Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Selamat Tinggal


__ADS_3


...Semoga perpisahan yang terjadi pada kita sekarang akan menjadi awal yang baik di masa depan....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya waktu yang dinanti telah tiba. Semua orang mulai mengangkat dan menarik koper-koper itu untuk dimasukkan ke dalam mobil. Semuanya saling bergotong royong. Membantu apa saja yang akan dibawa oleh Keluarga Almeera pindah.


Dibalik semua orang yang saling bekerja sama. Terlihat tiga orang anak sedang duduk bersama di sofa. Dengan seorang bocah kecil perempuan yang duduk di tengah.


Ketiganya sedang menonton video dari cocomelon. Antara Reyn, Athaya dan Athalla memang memiliki kebiasaan yang sama. Memiliki video kesukaan yang sama karena terlalu seringnya bermain bersama.


Bukan setahun ketiganya bersama tapi semenjak lahir. Orang tua mereka selalu bertemu dan mempertemukan ketiganya.


"Aya, ganti ini!" kata Athalla sambil menggerakkan tangannya di atas layar ponsel.


"Yang mana, Abang?" 


"Ini," kata Athalla menunjuk.


"Reyn suka ini?" tanya Athaya pada temannya yang duduk di sampingnya.


Reyn mengangguk. Dia tak pernah egois jika bersama Aya. Apa yang bocah itu inginkan atau sukai. Reyn selalu mengalah dan ikut menyukainya.


Hingga kedatangan Almeera lalu berjongkok di hadapan mereka bertiga, membuat ketiganya mengangkat wajahnya.


"Ayo berangkat!" 


Athaya dan Athalla mengangguk. Saat mereka hendak turun. Reyn segera menarik tangan Aya yang membuat bocah itu menoleh. 


"Reyn boleh duduk semobil sama, Aya?" pinta anak itu dengan mata yang mulai sedih.


"Kamu ada mobil, 'kan?" tanya Athaya apa adanya.


"Tapi, Reyn mau sama, Aya!" kata anak itu dengan mata hendak menangis.


"Boleh. Ayo!" kata Almeera yang sudah tak tega pada anak sahabatnya.


Athaya cemberut. Jujur dia selalu merasa risih pada sosok Reyn. Anak itu tak pernah mau jauh darinya jika sudah bertemu. Namun, entah kenapa walau dirinya risih, Aya tak membenci Reyn.


"Ayo, Reyn!" ajak Reno saat anak-anak itu baru keluar dari dalam rumah. 


"Biarkan Reyn di mobilku, Ren," pamit Almeera yang membuat ayah dua anak itu mengangguk.


Semua orang mulai masuk ke dalam mobil masing-masing. Yang tak terlihat hanyalah Keluarga Jonathan karena mereka janjian bertemu di jalan dan mengantar ke bandara.


Selama perjalanan menuju Bandara. Reyn selalu memegang tangan Athaya dan membuat anak itu kesal. Namun, Almeera selalu tersenyum dan mengangguk seakan meyakinkan pada putrinya bahwa biarkan Reyn memegang tangannya sebentar.

__ADS_1


"Apa Kak Ane gak ikut, Ma?" tanya Aya tiba-tiba.


"Ikut. Bentar lagi pasti mereka nungguin di perempatan jalan."


Athaya tak lagi bertanya. Mereka menikmati perjalanan menuju Bandara dengan hati yang mencoba ikhlas.


Almeera hanya mampu memegang salah satu tangan suaminya yang bebas menyetir. Tatapan matanya mengandung banyak kesedihan dan membuat Bara merasa bersalah.


Namun, mau bagaimana lagi. Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Dia harus bersikap profesional dan membantu mertuanya juga untuk mengurus semua yang ada disana.


Pembukaan cafe barunya juga. Lalu cabangnya, semua itu bukanlah hal yang mudah. Bisa mendapatkan slot tempat berjualan di Negara seperti New York, adalah sebuah keberuntungan. 


Tak lama, perjalanan itu mulai berakhir. Bertepatan dengan mobil Jonathan yang sama terparkir rapi disana. Almeera segera membantu anaknya dan putra Reno turun dari mobil.


Lalu Bia dan Abraham, kedua anak itu duduk di mobil yang sama bersama Kakek dan Neneknya. Mereka memang anak Papa Darren dan Mama Tari. Kedekatan mereka lalu apa yang selalu Papa Darren lakukan untuk menuruti permintaan Bia dan Abraham, membuat anak itu betah di dekat orang tua Almeera. 


"Halo, Kak," sapa Almeera saat Kayla, Jonathan serta Ane mendekat.


"Hai, Reyn," sapa Ane yang langsung berlari ke arah putra Reno tersebut.


"Hai, Kak Ane," balas Reyn sambil melambaikan tangannya.


Mata Ane turun dan memandang tangan Reyn yang terus memegang tangan Athaya. Tatapan gadis cilik seakan sedih dan hendak menangis. 


"Reyn sama Kak Ane aja, yuk!" ajak Ane menarik tangan Reyn.


"Reyn mau sama Aya aja, Kak. Entar lagi Aya bakalan pergi dan ninggalin Reyn," kata Reyn yang membuat Athaya menoleh.


"Kan bisa telponan?" ujar Athaya mengingatkan Reyn pada obrolan mereka tadi.


"Iya bisa tapi gak bisa main bareng, 'kan?" ucap Reyn dengan polosnya.


"Ya gapapa, Reyn. Nanti main sama Kak Ane aja yah. Kak Ane tetap disini kok," kata putri Jonathan yang masih memegang tangan Reyn. 


"Maunya sama Aya juga, Kak," cicit Reyn yang membuat Ane mulai sedih.


Akhirnya mereka mulai memasuki Bandara terkenal di Jakarta tersebut. Aya benar-benar tak dilepaskan dari tangan Reyn. Cowok kecil itu terus memegang tangannya walau tangannya yang lain dipegang oleh Kak Ane.


Pemandangan itu terkadang membuat Almeera takut. Takut jika nanti di masa depan akan ada yang mengalah tentang hati, tersakiti lalu meninggalkan dendam.


"Aku takut persaudaraan mereka terputus hanya karena masalah pria," bisik Almeera pada Bara. 


Bara tersenyum. Dia mengusap tangan istrinya dan memberikan senyuman menenangkan.


"Aku yakin cinta mereka kepada saudara begitu besar, Sayang. Jangan menakutkan sesuatu yang belum terjadi. Pikirkan itu nanti yah!" kata Bara yang langsung mendapatkan anggukkan kepala oleh Almeera. 


Akhirnya mereka sudah sampai di tempat perpisahan antara penumpang dan pengantar. Almeera dan keluarga mulai berpamitan pada Keluarga Reno dan Jonathan. 


Mereka saling bersalaman dan memeluk satu sama lain dengan air mata kesedihan. Inilah yang paling menyakitkan memang. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan itu adalah hal yang paling tidak disukai. 

__ADS_1


"Reyn, Aya berangkat yah," pamit anak itu pada putra Reno.


Bukannya menjawab, Reyn malah mengajak Aya menjauh dari keramaian. Dia menggenggam tangan Aya sampai berjarak beberapa langkah dari keluarganya. 


"Reyn punya sesuatu buat, Aya. Tunggu disini yah!" kata bocah kecil itu sambil berlari ke arah Adeeva.


Entah apa yang keduanya bicarakan. Sampai istri Reno memberikan paperbag pada putranya. Lalu anak itu kembali lagi dan berdiri di depan Aya.


"Ini," kata Reyn memberikan sebuah gelang hitam pada Athaya.


"Gelang?" 


"Iya. Reyn anggap ini benda perpisahan kita. Aya mau pakai?" 


Aya mengangguk. Dia mengulurkan tangannya yang langsung dipakaikan oleh Reyn secara langsung. 


"Bagus," kata Reyn setelah gelang itu terpasang rapi di pergelangan Aya.


Lalu pria itu mengeluarkan satu gelang lagi dan dipakai di tangannya.


"Kembar?"  kata Aya pada Reyn.


"Iya. Biar Aya tahu kalau Reyn nungguin Aya pulang kesini," kata anak itu menahan tangis. "Ini juga." 


Aya menerima boneka Cooky dengan nama Reyn di atasnya. Anak itu merasa senang jika mendapatkan boneka pink tersebut. Dia memeluknya walau terlihat sedikit kesusahan.


"Simpan hadiah dari Reyn yah. Disini juga ada bando dari Reyn." 


Aya menerima paper bag itu. Namun, dengan setia dia memeluk boneka cooky di tangannya juga.


"Ayo, Aya!" panggil Almeera yang membuat keduanya menoleh. 


Aya dan Reyn saling menatap. Anak Bara memang senang bersama Reyn. Dia hanya merasa risih pada tingkahnya.


"Makasih yah. Reyn selalu baik sama Aya. Meski Aya sering marah, Reyn gak pernah marah balik," kata Putri Bara itu dengan mata berkaca-kaca. "Aya pamit. Aya bakalan selalu inget sama, Reyn." 


"Boleh Reyn peluk, Aya?" 


Entah kenapa, Aya yang biasanya jutek akhirnya membiarkan tubuh mungilnya di peluk Reyn. Dua anak itu adalah dua takdir yang entah bagaimana di masa depan.


Saling memiliki, menyatu atau akan menemukan takdir yang lain.


"Selamat tinggal, Reyn. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya," kata Aya saat pelukan mereka terlepas.


Tanpa diduga. Reyn mengecup pipi Aya sambil mulai menangis.


"Sampai jumpa, Aya. Reyn bakalan selalu nungguin Aya disini untuk pulang."


~TAMAT~

__ADS_1


__ADS_2