
...Aku memang sangat merindukanmu. Saat pertemuan tak bisa menjadi obat maka hanya mendengar suaranya saja sudah mampu membuatku tenang....
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
Sedangkan ditempat lain. Terlihat seorang perempuan tengah tertidur tengkurap di atas ranjang dengan laptop di depannya. Layar hidup itu menampilkan sosok pria yang sangat dirindukan. Sosok yang beberapa hari ini telah menghilang karena misi yang harus dia jalankan dari komandannya.
"I miss you," kata Jimmy tiba-tiba yang membuat pipi Zelia bersemu merah.
"Miss you too, Kak," balasnya dengan memberanikan diri menatap wajah sangat amat menghantui pikirannya.Â
Jujur Zelia tengah dilanda rasa rindu. Kerinduan yang membuncah pada sosok sang kekasih. Namun, mengingat pekerjaan apa yang Jimmy lakukan. Membuat Zelia mau tak mau harus mengerti.
"Bagaimana kabarmu, Lia?" tanya Jimmy menatap sang kekasih. "Baik, 'kan?"Â
Zelia mengangguk. Dia mengelus layar itu seakan membayangkan bahwa itu wajah kekasihnya langsung.Â
"Aku baik, Kak. Kakak sendiri?"Â
"Sama," balas Jimmy dengan anggukan kepala. "Kenapa kamu terlihat kurus?"Â
Dahi Zelia berkerut. Gadis itu segera beranjak duduk untuk melihat tubuhnya.
Dia merasa dirinya seperti naik berat badan. Namun, kenapa orang-orang mengatakannya kurus?
"Emang aku kurus banget?"Â
"Iya. Tulang rusuk bagian atas aja sampai kelihatan jelas."
Zelia yang saat itu memakai kaos longgar jelas terlihat tulang di dekat lehernya. Jika orang terlalu kurus biasanya akan terlihat jelas.Â
"Gak lah, Sayang. Aku lumayan naik pasti bbku," ujar Zelia sekenanya.
Dia segera turun dari ranjang. Berdiri didepan cermin yang ada di dekat ranjangnya hingga terlihatlah seluruh tubuhnya.
Perempuan itu memutar ke kanan dan ke kiri. Meneliti tubuhnya dengan teliti. Sampai ia menyadari jika yang dikatakan oleh kekasihnya adalah kebenaran.Â
Ya, berat badannya semakin turun. Zelia baru saja menimbangnya karena memang penasaran. Beberapa hari ditinggal sang kekasih, turun 3 kg.Â
Waw sangat amat luar biasa!
"Turun, 'kan, Sayang?"Â
Zelia kembali ke atas ranjang. Dia menganggukkan kepalanya lagi.Â
"Iya aku turun, Kak. Tiga kilo loh! Astaga." Zelia benar-benar terkejut bukan main.
Penurunan berat badan paling drastis ini mah. Biasanya ia turun karena diet. Namun, sekarang tanpa diet ia bisa turun.
Apa karena rindu pada Jimmy, beratnya bisa turun?
Apa karena ia sering khawatir pada kekasihnya, beratnya bisa turun?Â
__ADS_1
Apa karena pria itu tak bisa dihubungi, beratnya bisa turun?Â
Jika betul ini benar-benar rekor. Rekor terbaik dalam hidupnya.Â
"Kamu sedang mikirin apa? Kenapa bisa turun?" tanya Jimmy khawatir.
Zelia menggelengkan kepalanya dengan diiringi helaan nafas berat. Dirinya saja belum tahu betul alasan apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Namun, dia sadar jika LDR ini adalah alasan salah satunya yang membuat ia malas makan.Â
Jimmy yang tak mendapatkan jawaban dari kekasihnya hanya bisa menatap wanita itu dalam diam. Pria itu sama seperti Zelia.
Rindu kebersamaan mereka. Rindu pelukan mereka. Rindu kecupan mereka. Rindu semua yang mereka lalui secara bersama-sama.Â
"Sayang!"Â
"Ah ya, Kak?" sahut Zelia saat lamunannya buyar.
"Kamu kenapa?"Â
Zelia menunduk. Sepertinya memang ia harus menceritakan apa yang dia rasakan. Bukankah salah satu kunci hubungan langgeng adalah saling keterbukaan antara satu dengan yang lain.
Saling jujur dengan apa yang mereka rasakan. Tak ada satu hal pun yang keduanya tutupi agar mereka saling merasakan.Â
"Aku kepikiran sama, Kakak," lirih Zelia memulai. "Semenjak kita LDR an. Aku selalu mikirin, Kakak. Apalagi kalau chat gak dibalas, pikiran udah kemana-mana."Â
Zelia mengeluarkan segala uneg-unegnya. Dia benar-benar tak mau menutupi apapun dari sang kekasih yang membuat perasaannya tertekan.
Jimmy yang mendengar hanya bisa sama-sama menghela nafas berat. Dia sangat tahu betul rasanya LDRan. Baru kali ini Jimmy merasa ingin selalu pulang.
Pulang ke rumahnya dan menemui sang kekasih.Â
"Apa aku harus pulang?"Â
"Biarkan kita menabung rindu kita sampai menggunung. Selesaikan saja misi Kakak segera. Biar kita bisa ketemu," kata Zelia menyemangati.
"Terima kasih. Terima kasih sudah mau mengerti aku," kata Jimmy penuh bangga.
Dia tak menyangka jika kekasihnya mulai bisa berpikiran dewasa. Menyingkirkan keegoisannya dan mencoba mengerti akan dirinya.Â
Jimmy benar-benar mengakui bahwa ia sangat sibuk. Kepulangannya yang telat membuat misinya semakin banyak. Dia bahkan hampir jarang sekali memegang ponsel karena terlalu banyak yang dikerjakan.
Namun, mengingat bahwa kehidupannya kali ini berbeda. Dia memiliki seseorang yang menunggu kabar darinya. Ada seseorang dibalik dirinya yang mendoakan segala langkah kakinya ketika bekerja.Â
"Jangan pikirkan aku terus, Sayang," kata Jimmy dengan serius. "Aku tak mau kekasihku semakin kurus."Â
"Aku juga gak mau kurus, Kakak. Tapi kalau udah jalannya, gimana?" tanya Zelia sambil mengangkat kedua bahunya tak acuh.
Dia juga tak mau seperti ini. Memikirkan Jimmy setiap saat. Melupakan dan selalu telat makan. Rasa malas sering menderanya ketika moodnya memburuk.Â
"Ya harus makan!"Â
"Kalau males?"Â
"Harus dipaksa!"Â
"Tukang maksa emang," sindir Zelia menjulurkan lidahnya pada sang kekasih.Â
__ADS_1
"Ya gakpapa. Toh maksain hal yang bagus," balas Jimmy penuh percaya diri.Â
"Yay. Aku selalu kalah!"Â
"Dan aku selalu menang," balas Jimmy yang semakin membuat kekasihnya merasa jengkel.Â
"Kamu kenapa sih, kok nyebelin banget?" tanya Zelia menatap Jimmy tajam.
"Kamu kenapa sih, kok ngangenin banget?"Â
Pipi Zelia bersemu merah. Bisa-bisanya sedang mode debat begini. Jimmy merayunya.
"Malu, 'kan?"Â
"Ih nggak!" kilah Zelia menggeleng.
"Kalau nggak, kok pipinya merah?"Â
"Nggak merah kok," sahut Zelia membela.
"Ya gak merah. Cuma bersemu aja."Â
"Uhh awas aja kalau ketemu yah!" ancam Zelia dengan mengepalkan kedua tangannya seakan membayangkan ingin meremas pipi Jimmy.Â
"Emang mau diapain?"Â
"Aku bejek-bejek. Aku cubitin aku gelitikin."Â
Zelia memperagakan bagaimana ia mencubit, memukul dan menggelitiki. Tingkahnya itu tentu membuat Jimmy tertawa begitu lepasÂ
Belum lagi ekspresinya yang sangat lucu semakin membuat Bang Jim tak bisa menahan tawanya.Â
"Kalau digituin mah. Yaudah aku gak pulang," sindir Jimmy pura-pura merajuk.
"Lah gak bisa dong!" sahut Zelia dengan cepat. "Harus pulang!"Â
"Nggak!"Â
"Harus!"Â
"Nggak!"Â
"Awas aja kalau sampai nggak. Aku blokir loh!"
"Baiklah. Aku akan pulang. Tunggu aku ya, Sayang?" pinta Jimmy menatap kekasihnya dengan serius.Â
"Janji?" tanya Almeera menjulurkan jari kelingkingnya di hadapan laptopnya.
Dia tak mau terlalu berharap. Zelia hanya ingin kepastian kekasihnya. Kapan pria itu pulang, itu tak penting. Yang terpenting adalah kekasihnya sudah ada janji untuk pulang dan menemuinya.Â
Pria sejati adalah pria yang bisa dipegang perkataannya dan menepati janjinya. Lalu Zelia ingin menguji seberapa sejatinya sang kekasih.Â
"Janji," balasnya sambil ikut mendekatkan jari kelingkingnya di layar ponsel dan membuat mereka semakin terlihat manis.Â
~Bersambung
__ADS_1
Yuhuu nih yang dari kemarin minta bab Bang Jim sama Zelia. Aku kasih sebab nih. Masih kurang gak? haha.
Jangan lupa tekan like dulu, terus komen baru vote. Biar author semangat gitu.