
...Aku benar-benar membuat kesalahpahaman semakin melebar hingga berakhir dengan penyesalan yang besar. ...
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Tak terasa hari mulai larut malam, saat mobil yang dikendarai oleh Jimmy memasuki sebuah pelataran rumah milik adik kandungnya sendiri. Kedua pria dengan jarak perbedaan umur yang sedikit, mulai melangkahkan kakinya. Mereka sama-sama memasuki bangunan yang terasa sangat sepi.
Maklum saja, jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Bara dan Jimmy yakin jika semua keluarga pasti sudah berada di dalam kamar dan mengarungi alam mimpi.
"Tidurlah. Selamat malam!" kata Jimmy dengan santai lalu memasuki salah satu kamar yang ada dibawah.
Setelah kepergian kakak iparnya. Bara tak lekas beranjak. Pria itu menghela nafas berat dan berjalan menuju sebuah ruangan yang terdapat meja makan. Dia mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada disana, lalu meraih teko air dan menuangkan ke gelas kaca.
Dirinya merasa ingin sendiri. Jujur semua hal yang terjadi pada Bara seakan menghantam dirinya sendiri. Perkataan yang dia dengar dari Jimmy dan kebenaran tentang istri keduanya yang bekerja di club malam dan menggoda kakak iparnya, tentu membuat pikiran Bara semakin berkelana.
"Apa mungkin Almeera sudah tahu siapa Narumi sebenarnya?"
Pertanyaan itu tentu sudah kesekian kalinya berputar dalam ingatannya. Entah kenapa, ketika mengingat ultimatum Almeera, dia selalu teringat dengan perkataan Jimmy. Apalagi ketika Bara diminta memeriksakan kesehatannya karena Meera mengatakan takut jika dia terkena sakit HIV.
"Kenapa tak dari dulu aku mencari tahu semuanya?"
Tak menemukan jawaban di setiap keresahan, akhirnya dia memilih berjalan menaiki tangga. Lalu menuju kamar yang digunakan oleh putrinya. Saat pintu kamar sudah terbuka, dia melihat bayang-bayang dua tubuh saling tidur berpelukan.
Matanya berkaca-kaca saat melihat sosok istri dan anak perempuannya disana. Dengan pelan dia berjalan mendekati ranjang dan mendudukkan dirinya di dekat Almeera yang memejamkan mata. Tangannya terulur mengelus kepala istrinya yang tak terusik sedikitpun.
Jika waktu itu aku bisa mengejarmu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di kantor. Mungkin semua kesalahpahaman ini tak akan seperti ini, batin Bara menjerit.
Pikirannya kembali berputar. Dia mengingat bagaimana kejadian saat pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk!"
Tak lama pintu itu terbuka dan muncullah Narumi yang masuk dengan membawa beberapa berkas mendekati meja Bara. Pria itu lekas mendongak hingga tatapan matanya bersirobok dengan mata milik Narumi.
__ADS_1
"Ada apa, Rumi?" tanya Bara dengan tatapan begitu risih pada pakaian Rumi.
"Saya ingin meminta tanda tangan, Pak," kata Rumi lalu menyerahkan berkas itu dengan tubuh sedikit membungkuk hingga belahan dadanya terlihat.
Bara yang saat itu hanya fokus pada berkas tak melihat aksi itu. Hingga tanpa dia sadari, wajah Narumi sudah memberengut tak suka.
"Saya tanda tangani dimana saja?"
Bukannya lekas menjawab. Narumi berjalan mendekati kursi kebesaran Bara. Lalu dia membuka berkas-berkas itu sambil menunjuk bagian mana yang harus di tanda tangani.
Posisi seperti ini sesungguhnya membuat Bara risih. Hingga dia sedikit memundurkan kursinya dan menatap wajah Narumi yang ada di dekatnya.
"Pergilah, Rumi! Aku akan menandatangani semuanya sendiri," kata Bara dengan niat mengusir secara halus.
Narumi mengangguk. Sampai saat dia mulai berbalik, tiba-tiba tubuhnya oleng dan dengan reflek Bara hendak membantunya. Tubuh Narumi tentu spontan duduk di pangkuan Bara dan tangannya melingkar di leher Bara.
Hingga sebuah suara yang mengejutkannya membuat Bara lekas menoleh.
"Mas Bar…"
"Meera!" teriak Bara melihat istrinya lari dari ruangan.
"Berdirilah, Rumi!" pekik Bara mencoba mengangkat perempuan itu.
Namun, saat Narumi hendak berdiri. Dia mengaduh hingga tubuhnya kembali oleng.
"Kaki saya terkilir sepertinya, Pak. Ini sakit!" keluh Narumi yang membuat Bara merasa kasihan.
Akhirnya dia segera menggandeng Narumi agar duduk di sofa sambil menatap pintu kerja yang masih terbuka lebar disana.
Aku benar-benar tak berniat membuatmu menangis saat itu, Ra. Bahkan aku berniat mengejarmu, gumam Bara pelan lalu mulai beranjak dari ranjang.
Pria itu akhirnya merebahkan dirinya di sebuah sofa yang ada di dalam kamar. Berbantalan bantal sofa, Bara mulai berbaring dengan mata menatap langit-langit kamar.
Dirinya sudah benar-benar yakin untuk berpisah. Dia tak ingin menunda lagi. Besok ia harus menemui Narumi kembali dan menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
Bara sudah menyesali apa yang dia lakukan. Bahkan dirinya sudah sadar jika sebenarnya hatinya sangat condong kepada istri dan kedua anaknya. Mungkin dulu Bara menunggu Narumi karena rasa penasaran tentang alasan kenapa wanita itu pergi.
"Semoga Narumi menerima permintaanku ini. Semoga kita bisa mencari kebahagiaan sendiri-sendiri. Aku benar-benar tak bisa membuat Almeera, Bia dan Abraham terus tersakiti karena ulahku," ucap Bara sebelum matanya terpejam dan mulai mengarungi alam mimpi.
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain atau lebih tepatnya di sebuah ruangan. Terlihat seorang pria tengah menatap laptop yang tertata di atas ranjangnya. Disana juga ada beberapa alat dan kabel yang terhubung dengan laptop.
Pria itu benar-benar menatap begitu serius layar yang menyala. Keningnya bahkan berkerut saat melihat apa yang terjadi di layar tersebut.
"Luar biasa. Ternyata selama ini adik iparku sudah dibodohi," katanya dengan pandangan tak percaya.
Jimmy, pria itu bukannya tidur. Melainkan melihat rekaman yang ditangkap oleh alat pintarnya. Dia bahkan dengan pandai meletakkan alat-alat mini miliknya agar bisa bekerja dengan baik.
"Dia ingin mengelabuhiku, hah?" gumamnya dengan senyum miring. "Sudah waktunya kamu terjatuh, Sayang. Niatmu itu sudah harus terbongkar."
Ingatan Jimmy mulai berputar kembali di restoran. Saat itu istri kedua adik iparnya sedang menunduk setelah mengetahui jika teman Bara adalah dirinya. Hal itu tentu menjadi sebuah cela untuk Jimmy menempelkan sebuah kamera dan penyadap di tas milik Narumi.
Pria itu meletakkannya dengan baik. Bahkan jika Narumi tak teliti mengeceknya, tak akan terlihat. Hingga dia mulai memalingkan wajahnya menatap taman bunga yang ada di samping rumahnya dengan beberapa lampu yang sangat menghiasi tempat itu.
Kakinya mulai turun. Lalu dia membuka pintu kaca kamar yang menjadi pembatas antara balkon kamar dan ruang tidur. Balkon itu memang kecil, hanya untuk berdiri dan melihat indahnya taman milik Almeera.
Jemari kekarnya mencengkram pinggiran pagar. Matanya mendongak melihat langit begitu gelap dengan bintang yang menghiasi hingga membuatnya begitu indah.
Sungguh sebuah suasana yang sangat disukai oleh Jimmy. Tenang, sepi, dingin dan sunyi. Keadaan yang selalu dia rindukan ketika melakukan tugas. Pekerjaan yang membuatnya selalu berteman malam hingga membuat pria itu menyukai kegelapan daripada suasana pagi ataupun siang.
Dirinya sudah bertekad. Bahkan pria itu berjanji untuk menyelamatkan rumah tangga adik kandungnya sendiri. Jimmy bukannya tak ingin memukul Bara. Bahkan sebenarnya pria itu ingin sekali memukul dan menendang kepala itu agar tersadar. Namun, mengingat video yang barusan dilihat. Jimmy menjadi kasihan.
"****** tetaplah ******. Hidupnya seperti parasit dan menggerogoti tempat yang menjadi tumpangannya. Harus segera dibasmi dan dihancurkan agar keadaan kembali membaik."
~Bersambung
Lalalala satu kebenaran lagi mulai terbongkar. Hmm Mas Bara emang mikirnya lambat. Sekarang barus nyesel, huftt.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
__ADS_1