
...Menikmati kebersamaan dengan pasangan bukan melulu soal romantis. Namun, melakukan hal-hal apapun yang membekas dalam pikiran akan jauh lebih berkesan....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Janji adalah hutang. Itulah yang selalu ada di kepala Almeera. Akhirnya perempuan hamil itu berada disini. Di atas kursi roda dengan Bara yang mendorongnya.
Ia tak bisa menolak permintaan suaminya. Bagaimanapun dirinya sangat menghargai Bara. Suaminya itu sudah mau meluangkan waktu liburnya dengan datang kesini.
Ditambah, alasan tentang untuk kebaikan si kembar membuat hati seorang ibu yang sangat lembut itu menjadi paham. Paham bila yang Bara khawatirkan yaitu terjadi sesuatu pada si kembar. Paham bila keliling taman bermain tentu membuatnya kelelahan.
Dia memang hamil anak ketiga dan keempat. Tapi kemungkinan terburuk masih bisa terjadi bila mereka teledor. Dan Almeera, tak mau itu semua terjadi.Â
"Mama, Bia mau itu!" serunya menunjuk sebuah penjual es.Â
Almeera mengangguk. Bara segera mendorong istrinya menuju ke tempat penjual es yang diinginkan. Baik Bara maupun Almeera, mereka tak pernah marah atau membatasi semua aktifitas dan keinginan anak-anaknya. Hanya saja, mereka juga memfilter makanan apa saja yang dimakan putrinya.
Seperti es krim. Bia memang suka es krim. Namun, bocah itu tak bisa makan terlalu banyak karena tenggorokannya juga tak mampu menampung terlalu banyak memakan dingin-dingin.Â
"Abang gak mau naik?" tanya Almeera pada putranya yang sejak tadi tak pernah melepaskan genggaman tangannya di tangan ibunya.
"Apa Mama nyaman duduk disini?" tanya Abraham menatap mamanya iba.
Sepertinya remaja yang lebih dekat dengan mamanya merasa bersalah. Karena keinginan dirinya dan sang adik, membuat Almeera harus duduk di sana. Hal itu tentu disadari oleh istri Bara.
Perempuan itu segera tersenyum untuk menenangkan putranya.Â
"Nyaman, Sayang," sahut Almeera dengan tenang. "Jangan merasa bersalah. Bagaimanapun Papa melakukan semua ini demi Mama dan Adik. Papa hanya tak mau Mama kelelahan di usia hamil muda. Karena itu bisa membahayakan adik dalam kandungan."Â
"Tapi Mama kasihan, 'kan? Harus duduk disini dan tak bisa kemana-mana," ujar Abraham sesuai pemikirannya.
"Sini, Nak! Duduk depan Mama," pinta Almeera yang ingin memberikan pengertian kepada putranya.Â
Dia tak mau terjadi kesalahpahaman antara putra dan suaminya. Pemikiran Abraham masih terlalu remaja untuk mengerti keinginan Bara. Namun, inilah tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. Menjadi penengah di antara mereka.Â
"Begini, Sayang. Orang hamil itu dilarang kecapekan karena bisa mengakibatkan keguguran. Mangkanya Papa posesif, 'kan?" seru Almeera bertanya.
"Iya. Papa selalu menyuruh kita diam di rumah," ujar Abraham dengan bayangan dimana mereka harus menghabiskan waktu lebih banyak di dalam rumah.Â
"Nah. Itu semua atas saran dokter kandungan Mama. Boleh jalan tapi jangan terlalu kelelahan. Mangkanya Mama ada disini sekarang," jeda Almeera memegang kursi rodanya. "Taman bermain ini luas, Nak. Kalau Mama jalan ngikutin kalian. Mama pasti…"Â
"Capek," sahut Abraham dengan cepat.
__ADS_1
"Nah betul. Jadi yuk hargai keinginan Papa. Toh semua yang dilakuin Papa demi keselamatan Mama."Â
Akhirnya pembicaraan itu selesai tepat dengan Bara dan Bia yang membawa es krim di tangan mereka. Dengan wajah bahagia, bocah itu menyerahkan es krim di tangannya pada sang Abang.
Â
"Ini untuk, Abang."Â
"Dan ini untuk, Mama," kata Bara melanjutkan sambil menyerahkan pada sang istri.
"Terima kasih, Papa dan Bia Sayang," balas Almeera mengusap pipi tembem putrinya.Â
"Sama-sama."Â
Akhirnya mereka segera melanjutkan langkah kaki mereka. Almeera dan Bara benar-benar menemani kedua anaknya yang berkeliling bersemangat meminta naik ini dan itu.
Abra dan Bia merupakan anak yang aktif. Keduanya sangat suka taman bermain karena bisa melakukan apapun. Wahana menguji adrenalin, menguji kelincahan, semuanya ada dan itu bagus untuk mental dan membentuk karakter seorang anak.Â
Itulah yang membuat Bara dan Almeera tak pernah menolak jika dulu kedua anaknya meminta kesini. Mereka sangat tahu betul jika anak-anaknya sedang mengeksplor keaktifan dalam diri mereka masing-masing.Â
"Mas!" panggil Almeera saat keduanya menunggu Abra dan Bia yang sedang bermain bombom car.Â
"Ada apa?" sahut Bara dengan perasaan was-was.
Entah kenapa Bara sendiri merasa selalu waspada pada keinginan istrinya. Almeera selalu memiliki keinginan aneh-aneh yang membuatnya takut disuruh melakukan ini dan itu.
"Pengen apa, Sayang?" biar Mas belikan," ujarnya penuh perhatian.Â
"Bukan makanan," kata Almeera menolak.Â
"Terus. Apa?"Â
"Aku pengen ke rumah hantu itu," tunjuk Almeera di samping tempat bombom car.
Sejak tadi memang terdengar suara seperti orang ketawa, suara guntur menggelegar dari dalam rumah hantu. Bahkan teriakan orang-orang yang masuk sangat jelas di telinga mereka.Â
"Kamu yakin?" tanya Bara menelan ludahnya paksa.
Dia menatap rumah hantu itu dengan pandangan horor. Dia benar-benar tak pernah memasuki arena itu karena Bara pernah mengalami kejadian tak enak ketika muda.Â
"Iya, Mas. Yah yah…" rengek Alemera menggoyang tangan suaminya.Â
Akhirnya Bara mengangguk meski terlihat berat. Dia ingat betul nasehat Umi dan Mama Tari. Istri hamil itu sering ngidam. Ngidam itu keinginan yang berasal dari jabang bayi yang dikandung.Â
Apa yang bayi inginkan, harus dituruti. Kalau tidak, anak mereka akan ngeces terusan.
__ADS_1
Perkataan itu ia dengar sejak kehamilan Abra. Maka dari itu Bara selalu berusaha menuruti keinginan istrinya. Dia tak mau anak yang dikandung nanti ileran hanya karena ia menolak atau tidak menuruti keinginan istrinya.Â
"Ayo!"Â
Akhirnya Bara menuju ke tempat dimana putra putrinya berada. Dia mengatakan pada putranya jika Bara dan Almeera akan ke rumah hantu.Â
Hal itu membuat Abra segera mengacungkan jempolnya. Keduanya masih lama untuk turun hingga membuat Bara segera mendorong kursi roda istrinya menuju tempat dimana Almeera mau.Â
"Mas beli tiket dulu, yah," pamit Bara hendak berlalu.
"Bentar, Mas!" sahut Almeera menarik tangan suaminya. "Beli tiketnya satu aja."Â
"Hah?" Bara melebarkan matanya.
Dia terkejut mendengar permintaan istrinya.Â
"Jadi…"Â
"Ya." Almeera mengangguk dengan cepat. "Almeera cuma pengen liat Mas Bara yang naik."Â
Bara semakin terlihat putus asa. Pria itu menatap rumah hantu itu dengan enggan. Seumur hidupnya, ini adalah permintaan bumil yang sangat sulit.
Dulu meski Almeera meminta keliling malam hari. Mencari makanan yang susah, itu menurutnya masih dalam tahap wajar. Namun, berbeda dengan hal satu ini. Dia harus memasuki rumah hantu sendirian.
"Sayang. Aku…" rengek Bara dengan memohon. "Bisakah ganti yang lain?"Â
"Mas takut?" todong Almeera menyipitkan matanya.Â
Spontan Bara segera menggeleng. Dia tak mau istrinya tertawa jika tahu pengalaman yang pernah terjadi di rumah hantu.Â
Bara pernah memukul hantu yang ada disana ketika masih remaja karena sangking takutnya. Bahkan pria itu berlari kesetanan dan mengabaikan beberapa barang yang ia tabrak di dalamnya.Â
"Jadi Mas mau, 'kan? Ini keinginan si kembar loh, Mas?" rengek Meera dengan wajah se-manja mungkin.
Ah jika begini Bara tak bisa menolak. Meski dirinya takut. Namun, tetap saja pemikiran tentang ileran terus terbayang. Akhirnya dengan berat pria itu berjalan meninggalkan istrinya menuju tukang tiket.
Almeera hanya mampu menahan tawanya melihat aksi suaminya. Dia tahu kelakuan Bara di masa lalu tentang kejadian di rumah hantu. Itu semua Umi Mira yang menceritakan kepadanya.Â
"Kapan lagi bisa kerjain Mas Bara. Biasanya dia yang kerjain aku. Sekarang, kita gantian yah!" kata Alemera sambil cengengesan.Â
~Bersambung
Part ini aku inget banget pas waktu itu liburan keluarga. Mas Bara sampai mohon-mohon ke istrinya kalau dia gak mau naik beginian, haha.
Kabur aja. Takut Mas Bar menggila hahaha.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.