Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kedatangan Ayah Adeeva


__ADS_3


...Kau tau melupakan tak semudah memberikan luka. Hatiku masih hancur dan sakit saat mengingat bagaimana perlakuanmu kepadaku dan ibuku. ...


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Almeera menyipitkan matanya. 


Dia menatap suami dan suami sahabatnya penuh curiga.


"Kami ngobrol gak penting kok," sahut Bara dengan cepat. "Ya, 'kan?" 


"Iya. Suudzon aja sukanya," sindir Reno sambil mendelikkan matanya.


"Kalian itu patut dicurigai," ucap Almeera menatap keduanya. "Sama-sama berbahaya soalnya." 


"Serem amat. Dikira kita pembunuh berantai gitu. Berbahaya?" celetuk Reno mencibir.


"Bukan aku yang ngomong loh yah." 


Reno merasa gemas. Uhh bicara dengan Almeera maupun Bara terkadang membuat emosinya naik turun. Menyebalkan iya, mengesalkan dan yang paling utama bercandanya mereka berdua benar-benar gila. 


Saat Reno hendak menyahut lagi. Adeeva menggeleng yang membuat Almeera tertawa bukan main.


"Haha sekarang mah ada pawangnya. Gak nurut tidur di luar," ejek Almeera melihat bagaimana patuhnya Reno pada kode dari Adeeva. 


"Istri Lo ya, Bar. Bener-bener pen gue masukin kresek item terus gue jual." 


"Emang Lo berani, hah!" ujar Bara menarik baju belakang sahabatnya. "Sebelum Lo nyentuh istri gue. Lo harus berhadapan sama gue, Bodoh!" 


"Cih sok pahlawan, Lo!" 


"Bukan pahlawan tapi superman kesiangan," sahut Bara dengan cepat.


Akhirnya tawa begitu meledak di antara keempatnya. Beginilah cara mereka saling menyayangi antara satu dengan yang lain. Tak pernah mengambil sesuatu hal yang dibuat bercanda di antara mereka. 


"Eh bentar. Ponakanku kemana, Ra? Kok mereka gak diajak?" tanya Adeeva baru menyadari jika dua krucil pasangan Almeera dan Bara tak ada.


"Iya. Abraham dan Bia aku ajak nanti pas resepsi kalian berdua. Kalau sekarang aku takut gak bisa bantuin kamu," kata Almeera menjelaskan.


Adeeva menatap haru sahabatnya ini. Almeera maupun Zelia adalah sahabat yang selalu ada untuknya. Meski sekarang Zelia tak bisa datang karena mamanya sakit. Tapi nanti malam, gadis itu berjanji untuk datang. 


Adeeva tak memaksa sahabatnya. Dia sangat tahu jika Zelia adalah anak yang sangat dekat dengan orang tuanya. Ditambah gadis itu adalah anak tunggal yang membuat mau tak mau, jika orang tuanya sakit pasti Zelia lah yang merawatnya.


"Kalian istirahatlah dulu," kata Bara memerintah pasangan pengantin baru itu.

__ADS_1


"Ya. Kalian pergilah. Itung-itung biar badan kalian fit waktu resepsi nanti," ujar Almeera menambahkan. 


"Terima kasih banyak, Ra. Aku juga udah gerah nih!" 


Akhirnya Reno dan Adeeva segera berjalan bersama menuju sebuah kamar. Kamar yang sering Adeeva lihat dari balkon kamarnya dulu. Kamar milik suaminya yang sangat membuatnya penasaran.


Biarkan saja mereka memasuki kamar Reno. Toh bagaimana lagi, acara resepsi keduanya memang dilakukan bersama dan di hari yang sama di rumah Reno. 


Baik Adeeva maupun Reno mereka hanya ingin dekat dengan makam orang tua Reno. Apalagi, Adeeva yang tak mempunyai rumah sendiri, membuatnya ingin memberikan momen indah di rumah milik suaminya. 


"Silahkan masuk, Tuan Putri," kata Reno memperlakukan Adeeva seakan ratu.


Wajah gadis itu bersemu merah. Apalagi ketika Reno mengulurkan tangannya dan keduanya segera memasuki kamar bernuansa hitam putih itu.


Kamar dengan ukuran yang lumayan luas dengan desain begitu pria sekali membuat Adeeva tersenyum. Tanpa sadar gadis itu melepaskan genggaman tangan suaminya dan menuju balkon lalu membuka pintunya yang masih tertutup. 


Langkah kaki pengantin itu saling hati-hati karena di lantai dan di atas ranjang banyak sekali bunga mawar merah bertebaran memenuhi ruang kamar. Belum lagi aroma menenangkan sangat amat tercium dengan jelas yang membuat Adeeva mulai rilex.


Adeeva tersenyum ketika pintu balkon berhasil dia buka. Didepan sana, ia bisa melihat balkon kamarnya yang dulu menjadi tempat favoritnya.


"Aku tau kalau kamu sering merhatiin aku dari sana," bisik Reno sambil memeluk istrinya.


Tubuh Adeeva menegang. Apalagi ketika Reno memeluknya begitu erat dengan diiringi kecupan ringan di lehernya. 


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Adeeva yang penasaran. 


Adeeva lekas berbalik. Pipinya bersemu merah tak menyangka jika Reno benar-benar tau kebiasaannya.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Kamu gak sadar. Kalau buku yang kamu baca sampai berbalik?" 


Mata Adeeva membulat penuh. Kenapa ia tak menyadari hal sekecil itu. 


"Beneran? Serius? Kenapa aku gak sadar sih!" 


"Ya kamu terlalu terpesona sama aku mangkanya gak sadar!" ucap Reno begitu percaya diri.


"Pede banget sih!" 


"Tapi emang beneran, 'kan?" tanya Reno menarik pinggul kekasihnya agar lebih dekat. "Katakan kalau aku memang benar?" 


"Aku…" Adeeva tak bisa menjawab. 


Ditatap dengan begitu dalam oleh Reno selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Hingga entah siapa yang memulai wajah keduanya mulai berdekatan dan dengan pelan bibir mereka saling bertemu. 


Memagut penuh irama dengan gerakan yang sama-sama kaku. Namun, semakin lama ciuman itu semakin lembut.

__ADS_1


Keduanya seakan lupa jika masih ada di balkon kamar. Hingga suara teriakan seseorang membuat keduanya melepas ciuman yang mulai memanas itu. 


"Itu suara Ibu!" ucap Adeeva dengan nafas terengah-engah. "Kenapa Ibu berteriak?" 


"Ayo kita lihat ke bawah!" ajak Reno pada istrinya.


Saat Adeeva hendak berlalu. Reno menarik tangannya yang membuat gadis itu menatapnya bingung.


"Kenapa?" 


Reno tak menjawab. Namun, tangannya langsung mengusap bibir Adeeva yang belepotan karena air liur keduanya. 


"Aku tak mau orang-orang tahu, jika aku sudah memakan bibirmu."


Adeeva tersenyum malu. Keduanya lalu segera keluar dari kamar. Samar-samar Adeeva bisa mendengar suara ibunya yang sedang memaki seseorang.


"Untuk apa kau datang kemari? Ingin menyakiti putriku lagi, 'kan! Pergi kau pergi!" 


Tubuh Adeeva menegang kaku. Dia menatap sosok yang ada di depan ibunya dengan pandangan tak percaya.


Sosok pria paruh baya yang sangat ia tunggu kasih sayangnya sejak dulu. Sosok pria paruh baya yang sangat diharapkan cintanya. Namun, sampai sekarang, sampai ia sudah tak mengharapkan apapun lagi. Kenapa pria itu datang?


"Deeva, Putriku!" panggil pria paruh baya itu dengan pandangan penuh penyesalah.


"Ayah…" Suara Ayah Adeeva berhenti tatkala kepala Adeeva menggeleng. Dia menutup kedua telinganya.


"Kau bukan ayahku!" 


"Aku ayahmu, Nak!" 


Tawa meledak dari bibir Adeeva. Perempuan itu menatap sosok ayahnya dengan remeh.


"Setelah kau mau menjualku dan mengetahui kenyataannya. Dengan tidak tahu malunya kau datang kesini?" 


Adeeva menatap Ayahnya dengan tajam. Tak ada lagi pandangan hangat yang biasa gadis itu berikan. Hati Adeeva telah benar-benar mati untuk ayahnya seorang.


Dia tak mau berhubungan lagi dengan pria tua itu. Dia tak mau kebahagiaannya diganggu olehnya lagi. 


Cukup sudah penderitaannya selama ini! Apapun alasannya Adeeva tak akan terbujuk rayuannya. 


"Ayah minta maaf, Nak!" 


"Semua sudah menjadi bubur. Aku tak mau bertemu denganmu lagi. Lebih baik kau pergi daripada harus memberikan luka yang lebih dalam padaku dan ibuku."


~Bersambung


Percayalah! disakiti oleh sosok yang kamu ingin menjadi support sistem itu nyakitin banget.

__ADS_1


Hy semuanya. Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat.


__ADS_2