
...Kebahagiaan yang Tuhan janjikan benar-benar ada bagi makhluknya yang setia dan bertahan. Janji Tuhan itu nyata. Dibalik musibah yang kita jalani maka akan ada hikmah yang indah di balik itu semua....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Almeera meneteskan air matanya penuh haru. Dia menatap lekat monitor yang menampilkan sosok baru yang tumbuh dalam dirinya. Sosok yang sangat ia dan Bara tunggu selama ini. Sosok yang sangat dinanti kehadirannya hingga tanpa keduanya sadari jika dia telah ada tanpa sepengatahuan mereka.
"Ini beneran, 'kan, Dok?" tanya Almeera yang masih tak percaya akan apa yang dia dengar dan dialaminya.
Dokter itu mengangguk. Hingga pertanyaan Bara yang lolos dari bibirnya semakin membuat Meera menatap tak percaya.
"Kenapa titiknya ada dua?" tanya Bara menunjuk monitor itu penuh ketelitian.
Pria itu bukanlah sosok ayah yang menanti kehadiran anak pertama mereka. Melainkan ini adalah kehamilan ketiga bagi istrinya. Namun, sejak dulu memang Bara adalah suami yang peka dengan istrinya yang hamil.Â
"Pak Bara benar-benar teliti. Ya, calon buah hati Pak Bara dan Bu Meera kali ini adalah kembar," ujar Dokter dengan senyuman begitu lebar.
Mata Almeera melebar tak percaya. Dia menatap Bara yang juga sedang menatapnya balik. Tatapan keduanya begitu meluapkan kebahagiaan yang tak bisa diukur oleh apapun.
"Kembar, Mas. Anak kita kembar," kata Almeera dengan tangisan bahagia.
Tanpa malu Bara memberikan banyak ciuman di wajah istrinya. Dia tak tahu lagi harus mengatakan apa sekarang. Kebahagiaan yang dia dapatkan benar-benar luar biasa.Â
Dibalik badai yang telah menyerang dan menghilang. Dibalik perjuangan dan pengorbanan. Ternyata Tuhan menyiapkan kebahagiaan yang sudah ditakdirkan dan dituliskan untuk hambanya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mau bertahan dan sekarang memberikanku malaikat kecil di antara kita lagi," ujar Bara penuh haru.
Akhirnya perut Meera mulai dibersihkan dari gel bekas USG. Lalu Dokter mulai membuatkan resep untuk ditebus papa dan mama baru yang menanti kehadiran anak ketiga mereka.
"Menurut saya. Pak Bara dan Bu Meera pasti sudah tahu apa saja pantangan hamil muda, 'bukan?"Â
Almeera mengangguk. "Jangan kelelahan dan banyak pikiran. Lebih baik gunakan istirahat, dan memikirkan hal-hal yang bahagia."Â
"Bagus. Saya doakan semoga kehamilan ketiga Anda berjalan dengan lancar sampai proses melahirkan." Doa dokter itu begitu tulus.
"Aamiin, Dok. Terima kasih sudah setia menemani kehamilan istri saya selama ini."
"Sama-sama, Pak Bara."Â
Akhirnya sepasang suami istri itu keluar dari ruangan dokter kandungan dengan wajah bahagia. Almeera benar-benar tak bisa menutupi rasa bahagianya. Dia terus menggandeng lengan suaminya saat keduanya berjalan menuju apotik yang ada di sana.
__ADS_1
"Duduklah, Sayang. Biarkan aku yang mengantri," kata Bara pada istrinya.
Ibu dua anak itu merasa semakin disayang. Bara yang terus memanjakannya akan semakin menuruti semua permintaannya.
Sejak dulu pria itu adalah sosok yang paling antusias ketika dia hamil. Bara adalah sosok yang paling peka ketika dia berbadan dua. Bara juga yang selalu menemani dan setia dengan segala omelan, tingkah laku anehnya yang selalu ada ketika mengandung buah hati mereka.
"Bagaimana reaksi Abang dan Bia jika tau mereka akan memiliki adik kembar, Mas?" tanya Almeera saat keduanya berada di dalam mobil.
"Aku yakin mereka bahagia, Sayang," kata Bara dengan yakin.
"Kita langsung ke rumah Papa dan Mama ya, Mas. Aku gak sabar memberitahu mereka tentang keberadaannya," kata Almeera sambil mengelus perutnya dengan pelan. "Aku gak nyangka bisa melakukan ini lagi, Mas."Â
Bara tersenyum. Dia mengelus kepalanya istrinya dengan matanya yang juga fokus menatap menatap ke depan. Tangan yang satunya lagi digunakan untuk menyetir.Â
"Iya, Sayang. Kita akan memberitahu mereka semua."Â
...🌴🌴🌴...
Papa Darren dan Mama Tari lekas memeluk anak menantunya saat mereka sudah diberitahu akan kabar kehamilan kembar Almeera yang ketiga. Keduanya sama-sama mengucapkan selamat pada Bara dan Almeera dengan perasaan bahagia.Â
"Ternyata keturunan Nenek menurun di kamu, Nak," ujar Mama Tari pada anaknya.
"Akhirnya rumah Papa sama Mama bakalan makin ramai," kata Darren dengan matanya yang berkaca-kaca. "Sebentar lagi anak kakakmu akan lahir. Lalu disusul oleh kamu, Sayang."Â
Almeera mengangguk. Dia mengelus punggung papanya yang menangis haru akan kabar bahagia dari anak-anaknya.Â
"Jangan paksa Kak Jim untuk menikah, Papa. Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya," kata Almeera menenangkan sosok papanya. "Papa jangan banyak pikiran. Biarkan Kak Jim memilih jalan hidupnya sendiri dan pikiran Papa juga akan tenang."Â
Darren mengangguk. Apa yang dikatakan oleh putrinya ini memang sebuah kebenaran. Selama ini ia selalu memikirkan nasib putra keduanya yang belum menikah. Tanpa tahu kesulitan apa yang Jimmy rasakan.Â
"Mama...Papa!" teriak Bia yang baru saja muncul dari pintu belakang. "Papa sama Mama mau jemput Bia?"
Bocah itu memeluk mamanya dengan erat. Lalu dia menjulurkan tangannya minta gendong.Â
"Eits." Bara lekas mengambil alih.Â
"Bia mau digendong Mama," ujar Bia tetap mengulurkan tangannya.
"Mulai saat ini Bia gak boleh minta gendong Mama," ujar Bara penuh hati-hati.Â
"Kenapa?" tanya anak itu dengan sedih.
Bara menurunkan tubuhnya agar anaknya berhadapan langsung dengan perut sang istri.
__ADS_1
"Karena disini…" jeda Bara sambil mengelus perut Almeera. "Ada adik Bia."Â
"Adik Bia?" ulang Bia dengan mata melebar.
Bocah itu meronta meminta turun. Lalu dia semakin mendekati perut Almeera.Â
"Apa benar disini ada Adik Bia, Ma?" tanyanya dengan mata menatap lekat sosok mamanya.
"Iya, Sayang. Disini ada Adek Bia dan Abang," ujar Almeera penuh hati-hati.
Jujur dibagian ini Almeera dan Bara sama takutnya. Keduanya takut jika pemikiran Bia akan berpikir bahwa kehadiran adiknya akan merebut kasih sayangnya.
Pemikiran anak-anak tentang sosok adik memang selalu seperti itu. Makanya baik Bara dan Almeera berusaha berbicara dengan penuh kehati-hatian agar tak menyinggung perasaan putri keduanya.
Perlahan tangan Bia mengusap perut rata Almeera. Lalu tanpa aba-aba, Bia segera menempelkan telinga dan wajahnya sambil berbicara pada sosok calon adiknya.
"Halo, Adik Bia. Kenalin ini Mbak Bia yang cantik," ucap Bia dengan wajah bahagia. "Adik denger, 'kan?"Â
Almeera menatap anaknya penuh haru. Dia tak menyangka tak ada drama apapun dari anak keduanya ini. Bia benar-benar menerima kehadiran calon adik barunya ini.
"Adik denger Mbak Bia, Sayang," sahut Almeera menirukan suara anak kecil."Â
"Mama. Apa Adik masih kecil?" tanya Bia dengan antusias.Â
Almeera mengangguk. "Adik masih kecil sekali."
Bara meraih putrinya untuk duduk di pangkuannya.Â
"Bia mau bantu Papa, 'gak?"Â
"Bantu apa, Pa?" tanya Bia antusias.Â
"Jagain Mama dan Adik," ujar Bara dengan pelan. "Karena adik masih kecil. Jadi dokter bilang Mama gak boleh capek-capek."Â
"Mama suruh istirahat?" tanya Bara dengan tatapan polosnya.Â
"Iya." Bara mengangguk. "Jadi kalau Papa lagi kerja. Bia yang bantu Papa buat jagain Mama dan Adik. Mau?"Â
Kepala anak itu mengangguk. "Mau, Pa. Bia bakalan jagain Mama dan bakalan marahin Mama kalau gak nurut."Â
~Bersambung
Ahhh kalau gini kan jadi gak mau pisah sama ini novel. Tapi mau gimana lagi, ada awalan pasti ada akhiran. Novel ini paling lambat tamat akhir bulan.
__ADS_1
Jangan diburu update terus yah. Aku udah bilang 3 bab perhari novel HTS. Kalau masih kurang aku gak bisa. Pagi sampai Siang aku kerja offline. Jadi ya ngetik 2 bab malam. Terus 1 babnya pulang kerja.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat namatinnya.