
...Sungguh pilihan yang dilontarkan putriku sangat sulit. Aku tak mau kehilangan dia tapi aku juga lebih tak mau kehilangan ketiganya....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Saat panggilan baru saja tertutup, Bara lekas beranjak berdiri. Dirinya segera bergegas dan tanpa sadar melupakan seseorang yang duduk di hadapannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Narumi heran sambil menarik lengan suaminya.
"Aku harus menemui putriku."
"Putri?" ulang Narumi dengan kening berkerut.
"Iya. Pulanglah dengan taksi. Aku harus segera kesana!" kata Bara dengan melepaskan tarikan tangan istrinya.
"Nggak!" seru Narumi dengan suara sedikit meninggi.Â
Perempuan itu tetap mencengkram lengan Bara. Hatinya terbakar emosi. Dia berpikir jika ini hanya akal-akalan yang dilakukan Almeera agar memenangkan perjanjian di antara mereka.Â
"Jangan bersikap seperti ini, Rumi. Aku harus ke rumah sakit!"Â
Bara tak percaya jika istri mudanya begitu egois. Saat ini dirinya sedang khawatir. Pikirannya terus tertuju pada Bia tetapi kenapa Narumi menghalangi dirinya sampai seperti ini.Â
"Mas sudah janji nemenin aku belanja, 'kan? Ini udah di mall, jadi Mas harus tepati janji itu."Â
Nafas Bara memburu. Pria itu benar-benar tak habis pikir dengan pikiran istri keduanya. Saat ini dirinya begitu cemas dengan kondisi Bia tapi bagaimana bisa Narumi memaksanya untuk menemani berbelanja.
Bukankah masih ada lain waktu?
Bahkan masih banyak waktu yang akan mereka habiskan.Â
Hingga hal itu tentu memancing emosinya yang tak stabil.
Dia segera menghempaskan tangan Narumi sampai tubuh wanita itu menabrak meja resto yang ada di dekatnya. Beberapa minuman di atasnya berjatuhan hingga kekacauan itu tentu membuat para pengunjung saling melirik.Â
"Aku sudah mengatakan ingin ke rumah sakit dan kamu…" jeda Bara tak habis pikir. "Memaksaku disini menemanimu belanja?"Â
Narumi menatap Bara dengan marah. Perempuan itu juga tak mau kalah. Rasa bencinya pada Almeera, membuat Narumi ingin menguasai suaminya selamanya.Â
"Iya. Mas harus disini!"Â
"Kamu gila!" Tanpa kata Bara segera pergi meninggalkan Narumi.
Pria itu pura-pura tak mendengar tatkala suara istrinya terus memanggilnya. Sungguh Bara sangat malu melihat kelakuan istri keduanya. Namun, prioritasnya saat ini adalah Almeera dan kedua anaknya.
__ADS_1
Dia tak mau kehilangan lagi. Dia tak mau istrinya tak muncul lagi dan akan berpisah selamanya. Dia rela melakukan apapun. Bahkan tanpa Bara menyadari, jika sebenarnya hatinya lebih berat pada istri pertama.
Hatinya seakan bergerak dengan sendirinya mengatakan bahwa dia lebih membutuhkan Almeera, Bia dan Abraham. Namun, pria itu hanya belum menyadarinya.Â
Tanpa menunda, Bara segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dirinya sudah membaca pesan singkat berisi alamat rumah sakit tempat anaknya dirawat. Dia benar-benar tak percaya jika jarak antara rumahnya dan rumah sakit lumayan jauh.
Istrinya itu benar-benar menyiapkan semuanya. Walau masih satu kota tapi jarak mereka lumayan jauh. Setelah mengendarai hampir satu jam setengah. Akhirnya Bara sampai di depan bangunan yang menjadi tempat orang-orang berobat.Â
Dia segera masuk ke rumah sakit. Kepalanya memutar berusaha mencari nama ruangan tempat dimana Bia berada.
"Maaf, Suster," panggil Bara pada seorang perempuan yang memakai pakaian putih. "Ruangan ini dimana yah?"
Bara menyodorkan ponselnya pada wanita itu. Dia berharap semoga suster ini bisa membantunya dengan baik.
"Oh ruangan ini ada di lantai dua, Pak," kata Suster itu dengan ramah. "Dari sini nanti Bapak belok kiri lalu lurus sampai nanti bertemu tangga kanan jalan. Anda naik mengikuti tangga nanti akan ada papan nama kamar ini."Â
"Terima kasih ya, Sus."Â
"Sama-sama, Pak."Â
Setelah itu, Bara segera berlari menuju tempat yang ditunjukkan oleh suster tadi. Hingga perlahan langkah kakinya mulai pelan saat ruangan sang putri ada di hadapan matanya. Entah kenapa jantung Bara berdegup kencang. Dia merasa takut untuk masuk ke dalam.
Namun, bukankah selama lima hari, hal inilah yang dia cari. Keberadaan istri dan anaknya sudah di depan mata dan dirinya tak boleh mundur lagi.Â
Perlahan dia mulai berjalan mendekati pintu yang tertutup. Namun, saat tangannya hendak mendorong agar terbuka, tiba-tiba dari dalam ada seseorang yang membukanya hingga tatapan keduanya beradu.
"Assalamualaikum," salam Bara ketika dia sudah menguasai kegugupannya.
"Waalaikumsalam," kata Almeera dengan tak acuh.
Dia menyingkir dan mempersilahkan suaminya masuk. Pemandangan pertama yang ditangkap oleh Bara tentu sangat menusuk hatinya. Tubuh kecil yang gembul itu terlihat begitu kurus. Ditambah alat bantu pernapasan dan wajahnya yang pucat semakin membuat hatinya tak tenang.
Tanpa sepengetahuan Bara, Darren, Tari, Jonathan, Kayla dan Almeera keluar dari ruangan. Mereka seakan memberikan waktu untuk Bara mengobrol dengan putrinya secara empat mata.Â
Bara mulai melangkah lalu dia mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang. Tangannya yang besar dengan pelan memegang telapak tangan putrinya dan mencium dengan lembut.
"Bia ini Papa, Sayang," kata Bara dengan mata berkaca-kaca.
Bia, bocah yang ternyata tak tidur itu spontan menegang. Matanya lekas terbuka untuk melihat apakah orang yang dia tebak ternyata benar.
"Papa!" panggil Bia dengan wajah bahagia.Â
"Anak Papa." Bara spontan membantu putrinya untuk duduk.Â
Lalu ayah dan anak itu saling berpelukan melepaskan rindu di antara keduanya. Bia dengan erat memeluk tubuh papanya. Lalu kepalanya diletakkan di dada Bara dan merasakan jantung pria yang sangat ia sayangi begitu berdebar.Â
"Papa kangen," lirih Bara dan mencium pucuk kepala putrinya.Â
__ADS_1
"Bia juga kangen, Papa," sahut bocah itu dengan tersenyum tipis.
Mata kecil itu terpejam. Dia sedang merasakan pelukan sosok yang sangat dirindukan. Namun, sebenarnya dibalik sakitnya bocah kecil itu, ada suatu pikiran yang sejak kemarin memenuhi kepalanya.
"Mana yang sakit?" tanya Bara sambil melepaskan pelukannya.
Dia mendudukkan putrinya di atas ranjang dan meneliti apakah ada yang terluka atau tidak.
"Nggak ada, Papa." Bia menggelengkan kepalanya. "Kecuali disini."Â
Anak kedua dari pasangan Almeera dan Bara itu menunjuk dadanya. Dia menepuk dada bagian kirinya dan memukulnya dengan pelan.
"Dada Bia sakit? Apa perlu Papa panggilkan dokter?" tanya Bara dengan khawatir.Â
"Dokter saja tak bisa mengobati luka Bia," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Bisa, Sayang. Dokter itu punya banyak cara untuk sembuhin sakit pasiennya," kata Bara menghibur.
"Tapi sakit Bia ini berbeda," katanya dengan mata terus menatap wajah Bara. "Sakit ini karena Papa."
Bara terkejut. Pria itu menatap putrinya seakan berusaha mencari tahu apa maksud anaknya itu.Â
"Papa?"Â
"Iya. Ini semua karena Papa!" kata Bia dengan suara sedikit meninggi. "Kenapa Papa harus menikah lagi dan memberikan mama baru untuk Bia?"Â
Jantung Bara mencelos. Pria itu menatap putrinya tak percaya. Dia begitu terkejut melihat Bia bisa berbicara seperti itu kepadanya.Â
"Apa Papa gak sayang sama Mama? Apa Mama Meera kurang cantik dari istri papa itu?" seru Bia dengan mata mengeluarkan air mata.
"Bukan seperti itu, Nak. Papa…"Â
"Bia takut, Pa. Mama baru itu jahat. Mama baru itu gak baik, tapi Papa memberikan itu pada Bia."
Pria itu benar-benar mati kutu. Dia tak bisa menjawab karena perkataan putrinya seakan tamparan yang keras dia dapatkan lagi dari ucapan anaknya sendiri.
"Maaf," lirih Bara dengan menunduk.Â
"Bia nggak butuh maaf, Papa. Bia cuma pengen Papa memilih!"Â
Perkataan Bia membuat Bara mengangkat kepalanya. Dia menatap putrinya seakan menunggu apalagi yang akan disampaikan putrinya itu.Â
"Papa pilih meninggalkan wanita itu atau Bia akan ikut Mama dan Abang pergi dari hidup Papa."Â
~Bersambung
Dibalik manjanya Bia, dia juga ingat Mamanya. Sakitnya dia ingin diperhatian Papa dan membuat Bara bisa memilih. Hmm yok nak pintar, buat Papamu itu sadar, Nak!
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Bair author makin semangat ngetik dan update novel ini.