Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Bertukar Sandera


__ADS_3


...Apapun yang dilakukan oleh mereka. Harus dipertanggung jawabkan dengan seadil-adilnya....


...~Jimmy Harrison...


...🌴🌴🌴...


"Kita mau kemana!" teriak Narumi penuh ketakutan.


Mata wanita itu ditutup sebuah kain hitam. Tangannya diikat kuat. Yang tertinggal hanyalah kaki dan mulutnya yang bebas. Saat ini tubuh wanita itu sedang diseret ke luar. Narumi tak bisa melihat apapun. Dia hanya bisa mendengar suara kendaraan yang sesekali lewat. 


"Lepasin!" 


"Diam!" sentak Jimmy hingga membuat tubuh Narumi meremang. "Jika kau bersuara lagi, aku pastikan mulutmu tak akan bisa berteriak selamanya!"


Narumi menelan ludahnya paksa. Dia gemetar ketakutan dan terpaksa menganggukkan kepalanya. Dirinya tak mau membuat Jimmy marah. Kemarahan pria itu benar-benar bengis jika sedang berada di puncak tertinggi.


Wajahnya memang tampan. Namun, siapa sangka, dibalik itu semua. Ketika keluarganya disakiti, maka singa yang ada dibalik dirinya akan keluar. Dia tak suka jika keluarganya diganggu. Maka dari itu, dirinya berjanji tak akan menikah sebelum segala urusan di markas agennya selesai. 


"Masuk!" 


Narumi segera didudukkan di kursi tengah. Kanan kirinya dijaga ketat oleh teman-teman Jimmy. Sedangkan yang mengemudi adalah Jack. Pria yang angkatannya sama dengan Jimmy dan sangat mengidolakan pria itu. 


"Gedung, J?" 


"Ya, Jack."


Perlahan mobil itu mulai melaju meninggalkan rumah yang menjadi tempat penyekapan Narumi. Jack segera mengemudi dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang lumayan sepi membuatnya dengan mudah menyalip dan bergerak tanpa halangan apapun.


Jimmy benar-benar sudah sangat khawatir pada keponakannya. Dari penyadap yang menempel di telinganya. Dia tak lagi mendengar suara Bia. Entah ada masalah di penyadap itu, atau terjatuh mungkin. Itu semua serba bisa.


"Kau yakin dengan rencanamu, J?" tanya Jack melirik sahabatnya.


"Ya," sahut Jimmy tanpa takut. "Orang jahat tak akan takut hanya dengan sebuah sel tahanan, Jack."


Perkataan Jimmy tentu sebuah kebenaran. Tak selamanya orang jahat yang berakhir di dalam sel penjara, akan berubah. Tak semua orang yang bisa menjadi takut hanya karena ditahan. Orang berubah karena sesuatu sudah mengetuk hatinya. 


Maka dari itu, Jimmy masih ingin mengetuk mental keduanya. Dia ingin sebelum dua cecunguk itu dijebloskan kedalam penjara, mereka harus sadar bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah salah dan tidak baik. 


Setelah hampir tiga puluh menit mereka berkendara. Akhirnya mereka sampai di depan sebuah gedung yang terbengkalai. Tak ada kehidupan disana, dengan mudahnya mobil Jimmy masuk dan terparkir di halaman gedung.


"Aku dimana?" teriak Narumi saat tubuhnya ditarik kuat.


Dia kembali diseret dan dikeluarkan dari kendaraan itu. Narumi berkali-kali memohon. Bahkan gadis itu menangis minta dilepaskan karena seluruh tubuhnya sudah terlampau sakit.


"Maafkan aku. Kumohon lepaskan aku!" pintanya dengan suara lemah.


Jimmy mendekat. Dia mencengkram dagu Narumi dengan bibirnya yang tersenyum miring.


"Satu kesempatan dariku, kau abaikan. Lalu untuk apa kesempatan kedua? Itu semua sudah tak berarti untukmu!" ucap Jimmy lalu semakin menarik tangan Narumi menuju bagian belakang gedung.


Gedung tinggi ini terlihat begitu kotor dan angker. Dibagian belakangnya terdapat jurang yang dalam dan sungai dengan arus besar disana. Siapapun yang melompat, sudah bisa dipastikan dia akan mati. Syukur-syukur bisa berenang dan memegang sesuatu yang bisa menahan tubuhnya agar tetap hidup. 


"Aku berjanji akan pergi kali ini. Kumohon berikan satu kesempatan lagi," pinta Narumi dengan tangan yang terus ditarik kuat. 


"Terlambat!" dengus Jimmy kesal lalu membuka penutup mata Narumi.

__ADS_1


Mata wanita itu menyipit. Dia berusaha menetralkan pandangannya dengan sinar lampu yang menyorot dirinya. Suara deburan air yang keras tentu membuatnya ketakutan.


"Aku dimana?" kata Narumi mengedarkan pandangannya.


Matanya terbelalak saat melihat arus sungai yang deras. Dia spontan menjauh dari tepi jurang itu dan membuat Jimmy berdecak kesal. 


"Siapa yang memintamu berpindah, hah!" teriak Jimmy mengejutkan Narumi.


"Tapi itu…" Tunjuk Narumi ke arah jurang. "Sungainya deras sekali." 


"Maju!" seru Jimmy meminta Narumi kembali ke posisi semula. 


"Nggak!" Narumi menggeleng. Dia gemetar ketakutan dan memohon ampun pada Jimmy.


"Maju!" 


"Nggak. Jangan paksa aku!" seru Narumi balas berteriak.


Dor!


Luncuran pelatuk yang mengenai pohon membuat jantung Narumi berdegup kencang. Dia menatap pistol yang diarahkan kepadanya.


"Aku bilang maju," ucap Jimmy penuh penekanan. "Aku tak main-main. Aku hitung, 1…" 


"Iya...iya." Narumi mengangguk.


Dia melangkah mendekati jurang itu dengan pelan dan penuh ragu.


"2…"


Jimmy tetap menghitung. Posisi yang dia inginkan belum terpenuhi dan membuatnya geram.


"Nggak!" Narumi berteriak.


Dia segera berjalan tepat di tepi jurang dengan sesekali memejamkan matanya. Doa dipanjatkan dalam hati. Tubuhnya sangat ketakutan. Narumi hanya berpikir bagaimana jika tanah ini amblas dan dirinya dibawa hanyut oleh air sungai. 


Drama itu akhirnya terpecah dengan suara mobil yang baru saja datang. Jimmy tetap tak menurunkan pistolnya. Dia mengarahkan pada tubuh Narumi hingga membuat seorang pria yang baru saja turun dari mobil lekas berlari. 


"Sayang!" teriak Adnan pada Narumi.


"Tolongin aku, Adnan! Tolong!" jerit Narumi dengan derai air mata. 


Cih! 


Jimmy merasa ingin muntah saat melihat drama di depannya ini. Wanita itu benar-benar berbisa dan bisa membuat Adnan yang seorang dokter terlena akan cintanya.


"Siapa yang menyuruhmu mendekat!" seru Jimmy mengejutkan Adnan yang hendak ke posisi sang kekasih.


"Aku…"


"Mundur!" seru Jimmy dengan pistol di tangan Jack mengarah pada Adnan. 


"Aku bilang mundur atau tidak, satu peluru menembus anggota tubuh kekasihmu," ancam Jimmy dengan senyum miring. 


"Jangan! Kumohon, lepaskan Narumi!" pintanya tanpa memperdulikan harga dirinya sendiri.


"Aku bilang mundur!"

__ADS_1


"Oke." Adnan berusaha mundur.


Dia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya hingga membuatnya terluka.


"Kemana keponakanku?" tanya Jimmy dengan suara tegasnya.


"Bawa dia kemari!" teriak Adnan dan membuat seorang pria yang menggendong Bia mendekat.


Matanya sendu saat melihat kondisi keponakannya. Apalagi saat melihat bekas tamparan itu semakin membuatnya meremas pistol yang ia pegang dengan kuat.


"Bawa Bia kemari!" 


"No!" 


"Ah apa kau ingin kekasihmu ini terjun sekarang juga?" seru Jimmy yang menatap Narumi dengan bengis. "Maju satu langkah." 


"Nggak."


"Rumi!" serunya dengan mata melotot.


Narumi menuruti permintaan Jimmy. Dia maju selangkah hingga lebih dekat dengan jurang. Air matanya terus menetes dan memohon pada Adnan agar diselamatkan. 


"Kemari!" bentak Jimmy yang membuat Bia perlahan membuka matanya.


"Om!" teriak Bia dengan suara lemahnya.


"Bia," sahut Jimmy menatap Bia penuh harap.


"Apa kau ingin kekasihmu loncat sekarang?" 


Adnan segera meraih tangan Bia. Sedangkan Jimmy dengan menarik tangan Narumi hingga keduanya perlahan saling mendekat. Pistol Jimmy terus tertuju di kepala Narumi. Pria itu benar-benar sudah semakin gelap mata. 


"Dalam hitungan tiga. Kita tukar," ucap Adnan bernegosiasi. 


"Oke."


Saat jarak mereka sudah dekat. Baik Adnan maupun Jimmy saling melepaskan. Seketika Bia berlari ke arah omnya. Namun, belum sampai anak itu ke pelukan Jimmy. Adnan mengeluarkan sebuah tembakan dari pistol yang ada dibalik punggungnya.


"Awas!" 


Dor!  


Jimmy menahan sakit di lengan kirinya. Dia berhasil melindungi ponakannya walau harus terluka. Matanya memerah, dia segera berteriak meminta teman-temannya menangkap Adnan dan Narumi. 


Dor! 


"Aghh!" teriak Adnan saat peluru itu mengenai kakinya.


Tapi keduanya tak menyerah. Adnan segera naik ke dalam mobil yang dia bawa dan membawa Narumi bersamanya. 


"Kejar mereka dan tangkap semuanya!" 


~Bersambung


Kira-kira mereka berhasil kabur gak? hayoo tebak-tebak. Kali ini gak ada drama lagi. Langsung selesai loh yah.


BTW yang tanya Mas Bara dimana, dia nemenin Meera loh nunggu kondisi Zelia. Ini juga bukan ranah dia, kalau Mas Bara ikutan terus makin kacau, hujat lagi dia.

__ADS_1


Yang tanya Mas Bara kapan karmanya. Aku udah bilang kan? ending cerita ini belum kelihatan loh. Ya Mau sad atau happy end. Menurut author semua sama aja, hehe.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2