Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Bia Sakit


__ADS_3


...Kelemahan seorang ibu adalah anaknya. Dia rela melakukan apapun meski itu menyakiti hatinya, hanya untuk mendapatkan sebuah senyuman buah hatinya kembali....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Saat mobil yang dikendarai oleh Jonathan mulai memasuki sebuah halaman rumah begitu asri. Terdengar suara isak tangis kencang yang membuat semua orang menoleh. Almeera yang mengenali siapa pemilik suara itu, lekas berjalan dengan pelan. 


Wajahnya diliputi kekhawatiran saat pintu mobil sang kakak dibuka dan terlihat keadaan anaknya yang kacau. Hidung yang memerah, mata begitu bengkak dengan suara serak menandakan jika putrinya itu sudah lama menangis.


"Ada apa, Kak?" tanya Almeera meraih sang putri ke dalam gendongannya.


Jonathan keluar dengan wajah menyesal. Dirinya tahu apa yang dikatakan pada keponakannya terkesan kasar. Namun, bukankah cepat atau lambat Bia pasti akan mengerti dan mengetahui apa yang terjadi antara mama dan papanya.


"Maaf, Meera. Kakak mengatakan pada Bia agar tak mencari papanya lagi," kata Jonathan dengan pelan.


Almeera menghela nafas berat. Inilah yang paling berat menjadi dirinya. Disaat dia ingin lepas, putri keduanya begitu dekat dengan sosok sang papa. 


"Gapapa, Kak. Aku akan membawa Bia masuk," lirihnya yang langsung berbalik dan berjalan ke arah semua keluarga yang menunggu mereka.


"Kenapa Bia menangis, Sayang?" tanya Mama Tari yang berdiri di dekat pintu masuk lalu mengelus kepala cucunya


"Bia mau Papa, Mama. Papa…," kata Bia menatap Mamanya.


Almeera tak menjawab. Dia berjalan memasuki rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya. Suara tangisan Bia tentu semakin terdengar keras di dalam sana. Bocah itu sungguh sangat menginginkan papanya saat ini.


"Sini biar Papa yang gendong, Meera," pinta Darren saat putrinya hanya diam. 


Almeera memberikan putrinya dengan pelan. Kepalanya terasa berdenyut yang membuat matanya reflek terpejam. Tubuhnya hampir oleng, tapi dengan sigap Jonathan menopang tubuh Almeera.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Jonathan sambil mendudukkan adiknya.


"Kepalaku sakit, Kak," keluhnya sambil memijat dahinya yang terasa nyeri.


"Jangan terlalu dipikirkan, Meera. Serahkan semuanya sama Kakak dan Papa," ucap Jonathan yang membuat Almeera berusaha lebih tenang.


Tangisan dan rengekan Bia tetap berlanjut. Bahkan tubuh anak itu meronta meminta turun dan berlari ke arah sang Kakak, Abraham.


"Abang...Abang. Bia mau ketemu Papa. Ayo!" ajaknya menarik tangan sang kakak.


Abraham hanya bisa menatap adiknya dalam diam. Satu tangannya yang ada di belakang tubuhnya sudah terkepal kuat. Jujur dirinya ingin sekali marah. Menumpahkan segala emosi di hadapan sang Papa. Keegoisan yang dilakukan Bara, membuat Bia yang tak tahu apa-apa harus menanggungnya. 


"Abang jahat! Abang gak mau anter adek ketemu Papa," lirih Bia dengan marah lalu berlari ke arah sang Mama.


Almeera, sosok ibu yang paling Bia sayang. Sosok ibu yang begitu lembut kepadanya dan tak pernah menolak apa yang dia inginkan. Bocah itu yakin jika Mamanya akan menuruti keinginannya kali ini.

__ADS_1


"Mama," lirih Bia dengan tatapan memohon. "Ajak Papa kesini, Mama. Bia kangen Papa."


"Apa Bia gak sayang sama, Mama?" tanya Almeera menatap putrinya. 


"Sayang. Bia sayang banget sama, Mama." 


"Kalau Bia sayang sama Mama. Jangan cari Papa lagi, Nak. Papa udah gak sayang sama kita. Papa udah gak peduli sama Bia dan Abraham," ucap Almeera dengan perasaan yang sudah lelah.


Jujur tubuhnya merasa letih dengan beban pikiran yang banyak. Emosinya tentu sedang tak stabil saat ini. Ditambah anaknya yang terus merengek, semakin membuat kepalanya kembali berdenyut hebat.


"Nggak. Mama bohong. Papa sayang sama kita. Papa…."


"Bia!" seru Almeera meninggikan suaranya.


Semua orang tentu terkejut dengan sikap Almeera. Baru kali ini istri dari Bara itu meninggikan suaranya pada sang anak. Bahkan kemarahan yang keluar dari diri Almeera bersamaan dengan air mata yang menetes menandakan jika perempuan itu benar-benar lelah.


Putri dari pasangan Bara dan Almeera tentu gemetaran. Namun, rasa rindunya pada sang papa membuatnya ingin sekali bertemu.


Bia tetaplah Bia. Bocah berumur 4 tahun yang mudah melupakan kesalahan orang tuanya. Dia hanyalah anak kecil yang ingin kasih sayang mama dan papanya. Apalagi, kedekatannya dengan Bara begitu rekat.


"Masuk ke kamar!" 


Bia tak menjawab. Gadis itu berlari ke salah satu pintu yang ada di lantai satu. Bocah itu tak peduli apapun. Dirinya benar-benar takut pada Almeera. Setelah kepergian Bia yang menangis ketakutan. Almeera menyandarkan punggungnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. 


Tak lama, bahunya mulai bergetar yang menandakan bahwa ia menangis.


"Maafkan Mama, Bia. Maaf," lirihnya yang membuat Abraham mendekat dan memeluk mamanya dengan erat. "Maafin Mama, Bang. Mama udah bentak Adek Bia tadi." 


Almeera melepaskan pelukannya. Dia menatap mama, papa, kakak dan kakak iparnya secara bergantian. Untung saja Fadly tak ada disana karena sedang izin keluar. 


"Jangan minta maaf sama, Mama. Bicaralah pada putrimu setelah kamu tenang," kata Tari penuh pengertian. 


Akhirnya Abraham mengantarkan Mamanya ke kamar. Dia menyelimuti tubuh Almeera dan terakhir mencium dahinya dengan lembut. 


"Selamat tidur, Ma. Jangan banyak pikiran. Inget! Ada Abang disini yang selalu ada buat, Mama."


...🌴🌴🌴...


Tak terasa waktu telah berganti malam. Almeera mencoba mencari jam dinding di kamarnya hingga matanya terbelalak saat jarum menunjuk pukul setengah tujuh malam. 


"Ya tuhan, aku hampir seharian tertidur," ucapnya tak percaya.


Perempuan itu sedikit bersyukur saat dirinya sedang kedatangan tamu bulanan. Jadi waktu shalatnya tak terlewati selama dia tertidur. Dengan segera Almeera mencuci wajahnya dan berniat menemui putrinya untuk meminta maaf.


Istri dari Bara itu menyesal. Dia menyadari tak seharusnya membentak Bia yang belum mengerti apapun. Namun, tekanan batin yang dia rasakan akhir-akhir ini, ditambah emosinya yang tak stabil karena menstruasi, membuatnya lepas kontrol. 


"Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Mama Tari saat melihat putrinya turun ke lantai bawah. 

__ADS_1


"Iya, Ma," sahut Almeera sambil mengedarkan pandangan. 


"Kamu cari siapa?"


"Bia," sahut Almeera dengan jujur.


"Putrimu ada di kamar. Dia tak mau keluar meski dibujuk oleh Papa dan putramu." 


Perasaan Almeera semakin menyesal. Dia segera berjalan menuju kamar dimana putrinya berada. Dirinya perlahan mendorong pintu itu dan memasuki kamar yang terlihat terang.


Dia berjalan ke arah ranjang. Hingga suara lirih dari bibir putrinya membuat air matanya menetes tanpa sadar. 


"Papa, Bia kangen," gumam Bia tanpa sadar.


Almeera lekas menaiki ranjang. Matanya terbelalak saat melihat kening anaknya berkeringat dan tubuhnya gelisah. Dengan segera, dia meletakkan punggung tangannya di dahi sang putri untuk mengecek apakah yang dia pikirkan benar atau tidak. 


"Ya Allah. Bia bangun, Nak," kata Almeera panik.


Dia membuka selimut yang membungkus putrinya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan. Almeera menepuk-nepuk pipi Bia agar membuka matanya.


"Bangun, Sayang. Maafin Mama," kata Meera dengan air mata terus mengalir deras. 


"Papa...Papa. Bia kangen." Hanya kata itulah yang keluar dari mulut Bia dengan mata terpejam. 


"Papa, Mama, Kakak!" teriak Almeera saat putrinya tak kunjung membuka mata. 


Sampai suara teriakan Almeera semakin kencang saat dia melihat darah segar keluar hidung Bia.


"Ada apa, Meera? Ada apa, Nak?" tanya semua orang yang berbondong-bondong masuk ke kamar.


"Bia, Papa. Bia…" kata Almeera histeris.


Mata semua orang terbelalak. Darren segera meraih tubuh cucunya dan berlari keluar.


"Siapkan mobil, Nathan! Kita ke rumah sakit."


~Bersambung


Inget yah!


Jadi ibu rumah tangga itu gak mudah. Kalau dia lagi capek, kadang tanpa sadar dia bentak meski gak berniat. Apa lagi kasus yang dilewati Mbak Meera juga gak mudah.


BTW Bia kecil di dunia nyata, sifatnya kayak author. Apa-apa nempel ke bapaknya. Bahkan aku dulu pernah sakit karena dijanjiin Papaku pulang dari kerja tapi gak jadi pulang, hahaha.


Aku yakin dari sekian banyak pembaca, ada yang nemplok ke bapaknya banget, hihi.


Jangan lupa klik like, komen dan vote.

__ADS_1


Follow intagram author kalau mau masuk grup.



__ADS_2