
...Hidup di dunia layaknya roda berputar. Akan ada masa dimana kamu tidak berada di atas selamanya. Mencoba mengarungi kehidupan rendah hingga membuatmu belajar apa arti bersyukur....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Saat semua orang terfokus mengejar Adnan dan Narumi. Jack menghampiri temannya itu. Dia melihat lukanya yang semakin mengeluarkan banyak darah.Â
"Kamu harus segera mendapat perawatan, J," kata Jack dengan serius.
Bukannya menjawab. Jimmy malah melepas pelukan dengan Bia. Dia merasa ponakannya itu hanya diam hingga membuatnya ingin mengecek keadaannya.Â
Jantungnya terasa berhenti berdetak saat mata itu terpejam. Jimmy semakin kalut saat melihat wajah itu semakin pucat pasi.
"Jack ayo ke rumah sakit!" seru Jimmy menggendong tubuh Bia ala bridal style.Â
"Tapi tanganmu…"Â
"Persetan dengan luka ini! Keponakanku demam, Jack!" bentak Jimmy lalu beranjak berdiri.Â
Dia segera membawa Bia masuk ke dalam mobil. Jack juga menyusul dan segera mengemudikan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Jimmy berkali-kali mengecek denyut nadi Bia yang melemah.
Dia tak peduli akan luka tembakan di tangannya. Yang terpenting saat ini, keponakannya harus segera ditangani. Dia takut sesuatu terjadi pada Bia hingga membuat adiknya merasa sedih. Â
"Bangun, Bi. Jangan tinggalin Om," bisik Jimmy mengecup dahi Bia.Â
"Lebih cepat, Jack! Kenapa kau lambat sekali!" seru Jimmy dengan keras.
"Aku sudah mengebut, J. Bagaimanapun ini jalan raya. Harus hati-hati atau kita akan mati bersama," sembur Jack tak mau kalah.Â
Mata Jimmy tak lepas menatap Bia. Dia benar-benar khawatir bukan main. Mencoba menyadarkannya dengan menepuk pipi gembul Bia, tapi mata itu terus terpejam. Seakan enggan untuk membukanya walau sedikit.Â
Aku tak akan memaafkan mereka jika terjadi sesuatu pada Bia. Aku yang akan membalas mereka dengan tanganku sendiri! Gumam Jimmy dalam hati dengan sorot mata tajam memandang ke depan.Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di waktu yang bersamaan. Didalam sebuah mobil, suasana tegang dan khawatir campur menjadi satu. Sepasang kekasih itu benar-benar kalut dan takut. Sesekali sang perempuan menengok ke belakang untuk mengecek mobil-mobil yang mengejar mereka berdua.Â
"Mereka semakin dekat, Sayang," pekik Narumi dengan histeris.
Adnan tak menjawab. Pria itu fokus dengan kemudinya sambil menahan sakit di kakinya. Luka tembakan yang dibuat oleh Jimmy sangat menyakitkan. Bahkan sesekali pria itu meringis saat dengan terpaksa Adnan harus menggerakkan kakinya itu.
Dasar keparat, Tengik! Tembakannya benar-benar menyakitkan. Aku harus segera menjauh dari kejaran mereka atau jika tidak, maka kita akan mendekam di penjara, gumam Adnan dalam hati.Â
__ADS_1
Narumi benar-benar heboh bukan main. Dia menggoyang lengan sang kekasih agar Adnan semakin menekan pedal gas agar semakin kencang. Dia tak mau ditangkap oleh mereka. Dia tak mau hidup di penjara seumur hidup. Dirinya benar-benar harus lolos dari kejaran anak buah Jimmy sekarang.Â
"Sayang…"Â
"Diam!" bentak Adnan dengan nafas menderu.
Pria itu benar-benar membentak Narumi untuk pertama kalinya. Dia sudah kehilangan kesabaran. Kakinya yang terus mengeluarkan darah, ditambah suara ocehan Narumi semakin membuatnya tidak tenang.
Seharusnya wanita itu mensupport dirinya. Membantunya lepas dari kejaran atau paling tidak membantunya dengan duduk diam daripada berisik.
"Kau membentakku?" seru Narumi tak habis pikir. "Aku hanya takut. Aku takut mereka menangkap kita, Adnan!"Â
Narumi berteriak. Dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan kemarahan yang meluap. Wanita itu tak percaya jika Adnan yang biasanya sabar tiba-tiba berubah galak.Â
"Bukan kau saja, Rumi! Aku juga takut. Lebih baik kau diam daripada aku melemparmu dari sini!" seru Adnan dengan melirik Narumi tajam.
Narumi membelalakkan matanya. Dia menggelengkan kepala tak percaya jika kekasihnya berubah menjadi bengis. Ancaman yang terlontar dari mulutnya tentu membuat Narumi semakin naik pitam.Â
"Kau yakin ingin menurunkanku disini?" seru Narumi semakin membabi buta. "Hentikan mobilnya!"Â
Adnan tak menggubris. Dia mencoba tetap fokus sambil sesekali melihat mobil yang mengejarnya semakin dekat.
"Hentikan mobilnya, Brengsek!" teriak Narumi dengan marah.Â
Dugh!Â
Dia tak percaya jika Adnan berani mendorong kepalanya hingga terkantuk jendela mobil. Ini sangat menyakiti kepalanya. Nafasnya mulai memburu. Narumi mulai lupa jika ini di dalam mobil.
"Tepikan mobilnya!" seru Narumi sambil berusaha mengambil alih setir kemudi.Â
"Lepaskan tanganmu dari setir, Rumi!" seru Adnan berusaha menyeimbangkan setirnya.
"Nggak! Aku bilang berhenti!"Â
"Diam, Rumi! Lepaskan tanganmu!" seru Adnan dengan kefokusan yang mulai terpecah belah.
Suasana di dalam mobil semakin panas. Kendaraan roda empat itu mulai oleng ke kiri dan ke kanan. Tak ada yang mau mengalah dari keduanya. Mereka sama-sama ingin menang hingga tak menyadari jika ada truk besar di depan mereka.
"Rumi! Lepas!"Â
Akhirnya tangan Rumi terlepas setelah Adnan menariknya dengan kuat. Namun, sayang seribu sayang. Saat kedua mata Rumi dan Adnan menatap ke depan. Keduanya terbelalak saat truk itu sudah berada berjarak beberapa langkah dengan mobil mereka.
"Awas!" teriak Adnan dan Rumi bersamaan.
Kejadian itu berubah sangat cepat. Laju mobil yang sangat kencang tentu membuat mereka tak bisa melakukan apapun.Â
__ADS_1
Brak!
Mobil Narumi akhirnya saling bertabrakan dengan truk itu. Bagian depan sampai kursi kemudi ringsek parah karena terkena roda truk.
Benar-benar keadaannya sangat kacau balau. Bahkan anak buah Jimmy yang mengejar lekas turun dari mobil untuk mengecek keadaan tawanannya.Â
"Kita harus menyelamatkan wanita itu," seru seorang agen saat melihat Narumi yang masih bergerak.
Dia segera membuka pintu mobil dengan kuat. Bagian depan Narumi juga ringsek. Namun, keadaan tempat wanita itu jauh lebih baik daripada Adnan.Â
"Ayo cepat-cepat!" seru agen lain saat temannya mulai berusaha melepas seatbelt yang mengikat tubuh Narumi.Â
Akhirnya tali itu terlepas. Mereka segera mengeluarkan Narumi dengan pelan-pelan. Kaki wanita itu terjepit hingga proses evakuasi sedikit terhambat.
"Oke, hitungan ketiga kita angkat!" seru salah satu agen dan mendapat anggukan kepala dari rekannya.Â
"1...2...3. Angkat!"Â
"Agh!" Narumi menjerit.
Dia merasa kakinya begitu sakit. Namun, kesadaran yang semakin lemah membuatnya tak bisa melihat keadaan kakinya sendiri. Perlahan mata itu tertutup dan hilang kesadaran.
"Ayo angkat!"Â
Saat mereka berhasil menjauhkan tubuh Narumi dari kendaraan. Mereka hendak melihat kondisi Adnan. Namun, menyadari keadaan bagian kemudi yang hancur, membuat kecil kemungkinan pria itu bisa selamat.Â
Saat mereka mencoba berpikiran positif dan hendak mendekat. Tercium bau bensin yang membuat kedua agen saling pandang.
"Kebocoran!"Â Â
"Awas." seru seorang agen menarik temannya saat hendak mendekati mobil itu.
Bluarr!Â
Ledakan itu terjadi begitu hebat. Bahkan mereka segera telungkup agar tak terkena kobaran si jago merah yang sangat besar. Hal itu benar-benar terjadi di luar kekuasaan mereka.
Jantung semua orang yang ada di sana sama-sama berdegup kencang. Bahkan mereka tak bisa melakukan apapun lagi. Pasrah dengan keadaan yang memang seperti ini.Â
"Cepat hubungi Agen J sekarang! Dia harus tahu keadaan wanita itu dan kekasihnya yang hangus terbakar."
~Bersambung
Gimana-gimana sama part ini? Narumi bakalan aman gak yah mentalnya?
Kan pacar tersayangnya mati, eh meninggoy maksutnya hehe.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.