
...Mungkin aku tak bisa memutar waktu untuk mengulang kejadian yang sudah aku lakukan. Namun, untuk memperbaikinya, aku masih punya banyak waktu....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
"Kalian hati-hati ya disana. Kalau sudah sampai cepat hubungi Kakek dan Nenek," kata Papa Darren pada kedua cucunya.
Bia dan Abraham pun mengangguk. "Siap, Kakek."Â
"Kami pamit ya, Ma, Pa," kata Almeera lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Iya, Sayang. Jangan lupa, pulangnya bawain kami calon cucu," goda Mama Tari yang membuat Bara dan Almeera salah tingkah.Â
Jika mengingat apa yang baru saja terjadi. Tentu membuat keduanya benar-benar merasakan hal yang sangat amat luar biasa. Kenikmatan dunia yang sudah lama tak mereka rasakan. Kini mulai mereka cicil sebelum mencapai gols ke lembah basah dan menggiurkan.Â
Akhirnya keempat orang itu mulai melambaikan tangannya. Mobil yang dikendarai oleh supir mulai melaju membelah jalanan. Almeera dan anak-anak yang duduk di bangku tengah saling bersenda gurau.
Mereka tentu merasa bahagia karena sudah lama sekali tak liburan. Apalagi Almeera, wanita itu sangat amat merindukan suasana kota Jogja di malam hari. Suasana yang pernah mereka lalui saat berpacaran dan awal-awal pernikahan.Â
Hingga suara celetukan Abraham yang melihat ke arah jalanan. Membuat Almeera dan Bia sama-sama menatap bingung.Â
"Ini jalan mau ke bandara, 'kan, Pa?"Â
"Iya, Mas. Kenapa kita kesini?" tanya Almeera yang sama-sama bingung.Â
Bara tersenyum. Dia menatap ke belakang dengan tatapan ketiga orang yang sangat disayang tertuju kepadanya.
"Karena memang jalannya kesini," ujar Bara ambigu.
"Tapi kalau ke Jogja ya bukan kesini, Mas," kata Almeera dengan apa yang dia tahu.
"Ya. Kita singgah ke kota lain dulu sebelum ke Jogja," ucap Bara lalu memalingkan wajahnya menatap ke depan kembali.Â
Perkataan ayah dua anak itu membuat Almeera, Bia dan Abraham saling pandang. Mereka seakan sama-sama menerka kemana keempatnya akan singgah.Â
"Memang kita mau kemana, Pa?" tanya Bia yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
Bocah itu melongokkan tubuhnya ke depan. Dia menarik lengan sang papa yang sengaja tak menggubrisnyaÂ
"Papa!" teriak Bia dengan suara yang sedikit tinggi. "Papa kalau diam, Bia marah!"Â
Pria itu menahan tawanya. Dia tak menyangka sosok anaknya mulai kembali seperti semula. Bia yang hangat dan ceria, kini mulai kembali terasa oleh orang disekitarnya.Â
"Coba tebak? Kita mau kemana?" tanya Bara menaikkan salah satu alisnya.Â
"Semarang?" tanya Almeera menebak.
"Bukan!"Â
"Solo?"Â
__ADS_1
"Bukan!"Â
"Pati?"Â
"Bukan, Sayang!"Â
"Terus kemana?" tanya ketiganya bersamaan dengan wajah sebal.
"Ke kota yang penuh dengan tempat wisata dan buah apel," ujar Bara memberikan clue.
Ketiga orang itu kembali saling menatap. Mereka berbisik mencoba menerka kemana sebenarnya mereka pergi. Hingga saat ketiganya mengingat sesuatu.
Ingatan tentang percakapan sebelum terjadi kejadian badai menyerang. Kota yang sangat ingin dikunjungi Almeera, Nia dan Abraham sejak lama. Kota yang terkenal dingin dan menyejukkan.
"Malang?" ucap ketiganya serentak yang langsung dihadiahi anggukan kepala oleh Bara.Â
"Waahh. Yey!" Bia dan Abraham bertepuk tangan.
Dua anak itu tak menyangka jika papanya mengabulkan keinginan mereka dua tahun yang lalu. Keinginan mereka ingin jalan-jalan ke kota apel nan dingin.Â
"Kita akan ke malang dulu baru selanjutnya ke Jogja."
Ketiga orang yang duduk dibelakang benar-benar berwajah bahagia. Bahkan raut muka mereka begitu berbinar tak menyangka jika akan menginjakkan kaki ke kota yang berada di jawa timur.
"Berapa hari kita disana, Pa?"Â
"Sepuluh hari, paling lambat 2 minggu."
Ditambah urusan kantornya dibantu oleh Jonathan yang bersedia. Hingga membuat Bara sedikit lebih tenang meninggalkan pekerjaannya. Setidaknya kali ini dia akan fokus pada keluarganya.Â
Mengobati segala luka yang sudah ditorehkan dan diganti dengan senyum kebahagiaan.
...🌴🌴🌴...
Akhirnya penerbangan selama 1 jam 35 menit itu diakhiri dengan pemandangan kota malang yang begitu cerah. Saat kedua kaki keempatnya baru saja menginjakkan di tanah malang. Mereka langsung ditimpa udara yang begitu sejuk.
Almerra segera membantu merapatkan jaket milik putrinya. Lalu keduanya segera keluar dari bandara setelah mengambil koper milik mereka.
Dari jauh, Bara bisa melihat pria yang sangat ia kenali. Pria yang beberapa bulan lalu menghilang tanpa kabar akhirnya mampu ia hubungi lagi.Â
"Lo apa kabar?" tanya Bara sambil memeluk sahabatnya ini.
"Gue baik, Bar. Lo sendiri?" tanya pria itu dengan menatap kedatangan sahabat dan keluarganya. "Tanpa Lo bilang, gue bisa lihat kalau Lo udah jauh lebih baik dan bener-bener baik."Â
Bara terkekeh. Dia meraih pundak istrinya dan memberikan kecupan di puncak kepala Almeera.Â
"Seperti yang Lo lihat! Hidup gue jauh lebih berarti sekarang!"
"Gue salut dengan kesempatan yang bisa Lo dapet dari Meera."Â
"Lo bener. Gue beruntung punya dia."Â
Bara menatap Almeera penuh cinta. Tak ada lagi hal yang mampu dijabarkan melalui kata-kata. Seakan apa yang sudah diterima sekarang, jauh di luar ekspektasinya.
__ADS_1
"Yaudah. Yok masuk! Malang lagi dingin banget sekarang."Â
Akhirnya kelimanya segera masuk ke dalam mobil milik Syakir. Salah satu sahabat Bara yang pernah menjadi saksi nikah pernikahan kedua pria itu.
Beberapa bulan ini, memang Syakir menghilang. Entah apa yang pria itu sembunyikan tapi Bara tak ingin mencari tahu sebelum sahabatnya sendiri yang bercerita.
"Kita bakalan tinggal dimana, Pa?" tanya Abraham menatap jalanan kota impiannya.
"Tanya aja ke Om Syakir," kata Bara yang sama tak tahu.
"Kita akan ke Tumpang. Di sana lumayan jauh dengan kota dan airnya juga dingin."Â
"Apa rumah Om Syakir disana?" celetuk Bia yang kepo.
Pria itu mengangguk.
"Iya," sahut Syakir dengan suara terbata.
Bara bisa melihat kebingungan pada muka sahabatnya. Seakan ada sesuatu yang sedang ditutupi.
"Nanti Om akan menjadi pemandu kalian selama di Malang, loh!" ujar Syakir seakan mengalihkan perhatian mereka.
"Siap, Om! Ajak kami ke Kota Batu juga yah. Bia pengen main ke jatim park, sengkaling, coban rondo. Ah dan masih banyak lagi," ujar Bia yang sudah mencari tahu beberapa destinasi di Malang.
"Siap!"Â
Akhirnya perjalanan selama tiga puluh menit dari Abdurrahman Saleh ke Tumpang pun berakhir. Mobil Syakir mulai memasuki sebuah perumahan hingga hampir 100 meter akhirnya kendaraan itu berhenti.
"Ayo turun!" ajak Syakir dengan bahagia.
Saat Bia, Abraham, Bara dan Almeera baru saja turun. Keempatnya langsung disambut oleh seorang perempuan muda yang cantik dan putih. Namun, di mukanya terdapat jerawat dan bekasnya yang sangat amat terlihat.
Bagi Almeera, walau wajahnya ditumbuhi jerawat. Tetap tak bisa membohongi jika wajah itu memang cantik dan manis. Mungkin hanya karena bekas jerawat dan jerawatnya saja yang mampu menutupi kecantikannya.Â
"Siapa dia, Kir?" tanya Bara penasaran.
Terlihat Syakir dan perempuan itu saling pandang. Terlihat keraguan di mata mereka. Namun, jika di mata Syakir, Bara bisa melihat kebencian di sana.
"Dia cuma saudara gue, Bar!"Â
Saat ucapan itu keluar dari mulut Syakir. Bara bisa melihat mata wanita itu berkaca-kaca. Yang membuat Bara yakin ada sesuatu di antara mereka.Â
Gue yakin dia bukan saudara Lo, Kir!
~Bersambung
Yayaya Malang ye. Adakah yang dari Kota Malang disini?
Cung yuk!
BTW cerita Syakir ini mungkin bakalan Author ikutin lomba merubah takdir wanita. Hehe.
Jangan lupa klik like, komen dan vote dulu. Biar author semangat namatin karya HTS.
__ADS_1