan Almeera itu memberikan jempolnya. Namun, tak lama jempol itu terbalik dan mengejek sosok Narumi.
Semua yang dilakukan oleh Bia tentu tak dilihat oleh Almeera. Gadis kecil itu mengalungkan tangannya di leher ibunya dari belakang dan bergelanyut manja di sana.Â
"Tante habis main dandan-dandanan yah?" tebak Bia sok lugu. "Wajah Tante jelek banget, tau! Jauh lebih cantik Mamaku."Â
"Hehe maaf ya, Tante. Jangan marah. Orang marah itu, temannya iblis dan orang jahat, tempatnya di penjara."
~Bersambung
__ADS_1
Telak, 'kan? Tuh Bia aja pinter Rum. Gih sana ke penjara! Biar para readers hidup tenang.Â
Jangan lupa klik like, komen dam vote. Haha maap ya pranknya di bab sebelumnya. Ya buat seneng-senengan aja. Biar gak tegang mulu sama mewek.