
...Aku dipaksa kuat sejak kecil. Aku dipaksa menerima kenyataan dimana umurku masih belia. Aku juga dituntut dewasa sebelum waktunya. Sakit memang tapi melihat ibuku yang jauh lebih hancur membuatku semakin kuat untuk melindungimu. ...
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
Sebuah mobil terlihat memasuki pelataran rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat rapi dan sejuk. Sepasang kaki mulai menginjakkan kakinya di atas tanah yang ditumbuhi rumput kecil. Wajahnya meredup dengan bibir begitu datar setiap kali ada di tempat ini.
Tempat yang seharusnya bisa menjadi rumahnya. Tempat dimana seharusnya ia bisa berbagi lelah dan kebahagiaan. Tempat dimana seharusnya ada canda tawa dan kasih sayang yang ia dapatkan. Namun, ternyata semua itu hanyalah mimpi di bunga tidurnya.
Impian memiliki rumah yang hangat justru mendapatkan neraka macam dunia. Ingin memiliki kebahagiaan murni dari dua orang yang membuatnya ada di dunia ini tapi nyatanya itu semua hanyalah mimpi.
Matanya terpejam seiring langkah kaki semakin dekat dengan pintu rumah. Helaan nafas berat selalu ia lakukan setiap kali dirinya pulang ke rumah. Tak ada lagi rasa bahagia ketika dia ada di rumah ini. Tak ada lagi rasa syukur ketika dia pulang kerja dan bisa bertemu orang tuanya.
Semua itu telah sirna dan mati setelah dia mengetahui segalanya!
Tiba-tiba suara pecahan benda dengan jeritan seseorang yang sangat ia kenali membuatnya berjingkat kaget. Dia segera mendorong pintu rumah dengan cepat.
"Ayah, jangan!" serunya berlari ke arah wanita yang sudah melahirkannya.
Pemandangan menakutkan yang lagi-lagi harus dilihat oleh kedua matanya sendiri. Sosok ibunya yang meringkuk di dekat dinding dengan ayahnya yang siap menendang tubuh ibunya.
"Deeva mohon jangan pukuli ibu lagi," pintanya dengan menangis.
"Pergi kau, Anak sialan!" teriak seorang pria paruh baya dengan menarik lengan Adeeva.
Namun, bukannya berpindah. Adeeva menggeleng kepalanya mencoba menepis tangan besar itu. Ia mendekap tubuh ibunya dengan kuat. Mencoba melindunginya dari kemarahan yang dilakukan lagi-lagi oleh ayahnya.
"Ayah!" seru Adeeva berteriak. "Kalau Ayah tetap berbuat seperti ini, Deeva akan laporin semuanya dan membawanya ke jalur hukum!"
Pria itu menggeram murka. Dia menatap tajam Adeeva lalu mensejajarkan tubuhnya.
"Bocah ingusan. Berani kau pada ayahmu sendiri?" serunya dengan mata menatap nyalang.
"Kenapa aku tak berani?" tantang Adeeva dengan berani. "Jika itu menyangkut ibuku, maka aku bisa melakukan apapun untuk melindunginya."
__ADS_1
Bukannya takut. Pria yang merupakan ayah dari Adeeva hanya tertawa terbahak. Dia menatap remeh anak gadis yang lahir dari rahim istrinya itu.
"Kau dan ibumu sama saja. Sama-sama pelacur!" serunya lalu mulai beranjak berdiri.
"Kau!" tunjuknya pada Ibu Adeeva. "Jika sampai besok tak angkat kaki dari sini dengan putrimu ini, maka kalian akan menanggung akibatnya!"
Setelah mengatakan itu. Ayah Adeeva segera berjalan meninggalkan mereka. Namun, sebelum keluar, dia menendang guci kesayangan ibunya dengan keras hingga hancur berkeping-keping.
Hal itu tentu membuat Adeeva ketakutan. Namun, ia mencoba menutupinya dengan mendekap tubuh ibunya begitu erat. Dia tak peduli kesehatan mentalnya yang terganggu dan trauma yang semakin mendalam. Yang terpenting untuknya, ibunya harus baik-baik saja.
"Ibu gapapa, 'kan?" kata Adeeva melepaskan pelukannya.
Dia menangkup wajah ibunya. Bibirnya meringis saat melihat noda bekas darah di ujung bibir dengan cap tangan di pipi.
Tak perlu ditanyakan, Adeeva sudah tahu jika itu adalah belas sebuah tamparan!
"Maafin Ibu dan Ayahmu, Nak. Kami…"
Adeeva menggeleng. Dia membantu ibunya berdiri lalu mendudukkannya di sofa.
"Ibu tunggu disini. Deeva ambil kotak obat," katanya sebelum pergi.
"Hanya sebentar, Bu," ujar Adeeva dengan suara serak.
Gadis itu segera berlari menuju salah satu pintu yang ada di lantai satu. Rumahnya memang sederhana. Hanya ada dua kamar disini. Adeeva segera memasuki kamar itu dan menguncinya.
Sebenarnya ia hanya ingin menenangkan dirinya. Adeeva tak mau ibunya melihat dirinya menangis. Ia selalu ingin dipandang kuat oleh sosok ibunya. Agar ibunya tak merasa bersalah dengan keadaan ini.
Memang dirinya banyak menyimpan rahasia. Menyimpan kesakitannya sendiri. Tak ada yang tahu tentang kehidupannya selain kedua sahabatnya.
"Sakit, Ayah. Hati Deeva sakit. Kapan Ayah bisa berubah?" bisiknya dengan pelan sambil memegang dadanya.
Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Merosot ke bawah lalu menjatuhkan kepalanya di atas lutut. Dirinya meneteskan air mata disana. Mencoba membuat hatinya lebih tenang dengan menangis.
Sudah 30 tahun lebih kehidupan kejam di dunia untuknya terus berjalan. Tak ada kebahagiaan apapun. Bahkan karena hal inilah ia berusaha menutup hati dan berjanji untuk hidup sendiri.
Adeeva hanya takut. Takut memiliki pasangan hidup seperti ayahnya.
__ADS_1
"Kamu bisa, Deeva. Kamu kuat!" katanya menyemangati dirinya sendiri setelah puas menangis.
Adeeva segera meletakkan tas kerjanya. Mencuci muka lalu mengambil kotak obat. Dirinya segera keluar dan menemui ibunya yang terlihat duduk merenung di sofa.
"Ibu!" panggilnya agar ibunya tak melamun.
"Ya. Kenapa lama sekali?" tanya ibunya dengan perhatian.
"Adeeva masih cuci muka, Bu. Terus kotak obatnya tadi masih Deeva cari karena lupa," katanya mencoba mencari alasan.
Dirinya juga menunduk. Ia tak mau ibunya melihat matanya yang sedikit bengkak. Setelah itu ia segera membuka kotak obat. Mengambil kain kasa untuk membersihkan lukanya sebelum diberi obat merah.
"Ibu tahan sebentar yah. Deeva yakin ini sangat perih," katanya lalu perlahan mulai mendekatkan kasa itu pada sudut bibir ibunya.
Bibirnya meringis saat mendengar suara rintihan ibunya. Ia mengerti jika ini pasti sangat perih. Hingga tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca melihat penderitaan ibunya.
"Ibu," ucap Adeeva setelah selesai membersihkan luka ibunya. "Apa kita akan pergi dari rumah ini?"
Ibu Adeeva masih diam. Perempuan paruh baya itu malah menatap rumah ini dengan lekat. Mengedarkan pandangannya seakan sedang meneliti setiap detailnya.
"Tidak, Nak. Rumah ini banyak kenangan untuk kita," kata Ibu Deeva dengan pelan.
Bukan kenangan indah, Bu. Tapi kenangan buruk, ujarnya dalam hati dengan diiringi helaan nafas berat.
"Apa Ibu tak mendengar ucapan Ayah tadi? Dia meminta kita untuk pergi dari sini," kata Adeeva mengingatkan ibunya.
"Ibu yakin Ayahmu tak akan tega mengusir kita, Nak. Ibu yakin!"
Walau Ayah sering menyakitimu. Ibu masih berharap dengan baik. Bahkan masih berpikir bahwa pria jahat itu sayang padaku dan ibu, sahut Adeeva dalam hati.
"Ibu," panggil Adeeva meraih tangan ibunya. "Ayo kita pergi dari rumah ini. Tinggalkan segalanya disini. Menutup luka lama dan membangun sebuah kenangan indah di tempat baru, Bu."
Adeeva menatap mata ibunya dengan lekat. Ia serius dengan permintaannya kali ini. Bekerja di Perusahaan Almeera dengan gaji besar. Tentu membuatnya mampu membeli sebuah rumah sederhana untuk mereka berdua.
"Kumohon, Bu! Kali ini saja. Kali ini ikuti ucapan Deeva. Kita pergi dari sini. Ayah sudah tak menyayangi kita lagi."
~Bersambung
__ADS_1
Mak aku nangis kejer nulis bab ini. Gak tau ah kesel.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.