
...Kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Tak bisa kita tunda datangnya dan berakhir penuh kesedihan....
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
Tubuh Adeeva meronta saat semua alat di tubuh ayahnya dilepas. Apalagi saat tubuh renta itu ditutup memakai kain membuatnya mendorong para suster itu agar menjauhi sosok ayahnya.
"Ayah jangan tinggalin Adeeva, Ayah. Adeeva sudah maafin, Ayah. Ayo kembali!"Â
Kegaduhan di dalam ruangan membuat Reno dan Mama Adeeva masuk. Kedua orang itu sama terkejutnya dengan Adeeva. Bahkan Ibu Adeeva langsung jatuh pingsan sampai Reno yang menahannya.Â
"Jangan lepasin alat ayah saya, Dokter. Ayahku pasti bangun!" serunya sambil memeluk tubuh ayahnya.Â
"Yang tabah. Biarkan ayah Anda tenang disana!" .
"Ayahku masih hidup! Jangan berkata sembarangan!" seru Adeeva marahÂ
Wanita itu menciumi wajah tua ayahnya. Wajah yang dulu tak bisa dirangkum, dia elus, dia cium kini bisa ia pegang, ia ciumi. Namun, keadaannya bukan seperti ini yang ia minta.
Bukan keadaan menakutkan dan menyakitkan. Bukan perpisahan yang ia minta. Hal yang tak pernah ada dalam pikirannya.
Rasa menyesal dan sedih bercampur menjadi satu. Apalagi bayangan wajah Reyn yang belum ia kenal kan pada ayahnya membuatnya semakin merasa berdosa.Â
"Ayah belum kenalan sama cucu, Ayah. Adeeva sudah melahirkan cucu pertama, Ayah," ceritanya dengan air mata yang menangis hebat.
Ini sungguh menyakitkan. Apalagi ketika tubuhnya ditarik dijauhkan dari sosok ayahnya. Lalu tubuh tua itu ditutup dengan sempurna yang membuat tubuh Adeeva merosot ke lantai.
Tangannya memukuli lantai untuk melampiaskan kesakitan dalam hatinya.
"Maafin Adeeva, Ayah. Maafin Adeeva!"
Hingga sebuah pelukan di tubuhnya membuat Adeeva segera membalasnya. Dia mengenal bau harum ini. Bau minyak wangi suaminya yang sangat menenangkan.
"Ikhlaskan Ayah, Sayang. Ayah sudah tak sakit lagi!" kata Reno membujuk.
__ADS_1
"Aku menyesal, Mas. Aku…aku…"Â
Reno hanya mampu mengeratkan pelukannya. Dia mengerti bagaimana lemahnya perasaan istrinya sekarang. Hati Adeeva pasti sangat hancur. Dirinya tak bisa melakukan apapun. Reno hanya mampu menjadi sandaran dan pelukan untuk istrinya di saat seperti ini.
...🌴🌴🌴...
Kabar duka Ayah Adeeva sudah menyebar luas. Suara sirine ambulans terus berbunyi dengan kencang. Adeeva hanya mampu memeluk ibunya.Â
Keduanya saat ini duduk di kursi tengah di mobil Reno. Sedangkan di depan mereka, terlihat ambulans yang membawa jasad orang yang mereka sayangi.
"Ibu…" lirih Adeeva yang masih tak menyangka akan apa yang terjadi padanya hari ini.
Ini benar-benar hal mengejutkan. Bahkan ia tak pernah menyangka ayahnya yang tanggung tiba-tiba bisa seperti ini.Â
Tubuhnya yang kokoh, dadanya yang bidang hilang tak berbekas. Hanya tinggal tulang dan kulitnya saja yang menandakan bahwa ayah Adeeva benar-benar dalam keadaan terpuruk.Â
Hingga saat ambulans mulai memasuki perumahan rumah Reno. Semua keluarga dan tetangga yang datang segera mendekat. Ya, Adeeva dan Reno memutuskan jika ayah Adeeva akan dibawa ke rumah mereka.
Bahkan Reno sendiri yang meminta istrinya agar makam ayah Adeeva dimakamkan di dekat kuburan orang tuanya. Reno hanya ingin istrinya bisa berkunjung ke makam ayah kandung dan mengurangi rasa bersalahnya.Â
Saat Adeeva dan Reno turun dari mobil beserta Ibu Adeeva. Almeera lekas memeluk sahabatnya yang terlihat lemah.Â
Adeeva tak menjawab. Tubuhnya tiba-tiba merosot dan wanita itu tak sadarkan diri. Tentu Reno yang ada di dekat istrinya segera mengangkat tubuh itu dan membawanya masuk.Â
Sedangkan Mama Tari dituntun oleh Mama Tari. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat sedih dan menyesal. Wajahnya mampu menggambarkan situasi hatinya sekarang.Â
"Kemana putraku, Ra?" tanya Reno setelah membaringkan tubuh istrinya.Â
"Mereka ada di rumah bersama pengasuh, Kak Jo dan Kak Kayla. Tenanglah. Anak kalian pasti aman di rumah!"Â
Reno mengangguk dia merasa begitu bersyukur mengenal dan memiliki sahabat seperti Almeera dan Bara.
"Aku titip Adeeva ya, Ra. Aku mau turun dan merawat jenazah ayah mertuaku."Â
Akhirnya sepeninggal Reno. Almeera segera mengambil minyak kayu putih di tas yang selalu ia bawa. Dia memberikan di hidung Adeeva san perutnya. Hingga mata yang semula terpejam perlahan terbuka lebar.
"Ayah!" ujarnya menjerit. "Ayah mana, Ra. Ayah!"Â
__ADS_1
Adeeva hendak turun. Namun, secepat mungkin Almeera menahan sahabatnya dan meraih wajah wanita itu.
"Sadarlah, Va. Sadar!" kata Almeera menahan wajah sahabatnya. "Ayah sudah berada di tempat yang bebas. Dia sudah tak sakit."Â
Tangis Adeeva pecah. Dia memeluk sahabatnya dengan perasaan lemah. Perkataan Almeera terngiang di kepalanya yang merupakan kebenaran.Â
Ayahnya memang sudah tak sakit lagi. Ayahnya sudah ada di tempat yang benar-benar indah. Di lubuk hati terdalam, wanita itu sudah memaafkan ayahnya. Berusaha ikhlas melupakan semuanya.
"Jangan membuat ayah semakin berat meninggalkan dunia, Va. Ayah akan sedih melihatmu seperti ini."Â
Akhirnya hari itu juga, acara memandikan jenazah Ayah Adeeva, mengkafani dan mensholati berjalan dengan lancar. Kemudian paling akhir, mereka segera mengantar Ayah Adeeva ke peristirahatan terakhir.
Ya, Adeeva setuju makam ayahnya di belakang rumah mereka. Berkumpul bersama kedua mertuanya.
Adeeva terus menatap suaminya yang ikut turun ke dalam kuburan. Bagaimana tubuh ayahnya yang mulai dipindah hingga membuat Mama Reyn ith sadar.Â
Ini bukan mimpi. Semua yang terjadi hari ini benar-benar nyata.Â
Kenapa kau mengambil ayah dari sisiku, Ya Allah. Aku benar-benar menyesal telah menjauhinya, ujarnya dalam hati.
Semua orang mulai menengadahkan kedua tangan. Memohon ampun dan mendoakan Ayah Adeeva yang sudah dikuburkan. Adeeva hanya menatap makam itu dengan pandangan kosong.
Hingga akhirnya ketika para tetangga mulai pamit pulang. Adeeva segera menjatuhkan tubuhnya. Dia memeluk nisan ayahnya dengan air mata yang kembali menetes.
Dia tak sekuat itu. Dia tau menutupi kesedihannya. Dia tak mau menjadi anak yang kuat. Detik ini benar-benar detik dimana ia berada di titik yang terendah.
Adeeva lebih memilih ayahnya jahat tapi bisa dilihat. Daripada ayahnya sudah baik tapi tak bisa dia lihat dan di peluk lagi tubuhnya.Â
"Kita akan terus berdekatan, Ayah. Ayah juga tak sendirian disini. Ada Mama dan Papa Mas Reno juga disini," kata Adeeva bercerita. "Adeeva juga janji bakalan kesini setiap hari. Adeeva juga bakalan ajak Reyndra buat jenguk Kakeknya yang benar-benar tampan dari mamanya."Â
Mata Adeeva menatap langit. Dia berusaha menahan air matanya yang ingin kembali menetes dengan hebat. Dia tak mau bersedih terus menerus. Namun, sialnya matanya ini yang tak bisa berhenti untuk tak menangis.Â
"Sampai jumpa, Ayah. Makasih sudah jadi alasan Adeeva lahir di dunia ini. Makasih udah pernah jadi luka sekaligus obat. Makasih atas segalanya yang ayah berikan padaku dan ibu. Adeeva sudah memaafkan, Ayah. Semoga dosa ayah diampuni oleh Tuhan dan sampai jumpa disana."Â
~Bersambung
Tisuku abis woy. Ngetik 3 bab nangis semua hiks.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.