
...Untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Bukan keegoisan yang diutamakan melainkan kerjasama antara suami dan istri yang seimbang, untuk membasmi hama di antara mereka....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
"Katakan padaku, Jimmy! Apa yang kau inginkan!" seru Narumi dengan jemari gemetaran.Â
"Minta cerai dari Bara dan menjauhlah dari kehidupan Bara dan Almeera," seru Jimmy dengan tegas.
Pria itu menatap Narumi dengan lekat. Dia tak melepaskan matanya sedikitpun untuk menikmati setiap gerakan yang dilakukan targetnya ketika ketakutan.
"Kau mau?" seru Jimmy dengan seringai licik di bibirnya. "Harus mau!"Â
Narumi menunduk. Dia benar-benar tak bisa membela diri lagi. Otaknya seakan buntu dan tak bisa digunakan untuk berpikir.Â
"Cepat katakan!" Jimmy menggebrak meja hingga membuat Narumi berjingkat kaget.
"Ya. Aku mau!"Â
"Anak pintar," sahut Jimmy dengan puas. "Aku tunggu 2×24 jam. Kalau kau belum meminta cerai, sampai jumpa di pengadilan."Â
Setelah mengatakan itu, Jimmy segera meninggalkan Narumi yang masih mematung. Namun, sebelum pria itu menjauh, dia berbalik dan menundukkan kepalanya agar lebih dekat dengan telinga istri kedua Bara.
"Jangan lupa bayar semua pesanan Jimmy ya, Nyonya Bara," bisiknya dengan nada mengejek. "Pasti punya uang, 'kan? Aku yakin adik iparku memberimu uang banyak."Â
Setelah itu Jimmy benar-benar meninggalkan Narumi. Pria itu sudah begitu puas dengan pertemuan kali ini. Tinggal satu langkah lagi, satu langkah lagi adik iparnya akan bercerai dengan wanita yang datang diantara mereka.Â
"Aku tak akan membuatmu berkutik lagi, Narumi. Sudah cukup selama ini kau membuat adikku menangis. Sekarang kembalikan apa yang bukan menjadi hakmu," kata Jimmy saat dia sudah memasuki mobil.Â
Sebelum dia mengendarai kendaraan roda empat itu. Jimmy lekas mengetikkan sesuatu di layar dan mengirimnya pada adik iparnya yang ada di rumah Almeera.Â
^^^Jimmy^^^
^^^Kita harus bicara sekarang! Semuanya sudah terbongkar.^^^
...🌴🌴🌴...
Kling.Â
Suara pesan yang diterima dari ponselnya, membuat kegiatan anak dan ayah itu terhenti. Saat ini Bara memang sedang bermain dengan Bia. Dua orang itu terlihat begitu bahagia saat boneka-boneka Bia dan permainan cangkir teh disusun sedemikian rupa.
"Bentar yah," kata Bara pamit lalu beranjak untuk mengambil ponselnya.
Belum sampai dirinya meraih benda pipih itu. Bersamaan sebuah panggilan masuk yang membuat Bara lekas mengangkatnya.Â
"Ya?"Â
"Lo bisa ke perusahaan sekarang, Bar?" tanya suara seorang pria yang tak lain adalah Reno.
"Bisa. Ada apa, Ren?" tanya Bara dengan bingung.
"Perusahaan lagi butuhin, Lo. Ada kerja sama penting dan klien kita minta Lo sendiri yang datang," kata Ren terdengar panik.
Sebelum menjawab. Bara melirik jam dinding di kamar Bia. Pria itu menanyakan pada Reno jam berapa pertemuan itu diadakan. Dirinya harus bersikap profesional.Â
__ADS_1
Bara sadar, beberapa hari ini dia sering meninggalkan perusahaan untuk mencari keberadaan istri dan kedua anaknya. Bahkan dia juga menyadari jika sosok Reno yang berjasa untuknya menggantikan Bara ketika dia tak ada.
"Oke gue berangkat sekarang!"Â
"Papa mau kemana?" tanya Bia dengan berlari dan memeluk kedua kaki Bara saat panggilan itu berakhir.
Bara menunduk. Dia mensejajarkan tubuhnya dan mengelus kepala putrinya dengan lembut.Â
"Papa ada meeting, Sayang. Barusan Om Reno telepon, minta Papa harus ke perusahaan," kata Bara menjelaskan.Â
"Papa yakin? Papa gak bohong, 'kan?"Â
Jantung Bara mencelos. Pertanyaan yang dilontarkan putrinya adalah tanda bahwa anak-anaknya juga tak mempercayainya. Tapi dia tak menyerah. Dirinya mengangguk dan terus membujuk Bia yang berat untuk ditinggal.
Hingga kehadiran seorang perempuan yang masuk ke dalam kamar, membuat Bia melepaskan pelukannya dan berlari ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Almeera dengan bingung.
"Papa mau pergi, Ma. Katanya ada pekerjaan," celetuk Bia dengan cepat.Â
Spontan perkataan putrinya membuat Almeera menoleh. "Beneran, Mas?"Â
"Iya, Ra. Reno meneleponku," kata Bara menunjukkan ponselnya untuk membuktikan bahwa perkataannya adalah kebenaran.Â
"Ya sudah. Mas berangkat, 'gih! Kasihan Reno juga, beberapa hari sendirian urus perusahaan." Nasehat Almeera yang membuat Bara mengangguk.Â
Akhirnya Bara lekas bersiap. Dia juga berpamitan pada mertuanya dan segera berangkat menuju perusahaan. Bersamaan dengan itu, baru saja mobil Bara keluar. Datanglah sosok Jimmy dengan mobil kesayangannya.Â
"Kenapa kalian berada di luar?" tanya Jimmy dengan kening berkerut. "Bukan untuk menyambutku, 'kan?"
"Pede banget, sih!" gerutu Almeera yang membuat Jimmy terkekeh.Â
"Anter Papanya Bia," kata Almeera menjelaskan.Â
"Bara?"Â
"Iya. Dia ada panggilan dari perusahaan." Perkataan Almeera membuat Jimmy lekas meraih ponselnya.Â
Belum dibaca.Â
Ala mungkin Bara tak sempat membukanya dan segera mengurus kepentingannya di tempat pria itu mencari nafkah.Â
"Kenapa, Kak? Wajahmu terlihat kecewa?"Â
"Hah itu," sahut Jimmy mencari alasan.
"Kenapa Kakak gugup? Apa yang Kakak sembunyikan?"Â
Jimmy menatap adiknya dengan tatapan yang sulit di artikan. Otaknya berpikir apa dia harus berbagi dengan Almeera. Tapi, setelah dipikirkan mungkin kehadiran adiknya yang mengerti duduk kesalahan bisa membantunya menyelesaikan permasalahan tentang Bara.Â
"Ayo ke taman belakang! Aku akan menceritakannya."Â
...🌴🌴🌴...
Kedua adik dan kakak itu saling berhadapan. Baik Jimmy maupun Almeera saling menatap dengan pandangan lekat. Istri dari Bara benar-benar penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh kakaknya itu.Â
"Sebenarnya kedatanganku disini karena permintaan suamimu," kata Jimmy mengawali. Â
__ADS_1
"Mas Bara?"Â
"Ya." Jimmy mengangguk. "Suamimu memintaku untuk mencari tahu tentang istri keduanya."Â
Perkataan sang Kakak tentu membuat Almeera tegang. Wanita itu menatap Jimmy dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun, gerak-gerik yang dilakukan Almeera tentu terbaca oleh Jimmy.
"Ada apa, Ra? Apa yang kamu tahu?" cerocos Jimmy dengan benar.
Almeera merasa sulit menelan ludahnya sendiri. Dia bingung apakah harus jujur atau menutupinya.Â
"Tarik nafas dulu lalu buang!" perintah Jimmy yang langsung dituruti oleh Almeera.Â
Istri dari Bara itu sedikit lebih tenang saat melakukan apa yang diminta Kakaknya.Â
"Sekarang ceritakan. Apa yang kamu tahu?"Â
"Tapi jangan beritahu Mas Bara yah?" Jimmy mengangguk. "Sebenarnya waktu itu, aku melihat Narumi bersama pria lain."Â
"Apa pria ini?" sela Jimmy dengan cepat.
Dia menyodorkan tabnya dan membuat Almeera melototkan matanya saat layar itu menampilkan dua sosok yang pernah dia lihat bersama Abraham.Â
"Ya pria ini, Kak."Â
"Dia adalah kekasih Narumi," kata Jimmy yang membuat Almeera menatap ke arahnya.Â
"Jadi benar dia berselingkuh?"Â
"Bukan berselingkuh tapi…"Â
Akhirnya Jimmy mulai menceritakan semuanya. Bahkan semua bukti yang dia punya dari rekaman, video dan foto langsung diperlihatkan pada Almeera. Tentu hal itu membuat ibu dari dua anak itu shock bukan main.Â
Almeera sampai menutup mulutnya saat telinganya mendengar perkataan kakaknya dan matanya menatap semua bukti yang diperoleh Jimmy.Â
"Kamu harus membantu Kakak, Ra!"Â
Almeera spontan mendongak. "Apa maksud, Kakak?"Â
"Kakak yakin wanita itu tak akan mudah melepaskan suamimu. Pasti dia memiliki cara lain agar Bara selalu menjadi miliknya."Â
Almeera tertegun. Namun, dalam hatinya dia membenarkan. Seorang wanita seperti Narumi ini tak bisa dibasmi dengan adu otot. Melainkan hanya otak cerdas dan rencana yang matang untuk membuat Narumi bisa takut dan tunduk kepada mereka.Â
"Apa yang bisa Almeera lakukan?"Â
"Jangan meninggalkan Bara sedikitpun. Apapun yang terjadi, dukunglah dia. Aku yakin, wanita ular itu memiliki rencana agar Bara tak jadi menceraikannya."
"Apa dia akan berbuat nekat?" tebak Almeera yang membuat Bara mengangguk.
"Demi uang, dia akan melakukan segala hal meski nyawa yang menjadi taruhan," kata Jimmy dengan serius. "Jadi maukah kamu bekerja sama dengan Kakak? Menjauhkan wanita itu dan membuat Bara sadar, bahwa selama ini dirinya sudah dimanfaatkan?"Â
Tanpa berpikir. Almeera segera menerima jabat tangan Kakaknya. Dia tak akan berpikir ratusan kali. Demi kebahagiaan kedua anaknya dan keselamatan suaminya sendiri, Almeera rela melakukan apapun.
"Aku mau, Kak. Aku akan melakukan semuanya dan menendang wanita itu jauh dari kehidupan keluarga kecilku."Â
~Bersambung
Seharusnya istri sah sikapnya begini. Gak asal mundur duluan. Kelihatan kalau kalah sebelum berperang, pelakor makin bahagia. Urusan nanti masih lanjut atau bercerai, setidaknya kalian sudah membuktikan pada suami kalian, bahwa apa yang menjadi pilihannya adalah sesuatu yang buruk. Biar kalau mereka menyesal itu, nyeselnya semakin banyak.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.