
...Kelahiran buah hatinya sangat di nanti dan hal itu membuatku ikut tak sabar menanti kelahiran buah hatiku....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah Kayla dipindahkan ke ruang rawat. Seluruh keluarga mulai memenuhi ruangan tersebut. Mereka semua sama-sama tak sabar menunggu kehadiran bayi mungil perpaduan Kayla dan Jonathan.Â
Bayi perempuan yang sangat lucu dan menggemaskan itu pasti akan menjadi santapan para orang dewasa. Terutama Papa Darren dan Mama Tari. Dua orang itu sejak tadi terlihat tak sabar. Mereka bahkan berada di dekat Kayla dan Jonathan untuk menanyakan bagaimana proses kelahiran bayi mereka.
"Jadi kamu sudah tau, 'kan? Gimana dulu Mama lahirin kamu?" tanya Papa Darren mengusap bahu putranya.Â
Jonathan mengangguk. Pria itu menggenggam tangan mamanya dan menciumnya dengan lembut. Dia tak akan menanyakan bagaimana prosesnya karena ia melihatnya sendiri.Â
Walau itu adalah proses kelahiran putrinya. Namun, Jonathan yakin jika semua perjuangan wanita melahirkan sama besarnya. Sama-sama berusaha setengah mati untuk melahirkan anak-anaknya.
"Kalau Jo punya salah, maaf ya, Ma. Jo bener-bener menyesal kalau emang pernah nyakitin hati, Mama," ujar Jonathan dengan tulus. "Jo sendiri udah lihat gimana ngelahirin itu sakit, Ma."Â
Mama Tari tersenyum. Hal inilah yang membuatnya meminta Jonathan untuk ikut ke dalam ruang bersalin agar dia mengerti bagaimana perjuangan seorang istri.Â
Bagaimana perjuangan wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan buah hati mereka. Bagaimana pengorbanan seorang ibu hamil dari bulan pertama sampai sembilan bulan berlalu.
Itu bukan hanya bualan semata. Perjuangan itu benar adanya sampai mereka melahirkan dan membesarkan.Â
"Mama udah maafin kamu, Nak," ujar Mama Tari dengan tulus. "Kalau kamu udah tau perjuangan istri kamu melahirkan anak kalian. Jangan pernah menyakitinya sedikitpun. Mereka itu manusia kuat dan lemah di waktu yang bersamaan."Â
Jonathan mengangguk. Dia membenarkan perkataan mamanya barusan. Dia jadi percaya bahwa wanita tak selemah itu.
Dia menatap istrinya dengan penuh cinta dan mencium dahinya tanpa malu pada mama dan papanya.
"Maafkan aku kalau ada salah sama kamu, Sayang. Aku benar-benar menyesal."Â
"Aku udah maafin kamu. Aku juga belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Jadi mari kita belajar sama-sama menjadi orang tua dan pasangan yang baik."Â
Mama Tari dan Papa Darren tersenyum. Pembicaraan mereka berakhir tatkala pintu ruangan Kayla dibuka dan masuklah bayi kecil dengan box bayinya ke ruangan itu dengan seorang suster yang mendorongnya.
Perhatian mereka semua tentu langsung tertuju pada bayi mungil itu. Mereka segera mengerubungi box bayinya dengan tatapan berbinar.Â
Wajah putih mulus, pipi gembul kemerahan dengan rambut tebal serta alis lentik begitu terpahat indah di wajah mungilnya. Perpaduan Kayla besar yang sangat melekat sekali.
"Masya allah, Kak. Ini mah mukanya Kak Kay banget," ujar Almeera dengan wajah begitu antusias.Â
"Iya bener. Jonathan gak dikasih apa-apanya ini mah!" ujar Papa Darren membenarkan.
__ADS_1
Mereka semua mulai berebut untuk menggendong. Namun, tak ada satupun yang berebut untuk menciumnya. Semua orang sangat tahu jika kulit wajah bayi itu begitu sensitif. Tak sembarangan orang bisa menciumnya karena bisa membuat kulit bayi kemerahan.
"Aku gendong boleh, 'kan, Kak?" pamit Almeera pada kakaknya.
"Boleh. Gendong aja, Ra!" kata Kayla dengan kepala mengangguk.Â
"Hati-hati, Sayang. Ingat kamu juga lagi hamil." Peringat Papa Darren mengingatkan putrinya.
"Iya, Pa."Â
Dengan lembut Almeera mengambil bayi menggemaskan itu. Menggendongnya dengan pelan dan membawanya ke dalam pelukan. Bayi mungil tak terganggu sedikitpun. Dia tetap tertidur dengan nyenyak hingga hal itu membuat Almeera menjadi lebih tenang.Â
"Gendong si gumus ini, Almeera jadi gak sabar buat gendong si kembar," ujarnya dengan tersenyum.Â
Bara mengangguk. Dia mengusap kepala bayi mungil itu dengan perasaan hangat. Aroma bayi yang khas membuat Bara juga tak sabaran.Â
Dia begitu mengingat bagaimana Abra dan Bia saat bayi dulu. Aroma yang selalu wang menjadi hal yang mampu membuatnya melupakan rasa lelah.
Rasa penat banyaknya pekerjaan akan hilang saat melihat wajah anak-anaknya yang bahagia.
"Kamu udah jendul gitu, Ra. Tinggal tunggu waktunya aja," ujar Jonathan dengan entengnya.Â
"Papa doain semoga cucu papa yang otw coming ini, sehat selalu dan menyusul cucu cantik Papa ini," kata Papa Darren mengusap perut anaknya.Â
Kemudian Almeera mulai beranjak untuk duduk saat perutnya terasa kram. Entah kenapa hamil si kembar dia sering merasakan sakit pinggang dan perut. Bahkan dia sampai malas untuk keluar rumah karena tak tahan akan pinggangnya.Â
"Ada apa, Sayang?" tanya Mama Tari duduk di dekat putrinya.
Dia melihat anaknya duduk dengan gelisah dan tak nyaman. Hingga membuat ibu tiga anak itu merasa khawatir.
"Perut Meera kaku, Ma," ujarnya dengan mencoba mengatur nafas.Â
Bara mulai khawatir. Dia langsung meminta istrinya berbaring diatas sofa. Dengan penuh perhatian, tangan Bara mulai mengelus perut dan pinggang istrinya.Â
Dia juga membacakan shalawat karena hal seperti ini selalu terjadi di masa kehamilan Almeera. Ibu hamil itu selalu merasa lebih tenang setelah melakukan skin to skin dengan istrinya.
"Sepertinya anak-anakmu ini, memang selalu manja dengan papanya, Ra," kata Kak Kayla menggoda.
"Bener, Kak. Mas Bara selalu membawa pengaruh besar pada anak-anaknya," kata Almeera dengan apa adanya.
Sejak kehamilan Abra. Kehamilannya memang sangat manja. Termanja adalah kehamilan Bia memang. Sampai kemana pun Bara berada, Almeera selalu ikut karena tak mau berjauhan.Â
"Bagaimana, Sayang. Sudah mendingan?" kata Bara setelah mencoba menekan perut istrinya pelan.Â
"Udah, Sayang. Perutku gak sekaku tadi."Â
__ADS_1
"Buat tidur aja, Nak. Kamu pasti lelah," kata Papa Darren sambil mengambil bantal lebih yang ia bawa untuk Kayla.Â
Bara menerima bantal itu dan meletakkan di bawah kepala istrinya. Almeera dengan tenangnya mencari posisi ternyamannya. Namun, tetap saja, tangan suaminya harus mengusap perut Almeera agar anak-anaknya menjadi tenang.Â
"Kalau boleh tau, siapa nama bayi mungil ini, Kak?" celetuk Almeera dengan mulut yang mulai menguap.Â
Jonathan menatap istrinya. Kayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai pertanda setuju pada pendapat suaminya.
"Bayi mungil ini akan kuberi nama," jeda Jonathan sambil mengusap kepala putrinya dengan lembut. "ORANE LIANDY ANNISA."
"Artinya?" tanya Bara dengan pelan.
"Cahaya dari kecantikan wanita," ujar Jonathan dengan bangga.Â
"Nama yang bagus," sahut Mama Tari tersenyum. "Ane, cucu nenek."Â
"Dipanggil Ane, Kak?"Â
"Iya. Ane bisa, Nisa juga bisa," ujar Jonathan pada adiknya.Â
Akhirnya Almeera yang mulai tak tahan akan rasa kantuknya mulai terlelap. Semua orang memaklumi ibu hamil itu pasti kelelahan. Bahkan dengan penuh perhatian, Kayla memberikan selimutnya untuk adik iparnya itu.
"Nanti Kak Kay bagaimana?"Â
"Berikan aja pada Meera. Dia pasti capek banget sampai langsung tidur."Â
Bara menerima selimut itu dan memberikan pada istrinya. Setelah itu, dia segera duduk di dekatnya dengan menatap mertua dan kakak iparnya.
"Hubungan kalian udah bener-bener baik, 'kan, Bar?" tanya Jonathan dengan suara pelan.Â
Bara mengangguk. "Sangat baik, Kak."
"Jangan sakiti Almeera lagi, Bar. Melihat Kayla melahirkan, aku jadi berpikir bagaimana dulu kamu tega menyakitinya."Â
"Maafkan aku, Kak."Â
"Semuanya sudah lewat," kata Papa Darren menepuk pundak menantunya. "Papa yakin Bara tak akan mengecewakan kita lagi."Â
~Bersambung
Si cantik gumush, unchhh. Semoga nama bayinya gak ada yang nyamain semangatoon yak, haha.
BTW kalau besok HTS gak nutut tamatnya. Jadi awal bulan maret aku usahain tamat. Tinggal beberapa chapter lagi kok.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
__ADS_1