
...Semua hal yang terjadi pada hidup tidak bisa kita atur sesuai keinginan kita. Namun, bisa kita terima dan kita jalani seperti apa yang kita inginkan. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Kedatangan Jimmy dan Zelia semakin membuat semua keluarga terasa lengkap. Mereka bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh pasangan kekasih itu. Baik Almeera maupun Bara serta Mama Tari dan Papa Darren tak menyangka bila Jimmy bisa pulang
"Ah ponakan Om yang cantik," kata Jimmy lalu meraih bocah mungil perempuan yang tertawa sejak tadi.
Dia mencium pipi bocah itu hingga membuat Baby Thaya tertawa. Dia merasa diajak bercanda hingga membuat Jimmy semakin bersemangat menggoda.
"Dia tak sekaku Bara ya, Ra?" kata Jimmy pada adiknya.
Almeera terkekeh. Dia menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan kakaknya. Anak perempuannya ini memang sangat berbeda dengan Bara. Baik Bia maupun Thaya tipikal perempuan murah senyum. Hal itu tentu membuat semua keluarga bahagia bila menggoda keduanya.
Berbeda dengan Athalla dan Abraham. Dua putra jagoan Almeera dan Bara memiliki sikap yang sama dengan ayahnya. Cuek dan kaku jelas kentara dengan gerak geriknya.
"Jangan merumpi namaku, Kak Jim. Meski beda dia tetap terlahir dari kecebongku!" ujar Bara yang membuat Almeera memukul pundak suaminya.
"Omes banget si!" bisik dengan mata melotot.
Bara cemberut. Dia mengusap lengannya yang sakit akibat pukulan istrinya. Sebenarnya dirinya sangat kesal pada Jimmy karena pria itu mengatakan jika putrinya tak sekaku dirinya.
"Ya Kak Jim loh, Sayang!" rengek Bara sambil mendekatkan tubuhnya pada sang istri.
Jimmy memutar matanya malas. Drama bucin adik iparnya itu selalu ada hingga membuatnya iri. Namun, itu berlaku dulu saat dirinya jomblo. Jika sekarang ia bisa memeluk kekasih yang sangat dicintai.
"Bukan kamu aja yang bisa. Aku juga ada sekarang!" kata Jimmy saat Bara memanas-manasinya dengan memeluk perut sang istri.
Pria yang bekerja sebagai agen itu menempel dengan tubuh sang kekasih. Di gendongannya terdapat si mungil Thaya yang sangat tenang di gendongan Jimmy.
"Tapi gak bisa bebas, 'kan? Kan belum halal," kata Bara yang semakin mengejek.
Jimmy mendengus sebal. Adik iparnya itu selalu memiliki alasan yang tepat untuk membuat emosinya memuncak.
Jika tak mengingat Baby Thaya yang ada dalam gendongannya. Dia juga ingin memukul kepala suami adiknya itu agar tak berbicara berbagai hal.
__ADS_1
"Kamu cuti berapa lama, Nak?" tanya Mama Tari pada anaknya.
"Dua minggu, Ma. Aku bakalan dirumah terus selama ini."
Almeera yang mendengar menjadi bahagia. Jika begini ia tak akan menahan rindu pada kakaknya. Akan ada sosok yang selalu menemani dan menjaga keduanya seperti dulu ketika menjaga Bia.
Memang Jimmy adalah sosok kakak yang berbeda. Dia lebih memberikan bukti daripada banyak janji palsu. Jimmy adalah kriteria pria yang sat set sat set ketika menyangkut sebuah pekerjaan. Namun, jika tentang hubungan, dia tetap tak bisa mengambil kepastian yang pasti.
"Pekerjaan kamu bagaimana, Jim?" tanya Papa Darren yang berada di samping istrinya.
"Jimmy bawa pulang, Pa. Komandan Fred bilang yang pasti harus selesai walau dikerjakan di rumah. Ya Jimmy pasti selesaikan."
Zelia menatap kekasihnya itu dengan bangga. Jika menyangkut pekerjaan di benar-benar tak meragukan kesetiaan Jimmy. Pria itu selalu setia dan rajin dalam semua hak pekerjaannya.
Dia juga cekatan dan tanggap tanpa harus diminta untuk bergerak. Hal itulah yang menjadi salah satu pemicu dalam diri Zelia untuk selalu berada di samping Jimmy.
"Berkat kamu akhirnya anak-anak Mama dan Papa berkumpul bersama," kata Mama Tari yang mengandung syarat makna yang terdalam.
...🌴🌴🌴...
Semua keluarga terlihat begitu akrab. Bahkan Ibu Adeeva sudah begitu nyaman berbicara dengan orang tua Almeera. Mama Tari yang sangat hangat mampu membuat ibu dari sahabatnya anaknya merasa nyaman.
Kali ini waktu memang semakin naik. Mama Tari dan Ibu Adeeva izin ke dapur untuk memasak makan siang untuk semuanya. Serta Almeera yang melihatnya pun mulai beranjak berdiri.
"Iya, Sayang."
Bara mulai bergeser. Dia duduk di tempat istrinya tadi. Tangan Bara juga sambil menepuk pantat putrinya agar tidur. Sedangkan Reno juga sedang menggendong putranya Baby Reyn. Sepertinya bocah itu sedang merasa tak nyaman hingga membuatnya ingin terus diayun dalam gendongan.
"Lo kenapa gak pindah ke rumah yang gue kasih, Ren?" tanya Bara dengan kening berkerut.
Jujur dia sudah sangat lama ingin menanyakan hal ini. Bukan bermaksud lancang. Namun, rumah yang diberikan Bara dan Almeera peralatannya lebih lengkap. Ada AC juga di beberapa tempat.
Jika di rumah ini, ya tidak ada AC apapun. Semuanya serba kipas angin untuk mendinginkan ruangan.
"Istri gue gak mau, Bar. Dia bilang pengen deket sama Mama dan Papa," balas Reno apa adanya.
Bara tak menjawab lagi. Dia menatap putranya yang menggeliat dan merengek. Sedangkan Baby Thaya sudah tertidur dengan tenang.
"Titip Thaya dulu ya, Kak. Aku mau gendong Thalla."
__ADS_1
"Iya, Bar!" kata Jimmy.
Bara segera menggendong anaknya. Dia membawanya ke dapur dan meninggalkan Jimmy dengan Zelia yang berada di samping Baby Thaya.
Tangan gadis itu bermain dengan pipi anak sahabatnya. Bahkan dengan gemas, Zelia menarik hidung Baby Thaya dengan pelan.
"Tante jangan diganggu!" tegur Bia dengan pelan.
Zelia terkekeh. Dia berpindah memeluk Bia dan mencium pipinya.
"Kalau gak boleh uyel-uyel Baby Thaya. Tante uyel-uyel Bia aja yah?" goda Zelia dengan tertawa.
"Nggak mau. Nanti pipi Bia lentur!" ujarnya yang membuat Zelia dan Jimmy tertawa kencang.
"Kamu tau darimana kata-kata itu?" tanya Jimmy dengan heran.
"Ada film yang nunjukin tubuh cewek kayak mulai melorot semua, Om…" Bia menjelaskan film yang dia tonton sehingga membuat Jimmy semakin ngakak.
"Tapi ini beda, Sayang. Punya kamu gak bakal luntur karena ini kuasa allah," kata Zelia sambil mengusap pipi Bia.
"Tetap aja. Bia gak mau!" Putri Almeera itu berjalan menjauh hingga membuat Jimmy mencubit pipi kekasihnya.
"Aduh, Yang. Kenapa dicubit?" tanta Zelia mengusap pipinya.
"Ya biar impas sama ponakan aku!" goda Jimmy yang membuat Zelia memutar tubuhnya.
Dengan cepat dia mencengkram pipi Jimmy dan menaik turunkan dengan gemas. Wajah Zelia bahagia saat kekasihnya itu hanya bisa pasrah.
Hingga perlahan gadis itu menatap sekeliling. Orang tua kekasihnya sedang sibuk dengan Ibu Adeeva berbincang. Sedangkan Abraham sedang tengkurap dengan game di hp yang berada di tangannya.
Setelah dirasa aman. Zelia mendekat dan mencari kecupan di pipi Jimmy.
"Biar sakitnya ilang," bisik Zelia sambil tersenyum.
"Ya harusnya disini, Sayang!" kata Jimmy menunjuk bibirnya.
"Kalau itu kemauan kamu. Otak gila dan omesku, Jimmy Sayang!"
~Bersambung
__ADS_1
Keturunan Otak Omes ini mah. hahahaha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.