
...Aku merasa sangat malu pada kesalahanku selama ini. Sebanyak apapun salahku ternyata mereka tak pernah menjauhiku....
...~Narumi Alkhansa...
...🌴🌴🌴...
Belum selesai pengacara itu melanjutkan perkataannya. Benda pipih itu sudah terjatuh ke lantai. Suaranya tentu membuat Bara yang baru saja menanggalkan kaosnya lekas keluar.
Dia menatap istrinya yang terlihat begitu tegang. Matanya berkaca-kaca entah apa penyebabnya. Kemudian Bara melihat ponselnya yang jatuh dengan keadaan terbalik.
Dia tak memperdulikan benda canggih itu. Bara mendekat dan menarik tangan istrinya hingga Almeera tersadar.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tegang sekali?" tanya Bara yang merasakan dinginnya telapak tangan istrinya.
Wajahnya menatap khawatir. Dirinya takut jika istrinya kelelahan atau sedang sakit.
"Itu, Mas…" Almeera terbata.
Dia berusaha menelan ludahnya paksa lalu menghirup nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Dirinya benar-benar begitu kacau kali ini.
Sebuah kalimat yang diberitahukan oleh pengacara sang suami tentu membuatnya kepikiran pada mantan istri kedua suaminya. Dia benar-benar sudah memaafkan Narumi. Bahkan tak ada dendam sedikitpun untuk wanita itu.Â
Menurutnya, sebagai seorang manusia ia tak berhak menghakimi. Almeera hanya yakin, apa yang dilakukan di dunia maka pasti ada hukumannya.Â
"Sayang, jelaskan," pinta Bara menarik kedua bahu istrinya. "Ada apa?"Â
"Narumi dibawa ke rumah sakit," kata Almeera menatap suaminya.
Bara yang mendengar segera melepaskan cengkraman tangannya. Pandangan yang mulanya khawatir mulai berubah biasa saja. Dia tak habis pikir dengan istrinya yang masih sangat baik pada Narumi. Padahal gara-gara wanita itu dan dirinya, Almeera sering menangis.Â
"Mas," panggil Almeera ketika Bara abai.
"Jangan bahas dia lagi!" kata Bara dengan tegas. "Bukankah Mas sudah bilang, jangan pernah membahas wanita itu? Â
"Dengarkan aku dulu, Sayang," pinta Almeera yang membuat Bara tak menggubris.
Pria itu lekas berbalik dan hendak memasuki kamar mandi. Namun, dengan cepat Almeera menahan tangannya sehingga pria itu menghentikan langkahnya.
"Aku tak mau mendengar apapun!" seru Bara sebelum Almeera menjelaskan.
"Mas!" seru Almeera mulai kehabisan kesabaran.
__ADS_1
Dia hanya ingin suaminya sedikit memiliki simpati pada Narumi. Bahkan disaat wanita itu ada di titik terendahnya seperti sekarang ini. Dia sangat tahu bagaimana perasaan mantan madunya itu. Â
Narumi sendirian disini. Dia tak memiliki keluarga lalu sekarang hidupnya luntang lantung. Kakinya tak ada dan kedua matanya buta. Benar-benar hal yang sangat menyakitkan untuknya.Â
"Jangan bersikap keras kepala dan berhati batu, Mas," ucap Almeera menarik lengannya agar mereka berdua berhadapan.Â
"Aku tak mau ada dia lagi diantara kita, Sayang. Aku tak mau menemui wanita itu lagi."Â
"Apa karena kamu takut hatimu kembali goyah, hem?" tanya Almeera dengan berani.
"Apa maksudmu?" tanya Bara mengerutkan alisnya.Â
"Apa Mas takut jatuh cinta lagi jika kita berdekatan dengannya?" seru Almeera penuh curiga.
"Kenapa kamu mencurigai, Mas?" tanya Bara dengan serius.
"Tentu saja aku curiga," sahut Almeera dengan yakin. "Kalau Mas Bara udah gak ada rasa, kenapa harus takut untuk menemuinya!"Â
"Mas hanya trauma melihat dirinya. Menatapnya mengingatkan Mas ketika dulu menyakitimu begitu dalam," ucap Bara dengan jujur.Â
Tak ada perasaan apapun lagi untuk Narumi maupun wanita manapun. Tak ada lagi cinta selain untuk Almeera dan dua anaknya. Bara benar-benar sudah berubah sekarang.Â
Jika dia tak ingin bertemu itu hanya hatinya yang tak sanggup untuk tidak meledak di tempat. Entah kenapa melihat wajah wanita ular itu, rasa marah, benci dan kesal ingin dia lampiaskan dengan memukul wajah Narumi secara langsung.Â
"Apa Mas tau, kenapa Narumi dibawa ke rumah sakit?" tanya Almeera menatap Bara dengan serius.Â
"Narumi bunuh diri, Mas. Dia bunuh diri!"Â
Tak ada keterkejutan apapun di wajah Bara. Bahkan pria itu hanya ber'oh ria saat mendengar penjelasan istrinya. Bara benar-benar tak menyimpan perasaan apapun untuk Narumi. Dia sudah sangat menyesal dan ingin bertaubat agar bisa hidup dengan istri dan kedua anaknya dengan damai.Â
"Lalu apa hubungannya dengan kita?" tanya Bara menaikkan alisnya.Â
Sumpah demi apapun! Saat ini ekspresi pria itu benar-benar menyebalkan. Tak ada ekspresi khawatir dan takut. Bara benar-benar biasa saja mendengar kabar dari rumah kakaknya.Â
"Ya ada, Mas. Dia sudah kuanggap seperti saudara sendiri," ujar Almeera menjelaskan.Â
"Nggak ada saudara langsung besar, Ra. Jangan mencoba mendekati pengobar api tersebut," ucap Bara dengan yakin.
"Mas. Jangan pernah menilai seseorang dari masa lalunya," nasehat Mbak Almeera semakin mengena di dalam hati para suaminya. "Kita tak berhak mengatakan itu pada siapapun."
Almeera tak suka akan ucapan suaminya. Seakan mereka manusia paling suci yang tak memiliki dosa. Padahal antara dosa atau tidak, tak ada yang bisa tau.Â
"Maaf," sahut Bara dengan pelan.Â
__ADS_1
"Sama-sama, Mas," sahut Almeera dengan lembut. "Seorang manusia adalah tempatnya salah. Sebagai makhluk yang sama, kita hanya bisa mendoakan mereka agar bisa segera menjemput hidayahnya."Â
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah bujuk rayuan yang Almeera berikan. Bara mau mengantarkannya kepada Narumi. Bahkan dia juga bertekad tak memakai jasa supir karena menurutnya Almeera tak akan lama di rumah sakit.
Perlahan kendaraan itu memasuki parkiran. Keduanya segera keluar dan berjalan beriringan. Dengan romantis, Almeera melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Dia mengelus lengan Bara dan memberikan senyuman yang terbaik.Â
"Lapangkanlah hatimu, Mas. Saling memaafkan membuatmu lebih tenang," kata Almeera dengan lembut.
Bara tak menjawab. Namun, pria itu hanya menatap wajah istrinya dalam diam.
Setelah bertanya dimana ruangan Narumi berada. Disinilah keduanya berdiri bersamaan. Di depan sebuah pintu yang mereka tahu adalah ruangan Narumi.
Namun, saat mereka hendak masuk ke dalam. Sebuah teriakan membuat keduanya saling pandang. Mereka sangat tahu suara siapa itu. Suara yang sangat amat familiar.
Almeera yang tak tahan akhirnya segera masuk. Matanya terbelalak saat melihat Narumi yang meronta ingin mencabut infusnya sendiri dan sedang dihalangi oleh seorang perawat.
"Jangan, Mbak. Jangan dilepaskan!" kata perawat itu mencoba bertahan.
"Lepaskan aku! Kenapa kalian menolongku. Biarkan aku mati! Aku ingin menyusul ibuku," teriak Narumi dengan histeris.Â
Jantung Almeera berdenyut sakit. Dia merasa tersentuh saat mendengar kata 'menyusul ibu' dari mulut mantan adik madunya.
Tanpa kata, Almeera segera berlari mendekat dan menahan tangan Narumi.
"Rumi!"Â
Tubuh wanita itu menegang. Dia menatap ke kanan dan kiri mencoba mencari sumber suara yang sangat dia hafal.Â
"Pergi!"Â
"Jangan sakiti dirimu sendiri, Rumi," ucap Almeera yang membuat Narumi tak lagi memberontak. "Apa kamu tak merasa sakit?"Â
"Tau apa kau tentangku?" bentak Narumi dengan suara seraknya menahan tangis.
"Aku tau kau butuh teman cerita, Rumi. Aku tau kau sedang kesepian, 'kan?" jeda Almeera dengan mata berkaca-kaca. "Jangan bertindak bodoh hanya untuk menarik simpati orang."
"Aku tak butuh ceramahmu!" ketus Narumi sambil menutupi kedua telinganya.Â
"Jika kau ingin bunuh diri, pastikan bahwa usahamu harus berhasil dan kau mati," kata Almeera dengan kejamnya. "Jika seperti sekarang? Apa yang kau dapat dari bunuh dirimu itu? Hanya rasa sakit. Rasa sakit yang kau buat sendiri."Â
~Bersambung
__ADS_1
Huaa Mbak Meera bener. Kalau bunuh diri usahakan langsung koid. Biar sakitnya gak bayak sekali.
jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.