
...Tiada hal yang paling membahagiakan kecuali masih diberi kesempatan bisa berkumpul dengan keluarga yang sangat kita cintai....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Ruang kamar yang tertutup itu menjadi saksi bukti Bara menjelaskan semuanya. Dia tak menutupi apapun dari sang istri. Pria itu benar-benar dengan gamblang menceritakan semuanya. Kata talak yang dilafalkan serta kejadian naas itu, tentu membuat Almeera terkejut.Â
"Lalu bagaimana keadaan Narumi sekarang, Mas?"Â
Bara mengedikkan bahunya tak acuh. "Kata Dokter, kita harus menunggu dia sadar, Ra."Â
Almeera memijat dahinya yang berdenyut. Dia tak menyangka jika semuanya menjadi rumit. Namun, perempuan itu merasa sangat lega saat kakak keduanya ada disana. Setidaknya ada saksi mata menurutnya ketika kejadian itu terjadi.Â
"Aku yakin dia baik-baik saja, Mas," kata Almeera menatap suaminya itu.
"Semoga saja," kata Bara dengan lesu.
Pria itu sebenarnya begitu lelah. Namun, bagaimanapun dia harus kembali ke rumah sakit. Tak tega rasanya membiarkan kakak iparnya berjaga sendirian di sana.Â
"Apa kamu menyesal, Mas?"Â
"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Bara balik dengan spontan. "Aku tak menyesal sedikitpun."Â
"Lalu kenapa kamu lesu sekali?"Â
"Aku masih merasa terkejut, Sayang. Bayangkan saja, aku melihat kejadian itu dengan jarak dekat. Aku melihat bagaimana dia dihantam dan terlempar di jalan," kata Bara dengan menatap manik mata istrinya. "Aku merasa takut."
Almeera mengangguk. Dia memilih duduk di samping suaminya dan mengelus kepala itu dengan lembut ketika Bara membaringkannya di atas paha sang istri.
"Aku yakin dia baik-baik saja, Mas. Mantan istrimu itu kuat," kata Almeera sangat yakin.
Melihat bagaimana tekad Narumi dan obsesinya, membuat istri pertama Bara itu yakin jika mantan adik madunya pasti baik-baik saja. Namun, terbesit sedikit di pikiran Almeera bahwa mantan istri suaminya itu benar-benar gila.
Melakukan bunuh diri agar suaminya menyesal, untuk apa?Â
Mereka juga sudah tak ada lagi ikatan di mata agama. Hubungan mereka sudah selesai setelah Bara mengatakan talak.Â
Semoga tak ada permainan lagi yang dilakukan oleh Narumi untuk suamiku, gumamnya dalam diam.
Hingga keheningan yang melanda keduanya mulai terpecah ketika suara anak perempuan berumur 5 tahun memanggil papanya.
"Hey. Ada apa, Sayang?" tanya Bara sambil meraih putrinya di pangkuan.
"Papa darimana saja? Kenapa datangnya telat?" tanya Bia menatap wajah Papanya yang lebih segar.
Ya, tadi Bara izin ke kamar untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Serta dia juga memberikan penjelasan pada istrinya secara langsung. Entah kenapa ayah dari dua anak itu tak mau menunda apapun lagi. Dirinya juga tak ingin menutupi apapun dari Almeera.
"Papa dari rumah sakit. Tante Narumi kecelakaan," kata Bara dengan jujur.
__ADS_1
"Oh. Wanita itu," kata Bia dengan bibir mengerucut ke depan. "Terus janji Papa bagaimana?"
Manik kecil itu menatap sosok papanya dengan penuh harap. Namun, jantung kecilnya berdebar kencang menunggu jawaban sang papa. Dia benar-benar takut jika papanya masih memiliki mama lain untuk dirinya.Â
"Papa sudah menepati janjinya, Sayang." Itu bukan suara Bara. Melainkan Almeera yang mengatakannya.Â
"Beneran?" Mata itu menatap berbinar.Â
Suatu hal yang begitu membahagiakan untuk Bia saat ini. Bibirnya mengulas senyuman lebar menanti kebenaran dari bibir papanya.
"Iya, Sayang. Papa cuma punya Mama, Bia dan Abang sekarang," kata Bara dengan manik mata berkaca-kaca.
Bara benar-benar tak percaya ketika melihat anaknya begitu bahagia dengan berpisahnya dia dan Narumi. Hal itu semakin menyadarkannya bahwa selama ini anak-anaknya lah korban keegoisan terbesar dari dirinya.Â
"Terima kasih, Papa," kata Bia menyadarkan Bara dari lamunannya. "Bia sayang, Papa."Â
Setelah itu bocah lima tahun tersebut mencium kedua pipi sang papa lalu memeluknya. Tak ada kebahagiaan yang besar selain kabar ini. Sungguh Bia merasa sangat bahagia. Dia tak akan memiliki mama baru lagi. Dia tak akan memiliki ibu jahat seperti cerita teman-temannya.Â
"Ayo sekarang ganti baju, cuci muka dan…" jeda Almeera memancing anaknya.
"Tidur."Â
"Bagus." Almeera mencium pipi anaknya.
Namun, sebelum anak itu mengikuti langkah ibunya. Bia menahan dan memegang tangan Bara.
"Papa gak mau tidur sama Bia?"Â
"Papa harus ke rumah sakit, Nak," kata Bara membuat kening Bia berkerut.
"Ngapain?"Â
"Sayang." Akhirnya Almeera memgambil alih.
Dia mensejajarkan tubuhnya hingga ibu dan anak itu saling berhadapan.
"Papa harus nemenin Tante Narumi," kata Almeera penuh kehati-hatian.Â
"Dia sudah besar, 'kan, Ma? Kenapa harus ditemani Papa?" tanya Bia menuntut.
"Mama tau, Nak. Tapi Tante Narumi sedang sakit parah. Jadi, Papa harus kesana nemenin Tante Narumi sama Om Jimmy."Â
"Ada Om juga?"Â
"Iya. Jadi Bia gak perlu khawatir Papa akan nakal. Ada Om Jim yang akan jagain Papa. Okey?"Â
Bia belum menjawab. Dia menatap wajah Papanya yang sedang menatapnya juga. Kepala kecilnya itu mengangguk dan membuat Almeera serta Bara menghembuskan nafas lega.Â
"Besok Bia mau jenguk juga. Boleh?"Â
"Boleh. Besok sama Mama ke rumah sakit."Â
__ADS_1
Bia mengangguk. Dia mencium tangan Papanya dan tersenyum.
"Hati-hati, Papa. Ingat, hanya ada Mama, Abang dan Bia."Â
"Tentu, Sayang."
"Selamat malam, My Princess," ucap Bara sambil memberikan kecup jauh.Â
"Selamat malam juga, Papa."Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain. Lebih tepatnya di sebuah ruangan dengan dominasi cat putih. Terlihat begitu tenang dan nyaman. Hanya ada bunyi mesin EKG yang menunjukkan grafik detak jantung pasien yang ada disana.
Sepasang langkah kaki baru saja memasuki ruangan itu. Sebuah tempat yang dipenuhi beberapa alat di setiap kanan kiri ranjang pasien. Ada beberapa brankar rapi disana. Namun, hanya ada 3 sosok yang terbaring lemah.
Dirinya mulai mendekati salah satunya. Matanya menatap sendu ke arah sosok yang kepalanya dibalut sebuah kasa. Lalu beberapa alat penunjang kehidupan menempel disana. Matanya berair saat dirinya mulai menggenggam tangan wanita itu.Â
"Kenapa kamu begitu egois?" gumamnya dengan meneteskan air mata.Â
Dia menggenggam tangan itu. Punggung tangan yang terbebas dari jarum infus membuatnya bisa dengan leluasa mengelusnya begitu lembut. Melihat sosok yang sangat dia cintai sedang terbaring lemah, tentu membuat sebagian hatinya mati.
Dia menarik nafas begitu dalam saat mendengar langkah kaki mendekati dirinya.
"Dokter Adnan," panggil seorang perawat yang bertugas memantau ruang ICU.Â
"Pasien masih tak menunjukkan reaksi apapun. Kita tunggu sampai dia sadar," kata pria dengan pakaian sneli putih itu.Â
Matanya terus mengarah ke sosok Narumi. Mata yang biasa menatapnya penuh cinta, kini tak lagi terbuka.Â
Bangunlah, Sayang. Jika seperti ini, aku menyesal menyetujui rencanamu, kata Adnan dalam hati dengan helaan nafas berat.Â
"Baik, Dokter."Â
"Apa keluarganya ada disini?"Â
"Iya, Dok. Seorang pria menunggu di depan ruang ICU."Â
"Baiklah."Â
Adnan mulai melangkah menjauh dari brankar Narumi. Dia mulai memeriksa dua pasien lagi yang ada disana. Namun, matanya sesekali menatap Narumi yang terbaring lemah.
Pikirannya benar-benar sedang kacau saat ini. Dirinya sangat amat menyesal jika mengingat permintaan wanita yang sangat ia cintai.Â
Jika kamu pergi meninggalkanku. Aku akan ikut menyusulmu.
~Bersambung
Hmm kira-kira Dokter Adnan menyesal nih kenapa yah?
Ada yang bisa nebak gak? dududu.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Next bab, bakalan ada Mas Ganteng. Siapa hayoo?