Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Perjaka Tua Akut!


__ADS_3


...Kebahagiaan itu mampu kita ciptakan sederhana mungkin. Tak perlu mengeluarkan uang, kita bisa membuat rasa bahagia itu begitu besar....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Kebahagiaan bukan hanya milik pasangan Adeeva dan Reno saja. Melainkan sebuah keluarga kecil yang berada di Tanah Jogjakarta juga merasakan kebahagiaan yang tak terhingga.


Wajah keempatnya benar-benar tak ada kata lelah saat mereka berjalan kaki menuju sebuah sungai yang sangat jernih. Sungai yang memiliki cerita bagaimana Bara dan Almeera tercebur di sana. 


Suara gemericik air, membuat dua pasang kaki berjalan tak sabaran. Mereka bisa mendengar suara itu semakin kencang yang membuat Bia dan Abraham rasanya ingin berlari supaya segera sampai.


"Wah." Mata kedua anak itu berbinar.


Disana, di depan mereka terlihat sungai dengan air yang sangat jernih. Bukan itu saja yang menjadi perhatian, melainkan beberapa batuan yang ada di sana juga terlihat begitu pas dan sangat cantik. 


Keadaan terakhir kalinya Bara dan Almeera datang sudah banyak perubahan sekali. Dulu sungai ini seperti tak terawat. Namun, sekarang sudah sangat jauh terlihat bagus dan terawat sekali.


"Airnya masih tetap jernih, Sayang," kata Bara pada istrinya.


Almeera mengangguk. Dia lekas menggandeng tangan istrinya yang terus merengek ingin turun agar bisa bermain air. 


Dari atas lalu turun ke bawah, mereka berjalan dengan memegangi bambu yang dibentuk seperti pegangan jembatan. Mereka berjalan begitu hati-hati karena undakan yang terbuat dari tanah itu terasa sangat licin. 


"Dilepas aja sepatunya, Sayang," kata Almeera menghentikan langkahnya. 


Tak mungkin jika mereka meneruskan jalannya menggunakan sepatu. Jalanan sangat amat licin. Jika dipaksa bisa membahayakan keduanya.


"Yey." Bia bertepuk tangan saat kakinya berhasil menuruni undakan tersebut.


Dia segera berlari ke arah pinggiran sungai setelah melemparkan sepatunya di tanah. Tangannya menyentuh air yang sangat dingin itu dengan wajah sumringah.


Benar-benar hal yang tak bisa mereka rasakan ketika berada di kota. Mencari sungai sebersih ini pun sudah sangat jarang jika di kota-kota besar. 


Alasan inilah yang menjadi salah satu alasan Bara mengajak mereka mengelilingi kota-kota besar tapi memiliki daerah yang masih pedesaan. Dia sangat mengerti betul selera bermain anak-anak dan istrinya. 


"Jangan terlalu jauh ya, Sayang. Mama dan Papa belum tahu seberapa dalam air sungai ini," kata Almeera saat melihat anaknya mulai bermain air dengan tangan memegang bebatuan.


"Oke, Mama." 


Bara segera mengeluarkan isi tas yang ia bawa sejak tadi. Almeera sendiri pun sama keponya dengan apa yang dibawa suaminya ini.


Hingga matanya membulat penuh menatap Bara tak percaya saat alat pancing dikeluarkan dari sana. Sejak kapan suaminya itu menyiapkan alat-alat itu. Bahkan dirinya semalam sampai tak tahu apapun.

__ADS_1


"Kapan Mas siapin semua ini?" tanya Almeera membantu suaminya menurunkan apapun yang ada di dalam tas.


"Semalam." 


"Semalam?" ulang Almeera dengan bingung. 


Bara mengangguk. "Mas keluar sebentar setelah kamu tidur buat nyiapin ini." 


Bibir Almeera membulat penuh dengan kepala mengangguk seakan paham dengan perkataan suaminya. Dia tak mau mendebat apapun. Toh yang dilakukan Bara bukan hal negatif.


"Papa mau mancing dimana?" tanya Abraham yang sama-sama memegang alat pancing.


"Kita pancing di sana aja. Jangan dekat Bia. Nanti ikannya gak bakal ada," nasehatnya yang membuat Abraham paham betul. 


Akhirnya Almeera mendekati putrinya dan membiarkan suami serta putranya agak menjauh. Dua orang itu berjalan dengan alat pancing di tangannya dan tak lupa membawa umpan.


Entah mendapatkan cacing dari mana tapi yang pasti kotak umpan itu berisi tanah dan cacing yang banyak. 


"Apa Papa dan Abang bakalan dapet ikan, Ma?! Tanya Bia yang baju bagian bawahnya sudah sangat basah. 


"Bisa. Yang penting ikannya ada."


Hampir satu jam lebih. Namun, tak ada tanda-tanda suami dan anaknya hendak beranjak ke arah mereka.


Sebuah kedutan di dalam air yang membuat Bara segera menarik umpannya. 


Akhirnya seekor ikan terpancing dengan tepat. Ikan itu menggelepar di atas tanah tatkala Bara meletakkannya di sana. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang indah saat wajah anaknya berubah menjadi kesal. 


"Kenapa harus punya Papa sih! Kan ada punyaku juga," gerutunya dengan kesal.


"Yang sabar." Bara mengelus punggung anaknya ketika ikan itu sudah ia lepaskan pengait pancing dari mulutnya. "Sana! coba lempar pancing kamu lagi." 


Akhirnya Abraham mulai melempar lagi hingga tak sampai sepuluh menit kailnya benar-benar bergerak dan dia segera menariknya.


"Woohh!" pekiknya terkejut.


Seekor ikan terjerat oleh kailnya. Akhirnya tak ada kesedihan lagi di wajah ayah dan anak itu. Mereka kembali melanjutkan memancing sampai kehadiran dua wanita kesayangan ke arah keduanya.


"Mama, Abang dapet ikan loh!" kata Abraham menunjukkan wadah ikan miliknya.


"Wah. Abang pintar! Nanti ikannya kita bakar yah," kata Almeera yang menelan ludahnya melihat ikan-ikan itu. 


Merasa sudah mendapatkan banyak ikan. Akhirnya Bara mulai mengajak anak dan istrinya pulang. Ditambah pakaian Bia yang basah karena begitu bersemangat mandi air sungai, membuat Bara tak mau anaknya menjadi sakit.


Segera mereka pulang ke rumah dan meminta kedua anaknya mandi. Namun, saat Bara hendak melepas pakaiannya juga. Sebuah panggilan melalui ponselnya membuat Almeera yang berada di dekat benda pipih itu akhirnya membantu sang suami untuk meraihnya. 

__ADS_1


"Reno, Mas!" 


"Angkat, Sayang," sahut Bara meminta sang istri mengangkatnya.


"Ya, halo, Ren?" sahut Bara saat panggilan itu tersambung.


"Maaf gue ganggu waktu Lo, Bar. Tapi ini darurat banget!" ujar pria itu yang membuat Bara mengerutkan keningnya.


"Darurat apaan?" tanyanya dengan serius. "Gak ada masalah kan di perusahaan?" 


"Gak ada tapi ini masalah sama hidup gue di masa depan," ujarnya yang membuat pasangan suami istri itu saling menatap. 


"Maksud Lo, apaan?" dengus Bara mulai kesal. 


"Lo bisa balik secepatnya gak?" tanya Reno dari seberang telepon.


"Ya bisa. Gue usahain balik cepet," ujar Reno menanggapi.


"Besok. Gimana?" tawar Reno yang membuat Bara mengerutkan keningnya kesal.


Temannya itu benar-benar menguji iman sekali. Bukankah Bara sudah mengatakan jangan mengganggu waktu liburannya bersama keluarga. Lalu sekarang, kenapa pria itu malah memintanya pulang. 


"Berikan gue alasan yang tepat kenapa harus pulang!" ujarnya dengan tegas. "Gue udah bilang, 'kan? Jangan ganggu gue selama sebulan karena gue lagi liburan sama…" 


"Gue mau nikah!" sela Reno yang membuat Bara melototkan matanya.


Almeera yang notabene-nya belum mengatakan perihal Adeeva dan Reno tentu membuat pria itu terkejut. 


"Lo bilang apa? Coba ulangi lagi!" 


"Gue mau nikah, Bar! Gue pen nikah secepatnya. Lo bisa balik gak?" 


Bibir Bara tertarik ke atas. Dia bersyukur atas kebahagiaan yang didapat oleh sahabatnya itu. Akhirnya pria yang ia anggap sebagai seorang guy telah menambatkan hatinya pada sang pujaan.


"Oke. Besok gue balik! Lo harus cepet nikah sebelum jadi perjaka tua akut!" 


"Cih. Sialan Lo!" 


~Bersambung


Hahaha kalau gagal, ya Bang Ren jadi perjakat tua beneran, Mas Bar!


Kalau ada typo bilang yah. Aku belum revisi soalnya.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2