Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Reno Khawatir


__ADS_3


...Aku ingin membuktikan pada sosok yang seharusnya menjadi cinta pertamaku. Bahwa aku dan ibu bisa hidup bahagia meski tanpa kehadirannya....


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


"Kumohon, Bu! Kali ini saja. Kali ini ikuti ucapan Deeva. Kita pergi dari sini. Ayah sudah tak menyayangi kita lagi."


Adeeva menatap penuh harap pada ibunya. Nada suaranya memohon agar kali ini permintaannya dikabulkan. 


Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Adeeva mengajak pergi dari rumah ini. Sudah seringkali ia mengajak ibunya pindah. Namun, wanita paruh baya itu masih kekeh dan yakin jika suaminya pasti berubah.


"Apa Adeeva tak bahagia tinggal disini?" tanya ibunya dengan menatap lekat anaknya itu. 


Anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Buah cinta dengan suaminya dan satu-satunya penguat untuk dirinya.


"Iya, Bu. Adeeva tak bahagia," ujarnya dengan jujur.


Biarlah kali ini ia menyerah pada keadaan. Dirinya tak mau berbohong lagi. Menutupi segalanya dari sosok yang melahirkannya di dunia ini. 


"Adeeva gak sanggup sama tingkah Ayah, Bu. Deeva sakit setiap kali melihat Ibu dipukuli." 


Adeeva menunduk. Suaranya serak karena menahan air mata yang mengalir. Namun, sebaik mungkin dia berusaha ternyata tetap kalah dengan kesedihan itu. 


Akhirnya air matanya kembali jatuh. Dirinya menangis dihadapan ibunya setelah sekian lama mencoba menutupinya sendiri. Dia ingin ibunya mengerti apa yang ia rasakan.


Dirinya hanya ingin mengajak ibunya pergi. Mencari kebahagiaan sendiri tanpa sosok yang menyakiti keduanya. 


"Jika kamu tak bahagia maka ibu bersedia pindah," kata Ibu Adeeva dengan yakin.


Matanya memang mengandung banyak kesedihan dan luka. Namun, hatinya semakin sakit jika anak yang ia kandung, ia lahirkan, ia sayang dan timang sendiri merasa tertekan berada di rumah ini. 


Selama ini ia menganggap Adeeva bahagia tinggal disini. Namun, mendengar kejujuran putrinya, mata hati Ibu Adeeva terbuka. Tak ada yang ia beratkan lagi di rumah ini.


Anak yang diutamakan ternyata sama seperti dirinya. Tak bahagia dan malah semakin jatuh terpuruk.


"Ayo kita pindah. Ibu akan ikut kemanapun Adeeva pergi," katanya dengan menatap putrinya penuh sayang. 


Mata Adeeva berbinar. Dia menatap ibunya tak percaya. Kalimat yang sejak dulu ingin dia dengar akhirnya sekarang bisa dia dengar.

__ADS_1


Ternyata mengatakan semuanya dengan jujur. Mencoba bercerita pada ibunya membuat Adeeva tahu jika wanita paruh baya di depannya bertahan di rumah ini karena menganggap dirinya bahagia disini. 


"Ibu beneran, 'kan?" tanya Adeeva memastikan.


"Ya. Ibu serius. Ayo kita merapikan semuanya." 


Akhirnya setelah keduanya sepakat. Mereka segera membereskan semuanya. Memasukkan pakaian dan benda-benda berharga ke dalam tas dan koper. Tak ada yang tahu bagaimana hancurnya hati seorang anak broken home.


Anak yang harus dipaksakan kuat akan keadaan. Anak yang seharusnya masih mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ternyata hanya didapatkan dari sosok ibunya seorang.


Adeeva perlahan berjalan ke sisi ranjang. Ia mengambil sebuah foto bergambar dirinya yang sedang berulang tahun. Namun, di sampingnya hanya ada sosok ibunya seorang diri. 


Bahkan ingatannya masih ingat ketika acara ulang tahun itu baru selesai. Ayahnya datang mengamuk meminta uang pada ibunya. Harapan yang ia kira ayahnya datang untuk mengucapkan selamat. Ternyata ia mendapatkan cacian dan hujatan.


"Mungkin ini sudah takdirku, Tuhan. Hidup berdua dengan ibuku dan mencari kebahagiaan kami bersama-sama." 


Setelah semuanya masuk ke dalam koper dan tasnya. Adeeva menarik resleting itu agar segera ia bawa keluar. Sebelum meninggalkan kamar ini. Adeeva menatap sekeliling.


Mencoba mengingat setiap sudut kamar yang menjadi tempat favoritnya. Tempat dimana ia akan merenung. Menangis dan mendengar cekcok dari bibir ibu dan ayahnya. 


"Selamat tinggal kamarku. Kamar terburuk selama aku hidup disini," katanya lalu mulai keluar dan menutup pintu itu dengan pelan.


"Semua sudah siap, Bu?" tanya Adeeva saat berpapasan dengan ibunya.


Adeeva mulai membawa tas miliknya dan sang ibu lalu memasukkannya ke dalam bagasi secara bergantian. Hidup mandiri membuatnya tak pernah menye-menye atau mencari perhatian pada siapapun. 


Adeeva akan berusaha melakukannya sendiri selagi ia bisa. Dirinya tak mau merepotkan siapapun.


"Ibu," panggilnya saat sosok ibunya tak keluar. 


Dia melihat ibunya sedang memegang sebuah pigura kecil bergambar foto pernikahannya. Foto terakhir yang menampilkan wajah ayah yang tampak bahagia. 


"Ibu," katanya lagi sambil mengelus punggung ibunya.


"Apa Ibu boleh membawa ini?" tanya Ibu Adeeva setelah sadar dari lamunannya. 


"Boleh. Ibu boleh membawa pigura itu. Hanya membawanya tapi tak untuk diingat segala kesakitannya. Ibu paham?" 


"Paham."


Akhirnya mereka segera keluar dari sana. Memasuki mobil milik Adeeva dan menatap sekali lagi bangunan yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama tiga puluh tahun lebih. 

__ADS_1


Selamat tinggal, Ayah. Terima kasih sudah membuatku hadir di dunia ini, ucapnya sebelum mulai menginjakkan gas mobil dan pergi dari sana.


...🌴🌴🌴...


Saat Almeera hendak meneruskan ceritanya pada Reno. Suara deringan ponsel yang ia letakkan di lemari dekat televisi membuatnya segera beranjak. 


Dia mengambil benda pipih itu dan membaca siapa yang menghubunginya. 


"Adeeva," gumamnya lalu segera menggeser panggilan itu agar tersambung.


"Ya. Ada apa, Deeva?" tanya Almeera yang suaranya sangat terdengar ke tempat Reno duduk.


Pria yang mendengar nama wanita yang membuat rasa bersalahnya kembali muncul. Berjalan mendekati Almeera. Dia ingin tahu ada apa wanita galak itu menghubungi istri atasannya. 


"Apa!" pekik Almeera terkejut. "Kamu diusir dari rumah dan sekarang pergi?"


Tubuh Reno mematung. Dia menatap Almeera dengan lekat. Menunggu apa lagi kabar yang terjadi pada wanita yang sudah dia jahili dan membuatnya sakit hati hingga membencinya. 


"Lalu sekarang dimana kamu, Va?" tanya Almeera nada khawatir.


Wanita itu bahkan sampai mondar mandir sambil mendengar semua yang sahabatnya ceritakannya.


"Lebih baik kamu ke rumahku sekarang!" putus Almeera pada akhirnya. "Aku kirim alamatku. Kamu harus kesini sebelum malam. Mengerti?" serunya dengan marah.


Akhirnya panggilan itu terputus. Almeera segera meletakkan ponselnya di atas lemari tv lagi dan berbalik.


"Astagfirullah!" Almeera terkejut bukan main.


Sosok Reno yang tinggi seperti suaminya yang berdiri tepat di belakangnya tentu membuatnya kaget. 


"Kenapa sama Adeeva, Ra?" tanyanya menuntut. "Dia diusir bagaimana?" 


Jujur Reno kali ini khawatir. Di tak peduli apapun. Saat ini rasa bersalahnya kian menaik saat apa yang didengarnya begitu memilukan. 


"Ibunya dipukul lagi. Ayahnya juga mengancam mereka jika tak segera pergi dari rumahnya," kata Almeera dengan wajah menunduk.


Perempuan itu menghela nafas berat sambil menepis air mata yang turun. 


"Itu semua kebenaran, Ren. Apa yang terjadi pada sahabatku benar-benar tragis. Jika kamu memang ingin dekat dengannya, rubahlah sikapmu yang tak acuh dan egois itu."


~Bersambung

__ADS_1


Kira-kira Bang Reno mau berubah gak yah?


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.


__ADS_2