Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Adeeva Baru Sadar!


__ADS_3


...Bagaimana bisa aku melupakan tanggal penting tiap bulanku sendiri. Semoga apa yang aku pikirkan benar-benar nyata terjadi kepadaku....


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah tempat makan kesukaan mereka berdua. Sepasang suami istri terlihat sedang duduk berhadapan di salah satu di restaurant tersebut. Keduanya sedang menatap menu makan dengan bibir sang wanita yang mengomel.


Sepertinya di antara mereka berdua tengah terjadi perdebatan yang tak menghasilkan.


"Aku mau ini, Ayank. Aku juga mau ini dan ini," ujar wanitanya dengan menunjuk makanan yang ia inginkan.


"Ini terlalu banyak, Sayang," ujar si pria menasehati. "Perutmu akan sakit." 


"Kan ada kamu! Pokoknya aku mau ini, titik!" 


Akhirnya pria itu tak bisa menolak lagi. Jika sudah mode begini maka istrinya tak bisa didebat sekalipun. Apa yang diinginkan harus disetujui.


"Plis Adeeva, Sayang. Jangan ngambek," rayu Reno dengan pelan.


"Mangkanya kamu nyebelin banget sih. Aku, 'kan, cuma pengen makan. Kenapa harus dibatasi?" 


Reno menghela nafas berat. Sepertinya beberapa hari ini dia harus banyak mengusap dada mencoba bersabar dengan tingkah istrinya ini. 


Tingkah anehnya semakin menjadi. Bahkan wanita itu sangat mudah sekali tersinggung dan gampang menangis. Ditambah apa yang diinginkan harus segera ada di hadapannya.


"Bukan aku membatasi, Sayang. Aku hanya takut kamu sakit perut," kata Reno membela.


"Gak bakal sakit. Kalau aku kenyang, masih ada kamu, 'kan?" 


"Iya. Maafin aku, Sayang. Aku gak berniat marahin kamu," kata Reno begitu tulus.


Dia benar-benar banyak mendapatkan pelajaran dari pernikahan mereka. Dia sangat tahu betul menikah adalah menyatukan dua otak yang berbeda. Karena perbedaan itulah yang sering membuat mereka saling egois.


Namun, Reno yang tak mau hubungan mereka retak atau mencari masalah. Memilih lebih menerima saja. Apalagi entah kenapa ia juga begitu memahami hormon istrinya naik drastis.


"Lain kali jangan bentak aku lagi. Janji?" seru Adeeva menyodorkan jari kelingkingnya.


Ia tak suka Reno membentak atau memarahinya di tempat terbuka seperti ini. Apalagi masalahnya hanya karena menu makanan.


"Iya. Aku akan memesannya dulu yah. Kamu tunggu sini!" 

__ADS_1


Adeeva hanya mengangguk. Wanita itu menatap suaminya yang mulai beranjak meninggalkannya sebentar. Dia hanya mampu mengusap perutnya yang terasa lapar sekali.


Entah kenapa, dia menyadari porsi makannya begitu banyak. Namun, jika pagi hari dia tak pernah makan. Jangankan mau makan, bau makanan saja dia langsung mual-mual. 


Akhirnya setelah menunggu, beberapa makanan mulai memenuhi meja yang ditempati Adeeva dan Reno. Mata wanita itu menatap berbinar makanan seafood yang ia pesan. 


Terdapat kepiting bumbu merah, cumi bakar, lalu udang krispi. Semuanya tertata dengan rapi dan begitu menggiurkan. Aromanya membuat pasangan suami istri itu merasa lapar. 


"Kamu mau makan yang mana, Ayank?" tanya Adeeva sambil memegang piring untuk suaminya.


"Ambilkan aku udang saja, Sayang," jawab Reno menunjuk udang besar yang tersusun rapi di atas piring gepeng.


"Gak kurang?" tanya Adeeva sambil menyodorkan piring itu.


Kalau kurang aku akan minta tambah," kata Reno menenangkan.


Setelah mengambilkan suaminya. Kini giliran Adeeva mengambil miliknya sendiri. Wanita itu seakan kalap. Dia hanya mengambil sedikit nasi tapi lauknya begitu lengkap.


Bahkan melihat porsi istrinya membuat Reno membulatkan matanya lebar. Dia tak menyangka jika Adeeva mampu menghabiskan semuanya.


"Sayang. Jangan dipaksa. Gakpapa gak habis. Aku gak akan marah," kata Reno mencegah istrinya makan banyak.


"Aku laper loh, Yank. Kenapa sih kamu larang aku mulu?" seru Adeeva mulai tak sabar. "Kamu takut aku gendut?" 


Astaga, Reno benar-benar dibuat gelagapan. Dia cepat-cepat menggeleng sebelum istrinya keluar mode harimau. 


"Aku baik-baik aja," kata Adeeva membela diri. 


"Yaudah. Makanlah, Sayang. Aku malah seneng kamu doyan begini." 


Akhirnya Adeeva mulai memakan makanannya secara pelan. Dia mencicipi semua makanan yang tersaji disana dengan mengambil satu ekor satu ekor tiap menunya.


Rasa masakan seafood disini tak perlu diragukan lagi memang. Enak dan murah serta terjamin kebersihaannya membuat pasangan suami istri ini menjadikan restaurant ini sebagai restaurant kesayangan keduanya. 


Pria itu menggelengkan kepalanya melihat cara istrinya makan. Sangat amat lahap hingga membuat Reno kenyang duluan sebelum makan. Namun, disisi lain dia bahagia melihat istrinya suka makan. Hal itu menjadi pertanda bahwa Adeeva bahagia hidup dengannya.


"Pelan-pelan aja, Sayang. Aku tak akan mengambil makananmu," goda Reno sambil terkekeh.


"Ini enak sekali, Ayank. Bahkan rasanya sungguh luar biasa!" 


...🌴🌴🌴...


Reno segera membawa istrinya pulang. Namun, entah kenapa sejak tadi Adeeva hanya diam seakan menahan sesuatu yang mengganggunya. 

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Reno yang berhasil memarkirkan mobilnya di depan rumah mereka.


Adeeva tak menjawab. Dia hanya menutup mulutnya dengan tangannya dan menggeleng.


"Sayang!" panggil Reno saat istrinya terburu-buru keluar dari mobil.


Adeeva dengan cepat, berlari menuju toilet yang ada di dekat ruang tamu. Perutnya sejak tadi bergejolak hebat dan ingin memuntahkan semua yang sudah ia makan.


Suara muntahan begitu kencang tentu membuat Reno merasa kasihan. Dia membantu memijat tengkuk istrinya dengan penuh perasaan. Jujur baru kali ini Adeeva muntah hebat seperti ini.


"Kamu gakpapa, Sayang?" tanya Reno saat istrinya mulai mengusap wajahnya dengan air.


Adeeva berusaha menarik nafasnya begitu dalam. Rasa pahit masih dirasakan di mulutnya karena bekas dia muntah. Perempuan itu mulai menegakkan tubuhnya.


Namun, saat dia mencium aroma parfum suaminya. Adeeva kembali mual.


"Menjauh, Yank!" usirnya sambil menutup hidung.


"Kamu kenapa, Sayang. Ada apa?" tanya Reno yang heran dengan aksi istrinya. 


"Kamu bau!" 


"Hah!" Reno terkejut bukan main. 


Dia mencium tubuhnya sendiri tapi tak ada bau apapun. Hanya bau minyak wangi mahalnya saja yang tercium.


"Aku gak bau, Sayang!"


Saat Adeeva hendak menjawab. Dia kembali muntah-muntah. Hingga akhirnya perempuan itu berhasil mengeluarkan makanan enak yang tadi ia makan. 


Dia segera duduk di atas closet dengan wajah lesunya. Dirinya benar-benar lemah dan membutuhkan minyak kayu putih. 


"Tolong ambilkan tas keperluan yang hitam itu, Sayang. Bisa?" ucap Adeeva meminta tolong Reno yang berdiri di depan pintu.


Tanpa menolak pria itu segera mengambilnya dan membawanya ke toilet. Menyerahkan tas itu pada istrinya lalu Adeeva segera membukanya.


Saat dia hendak mengambil minyak kayu putih. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada benda yang biasanya ia pakai setiap bulan. Benda keramat yang melindunginya dari cairan merah yang keluar di setiap bulannya.


Dirinya tiba-tiba menegakkan tubuhnya saat mulai mengingat sesuatu. Dia benar-benar lupa dengan jadwal menstruasinya sendiri. 


Kenapa aku baru sadar? Aku sudah telat berapa hari bulan ini. Seharusnya pembalut ini berkurang untuk bulan ini. Tapi ini masih tetap sama, gumam Adeeva dalam hati dengan pikiran tak menentu.


~Bersambung

__ADS_1


Yuhuu lalala. Siap dapet ponakan baru?


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2