
...Perjuangan itu pasti ada akhirnya. Pengorbanan itu pasti ada hasilnya dan ujian itu pasti akan selesai dan menjadi sebuah kebahagiaan....
...~Almeera Azzelia Shanum & Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Suasana rumah besar itu mulai tenang. Semua orang mulai tertidur dengan lelapnya. Mereka semua pasti merasa lelah karena perjalanan yang lumayan panjang. Hingga tak ada satupun yang sedang melakukan aktifitas.
Kecuali sepasang suami istri yang ada di dalam sebuah kamar. Terlihat mereka tengah bermain di atas ranjang dengan bayi mereka berdua.
Sejak tadi si kembar tak mau memejamkan matanya. Dia berceloteh dengan berjalan kesana kemari memutari kamar barunya. Hingga saat keduanya kelelahan. Almeera mengajaknya naik ke atas ranjang tapi ternyata tak membuat keduanya tertidur.Â
"Sayang!" rengek Bara dengan memeluk istrinya dari samping. "Tidurkan mereka. Aku ingin berduaan denganmu."Â
Bara sedikit berbisik. Dia tak mau kedua anaknya mendengar permintaan dirinya. Bara sangat ingin menghabiskan waktunya berdua dengan sang istri. Namun, sepertinya si kembar selalu menjadi penghalang keduanya bermesraan.Â
Almeera terkekeh. Dia sangat tahu betul bagaimana suaminya ini. Jujur waktu berdua mereka banyak berkurang. Baik Baby Thalla maupun Thaya selalu mengganggu aktivitas mereka.
Keduanya bahkan pernah hampir kepergok berhubungan intim saat si kembar ternyata tak tidur dengan nyenyak. Sehingga hal itu membuat Bara berakhir dengan solo karrier.Â
"Sebentar lagi, Mas. Mungkin mereka tidur," balas Almeera dengan mengusap kepala suaminya.Â
Hingga tak lama, kepala Bara dijambak ke belakang yang membuat pria itu mengaduh.Â
"Mama Thalla," kata anak itu dengan lancar.
"Dia istriku. Bukan mama kamu aja!" balas Bara sambil memeluk Almeera dengan erat.
Athalla yang sangat dekat dengan Almeera memang selalu membuat Bara sakit kepala. Bara tidak diizinkan mendekati istrinya maupun menciumnya. Dia harus ekstra mencuri jika ada kedua anaknya ini.Â
"Papa!" seru Athalla sambil menunggangi tubuh Bara dan menjambaki rambutnya.
__ADS_1
Bukannya marah. Bara mulai memegang perut putranya dan menggelitik. Hal itu tentu membuat Athalla terus memukuli papanya.Â
"Jangan, Sayang!" kata Almeera melerai keduanya.
Dia meraih tubuh putranya dan meletakkan diatas pangkuan. Dengan posesif tangan kecil itu melingkar di leher sang mama dan membuat Bara cemberut.Â
"Posesif banget sih!" seru Bara dengan mendengus kesal.
"Pocecif?"Â
Bara membulatkan matanya. Dia tidak menyangka anaknya akan mengikuti apa yang dia katakan. Bisa-bisanya putranya itu begitu lancar dan aktif mengikuti semua yang dia katakan dan membuatnya harus serba hati-hati.Â
"Sayang!" peringat Almeera melototkan matanya.Â
Bara cemberut. Dia memilih tidur di samping putrinya yang terlihat mengantuk dan memeluknya dengan erat. Jika sosok Athaya, bayi itu netral. Dia mau bersama siapa saja.
Mau itu Almeera atau Bara. Dia tak pernah bergantungan dengan satu orang saja. Baik Bara dan Almeera mereka berusaha selalu ada untuk keduanya. Namun, memang sepertinya anak laki-laki di keluarga Bara selalu dekat dengan mamanya.Â
"Athalla mau bobok?" tanya Almeera yang menidurkan bayinya di dekat Athaya.
Bara sejak tadi berdoa dalam hati. Dia benar-benar berharap semoga dua anaknya ini segera tidur agar dirinya bisa menempel pada sang istri.
Maklum saja. Sudah hampir dua minggu mereka tak berhubungan karena Almeera yang berhalangan dengan tamu bulanan dan Bara yang sibuk dengan pekerjaan dan menyiapkan semua ini.Â
Hingga sepertinya kesempatan baik itu ada di tangan Bara. Tak butuh waktu lama, si kembar mulai mendengkur halus. Pertanda keduanya mulai tertidur dengan tenang.
Bara yang masih membuka matanya akhirnya mulai beranjak bangun. Dia memindahkan putrinya ke ranjang yang lain di sisi sudut kamar ini.Â
Semua sudah dipersiapkan oleh Bara memang. Dia meletakkan dua ranjang di kamar ini untuk mereka berempat. Jika di rumah, si kembar sudah tidur sendiri di kamarnya yang memiliki pintu penghubung.Â
Jika disini. Bara dengan ikhlas berbagi kamar tapi tidak dengan ranjang. Maklum, pria omes selalu saja ada tingkah yang tidak mau berjauhan dengan istrinya.Â
Setelah Baby Athaya dan Athalla dipindah. Dia melebarkan senyuman saat melihat istrinya terpejam di atas ranjang. Ah dirinya tak akan mundur lagi. Senjatanya sejak tadi sudah bergerak ingin bersarang di lembah basah tapi ia tahan.Â
__ADS_1
Dengan pelan, Bara merangkak di atas ranjang dan menelusupkan kepalanya di leher sang istri. Bara tidak mau membuat istrinya terbangun kaget. Dia akan memberikan rangsangan yang selalu berhasil membuat Almeera terbangun dengan sendirian.
"Mas!" seru Almeera saat bibir Bara sudah berada di atas dua bukit kembar.Â
Pria itu dengan cepat membuka daster yang digunakan khusus oleh istrinya di dalam kamar. Entah bagaimana tangan Bara bergerak. Dia berhasil meloloskan daster itu dari tubuh istrinya.
"Aku membutuhkanmu, Sayang!"Â
Setelah mengatakan itu, Bara mulai menyerang bibir sang istri. Keduanya seakan bak cacing kepanasan. Saling berusaha meraup dengan tak sabaran. Â
Keduanya sudah terbakar hasrat yang panas. Mereka sudah berada di puncak cinta ingin menyatu. Baik Bara dan Almeera tanpa sadar sudah tak memakai pakaian apapun.
Dengan pelan, Bara menutupi tubuh keduanya dengan selimut tebal. Dia tidak mau anak-anaknya terbangun dengan mendadak dan melihat penampilan mereka yang sedang main kuda-kudaan.
Dengan pasrah Bara membiarkan istrinya mengambil alih. Dia bersandar di atas ranjang dengan Almeera yang ada di atasnya. Istrinya itu bergerak dengan bebas tapi kedua benda itu belum menyatu.
Almeera benar-benar menggoda dirinya yang membuat Bara segera menahan pinggang sang istri dan langsung melesatkan senjatanya tanpa ampun.Â
Dengan sekali hentakan ternyata mampu membuat Almeera menjerit tertahan. Mereka berdua segera menoleh ke samping karena takut si kembar akan terbangun.
Namun, sepertinya nasib baik berpihak pada Bara. Si kembar tak bergerak sedikitpun. Mereka asyik tertidur hingga membuat Bara mulai merasakan pijatan dari kedutan sang istri.
Kedua mata itu memancarkan cinta yang besar. Bara dan Almeera saling menggenggam tangan mereka dengan badan yang mulai merasakan panas dingin.
Dengan lihai, Almeera bergerak dengan lincahnya. Bak penari handal dan penunggang kuda. Dia mampu membuat Bara merasakan terbang ke langit ke tujuh. Bara berusaha menahan suaranya. Dia melipat bibirnya karena suara laknat itu begitu ingin ia keluarkan saat tubuh mereka saling melonjak dengan puasnya.
Tak ada yang mengalah. Tak ada yang pasif. Mereka sama-sama aktif dan berusaha memuaskan satu dengan yang lainnya. Hingga ledakan dalam diri mereka mulai keluar dan membuat kepala Almeera jatuh di dada bidang sang suami.
Nafas keduanya masih terengah-engah. Namun, sepertinya Bara tak mau berakhir secepat ini. Senjatanya pun ternyata mampu bertahan yang membuat pria itu memutar tubuh keduanya dengan Almeera berada di bawah.Â
"Aku tak akan melepasmu, Sayang. Sampai kapanpun aku tak akan berbuat bodoh lagi."Â
~Bersambung
__ADS_1
Wahahahaha Mas Bar kalau lagi khilaf mintanya terusan. Kaborrr.
Jangan lupa oii klik like, komen yah. Biar author semangat kejar target nih.