
...Memberikan kesempatan kedua pada pendosa bukan berarti kita sok baik. Mencoba berdamai dengan masalah yang ada adalah jalan terbaik untuk membuat keadaan kembali menjadi tenang. ...
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Hari ini, Bang Jim memiliki rencana untuk mengenalkan sang kekasih pada orang tuanya. Lebih tepatnya ya memberitahukan hubungan mereka berdua.
Untuk sesi perkenalan, Papa Darren maupun Mama Tari sangat mengenal Zelia. Salah satu sahabat putrinya yang sangat mandiri. Membangun salon dengan uangnya sendiri dan anaknya begitu santun.
Semalam, Jimmy sudah mengatakan pada mamanya bahwa ia akan membawa kekasihnya ke rumah dan mereka akan makan malam bersama. Tentu Mama Tari yang belum diberitahukan oleh Almeera menganggukkan kepalanya antusias.
Dia benar-benar bahagia melihat putranya bisa memiliki kekasih. Sebenarnya dari tiga bersaudara. Mama Tari dan Papa Darren begitu khawatir pada Jimmy.
Anak kedua mereka berbeda dengan Abangnya, Jonathan. Kehidupan Jimmy selalu terpaut dengan pekerjaannya saja. Seakan pasangan hidup menurutnya tak begitu penting.
Hal itulah yang tentu membuat Mama Tari takut anaknya berbelok atau memilih sendiri sampai akhir hayatnya. Sebagai orang tua mereka hanya khawatir. Khawatir dengan nasib anaknya di masa tua jika tak memiliki pasangan hidup.
"Mama," panggil Jimmy yang baru saja sampai di dapur.
"Ya?" sahut Mama Tari dengan tangan bergerak membersihkan ayam.
"Apa ada bahan yang kurang?" tanya Jimmy sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
Dia melihat dapur rumah adiknya sedikit berantakan. Banyak bahan-bahan dan makanan yang masih berceceran di sana.
Ya, orang tua Almeera dan Jimmy memang masih tinggal di rumah yang Almeera beli. Baik Meera maupun Bara masih meminta mereka ada disini untuk membantu menyembuhkan luka Bia.
"Ya. Mama lupa membeli buah," kata Mama Tari menghentikan aktivitasnya. "Apa kamu bisa membantu Mama untuk membelinya?"
"Tentu. Bye, Mama," sahut Jimmy lalu memberikan ciuman jauh untuk mamanya karena takut mengganggu kegiatannya.
Saat Jimmy hendak keluar. Almeera yang baru saja turun dari lantai dua. Lekas memanggil kakaknya. Dia berlari kecil untuk mengejar langkah kaki abang keduanya itu.
"Kak Jim mau kemana?" tanya Almeera memegang lengan Jimmy.
"Ke market. Kenapa?"
"Almeera ikut boleh?" tanya ibu dia anak itu dengan wajah imut.
Jika seperti ini. Membuat Jimmy ingat akan tingkah keponakannya itu. Baik wajah dan tingkah laku antara Bia dan Almeera benar-benar menurun.
"Boleh, Adikku Sayang," sahut Jimmy dengan mengelus kepala istri Bara. "Ayo!"
"Bentar ambil dompet!" ujarnya hendak kembali ke kamar.
"Nggak perlu, Meera. Pake uang Kakak aja dulu!" ujar Bang Jim menahan langkah adiknya.
__ADS_1
"Ah. Kalau gitu gak perlu diganti, 'kan?" goda Almeera saat telinganya menangkap peluang gratisan.
"Ya ya. Gratis khusus adikku yang paling cantik."
Akhirnya keduanya segera memasuki mobil milik Jimmy. Mereka mulai meninggalkan pelataran rumah dan menuju ke market terdekat.
Sepanjang perjalanan, Almeera hanya menatap keluar mobil. Melihat barisan pohon yang terlewati oleh mobilnya dan lalu lalang kendaraan yang sedikit ramai. Hingga tiba-tiba ingatan Almeera tertuju pada seseorang.
Seseorang yang ia minta perlindungannya pada sang Kakak.
"Kak."
"Hm?" sahut Jimmy dengan suara datarnya.
"Almeera boleh tanya sesuatu, 'gak?" tanya Almeera mencoba menetralkan degup jantungnya.
Dirinya takut jika Jimmy marah kepadanya bila menanyakan perihal ini. Perihal seseorang yang pernah menyakitinya dulu.
"Tentang?" sahut Jimmy dengan menatap adiknya sekilas.
Almeera menghela nafas berat untuk menenangkan ketakutannya.
"Narumi."
"Untuk apa kamu tanya dia lagi?" tanya Jimmy dengan nada tak suka.
Jimmy terlihat membuang muka. Dia menghembuskan nafas kasar setiap kali mendengar nama wanita yang begitu ia benci karena merusak rumah tangga adiknya.
"Ya. Kakak sudah melakukan seperti yang kamu mau," kata Jimmy dengan suara malasnya. "Ya, walau harus memakai uang jaminan dan dengan pantauan polisi agar wanita itu tak bertindak hal gila lagi."
"Dimana dia sekarang?" tanya Almeera penasaran.
Jujur sejak pertemuan terakhirnya dengan Narumi dan berakhir permintaan maaf. Almeera tak pernah bertemu dengan Narumi kembali. Tak ada cela atau sekat yang diberikan oleh Bara maupun Jimmy.
Seakan semua akses tentang Narumi ditutup rapat-rapat dan dijauhkan dari Almeera.
"Panti asuhan," sahut Jimmy dengan santai.
"Hah, apa!" Almera lekas menoleh.
Dia menatap kakaknya tak percaya.
"Apa Kakak gila?"
"Itu permintaannya," ujar Jimmy dengan mengedikkan bahunya tak acuh.
"Kakak tak berbohong?"
"Sejak kapan Kakak pernah bohong sama kamu, Ra?" tanya Jimmy menatap adiknya saat mobil mereka berhenti di lampu merah. "Coba katakan pada Kakak, kapan pernah bohong?"
__ADS_1
Almeera menunduk. Dirinya mengaku kakaknya ini tak pernah sekalipun berbohong kepadanya. Seakan Jimmy selalu mengatakan kebenarannya walau sakit untuk Almeera.
"Panti asuhan mana dia, Kak?"
"Jauh," ujar Jimmy sambil menekan gas mobil. "Kamu tak akan menemukannya lagi."
"Aku tak peduli dia dimana. Yang terpenting dia tak di penjara," ujar Almeera yang membuat Jimmy menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sih kamu gak mau dia dipenjara?"
"Karena apa yang dia dapat sekarang, sudah lebih dari kejahatannya, Kak," kata Almeera sambil menarik nafasnya begitu dalam. "Hidupnya pasti hancur. Tak bisa melihat dan tak bisa berjalan. Beberapa nikmat Tuhan telah diambil oleh pemiliknya. Balasan setimpal yang harus dia dapatkan bagaimana lagi untuknya?"
Jimmy terdiam. Apa yang dikatakan oleh adiknya memang benar. Wanita itu sudah tak bisa melakukan apapun. Hidupnya hanya mengandalkan orang sekitarnya dan kursi roda.
"Semua itu sudah cukup, Kak. Semua yang dia peroleh saat ini sudah lebih dari cukup," ujar Almeera dengan suara seraknya.
Istri Bara itu menangis. Entah kenapa melihat dan membayangkan hidup Narumi sekarang ia sangat bersimpati.
"Yayaya. Kamu menang," ujar Jimmy tak mau berdebat. "Hatimu memang malaikat. Pantas saja, Bara sampai klepek-klepek sama kamu."
Almeera mengusap kasar air matanya. Dia memukul lengan Kak Jim dengan pelan.
"Gak nyadar juga. Gimana klepek-klepeknya Kakak sama Zelia?"
Telak, 'kan!
Jimmy memalingkan pandangannya. Adiknya itu sudah memiliki senjata untuk melawan mulut pedasnya juga.
Adik kakak paket komplit yang tidak bisa dikalahkan jika saling beradu mulut. Keduanya seakan ada saja hal yang dibuat berkilah atau agar tak kalah dari lawan adunya.
"Aku biasa aja," sahut Jimmy berkilah.
"Halah-halah. Biasa aja?" tanya Almeera tak habis pikir. "Tingkahmu itu sampai bikin pembacamu ini ketar ketir memelas, kamu bilang biasa aja? Gila!"
"Ya. Itulah kelebihanku!"
"Pede sekali," cibir Almeera menatap jengah. "Udah akuin aja, pria bucin di dunia mah tambah satu, Kak. Yaitu, kamu."
"Lahh! Gak salah?"
"Nggak salah. Udah bener kok!" sungut Almeera kesal. "Pokoknya kamu spesies makhluk bucin. Dunia ini rasanya milik berdua dan kita disini ngontrak."
~Bersambung
Loh, 'kan? bener toh, hahaha.
Udah yang ngontrak cepet pindah yah. Takut gak kuat.
BTW inget, aku bakalam fokusin ke Mbak Meera dan Almeera dulu yah. Baru nanti kukasih Reno dan Adeeva.
__ADS_1