
...Menikah dalam hidupku tak pernah ada dalam bayangan. Namun, menjadi orang tua yang baik adalah sebuah kewajiban setelah kamu lahir di dunia....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya acara selapanan sekaligus aqiqah berjalan dengan lancar. Bara benar-benar mengundang banyak tetangga, anak yatim, orang tidak mampu dan kerabat.Â
Kedua orang tua Bara yang ada di Singapura tentu tak bisa datang. Namun, selama acara dilakukan. Dengan setia Almeera menelpon mertuanya itu. Keadaan Abi juga mulai membaik saat dia diberitahu memiliki dua orang cucu.
Bahkan dengan sengaja Bara merekam setiap tangisan dan celotehan si kembar untuk dikirimkan pada Ummi Mira sebagai pancingan semangat hidup Abi Hafidz.
Sebuah perjuangan yang tak pernah lelah pada akhirnya ada hasil yang membahagiakan. Bukti yang nyata adalah kekuatan dari Abi Hafidz yang sudah sadar. Pria tua itu juga mulai semangat untuk sembuh.
Suara kedua cucunya seakan seperti tegangan listrik yang membangkitkan sesuatu dalam diri tuanya. Melihat video kelucuan mereka membuat kedua orang tua Bara ingin segera kembali ke Jakarta.
Hingga kepulangan keduanya sudah sangat dinanti oleh semua orang. Bara dan Almeera juga berjanji akan menjemput mereka di Bandara jika Abi dan Ummi benar-benar kembali.
Setelah semua acara selesai dengan baik. Almeera dan Mama Tari membawa cucunya ke kamar. Istri Bara itu bisa melihat anaknya yang tak nyaman dengan pakaian yang digunakan.
Panasnya Kota Jakarta tentu membuat Baby Athaya maupun Baby Athalla merasa risih. Meski pendingin ruangan di hidupkan, kedua bayi itu merasa lebih nyaman memakai pakaian pendek daripada panjang seperti ini.Â
"Mas, ambilin popoknya Thalla dong. Dia pup nih!" teriak Almeera saat suaminya sedang berada di ruang ganti.
Bara segera mengambilkan apa yang diminta istrinya. Lalu dia segera membawanya ke kamar dan melihat bagaimana Baby Thalla dan Thaya yang sedang bermain diatas ranjang.Â
"Kamu pup yah. Iya, Nak?" ujar Bara nguyel-nguyel wajah Athalla.Â
Perbedaan Athalla dan Athaya sangat terlihat jelas. Jika Athaya mudah tertawa tetapi tidak dengan Athalla. Sepertinya kaum pria di keluarga Bara mengikuti tingkah papanya.
Bara adalah sosok kaku, cuek dan pendiam ketika berada di luar. Kecuali jika sudah bersama keluarga, istri, anak-anak dan kedua sahabatnya. Sikap bobrok dan gilanya akan keluar.
"Mas kita ke rumah Adeeva yah. Kita lihat bayi mereka langsung. Bagaimana?" tawar Almeera yang sudah selesai memakaikan popok pada putranya.
"Siap, Baginda Ratu."
__ADS_1
Acara Aqiqah dan selapanan memang disengaja dilaksanakan pada siang hari karena Bara ingin semua orang datang dan acara selesai tak sampai malam hari.
Akhirnya Almeera segera merapikan segala kebutuhan si kembar. Lalu dia juga memakaikan jaket dan topi serta kaus kaki agar kedua bayi itu tidak kedinginan.
Namun, sepertinya memang Baby Athaya dan Athalla sangat suka dingin. Ketika mereka tidur pun, keseringan kaus kaki yang digunakan keduanya lepas. Selimut yang digunakan menyelimuti tubuh keduanya bahkan terlepas jauh. Namun dinginnya AC tak membuat keduanya bangun dalam tidurnya.
"Sudah siap?" tanya Almeera saat dia memasuki kamar anak-anaknya.
Pasangan suami istri itu tentu mengajak Bia dan Abraham. Mereka tidak mau kedua anaknya merasakan rasa iri setelah kedatangan si kembar. Bara dan Almeera mencoba bersikap adil agar anak-anaknya selalu merasa diperhatikan.
"Sudah, Ma," sahut Bia yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Almeera tersenyum. Dia membenarkan jilbab anaknya itu lalu mencium pipinya dengan sayang.Â
"Mbak Bia beneran gak mau ganti baju?" tanya Almeera hati-hati.
Meski Almeera memakai gamis dan jilbab. Dia tidak pernah memaksa penampilan putrinya agar selalu sama dengannya. Almeera selalu mengajari anaknya pelan-pelan. Bagaimanapun dia juga anak kecil yang memiliki hak dalam bersuara kepada dirinya sendiri.
Almeera dan Bara selalu menghargai itu. Jika Bia tak mau memakai pakaian panjang. Ya, Almeera tak marah. Sebaliknya juga. Jika Bia ingin memakai pakaian panjang. Di sudut hati yang terdalam dalam diri Almeera merasa bahagia.
"Abang udah juga, Ma," kata Abraham yang baru saja masuk ke kamar Bia.
"Yok kita temui anaknya Tante Lia dan Om Reno!"Â
...🌴🌴🌴...
Akhirnya rumah yang biasanya sepi kini terlihat ramai. Terlihat dua mobil terparkir rapi di depan rumah Reno.Â
Keluarga Almeera benar-benar hadir semuanya. Dari orang tua Almeera, Jonathan, Kayla dan Baby Ane. Lalu keluarga kecil Bara sekaligus si kembar.
Kehadiran mereka semua membuat Adeeva dan Reno merasa senang. Keluarga bos sekaligus sahabatnya ini memang bisa mengerti cara menghargai orang.Â
Bahkan keluarga Almeera tak pernah membeda-bedakan siapapun. Mereka murni selalu baik pada orang yang dekat dengan mereka dan bersikap welcome.
"Masya allah, Nak Shaleh. Mukanya persis banget sama Papa Reno yah?" kata Almeera saat Adeeva mendekat sambil menggendong putranya.Â
"Semoga aja anunya gak nempel sama darah Reno!"Â
__ADS_1
Suami Adeeva menoleh. Dia menyikut sahabatnya itu dengan mata melotot.
"Dia itu darah daging gue, dari kecebong gue. Ya mestinya sikapnya ya antara gue sama istri gue, Bodoh!" pekik Reno menepuk kepala sahabatnya itu.
"Asemm. Lo terlalu buruk buat diikuti jejaknya sama anak Lo, Ren!" goda Bara dengan terkekeh. "Lo mau sama perjaka tua?"Â
"Cih, sialan, Lo!" seru Reno dengan wajah kesalnya. "Anak gue gak bakal jadi perjaka tua."
"Pede banget. Tau darimana Lo?" cenayang?"Â
"Ya, 'kan, gini aja dia udah ditempelin sama dua cewek, noh!" tunjuk Bara pada dua perempuan kecil Bara.
Memang disana Baby Reyn di tidurkan di atas karpet berbulu dengan diberi kasur bersama Baby kembar. Lalu ada juga Bia yang mengusap pipi anak Reno.
"Gue gak mau ya besanan sama Lo. Capek banget upek-upek muka Lo doang tiap hari," ketus Bara lalu meninggalkan sahabatnya.
Reno terkekeh. Dia bahagia bisa mengerjai sahabatnya. Namun, apa yang dikatakan olehnya memang benar. Kehidupan anaknya sudah dikelilingi oleh wanita cantik keturunan Bara. Yang membuatnya ikhlas jika salah satu dari mereka menjadi menantunya.Â
"Siapa nama si mungil ini, Va?"Â
"Reyndra Yazid. Nama dari papanya," sahut Adeeva menjawab.
"Tumben otak Lo bisa dibuat mikir nama begini!"Â
"Lo kira otak gue isinya apaan, cih!"Â
Almeera dan Adeeva hanya geleng-geleng kepala. Suaminya itu tak pernah bersikap normal ketika bersama. Antara Bara dan Reno keduanya selalu bertindak hal-hal aneh untuk menyampaikan rasa sayangnya. Umur keduanya tak pernah menghalangi persahabatan mereka.
"Semoga hubungan ini akan terus berlanjut sampai ke anak-anak kita, Va," doa Almeera sambil mengusap kepala bayi mereka.Â
"Kamu benar. Aku berharap semoga silaturahmi akan terus berlanjut tanpa adanya keregangan."
"Aamiin."Â
~Bersambung
Besanan bareng Bang Ren. Pas deh dua keturunan dari si otak omes dijadikan satu. hahaha. Ngakak
__ADS_1
Jangan lupa klik like dan vote. Biar author semangat ngetiknya.