
...Semalaman wajah sedihnya datang terbayang dan hari ini aku harus bertanggung jawab. ...
...~Reno Akmal alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
"Ada apa, Mas? Kenapa sejak tadi terus menatapku?" tanya Almeera menatap suaminya dengan heran.Â
Saat ini keduanya tengah berada di dalam kamar. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit jiwa.
"Aku bangga memilikimu, Ra," kata Bara dengan jujur. "Hatimu baik bahkan sangat baik untuk menerima dan memaafkan Narumi yang sudah banyak salah sama kamu."
"Apa Mas lupa bahwa aku juga ikut andil dalam masalah ini?" tanya Almeera dengan serius. "Kalau bukan karena izinku, kamu tak akan menikah lagi."Â
"Tapi kalau kamu tak mengizinkanku entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku benar-benar berdosa. Tertipu dengannya dan akhirnya aku berfikir setelah halal aku bisa hidup dengannya."
Almeera menggeleng. Dia menghapus air mata yang turun di pipi suaminya dengan lembut.
"Itu sudah menjadi bagian dari masa lalu kita, Mas. Masa lalu harus kita kubur bersama-sama. Dijadikan sebagai sebuah pelajaran hidup. Untuk pengalaman kedepannya agar lebih hati-hati."
Bara mengangguk. Dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.Â
Apa yang harus disesali?
Menyesal pun tak ada gunanya.
Mengulang waktu?
Itu sama saja mustahil.
Jika kalian sudah melakukan kesalahan. Maka belajarlah untuk segera bertaubat dan berjanji tak mengulanginya lagi.Â
Untuk urusan menghakimi?
Itu bukan ranah kalian. Kalian bukan Tuhan. Yang bisa seenaknya menilai dan melihat seseorang dari masa lalunya.
Kisah taubat seseorang dan apa yang dia kerjakan dengan tuhannya hanya dia dan tuhan yang tau. Bisa saja seseorang yang kau anggap jahat, ternyata lebih lurus jalannya menuju surga daripada kalian.Â
"Aku berharap semoga kehidupan selanjutnya. Tuhan memberikan aku takdir untuk bertemu denganmu lagi, menjadi suamimu dan tanpa menghadirkan noda di pernikahan kita."Â
"Aamiin," sahut Almeera dengan tersenyum.
Dalam hati wanita itu, dirinya benar-benar ikhlas. Tak ada dendam yang meliputi hatinya.
__ADS_1
Walau dulu ia sering menangis, ia marah pada Bara, benci pada suami dan Narumi. Bukankah itu merupakan proses dari setiap pendewasaan seseorang?
Bukankah setiap ujian hambanya melalui cara yang berbeda-beda. Tak ada yang tau apakah mereka melalui cara berlari, berjalan atau bisa saja dengan merangkak.
Semua orang itu berproses.
Ada yang dari lahir baik, setelah dewasa masih tetap baik.
Ada yang lahir baik, setelah dewasa khilaf dan menjadi jahat karena suatu alasan. Lalu dia kembali sadar dan bertaubat.
Semua itu bermacam-macam hanya tinggal kita saja melalui proses yang mana.Â
"Ayo kita tidur!" ajak Almeera yang perlahan mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
Keduanya mulai berbaring di atas ranjang. Almeera membalikkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya sampai area perut. Hingga tak lama, pergerakan di belakangnya bersamaan dengan tangan yang melingkar di perut, membuat tubuhnya menegang.
Bayang-bayang dimana suaminya menggauli Narumi kembali terbayang. Tanpa sadar dirinya mencengkram sprei itu dengan berusaha menghapus bayangan itu.
Dia tetaplah manusia biasa. Memiliki ingatan yang sulit dilupakan. Namun, Almeera berusaha menghapus ingatan itu karena dia ingin mendoktrin dirinya bahwa dia adalah seorang istri.Â
Almeera tetap ingin menjadi istri yang baik. Menyenangkan suaminya lahir dan batin. Meski dirinya masih memiliki trauma itu. Dia berusaha untuk sembuh.
"Selamat tidur, Sayang. Aku minta maaf dan aku bersyukur memilikimu."
Perlahan lilitan tangan Bara di perutnya dia jauhkan. Dirinya berbalik sehingga berhadapan dengan tubuh sang suami. Dalam cahaya yang remang, Almeera bisa melihat wajah lelah suaminya yang tertidur. Dirinya mengulurkan tangannya dan mengusap dahi itu.
Aku bersyukur Tuhan masih menjodohkan kita, Mas. Tuhan membuka mata hatimu dan mengembalikanmu kepadaku dan anak-anak, gumam Almeera dalam hati dengan setetes air mata yang mengalir.
Aku tak peduli orang mengatakanku perempuan bodoh atau perempuan hina yang tak beruntung karena masih menerima suami sepertimu. Dalam hatiku, aku menganggap semua ini adalah ujian hidupku di dunia. Yang mungkin, bisa aku harapkan untuk membawaku dan kalian ke surga secara bersama-sama, lirihnya dalam hati lalu mulai memejamkan matanya.Â
...🌴🌴🌴...
Keesokan harinya seperti biasa, Bara sudah berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Hari ini pria itu ingin pulang secepatnya untuk mengajak istri dan anak-anaknya menonton bioskop.Â
Dirinya ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga. Mengganti waktu yang sudah lama terbuang sia-sia dan kembali merajut kenangan mereka lagi. Kegiatan seperti ini dulu menjadi kebiasaan Bara dan Almeera. Namun, setelah kejadian itu, quality time mereka mulai berkurang.Â
Kening Bara berkerut saat membaca laporan keuangan yang ada di tangannya. Dia segera memanggil Reno untuk masuk ke ruangannya.
"Ya, Pak?" tanya Reno menatap bos sekaligus sahabatnya.Â
"Siapa yang mengerjakan laporan ini?" tanya Bara mengangkat berkas itu ke atas.
"Itu…" Reno masih terdiam.
Dia berusaha mengingat hingga wajah perempuan yang menghantuinya kembali hadir.
__ADS_1
"Itu Adeeva yang mengerjakan," kata Reno dengan terbata saat menyebutkan nama sahabat Almeera.
"Apa dia sudah datang?" tanya Bara yang ingin mengetes kejujuran sahabatnya.Â
Reno menunduk. Pria itu benar-benar tak tahu harus mengatakan apa pada Bara. Mengingat wajah Adeeva yang marah kepadanya saja, membuat Reno semalaman tak tidur.Â
"Ren!" seru Bara yang menyadarkan pria itu dari lamunannya.Â
"Adeeva tidak akan datang ke perusahaan. Dia tak mau bertemu denganku," katanya dengan suara pelan saat di kalimat terakhir.Â
Bara ingin sekali menahan tawanya. Wajah sahabatnya hari ini benar-benar kusut dan tak bersemangat. Apalagi matanya yang panda membuatnya tahu jika Reno tak tidur dengan baik semalam.Â
Rasanya dia ingin mengerjai sahabatnya itu. Bara sangat tahu kelakuan Reno yang tak pernah dekat dengan wanita manapun. Maka dari itu, inilah kesempatannya untuk merubah cara pandang Reno terhadap perempuan.
Mencoba membuka pikiran Reno. Bahwa wanita tak selalu menyebalkan. Wanita tak selalu ribet dengan apa yang mereka lakukan.Â
Dari tiga bersahabat, hanya Reno lah yang selalu anti perempuan. Berbeda dengan syakir. Pria itu adalah cap buaya yang selalu berganti wanita. Entah kemana sahabatnya itu sekarang.
Sudah lama sekali Syakir tak ada kabar hingga membuat Bara baru menyadarinya. Biasanya grup tiga manusia itu akan selalu ramai. Namun, setelah kejadian Bara poligami dan segala rentetannya membuat dia baru menyadari jika grup itu suda lama sepi.
Mungkin nanti aku hubungi saja soal Syakir. Anak itu benar-benar hilang ditelan bumi, gumam Bara dalam diam.
"Pak!" panggil Reno yang mendongak saat hanya ada keheningan disana.Â
Spontan Bara tersadar dari lamunannya. Memikirkan Syakir membuatnya hampir lupa dengan keberadaan Reno.Â
"Kau tau, 'kan? Apa yang kukatakan kemarin padamu?" tanya Bara dengan bahasa santai agar sahabatnya itu menjadi tenang.Â
Reno mengangguk lemas. Dia masih ingat betul apa yang harus dilakukan dan dia pertanggung jawabkan jika Adeeva tak mau datang kesini lagi.
"Kau harus ke Perusahaan Almeera, membujuk wanita itu agar mau membantumu menyelesaikan file keuangan ini agar cepat selesai!"
~Bersambung
Hiyaa kapok Ren, kapok!
Selamat berjuang meminta maaf yah, HAHA.
Buat Mbak Almeera, di dunia nyata banyak perempuan kayak dia. Beberapa ada di komentar novel ini. Mereka mau dipoligami, bertahan sama suami tukang selingkuh.
Gak percaya?
baca aja komentar di novel ini. Banyak sekali perempuan hebat dan anak broken home yang baca novel ini. Percayalah sakit kalian di dunia insya allah akan diganti pahala berlipat di akhirat. aamiin.
Salam sayang. Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat update.
__ADS_1