
...Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Baik itu menyakitkan atau tidak, tapi hal itu pasti akan terjadi....
...~Jimmy Harrison...
...🌴🌴🌴...
Suara pintu yang dibuka, membuat semua yang ada di ruangan menoleh. Dengan jelas Bara bisa menatap sosok Narumi yang sedang menatapnya dan tersenyum.Â
"Papa," teriak Bia berlari ke arah Bara.
Tubuh anak lima tahun itu digendong oleh Bara lalu membawanya mendekati sosok Narumi yang terbangun.Â
"Dari mana saja, Mas?" tanya Narumi semanis mungkin.Â
Bara tak menjawab. Pria itu masih diam menatap lekat mantan istrinya.
"Kenapa kamu liatin aku segitunya, Mas?" Narumi merasa gugup.
Mata Bara yang tajam seakan mengorek isi matanya kali ini. Dirinya mulai berpikiran buruk jika Bara sudah mengetahui segala rencananya.Â
"Ada semut di bajumu," kata Bara menunjuk bagian dadanya.Â
Narumi menunduk walau kesusahan. Lalu dia mengambil semut itu menggunakan tangan yang tak diinfus lalu membuangnya.Â
"Makasih, Mas," ucap Narumi dengan tersenyum.
Bara hanya mengangguk lalu dia membawa tubuh anaknya ke hadapan sang istri. Almeera bisa melihat tatapan Bara yang syarat penuh luka. Dia tersenyum tulus dan mengelus pipi itu untuk meredakan hati Bara yang tak tenang.Â
"Maaf," lirih Bara dengan suara sepelan mungkin yang hanya bisa didengar oleh Meera.
Bukannya menjawab. Almeera menarik Bara ke dalam pelukannya. Dia meletakkan kepala Bara di pundaknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Aku banyak salah sama kamu, Yang. Maafin aku," bisik Bara dengan helaan nafas berat.
"Udah aku maafin, Mas."
Almeera melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata yang menetes membasahi pipi Bara dan tersenyum dengan tulus.Â
"Kita pasti bisa melewati semuanya. Demi anak-anak, aku dan keluarga kita," bisik Almeera dengan yakin yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Bara.Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di luar ruangan, Jimmy dengan santai duduk di depan kursi tunggu ruangan Narumi. Pria itu sedang mengerjakan sesuatu dengan laptop yang ada di pangkuannya. Matanya begitu fokus menatap layar menyala hingga tak memperhatikan sekitar.Â
Area depan ruangan Narumi memang sepi. Hanya ada dokter dan sanak keluarga ruang VIP yang boleh berlalu lalang disana. Demi kenyamanan pasien, tentu tak semuanya bisa berjalan, dan berdatangan di koridor ruangan VIP itu.Â
Tanpa Jimmy tahu, ada seorang perempuan tengah membawa kotak makan dan beberapa buku ditangannya hendak berjalan di hadapannya. Dia terlihat begitu kesulitan. Nafasnya terasa berat hingga kakinya yang memakai sepatu heels pun terjatuh.
__ADS_1
"Aww," pekik seorang perempuan dengan buku yang terjatuh berserakan di lantai.
Tangannya memegang dinding untuk menahan tubuhnya agar tak jatuh. Wajahnya terlihat begitu kesakitan di bagian kakinya.
Hal itu tentu membuat Jimmy terkejut. Dia mendongakkan kepalanya dan spontan menutup laptop yang ada dipangkuan dan membawanya mendekati sosok wanita yang sedang menyandarkan punggungnya di dinding.
"Mbak baik-baik aja, kan?" kata Jimmy dengan membantu memunguti buku yang tergeletak di lantai.
Wanita itu mengangguk. Dia mencoba menegakkan tubuhnya tapi sulit. Kakinya terkilir yang membuat Jimmy merasa kasihan.
"Ayo saya bantu duduk, Mbak," ajak Jimmy yang membuat wanita itu mendongak.
"Kaki saya terkilir dan sulit digerakkan," sahutnya dengan wajah meringis dan terlihat begitu menahan sakitnya.Â
"Ayo!" Jimmy menarik tangan wanita itu dan meletakkan di pundaknya.
Lalu dia mulai menopang tubuh itu dan berjalan ke arah kursi yang tadi Jimmy duduki. Dengan pelan dia mendudukkan tubuh wanita itu lalu merendahkan tubuhnya.
"Eh Mas mau ngapain?" kata wanita itu terkejut dan hendak menarik kakinya.
Namun, dengan cepat Jimmy menahannya.Â
"Saya hanya ingin membantu kaki Mbak agar tak sakit," kata Jimmy dengan mendongak.
Dua pasang mata itu saling menatap lekat. Jantung sang wanita berdegup kencang saat menatap mata tajam milik pria itu. Entah kenapa dia merasa gugup dan segera menundukkan kepalanya.
Jimmy perlahan mulai menekan kaki yang terkilir. Dia memijitnya secara perlahan.Â
"Sakit, Mas," lirih wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
Ini sungguh bukan rekayasa. Sakit itu sangat terasa dan membuatnya ingin menangis. Rasanya ingin sekali dia menolak untuk dipijat. Namun, melihat ketulusan di mata pria itu. Dia tak bisa menolak.
"Aww." Dia memekik terkejut.Â
Saat Jimmy tiba-tiba menggerakkan dengan kencang.
"Coba Mbak gerakkan dulu kakinya," ujar Jimmy yang membuat wanita itu mulai menggerakkan ke kanan dan ke kiri.
Lumayan.
Sakitnya tak sesakit yang tadi. Bibirnya tersenyum tulus dan membuat sesuatu berdesir di hati Jimmy.
"Terima kasih, Mas," kata wanita itu dengan wajah bahagia. "Kaki saya sudah lumayan tak sakit."Â
Jimmy mengangguk lalu dia mulai menegakkan tubuhnya.Â
"Ah iya kita belum kenalan," ujar wanita itu dengan ramah. "Kenalkan nama saya, Zelia."Â
Jimmy menatap jabat tangan itu. Jujur baru kali ini, dia berkenalan dengan seorang wanita. Wanita pemilik senyum manis dan tulus, yang membuat Jimmy tak mampu menolaknya.
__ADS_1
Dia menerima jabat tangan itu dengan pelan. "Jimmy."Â
Perlahan jabat tangan itu terlepas. Lalu wanita bernama Zelia mulai mengambil buku-buku yang diletakkan di kursi oleh Jimmy.
"Sekali lagi terima kasih ya, Mas. Saya harus segera mengantar buku ini ke saudara saya," pamit Zelia dengan sopan.
Jimmy mengangguk. Pandangannya tak lepas menatap ke arah Zelia yang berjalan dengan sedikit pincang. Sampai tubuh wanita itu menghilang dari pandangannya barulah Jimmy kembali duduk.
"Manis," ucap Jimmy tanpa sadar dan tersenyum tipis.Â
Tanpa Jimmy tahu, sejak pria itu duduk dan tersenyum sendiri, Almeera yang hendak menemui kakaknya mengurungkan niat. Dia mengintip tingkah laku kakaknya yang aneh.
Sampai saat dirinya tak tahan. Akhirnya Almeera keluar dari ruangan itu tanpa menimbulkan suara.Â
Lagi kasmaran kan dirimu, batin Almeera dengan terkekeh geli.
"Dor!"Â
Jimmy berjingkat kaget. Dia menatap adiknya dengan kesal dan mengelus dadanya. Pria itu benar-benar tak mendengar suara langkah kaki atau memang Jimmy yang tak sadar karena banyak melamun. Entah kenapa senyum manis wanita itu membuat sesuatu mengganjal di hatinya.
"Lagi mikirin apa atuh, Bang?" goda Almeera sambil memainkan alisnya. "Apakah ada jin wanita yang membuatmu terpanah?"Â
Jimmy terkekeh. Dia menyadari jika tingkahnya pasti diketahui oleh adiknya ini.Â
"Berhenti. Jangan menggodaku, Ra."Â
"Ah atau ada janda muda seksi yang lewat dan mengusik mata sucimu, Bang? Yang mana orangnya? Sini biar aku bantu kenalan," kata Almeera makin menjadi.Â
Jimmy tertawa. Sikap gesrek dan gilanya sang adik tentu dari Kakaknya Jonathan. Pria itu juga yang membuat Jimmy sedikit bisa bercanda.Â
"Ayo lah, Bang. Bilang! Kenapa Abang senyum-senyum?" desak Almeera tak sabar.Â
"Mau tau aja apa mau tau banget?" goda Jimmy dengan senyuman genitnya.
"Mau tau aja. Gak dikasih tau juga gak penting," sungut Almeera pura-pura merajuk.
"Uluh-uluh. Pakek ngambek." Jimmy melingkarkan tangannya di bahu sang adik dan menariknya agar lebih mendekat. "Sini aku beritahu!"
Almeera mengangguk. Dia mendekatkan telinganya untuk memudahkan Jimmy yang ingin berbisik.
"Barusan aku bertemu istri orang yang seksi dan menggoda."Â
~Bersambung
Hiyaaa, doyan istri orang ya, Bang? haha kira-kira ada yang bisa menebak cerita Bang Jimmy gak?
Kalau mau tau judulnya, otw story instagram aku yah. Disana ada cover Bang Jim aku pajang.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat updatenya
__ADS_1