
...Dia memang tak romantis tapi tingkahnya bisa membuat jantungku hampir meledak. ...
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
"Aku membelinya khusus untukmu dan datang kesini berniat meminta maaf. Jika kau tak mau dan tak suka dengan bunganya. Buang saja!"Â
Setelah tubuh Reno hilang di balik lift khusus yang diciptakan untuk atasannya, Jonathan. Perlahan pandangannya berpaling. Dia menatap buket bunga tulip yang tergeletak di meja kerjanya.
Entah kenapa perhatiannya tertarik. Dia berjalan mendekat dan menatap bunga yang terlihat begitu segar. Tanpa kata, dia segera mengambil buket tersebut. Memegang bunga-bunga itu dengan lembut lalu didekatkan di hidungnya.
Bunga ini membuat hatinya sedikit tersentuh. Bayang-bayang wajah Reno yang kecewa padanya membuat hatinya tak enak hati. Namun, keras kepalanya yang sangat tinggi. Adeeva merasa tak peduli jika Reno tersinggung dengan pengusirannya atau tidak.Â
Yang terpenting, pria itu tahu bahwa dia tak mau menemui Reno lagi dan tak mau melihatnya sedikitpun!
Perlahan pandangannya tertuju pada sebuah kartu ucapan yang ada di sana. Adeeva segera mengambilnya dan membuka surat itu.Â
...Kembalilah ke perusahaanku. Maafkan aku, Dee. Aku benar-benar menyesal....
...Reno....
Adeeva hanya menatap datar kertas itu. Dirinya tak tahu harus melakukan apa lagi. Setiap kalimat yang ditulis di sana, entah kenapa masih membuatnya sangat kesal jika mengingat wajah Reno.
Akhirnya Adeeva membawa bunga itu menuju pantry yang ada disana. Dia mengambil pisau dan membawanya di meja kerjanya. Perempuan itu menatap bunga dan pisau bergantian.
"Lebih baik aku hancurkan bunga ini dan kubuang," ujarnya dengan tak acuh.
Segera dia mengambil pisau itu. Memegangnya dan mendekatkannya pada bunga indah itu. Hingga saat dirinya hendak mengiris bunga itu. Tiba-tiba ada perasaan sayang dan tak rela.
Adeeva menghela nafas berat. Pikirannya begitu labil. Namun, bunga ini terlalu cantik untuk dihancurkan dan dirusak. Hatinya mulai dilema saat ini.
Hingga akhirnya dia memilih meletakkan pisau itu lagi dan mengambil vas bunga disana. Lebih baik bunga itu dijadikan hiasan yang memanjakan mata. Ya itung-itung ada gunanya lah bunga ini disini.
...🌴🌴🌴...
"Jangan memaksaku lagi! Obat itu pahit," keluh seorang perempuan dengan menutup mulutnya rapat.
Kepalanya menggeleng saat pria dihadapannya mencoba merayunya untuk menelan 3 butir obat yang diminum beberapa hari ini. Sejak tadi pria itu sudah membujuknya untuk meminum obat tersebut.
"Ayo, Lia!" pinta pria itu penuh harap.
"Aku bosan minum obat terus, Kak Jim. Itu pahit," rengeknya sambil menggeleng.
Tatapan perempuan itu memelas. Dia mencoba bernegosiasi dengan Jimmy. Saat ini kakak dari Almeera memang sedang berkunjung ke rumah Zelia. Menjenguk perempuan itu karena Mama Zelia menghubunginya jika kekasihnya tak mau minum obat.Â
"Baiklah. Ini yang terakhir," kata Jimmy masih tak mau kalah.
"No!"Â
"Lia?" panggil Jimmy dengan lembut.
"Pahit," seru Zelia menutup telinganya.
"Sayang!"Â
__ADS_1
"Jangan mencoba merayuku!" seru Zelia tak mau kalah juga.
"Bagaimana jika setelah minum obat. Kita jalan-jalan?" tawar Jimmy sambil mengangkat salah satu alisnya.
Spontan ucapan pria itu membuat Zelia menoleh. Dia menatap Jimmy dengan lekat seakan sedang membaca pikiran pria itu.Â
"Aku janji," tambah Jimmy yang membuat Zelia tak bisa menolak.
Akhirnya perempuan itu menerima obat itu. Lalu meminumnya dengan cepat. Dirinya benar-benar ingin muntah, saat permukaan obat itu mengenai lidahnya.Â
Setelah menelannya dengan terpaksa. Jimmy mengulas senyum tipis. Kekasihnya ini mudah dirayu dan dibujuk dengan kata jalan-jalan. Jadi tak membutuhkan usaha yang keras untuk meluluhkan hatinya.
"Gimana kalau kita ke mall?" tawar Zelia saat Jimmy baru saja datang meletakkan gelas ke dapur.Â
"Boleh," sahut Jimmy dengan serius.
"Aku ingin melihat salonku sebentar. Sudah lama sekali aku tak kesana," ucap Zelia yang membuat Jimmy hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Akhirnya sahabat Almeera izin berganti pakaian. Wanita itu sudah bisa berjalan sendiri walau harus pelan-pelan. Jahitannya memang masih basah. Jadi ia tak bisa melakukan segala aktifitas seperti biasanya.Â
Setelah semuanya siap. Akhirnya keduanya mulai melesat menuju mall tempat dimana salon Zelia berada. Perempuan itu benar-benar sudah tak sabar untuk segera sampai di sana. Dirinya sudah hampir dua minggu tak datang menjenguk tempat yang digunakan untuk mencari rezeki.
Segala rentetan kejadian membuatnya benar-benar harus banyak beristirahat. Namun, hal itu malah semakin membuat Zelia merasa bosan. Hanya tidur, makan dan minum obat.Â
"Apa yang Kak Jim lakukan kemarin? Kenapa tak mengirim pesan kepadaku?" tanya Zelia saat kendaraan Jimmy sudah meninggalkan pelataran rumahnya.
Pria itu menoleh sejenak. Lalu kembali menatap depan. "Aku hanya mengerjakan laporan dari komandan."Â
"Memangnya pekerjaan, Kak Jim, sangat banyak?" tanya Zelia ingin tahu. "Sampai tak sempat mengirimiku pesan, ck."Â
Bibir wanita itu cemberut. Jujur dirinya seharian menunggu kabar Jimmy. Namun, pria yang ditunggu tak kunjung datang mengirimkan pesan.
"Apa harus?" tanya Jimmy dengan wajah datarnya. "Bukankah lebih baik seperti ini?"Â
"Seperti ini apa?" tanya Zelia dengan bingung.Â
"Bertemu," ujar Jimmy dengan santai.
"Ya tapi sekali-kali kirim pesan dong! Biar aku tau Kak Jim sedang apa," ujarnya sambil memalingkan wajahnya menatap jalanan.Â
Tiba-tiba matanya tanpa sengaja menatap seorang penjual kembang gula. Dia meminta kekasihnya untuk berhenti hingga membuat Jimmy tentu menurutinya.
"Ada apa?" tanya Jimmy dengan panik.
"Emm aku mau beli kembang gula. Tunggu yah!" kata Zelia sambil melepas seat beltnya.Â
Saat dirinya tergesa-gesa dan melupakan luka di perutnya. Membuat pergerakannya yang hendak turun dari mobil terhenti.Â
"Ustt." Zelia meringis.Â
Hal itu tentu membuat Jimmy segera turun dan mengitari mobilnya untuk berpindah ke pintu dimana kekasihnya berada.Â
"Ayo!" Jimmy mengulurkan tangannya.
Tanpa kata Zelia menerimanya lalu turun dengan pelan. Wajahnya langsung berbinar saat dengan pelan, dia berjalan mendekati pedagang itu dengan tangan yang digenggam oleh Jimmy.
Benar-benar tingkah yang sederhana tapi menurutnya romantis.
__ADS_1
"Satu, Pak," kata Zelia menunjuk salah satu kembang gula.
"Terima kasih, Neng," kata penjual itu dengan ramah.Â
"Sama-sama." Zelia mulai membukanya.
Dia benar-benar seperti menemukan harta karun yang banyak. Mulai mencuil kembang gula itu, tanpa memikirkan tangannya yang akan lengket.
"Mmm enak," ujarnya sampai memejamkan mata.
Jimmy benar-benar takjub. Hanya karena sebuah kembang gula, membuat wanita itu sebahagia ini. Harga yang sangat murah bisa mencetak senyuman lebar dari bibir kekasihnya.Â
Wanita yang benar-benar sederhana bukan?
"Apa seenak itu?" tanya Jimmy saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
Tanpa menjawab, Zelia menyodorkan kembang gula yang sudah dia cuil dan mengulurkannya di dekat bibir Jimmy.
"Aaa," katanya dengan bibir tersenyum.Â
"Aku gak suka," kata Jimmy menolak.
"Ayolah. Sedikit saja, Sayang," rayunya dengan pipi bersemu merah.Â
Dirinya benar-benar malu. Namun, Zelia mencoba merayu agar kekasihnya mau menerima suapannya.
"Pliss," pinta Zelia dengan menunjukkan wajah imutnya.Â
"Jangan perlihatkan wajahmu itu pada siapapun!" kata Jimmy posesif.Â
"Tentu. Ini khusus untukmu."Â
Akhirnya Jimmy memegang lengan Zelia. Mencoba menerima makanan aneh yang ada di tangannya.
Wajah Zelia ketar-ketir. Dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh kekasihnya. Namun, sebuah perlakuan Jimmy membuat jantungnya berdegup kencang.
Pria itu malah dengan sengaja menerima suapan hingga menghisap jari Zelia.Â
"Manis," katanya dengan menyunggingkan senyum tipis yang membuat jantung Zelia tak karuan.Â
Jika terus bisa begini. Aku yakin harus segera periksa ke dokter jantung. Sial, kekasihku tampan sekali!
~Bersambung
Itu kekasih kita, Ze. Jimmy kekasih kamu, author dan para pembaca, haha. Bener gak?
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
Yang minta visual Bang Jim sama Zelia. Nih aku kasih yah.
Bang Jim
Zelia
__ADS_1