
...Yang namanya sudah iri dan dengki maka akan selalu seperti itu. Melihat mereka bahagia, sifat untuk merebut dan menghancurkannya pasti selalu ada dalam diri seorang pengkhianat....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Apa Papa lama perginya, Ma?" tanya seorang anak kecil berumur 5 tahun sepeninggalan Bara.
Almeera mengulum bibirnya saat pertanyaan itu sudah keluar sebanyak tiga kali dari bibir putrinya.Â
"Nggak, Sayang. Papa pasti pulang," ucap Almeera mengusap rambut Bia dengan lembut. "Kenapa Bia tanya Papa terus?"Â
"Bia pengen tidur sama Papa," sahutnya membuat Almeera benar-benar tersentuh.Â
Inilah yang menjadi alasan dirinya berpikir sebelum mengambil keputusan. Keputusan untuk berpisah atau bercerai dari suaminya. Pernikahan yang berjalan belasan tahun, kedekatan Bara dan kedua anaknya tentu tak bisa diragukan lagi.
Baik Bia maupun Abraham adalah anak-anak yang lebih dekat dengan papanya. Walau Abraham masih tak bisa menyampaikan apa yang dia rasakan. Anak itu lebih banyak diam dan memendamnya sendiri daripada adiknya.Â
Bia adalah anak yang berbeda dari abangnya. Anak itu lebih pandai menyampaikan keinginannya tanpa menutupi. Apa yang dia inginkan langsung Bia sampaikan.Â
"Baiklah. Nanti setelah bangun tidur kita hubungi Papa yah. Kita tanyakan sama Papa, kapan dia pulang."Â
Akhirnya Bia menganggukkan kepalanya. Anak itu percaya pada perkataan Almeera. Melihat kenapa Bara pergi, tentu membuat Bia bisa menerima segala alasan yang Almeera dan Bara berikan padanya.Â
"Ayo sekarang waktunya Bia tidur!" ajak Almeera menarik selimut lebih ke atas.Â
"Iya, Ma," sahut Bia dengan mengangguk.
"Selamat tidur, My Princess," ucap Almeera dengan mencium dahi anaknya begitu lembut.Â
"Selamat tidur, Ma."Â
...🌴🌴🌴...
"Apa yang akan kamu lakukan, Mas?" Tanya Narumi menatap ke segala arah karena matanya yang tak bisa melihat. Â
"Kita akan mengambil uang perusahaan lalu pergi dari negara ini," kata pria itu dengan menatap mesra wanita di depannya.Â
__ADS_1
"Apa kamu yakin, Mas? Apa rencana itu akan berhasil?" tanya Narumi dengan nada penuh keraguan.
Sebenarnya wanita itu mulai lelah dengan semuanya. Namun, rasa bencinya pada Almeera membuat hatinya masih ingin membalas segalanya.Â
Melihat bagaimana keadaan Almeera yang semakin bahagia membuat Narumi tak menyerah. Jika tak bisa menghancurkan melalui sahabatnya, maka dia akan menghancurkan hidup mereka melalui Bara.
Hal itu tentu akan diwujudkan oleh pria di depannya. Pria yang ketiga kalinya terjebak dengan permainan licik seorang Narumi. Bermodalkan tubuhnya yang seksi dan mampu memuaskan. Sudah membuat pria yang berada di dekatnya ini jatuh ke dalam pesona Narumi yang terdalam.Â
"Kenapa harus tak yakin?" Tanya pria itu dengan alis terangkat.Â
Dia meraih ponsel yang ia letakkan di saku celananya. Menggeser layar itu lalu mulai mengotak-atik layar menyala itu entah apa yang sedang dia lakukan.Â
"Kamu ngapain sih, Mas?" Tanya Narumi dengan kesal.
Dia tak mendapatkan jawaban. Hingga membuat Narumi benar-benar bosan. Mata sudah tak bisa melihat. Kakinya yang sudah tak ada semakin membuatnya benar-benar tak berdaya.
Pria itu terlihat sibuk dengan layar ponselnya. Narumi benar-benar merasa diabaikan. Dia memilih membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.
Entah kenapa, saat ini melihat sikap pria peliharaannya itu membuat Narumi menaruh harapan pada pundaknya. Dia akan berusaha membuat pria itu tak bisa meninggalkannya.Â
"Jangan ngambek, Rumi. Mas sedang ingin menunjukkan ini padamu," kata Pria itu membuat Narumi yang tadinya pura-pura tertidur mulai mencebikkan bibirnya.Â
Matanya terbelalak dengan mulut menganga tak percaya. Dia bahkan sampai kesulitan menghirup oksigen di sekitarnya saat mendengar bisikan dari pria di dekatnya ini.
Berada di kantong ajaib pria itu. Entah darimana uang itu hingga membuat Narumi tak percaya pada pria itu.
"Itu asli, Mas? Itu duit beneran?" Tanya Narumi setelah menetralkan kejutan pada dirinya.Â
"Iya. Itu asli 3 milyar."
Narumi berusaha menelan ludahnya paksa. Dia menghirup oksigen begitu banyak untuk membuat jantungnya tak berdegup kencang.Â
Dia benar-benar tak habis pikir dengan kinerja pria di depannya. Menurut Narumi, pria ini tanggap daripada Adnan.Â
Ah mengingat pria itu, membuat Narumi merasa kasihan pada mantan kekasihnya. Adnan harus mati sia-sia karena kejaran itu. Namun, tak ada penyesalan apapun dalam diri Narumi.
Seakan mata batin wanita itu sudah ikut lenyap dengan uang yang baru saja dia dengar dari mulut kekasih gelapnya ini.
Tak dapat, Adnan. Tak membuatku miskin. Pria ini harus jatuh dalam pelukanku atau dia harus mati di tanganku sebelum aku mengambil semua uang itu dan menikmatinya seorang diri, gumam Narumi dengan tersenyum dalam hati.Â
__ADS_1
"Jangan katakan kalau itu uang…"
"Ya. Itu uang perusahaan," katanya dengan senyum licik di bibirnya. "Menjadi bagian keuangan, tentu dengan mudah aku memanipulasinya, Sayang."Â
Senyum lebar Narumi diberikan. Dia meminta pria itu mendekat dan memeluknya begitu erat. Tak salah jika dulu dia menggoda pria itu untuk memuaskan nafsunya ketika di kantor sedang pusing dengan kerjaan.Â
"Kamu sangat pandai, Cintaku," ucap Narumi tanpa rasa bersalah.Â
Pria yang dipuji terlihat tersenyum malu. Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir wanita itu dengan lembut.
Keadaan Narumi saat ini, tak membuat pria itu jijik atau takut. Dia benar-benar sudah jatuh dalam pesona Narumi karena hanya wanita itu yang mau menerimanya.
Wajahnya yang tak tampan dan kulitnya yang sedikit gelap. Membuat pria itu kesulitan mencari wanita cantik. Namun, saat Narumi yang cantik mendekatinya, membuat pria itu merasa dihargai dan dicintai.Â
"Tentu. Untukmu akan aku lakukan semuanya, Sayang," bisiknya yang membuat Narumi mengangguk pelan. "Apa kamu ingin melihat lagi?"
Narumi terdiam. Perlahan tangannya terangkat memegang dua kasa yang menutupi matanya. Dia benar-benar ingin sekali bisa melihat. Dirinya tak mau diam seperti ini dan tak bisa melihat apapun.Â
"Tentu, Mas. Aku ingin," ucap Narumi dengan nada suara manja.Â
"Setelah kita pergi dari sini, kita cari dokter terbaik dan mengoperasi mata kamu," ucapnya dengan sungguh-sungguh.Â
Diam-diam, Narumi tersenyum dalam hati. Dia tak menyangka pria itu benar-benar mewujudkan keinginannya. Tak apa dia tak bisa berjalan, setidaknya ia masih bisa melihat bagaimana wajah musuhnya yang hancur.
"Iya, Mas Ilham. Aku hanya bisa menurut. Tapi kakiku…" lirih Narumi dengan suara pelan di akhir kalimat.
Ilham mengelus kepala Narumi dengan lembut. Dia menyentuh bibir yang mencuri ciuman pertamanya itu.
"Jangan khawatirkan kakimu. Aku bisa menjadi kaki untukmu dan membawamu kemana saja. Yang terpenting jangan pernah tinggalkan aku," kata Ilham dengan anda memohon.Â
"Aku tak akan pergi, Mas. Aku hanya milikmu sekarang. Pernikahanku dengan Bara juga sudah berakhir. Kita bisa hidup bahagia berdua setelah ini," kata Narumi membuat Ilham mengangguk semangat.
Tanpa pria itu. Diam-diam Narumi tersenyum licik. Wanita itu masih mengingat bagaimana polosnya dan dekilnya Ilham. Wajah pria itu yang tak tampan tapi berbeda dengan gairahnya. Gairah besar dan liar membuat Narumi selalu merasa puas.Â
Jika bukan karena uang itu, aku tak akan mau kembali kepadanya tapi untuk sementara waktu, aku harus membuat dirinya tak bisa meninggalkanku, gumam Narumi dalam hati.
~Bersambung
Kelakuan Narumi emang paling gedeg sedunia noveltoon kayaknya. Dah cacat tapi masih aja bisa jahat!
__ADS_1
Kurang kapok emang!
But aku ucapin terima kasih banyak sama kalian yang mau support aku sampai detik ini. Semoga kalian semangat sampai akhir. Jangan lupa klik like, komen dan vote yah.