
...Percayalah apapun yang aku lakukan. Semua itu demi kamu dan anak-anak kita....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
"Jangan banyak pikiran ya, Bu. Banyak istirahat dan jangan melakukan pekerjaan berat," kata Dokter setelah melepaskan infus dari tangan Mama Zelia.
Ya hari ini, Mama Zelia diizinkan pulang. Perempuan itu tak mau di operasi dan memilih jalur kemoterapi dan mengkonsumsi obatnya. Dia tak mau membuat suaminya repot lagi dan menakuti Zelia dengan dirinya yang harus di operasi.Â
Dia takut. Dirinya takut jika matanya terus tertutup. Dia tak akan melihat dunia lagi dan membuat anak serta suaminya semakin sedih akan kepergiannya.Â
"Baik, Dok. Saya akan menuruti semua perkataan Anda," kata Mama Zelia dengan yakin.
Zelia tersenyum bahagia. Dia memandang mamanya dengan bangga. Ia tak menyangka jika wanita yang pernah melahirkannya mau semangat untuk bertahan hidup.
Dia memang tak berharap lebih. Zelia sangat tahu betul jika obat yang dikonsumsi mamanya bukan menyembuhkan. Melainkan untuk menghambat dan memperpanjang waktu hidup mamanya.Â
"Jangan membebani pikiranmu, Sayang," bisik Jimmy melingkarkan tangannya di bahu Zelia dan menariknya.
Pria itu mengusap kepala kekasihnya dengan lembut. Ia sangat tahu betul dengan apa yang dirasakan oleh Zelia. Wanita itu pasti sedih sekaligus harus mampu menutupi kesedihannya agar mamanya tak ikut bersedih.Â
Zelia menyandarkan kepalanya di lengan sang kekasih. Aroma tubuh Jimmy seakan menjadi penenang dalam jiwanya.
"Jangan pernah meninggalkanku, Sayang. Aku tak tahu apa yang akan terjadi bila kamu dan mama pergi meninggalkanku," lirihnya dengan pelan.
Tak lama Jimmy merasakan lengannya basah yang menandakan jika kekasihnya menangis. Pria itu akhirnya menarik tubuh Zelia dan membawanya ke dekat jendela. Dia tak mau menganggu dokter yang masih berbicara dengan Papa dan Mama Zelia.Â
"Lia!" panggil Jimmy pelan sambil menarik dagu sang kekasih. "Aku tak akan meninggalkanmu."
"Promise?" ujar Zelia menyodorkan jari kelingking kanannya.Â
Dia menatap wajah Jimmy dengan mata berair. Harapan semangatnya ada di depannya ini. Ia berharap semoga Jimmy mampu menjadi sandaran hati dan pikirannya ketika masalah datang menerpa.
"Promise."Â
...🌴🌴🌴  ...
Di tempat lain, lebih tepatnya di rumah sepasang suami istri pengantin lama yang selalu berasa masih baru.
Terlihat seorang istri sedang merengek manja pada suaminya. Dia terus mengguncang lengan suaminya yang menggeleng seakan menolak permintaanya.
__ADS_1
"Ya, Mas. Pliss!" rengeknya dengan tatapan ia buat seimut mungkin.
"Kamu sedang hamil kembar, Sayang. Kamu gak boleh capek-capek," ujar Bara kesekian kalinya.
"Kan kita cuma jalan-jalan, Mas. Sekalian ngajak anak-anak main," bela Almeera mencari alasan.
"Mereka memang main tapi kamu…" jeda Bara menatap istrinya. "Kamu jalan sendiri, Sayang. Kamu bakalan capek dan aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu dan si kembar."Â
Almerra menghela nafas berat. Dia sudah membujuk suaminya berulang kali. Namun, sepertinya keyakinan Bara kali ini tak bisa diganggu gugat.
Almeera hanya mengajak Bara ke taman bermain. Dia merasa kasihan melihat Bia yang merengek meminta jalan-jalan. Wanita itu sangat tahu betul jika sejak kehamilannya mereka tak pernah kemana-mana. Hanya berkeliling di rumah dengan alasan Bara tak mau sesuatu terjadi pada Almeera dan si kembar.
"Aku gak mau buat Bia kecewa, Mas," kata Almeera mencoba jujur.
Ya, dia memang menutupi keinginan putrinya dengan mengatakan bahwa dia yang ingin jalan-jalan. Jika Bara tahu putrinya yang meminta, Almeera takut suaminya akan marah.Â
Bara menoleh. Dia menatap istrinya yang menunduk dengan memainkan jarinya. Jika sudah begini, pria itu tahu betul bila istrinya sedang merajuk kepadanya.
"Aku mau, tapi…"
"Yey!" Almeera bertepuk tangan.Â
Dia segera melingkarkan tangannya di leher sang suami dan menjatuhkan kecupan lembut di pipinya.Â
"Ya gakpapa. Yang penting kamu setuju itu udah bikin Bia bahagia."Â
Bara tersenyum. Dia mengusap kepala istrinya dan memberikan ciuman lembut di dahi Almeera.
"Kamu harus janji patuh sama apa yang aku minta. Kamu gak boleh menolak apapun. Kalau sampai menolak, kita langsung pulang. Deal?"Â
Bara menyodorkan tangannya. Dia mengajak istrinya kerja sama. Bagaimanapun pria itu sangat tahu betul kelakuan istrinya.Â
"Deal!"Â
Akhirnya Almeera segera berjalan menuju kamar putranya. Dia tahu betul kegiatan Abra dan Bia selama dirinya hamil hanya bermain game.
"Ayo!" ajak Almeera saat pintu itu ia buka.
Bia dan Abraham yang memang sudah bekerja sama dengan mamanya tentu lekas keluar. Pakaian keduanya sudah berganti ketika Almeera mengatakan akan meminta izin.Â
Anak dan ibu itu memang selalu terlihat kompak. Apalagi ketika tahu jika papanya tak pernah bisa menolak perintah mamanya, membuat keduanya sudah bersiap-siap agar tak perlu menunggu lagi.Â
"Kalian yah!" ujar Bara menggelengkan kepalanya saat melihat aksi putra dan putrinya yang berebut turun ke lantai bawah.Â
__ADS_1
Kedua anak itu cengengesan. Dia mendekati Bara dan bergantian memeluk sosok papanya itu.Â
"Bia sayang, Papa," rayu bocah itu mencium pipi papanya ketika Bara memggendongnya.Â
"Beneran, Sayang. Apa cuma buat rayuan biar Papa gak jadi batalin rencana kita?"Â
"Dua-duanya, Papa," kata Bia dengan jujur.Â
Mereka segera memasuki mobil Bara ketika Almeera sudah selesai ganti baju. Keluarga bahagia itu benar-benar tak bisa menutupi kebahagiannya. Mereka benar-benar menanti masa-masa ini.Â
Masa dimana mereka bisa keluar dari penjara yang papanya buat. Bukan terkesan penjara sih. Walau Bara tak mengizinkan mereka keluar rumah sering-sering. Namun, pria itu selalu mengizinkan istri dan anak-anaknya membeli makanan atau apapun yang diinginkan.Â
"Mama nanti kita beli es krim yah?"Â
"Oke," sahut Almeera mengacungkan jempolnya.Â
Setelah hampir satu jam mereka berkendara. Akhirnya Bara dan keluarga sudah sampai di tempat parkir taman bermain yang terkenal di Jakarta. Mereka segera turun dari sana dengan senyuman yang begitu lebar.Â
Saat Almeera hendak menggandeng tangan Bia dan Abraham untuk berjalan. Panggilan Bara membuat ketiga orang itu berbalik.Â
"Ada apa, Papa?" tanya Bia dengan kening berkerut.
"Kamu gak lupa sama janji kamu, 'kan, Sayang?" tanya Bara sambil menumpu kedua tangannya di depan dada.
Almeera terdiam. Namun, tak lama kepalanya mengangguk. Dia memang ingat telah berjanji akan melakukan apapun yang di perintah oleh suaminya karena Bara sudah mau menuruti keinginan Bia.Â
"Apa yang harus Meera lakukan."Â
Bara segera membuka bagasi mobil. Lalu dia mengeluarkan sebuah benda yang membuat Almeera, Bia dan Abraham melebarkan matanya.Â
Wanita itu sampai menatap suaminya tak percaya. Hingga pikirannya mulai berpikir jika benda itu jangan-jangan digunakan untuk sesuatu yang sangat dia pikirkan saat ini.Â
"Mas jangan bilang kalau kamu…" Almeera terdiam.Â
Dia menunjuk benda itu bergantian dengan dirinya.Â
"Ya. Selama di taman bermain. Kamu harus duduk di kursi roda ini."Â
~Bersambung
Hahahaha biasa kelakuan Calon Papa Posesif. Ada-ada aja, biar istrinya gak capek.
Mau kasih konflik dikit ke Mas Bara, ahh. Hahhaa
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat.