
...Saling meminta maaf dan memaafkan. Mencoba bersabar dan ikhlas. Maka akan membuat hidupmu jauh lebih baik dan tenang....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Narumi merasa tercubit hatinya. Kepalanya menunduk dan mulutnya tak bisa membantah apapun. Dirinya benar-benar tertampar dengan perkataan Almeera kali ini. Kalimat yang keluar dari mantan kakak madunya berputar seakan menyadarkannya.
"Hidupmu masih panjang, Rumi. Jangan kau sia-siakan dengan bunuh diri."Â
Narumi mulai terisak. Kehidupan macam apa yang ada di depannya. Kebahagiaan dan hidupnya hancur bersamaan hilangnya kaki dan kedua penglihatan di matanya.
Masa depannya tak lagi indah. Semuanya berubah suram dengan meninggalnya kekasih yang sangat ia cintai. Narumi benar-benar mulai merasa kehilangan.Â
"Kehidupan seperti apa yang akan aku lewati ini, Meera?" tanya Narumi dengan nada suara lemah. "Aku tak memiliki kedua kaki, mataku buta, kekasih yang sangat mencintaiku sudah meninggal. Lalu skapa yang akan membahagiakanku di masa depan?"
Narumi berteriak. Dia menuntut jawaban pada istri Bara. Dirinya benar-benar mengeluarkan segala hal kesakitan yang selama ini bersemayam di pikirannya.
Dia tak mau menyimpannya lagi sendirian. Semua masalah yang ia diamkan dalam hati, ternyata membuatnya selalu ingin meninggalkan dunia.Â
"Ada. Banyak kebahagiaan yang menunggumu di masa depan," kata Almeera dengan sabar. "Bahkan tentang siapa yang akan hadir dan pergi, sudah ditentukan oleh garis Tuhan."
"Bullshit!"Â
"Aku tak mengatakan kebohongan, Rumi," sahut Almeera dengan mengelus pundak mantan adik madunya. "Kebahagiaan itu diciptakan dari kata bersyukur. Apa yang kamu dapatkan hari ini, cobalah untuk mensyukurinya. Maka aku yakin hidupmu akan jauh lebih bahagia setelah ini."Â
Narumi tak membantah. Dia malah membayangkan kehidupannya di masa lalu. Mencoba membandingkan dalam hidupnya yang dulu dengan perkataan Almeera barusan.Â
Kenapa yang dikatakan istri Bara sama dengan yang ia lewati. Dulu apa yang dia inginkan, akan tercapai. Meski dia harus menunggu Adnan menabung, tapi dirinya selalu merasa bahagia.Â
Namun, perlahan kebahagiaan itu mulai hilang. Ketika dia mulai perhitungan dan boros. Matanya terus merasa lapar saat melihat perhiasan dan barang-barang branded. Sehingga terjadilah rencana untuk menjebak Bara saat pertemuan pertama mereka.
"Jangan menyesali apapun, Rumi. Apa yang terjadi di masa lalu, jadikan pelajaran hari ini. Apa yang kau dapat hari ini, gunakan untuk hari esok. Begitulah seterusnya," ucap Almeera dengan serius.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu baik padaku?" seru Narumi setelah lama terdiam. "Aku sudah banyak salah padamu selama ini."
Almeera tersenyum. Dia melirik perawat yang sedari tadi berdiri di dekat brankar kemudian ibu dua anak itu memintanya pergi. Dirinya berjanji akan menjaga Narumi agar tak melakukan hal-hal yang bisa membahayakannya.
Apalagi meski Narumi buta, dia ingin menjaga privasi perempuan tersebut. Dirinya tak mau dengan mudahnya orang lain tahu masalah mereka di masa lalu.
"Masuklah, Mas! Jangan diambang pintu," kata Almeera saat melihat suaminya hanya berdiri diam.
Tentu perkataan Almeera membuat jantung Narumi berdebar kencang. Dia belum siap untuk bertemu dengan Bara. Kesalahan yang amat besar membuatnya takut jika bertemu mantan suaminya.Â
Dirinya terlalu malu dengan pria itu. Segala rencana yang dulu dia lakukan pada Bara. Ternyata membuat pria itu terjerat kepadanya dan menyakiti anak dan istrinya.Â
Sedangkan Bara, pria itu berjalan mendekat. Namun tak sedekat Almeera. Dia berdiri di dekat dinding dan menyandarkan punggungnya. Ia ingin melihat bagaimana mulianya sang istri.
Hatinya benar-benar baik. Wanita itu tak naif. Almeera adalah satu dari seribu wanita di dunia yang mampu memaafkan orang yang telah menyakitinya. Tanpa ada dendam di hati. Dia ikhlas menyerahkan semuanya kepada Tuhan.Â
"Kau ingin tau alasannya bukan? Kenapa aku tetap baik padamu?"Â
Narumi mengangguk. Dia benar-benar menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Dirinya ingin tau apa yang ada dalam diri Almeera. Kenapa perempuan itu bisa sebaik ini dengan dirinya yang jahat.
"Jika Tuhan mendatangkan dirimu untuk pengoyak cinta kami. Maka aku percaya bahwa kamu adalah sosok yang membuatku sadar, jika apa yang selalu aku rencanakan di dunia tak selalu berjalan mulus."Â
"Aku pernah berpikir suamiku hanya untukku tapi ternyata garis Tuhan membaginya. Aku pernah berpikir untuk berpisah tapi ternyata Tuhan melapangkan hatiku dan mendewasakanku dengan masalah ini."
Narumi benar-benar tertunduk. Dirinya tak menyangka ada manusia yang seperti Almeera. Disaat semua orang jika diuji akan selalu mengeluh pada Tuhannya. Maka tidak dengan ibu dua anak itu.
Almeera selalu mengambil hal baik tentang apa yang Tuhan berikan kepadanya. Disaat ujiannya begitu buruk, maka dia mengambil hal positif yang bisa diambil.Â
Almeera selalu mencoba berpikiran baik. Dirinya tak pernah bersuudzon pada jalan garisnya. Biarlah jika memang itu menyakitkan maka dia akan menangis sebelum diberikan kekuatan.Â
"Apa kau membenciku?"Â
"Ya," sahut Almeera dengan jujur. "Tapi itu dulu. Ketika kau masih menjadi istri kedua suamiku."Â
"Sekarang? Aku malah berterima kasih padamu," lanjut Almeera dengan tersenyum. "Berkat kamu, suamiku bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dia bisa belajar apa itu arti kehilangan seseorang yang sangat menyayanginya."Â
__ADS_1
Narumi tak tahu harus berkata apalagi. Semua ucapan Almeera seakan pedang tajam yang menusuk hatinya. Segala kejahatan yang dia lakukan, ternyata membuat Almeera bukan serta merta membencinya. Melainkan wanita itu berterima kasih.
Sungguh wanita yang sangat luar biasa.Â
"Maafkan aku," lirih Narumi dengan hati yang jujur. "Aku benar-benar minta maaf padamu dan Mas Bara."Â
"Aku banyak salah pada kalian. Aku benar-benar menyesal. Kali ini aku benar-benar tak akan mengganggu hidup kalian lagi. Aku benar-benar tulus meminta maaf dan ingin memperbaiki diriku yang sangat rusak ini."Â
Wajah Almeera dibingkai dengan senyuman yang lebar. Dia tak menyangka jika dibalik sikap jahat Narumi, Tuhan masih mampu mengetuk hatinya. Membuat wanita itu memberanikan diri untuk meminta maaf adalah satu dari seribu wanita yang memiliki kejahatan sepertinya.
"Aku sudah memaafkanmu, Rumi. Aku benar-benar memaafkanmu."Â
"Mas Bara. Aku…" Narumi tak bisa melanjutkan perkataannya.Â
Entah kenapa dirinya masih takut jika pria itu menyimpan dendam kepadanya. Kesalahannya bukanlah hal kecil.
"Aku minta maaf," putusnya nekat dengan hati yang benar-benar menyesal. "Aku menyesal sudah membuatmu terjebak denganku."Â
Bara menghela nafas berat. Dirinya belum menjawab. Namun, matanya sudah menatap istrinya yang sedang menatapnya balik.
Di mata wanita itu banyak terlihat ketulusan yang luar biasa. Bahkan lihatlah sekarang. Almeera menggerakkan tangannya mengelus dada sebagai kode bahwa dia harus bisa bersabar.Â
Dirinya berjalan mendekat sampai berdiri di samping istrinya. Tangannya digenggam oleh Almeera dan dielusnya begitu lembut.
"Aku sudah memaafkanmu, Rumi," kata Bara dengan hati yang lapang. "Aku juga minta maaf atas sikapku kepadamu selama ini."Â
Kedua sudut bibir Narumi melengkung ke atas. Dirinya bisa bernafas lega ketika hidupnya sudah meminta maaf pada Almeera dan Bara. Entah kenapa, ia merasa ringan dalam dirinya. Mungkin apa yang selama ini ditakutkan akhirnya tak berhasil.Â
"Semoga kamu bisa menjadi pribadi yang lebih lagi. Jangan berpikiran tumpul lagi. Ingat! Tak selamanya bunuh diri menjadi rencana akhir dari setiap masalahmu."Â
~Bersambung
Tak selamanya orang jahat berakhir jahat. Pasti ada masa dimana dia mencoba berdami dengan dirinya sendiri. Menyesali setiap perbuatan dan mencoba memperbaiki diri.
Kalau ada yang gak setuju sama alur Narumi. Maaf yah. Aku ingin kalau dia emang mau koid, setidaknya udah minta maaf.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat. Kalau ada typo kalian komen aja. Biar aku revisi