Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Trauma Berat Narumi


__ADS_3


...Luka lama yang kupendam sendirian kembali hadir. Bayangan dimana rasa sakit yang membuatku membenci istri pertama, berputar bak kaset rusak. Menyakitkan dan tak mudah dilupakan....


...~Narumi Alkhansa...


...🌴🌴🌴...


Narumi menjatuhkan tubuhnya di lantai. Dia memukul kepalanya ketika ingatan itu terus berputar. Hatinya semakin bergemuruh dengan rasa ketakutan yang tinggi. Dirinya benar-benar terus terngiang ucapan Jimmy. Perempuan itu seakan termakan oleh ucapan pria itu hingga membuatnya bisa seperti ini.


"Ibu," lirihnya saat bayangan ibunya menangis di hadapan matanya sendiri. "Rumi kangen, Ibu." 


Narumi menangis. Wanita itu bahkan memukul dadanya saat wajah ibunya terlihat jelas di matanya. Tubuhnya gemetaran saat bayang-bayang kejadian di masa lalu kembali hadir di pikirannya. 


Dia berusaha berdiri dan mencari kunci mobilnya berada. Narumi ingin mengunjungi sebuah tempat. Tempat dimana dulu dia bisa hidup bahagia. Tanpa sakit hati, tanpa trauma dan dendam seperti sekarang ini. 


Setelah mendapatkannya. Akhirnya Narumi mulai keluar dari rumahnya. Dia berjalan dengan cepat tanpa memperdulikan apapun. Dirinya hanya ingin segera sampai di tempat itu. Menumpahkan segala rindu dan kesedihan yang bercampur di hatinya agar bisa terobati dengan baik. 


Dengan kecepatan tinggi, Narumi mengendarai mobilnya begitu gila. Dia tak peduli bila hari ini kecelakaan. Semua traumanya seakan kembali muncul hingga obat utamanya hanya satu. Ke tempat dimana dia memiliki kebahagiaan dan kesedihan menjadi satu.


Setelah melakukan perjalanan selama hampir tiga jam. Akhirnya Narumi membelokkan setir kemudinya di sebuah rumah yang begitu sederhana. Bangunan itu terlihat tak terawat. Banyak debu dan dedaunan kering yang berserakan di halaman dan teras rumahnya.


Narumi segera turun dari mobil. Matanya menatap nanar rumah di depannya ini hingga tanpa sadar air matanya mengalir. Dengan berat, perempuan itu mulai melangkahkan kakinya mendekat, memutar kunci pintu dan membukanya secara perlahan. 


Satu kata yang mampu menjabarkan kondisi rumah ini, 'berdebu'. Narumi mengibas-ngibaskan tangannya saat debu-debu itu mulai terhirup hidungnya. Matanya mengedar ke seluruh ruangan. Hingga setiap bayangan dimana dulu dia bisa bercanda tawa begitu lebar kembali terlihat. 


Semua itu seperti kaset rusak. Berputar hingga membuat kepala Narumi sakit. Perempuan itu terengah-engah dengan rasa trauma yang besar. Hanya Narumi yang mengetahui keadaan dirinya sendiri. Hanya wanita itulah yang mampu mengetahui kondisi bagaimana tubuhnya saat ini. 


"Sakit, Bu. Semua ini menyakitkan," ujarnya dengan tangisan yang pecah. 


Matanya terpejam dengan tubuh terduduk di lantai. Dia membiarkan air matanya berjatuhan dengan ingatan yang berputar pada sosok ibunya.


"Ayah mau pergi kemana?" tanya sosok anak perempuan memegang tangan ayahnya yang menyeret koper besar. 


"Ayah sedang ada pekerjaan, Nak," sahut pria yang memiliki kemiripan wajah dengan anak perempuan itu. 


"Tapi kenapa Ayah membawa koper besar?" 


"Karena Ayah akan melakukan perjalanan yang lumayan lama, Princess Rumi." 

__ADS_1


Mata anak yang masih bersekolah SMP itu berkaca-kaca. Dia menggelengkan kepala pertanda tak mau ditinggalkan sosok ayahnya. 


"Narumi mau ikut. Narumi mau ikut, Ayah," ujarnya dengan menangis. 


"Lepaskan Ayah, Sayang. Ayah harus bekerja." 


Satu minggu setelah kepergian sang Ayah. Terdengar suara gedoran pintu di rumahnya. Bersamaan dengan suara teriakan yang memanggil nama ibu dari Narumi. Tentu hal itu membuat dua perempuan berbeda usia yang sedang menikmati sarapan lekas saling pandang. 


"Siapa, Bu?" Tanya Narumi dengan mengikuti ibunya.


"Nggak tau, Nak. Ayo kita lihat."


Baru saja pintu itu terbuka. Muncul sosok perempuan dengan ganas menyerang ibunya. Perempuan itu menampar sosok ibu Narumi dan menjambak rambutnya begitu kuat.


"Dasar pelakor murahan! Dimana suamiku sekarang?" Tanya wanita itu dengan marah. 


"Lepaskan Ibuku, Tante. Lepaskan!" Seru Narumi dengan menarik tangan wanita yang masih dengan kuat menjambak rambut ibunya.


Wanita itu mendorong tubuh Narumi dan membuat anak itu terjatuh. 


"Jangan ikut campur, Anak Haram!" Hardiknya dengan keras.


"Maksud Ibu, apa?"


Wanita itu melepaskan rambut ibu Narumi dengan kasar. Lalu dia melempar sebuah foto di wajah ibu Narumi hingga membuat wanita itu menangis. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak. Hingga sebuah foto yang jatuh di tangannya membuat matanya terbelalak.


Disana, terdapat wajah pria yang begitu dia kenali. Pria yang menikahi dirinya belasan tahun secara sirih ternyata adalah pria beristri.


"Mas…" 


"Ya. Dia suamiku, Pelakor!" Seru wanita itu merampas foto itu. 


"Nggak mungkin. Dia suamiku!'" Kata Ibu Narumi membela diri.


"Heh. Dasar murahan!" Pekik wanita dengan pakaian serba mahal itu. "Pelakor teriak pelakor. Dia itu suamiku yang sah negara dan hukum." 


Jantung Ibu Narumi berdegup kencang. Dia benar-benar begitu shock mendengar kenyataan yang baru saja dia dengar.


"Camkan ini! Tinggalkan suamiku atau anakmu yang menjadi taruhannya." 

__ADS_1


Setelah kejadian itu, Ibu Narumi yang mulanya sosok ceria menjadi pendiam. Tak ada lagi canda tawa dan kehangatan di rumah itu. Tak ada lagi celotehan Narumi dan ibunya yang berakhir tawa bahagia. Hanya air mata dan suara benda pecah saat sakit Ibu Narumi mulai kambuh.


Hingga suatu hari, Narumi yang saat itu baru saja selesai membeli makanan di dekat rumahnya, segera pulang ke rumah. Dia meletakkan nasi itu di atas piring dan menatanya sedemikian rupa.


Langkah kaki itu mulai mendekati sebuah pintu yang masih tertutup rapat. Dia segera membukanya hingga sebuah pemandangan mengejutkan membuat piring yang berada di tangan Narumi jatuh ke lantai.


Prang.


"Ibu!" Teriak Narumi begitu histeris.


Disana sosok ibunya sudah gantung diri di kamarnya. Sosok wanita itu sudah tak bergerak dan membuat Narumi berlari ke luar rumah.


"Tolong...tolong!" 


Tentu teriakan itu membuat semua orang berdatangan. Mereka membantu menurunkan tubuh Ibu Narumi yang ternyata sudah tak bernyawa. Anak itu menangis. Dia memeluk tubuh ibunya dengan erat dan kebencian yang mendalam pada sosok ayah serta perempuan yang ternyata istri pertama ayahnya. 


"Aku benci, Ayah! Aku benci istri pertama! Aku akan membuat hancur setiap istri pertama yang sedang bahagia!" 


Perempuan itu mulai menepis air matanya. Dia mulai mengatur nafas saat ingatannya itu mulai bubar. Matanya sekali lagi menatap sekeliling. Dirinya mulai mengepalkan kedua tangannya.


Ditempat ini, di rumah ini semua sudah pernah dia lewati. Kebahagiaan, keluarga yang hangat, tawa lepas, orang tua yang saling mencintai hingga kematian ibunya semakin menyiram sakit di hatinya. 


"Aku tak selemah ini. Aku sudah berjalan begitu jauh. Aku tak mau menyerah begitu saja. Aku akan membuat Bara memilihku dan meninggalkan Almeera selamanya," kata Narumi dengan tekad yang tinggi. 


Dia mulai bangkit. Lalu pergi meninggalkan rumah itu. Pikirannya seketika tenang. Dia mulai menghela nafasnya dan berpikir cara apa yang akan dia lakukan setelah ini.


"Aku harus membuat Bara selalu ada untukku dan tak memiliki cela untuk dekat dengan Almeera atau Jimmy." 


~Bersambung


Kalau liat film joker, sifat seseorang itu karena ada sebab akibat. Jadi kita buka tabir Narumi dulu yah. Biar semuanya impas, walau yah aku gak membenarkan tingkahnya Sarimi.


Salah mah tetap salah. Gak ada salah yang dibenarkan!


Oh iya untuk pembaca yang masih setia sama novel ini, terima kasih banyak. Aku bener-bener ucapin banyak terima kasih sama kalian semua.


Insya allah kalau gak ada halangan, awal bulan depan aku mau adain give away pulsa dulu yah. Jadi stay toon aja sama novel ini.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2