
...Tak selamanya kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Bahkan seribu kebaikan yang kita lakukan akan tetap terlihat salah di mata orang yang membenci kita. ...
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Kedatangan Bara dan Reno ke perusahaan tentu membuat para karyawan yang sejak tadi heboh mulai diam membisu. Mereka menatap setiap langkah dua orang yang memiliki wajah tampan itu hingga memasuki lift yang ada disana.
Keadaan perusahaan memang sangat genting. Apalagi berita pencurian uang itu sudah menyebar luas di seluruh penjuru gedung tinggi itu. Mereka benar-benar saling bertanya siapa kira-kira yang berani memanipulasi uang sebanyak itu di perusahaan milik Bara.
"Semoga Pak Bara dan Pak Reno berhasil menemukan orangnya," bisik seorang karyawan wanita yang memakai kemeja hitam.
"Kau benar. Jika tidak, maka habislah riwayat kita semua," sahut wanita lain yang berambut hitam.
"Lebih baik kalian kembali bekerja! Kalian disini digaji bukan untuk merumpi!" seru seorang karyawan yang memiliki jabatan lebih tinggi dari wanita-wanita itu.
Sedangkan Bara dan Reno, kedua orang itu langsung menuju ke bagian CCTV. Entah kenapa Bara berpikir hanya tempat itu yang akan menjadi jawaban dari segala hal yang terjadi di perusahaannya.
Dia yakin pasti ada orang dalam yang melakukan ini. Tak mungkin jika orang luar yang berbuat hal nekat seperti ini.
Kedua pria itu segera meminta penjaga CCTV menunjukkan semua bagian mini camera yang ada di perusahaan itu. Mata Bara dan Reno begitu jeli dengan pikiran mulai berpikir keras.
Jika tentang pekerjaan, Bara adalah sosok yang begitu teliti. Bahkan pria itu mendedikasikan waktunya penuh untuk membangun kerajaan bisnis dan cafenya. Dia bahkan memulai semuanya dari uangnya sendiri.
Maka dari itu, Bara terlihat begitu tenang. Dia tak menunjukkan kepanikan yang luar biasa karena memang dirinya yakin bisa melewati itu semua dengan dukungan istri di belakangnya.
Bukankah islam mengatakan bahwa jika ridho istri didapatkan seorang suami yang hendak bekerja, maka niscaya apapun yang terjadi pada sang suami akan dimudahkan.
Hal itulah yang membuat Bara yakin bila semuanya pasti bisa ditangani dengan baik. Mereka pasti akan menemukan siapa tikus kecil berdasi yang ada di perusahaan ini.
"Cek ruangan Pak Ilham. Aku yakin semua keuangan yang masuk, dia yang mengeceknya," kata Bara dengan nada yakin.
Pria itu tentu saja memiliki feeling yang bagus. Dia yakin bila tebakannya kali ini benar. Entah kenapa melihat sikap pria itu selama bekerja disini, Bara merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.
Perlahan layar itu full dengan keadaan ruangan Pak Ilham. Disana terlihat Pak Ilham sedang berbincang dengan seorang wanita yang merupakan tangan kanannya. Bara mengerutkan keningnya, saat karyawannya itu menyerahkan sebuah map pada perempuan yang ada di ruangan itu.
Saat Bara mencoba menerka kejadian tiap kejadian yang ada di sana. Tiba-tiba getaran di ponselnya membuat perhatian pria itu menjadi terganggu.
__ADS_1
Bara segera meraih benda pipih itu, melihat layar yang menyala dan menunjukkan sebuah nama yang sudah dia bayar untuk menjaga mantan istri keduanya.
"Siapa, Bara?" tanya Reno melirik sahabatnya yang hanya menatap ponsel pintarnya itu.
"Perawat yang gue suruh jagain Narumi," kata Bara menunjukkan layar itu pada sahabatnya.
"Kenapa gak Lo angkat? Yakali, 'kan, penting banget," kata Reno menasehati.
"Gue males. Gue udah gak urusan sama Narumi. Perempuan itu bener-bener ular," ucap Bara dengan nada emosi.
"Yakali ada hal penting banget? Mereka gak bakal nelpon Lo kalau gak butuh, Bar!"
Bara membenarkan ucapan sahabatnya itu. Dia segera menggeser panggilan itu lalu mendekatkannya di telinga.
"Ya, Sus?"
"Maaf, Pak Bara. Saya pasti mengganggu waktu Anda," kata perempuan dari seberang telepon dengan nada serius.
"Oh, tidak. Saya sedang santai. Memangnya ada apa, Sus?"
"Apa Anda bisa kesini nanti malam, Pak?" ucap suster itu dengan nada takut-takut.
"Saya tidak bisa, Sus…"
"Ini perihal keselamatan Perusahaan, Pak Bara," sela suster itu yang semakin membuat Bara mengerutkan keningnya.
Dia semakin tak mengerti dengan keanehan perawat ini. Namun, entah kenapa Bara makin merasa curiga dan penasaran.
"Katakan dengan jelas, Sus! Apa yang terjadi?" tanya Bara dengan suara penuh penekanan.
"Bu Narumi berniat kabur dengan seorang pria, Pak Bara," kata Suster itu dengan cepat. "Kalau tak salah dengar, namanya Ilham."
Tubuh Bara mematung. Dia seakan tercengang dengan nama yang disebutkan oleh dua perawat ini. Bara dengan segera meloudspeaker panggilan itu agar sahabatnya bisa ikut mendengar.
Apa yang dimaksud adalah Ilham yang sama?
Ilham yang dicurigai telah memanipulasi uang perusahaan?
Jika itu terjadi, apa maksud semua ini. Apakah Ilham melakukan ini atas perintah Narumi?
__ADS_1
Kejadian tiap kejadian mulai Bara hubungkan. Bahkan pikiran pria itu sampai menerka-nerka ada hubungan apa Ilham dan mantan istri keduanya.
Bagaimana bisa bagian keuangan menjenguk Narumi ke rumah sakit?
Bahkan selama bekerja, keduanya berbeda lantai dan tak begitu dekat.
"Kabur?"
"Ya, Pak. Nanti malam mereka akan melakukan rencana itu. Saya mendengar semua ini dari balik pintu ruang rawat," kata Suster itu memperjelas.
Reno yang ikut mendengar segera menatap wajah Bara yang balas menatapnya.
"Lebih baik Lo minta bantuan dua perawat itu buat jagain mereka berdua," bisik Reno di telinga Bara.
Bara mengangguk, dia segera mendekatkan ponselnya lagi dan menyampaikan perkataan Reno tadi kepada dua wanita yang sudah dia sewa dengan gaji terbaik.
"Ya. Jadi saya ingin kalian halangi kepergian mereka berdua," kata Bara dengan nada penuh harap.
Dia menaruh harapan yang tinggi pada dua wanita itu. Bara tak akan memaafkan Narumi lagi kali ini. Apa yang mereka lakukan, benar-benar merugikan semua orang.
Jika masih dirinya, Bara akan memaklumi. Dia berpikir bahwa dirinya juga ikut andil dalam kepahitan hidup seorang Narumi. Namun, jika sudah bermain-main dengan uang perusahaan, itu bukanlah hal kecil lagi.
Perusahaan milik Bara menjadi tempat bergantung karyawannya untuk mencari nafkah. Dia bahkan berusaha semakin melebarkan sayap agar perusahaannya bisa membuka lapangan pekerjaan yang semakin banyak.
"Apa bisa?" tanya Bara lagi yang menuntut jawaban.
"Saya usahakan, Pak. Bagaimanapun Saya takut bila mereka akan membawa banyak orang," kata suster itu dengan nada ketakutan.
"Itu tidak akan terjadi. Saya pastikan kalian akan baik-baik saja," kata Bara dengan yakin.
"Baik, Pak. Saya akan menahan mereka berdua agar tak bisa kabur."
"Bagus. Lakukan dengan baik. Kinerja kalian malam ini bukan hanya untuk menyelamatkan saya saja. Melainkan seluruh karyawan yang sudah bekerja keras di perusahaan saya."
~Bersambung
Kira-kira di next bab. Ilham sama Narumi beneran bisa lolos apa nggak yah?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
__ADS_1