
...Harta tak bisa selalu membuat tenang. Terkadang hanya dengan melihat keluarga kita bahagia. Rasa tenang itu muncul dengan sendirinya. ...
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
"Sayang, nanti perut kamu begah, lo!" nasehat Bara yang kesekian kalinya.
Ayah dua anak itu hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat bagaimana istrinya mencicipi satu persatu makanan yang tersedia di sana.
Yang paling mengejutkannya lagi! Almeera seperti manusia yang tak pernah makan. Begitu kalap hingga tak memperdulikan sekitarnya.
"Ini enak loh, Mas," ujarnya saat baru saja selesai menelan makanan dalam mulutnya. "Mas harus cobain!"
Almeera menyodorkan makanan yang ternyata sebuah nugget ayam di depan mulut Bara. Namun, pria itu lekas menolaknya.
"Perutku sudah kenyang," tolan Bara apa adanya.
Bayangkan saja! Setiap Almeera mengambil makanan, Bara wajib ikut memakannya yang membuat pria itu sudah kenyang terlebih dahulu.
"Ayolah, Mas! Sekali lagi," rengeknya begitu manja.
Jika sudah memakai jurus seperti ini. Bara tak bisa menolak. Akhirnya pria itu segera membuka mulutnya dan menggigit nugget itu begitu sedikit.
"Dikit banget sih!" omel Almeera kepada suaminya.
"Perutku benar-benar ingin meledak rasanya, Sayang," bujuk Bara sambil memeluk perut Almeera.
"Baiklah. Untuk kali ini aku maafkan," ucap Almeera lalu melanjutkan makannya.
"Siap, Bu Bos," sahut Bara lalu mencium pipi istrinya.
Tak lama, terlihat sepasang suami istri mendekat ke arah mereka. Melihat siapa orang itu, membuat Bara tersenyum dan menerima jabat tangan rekan kerjanya.
"Apa kabar, Pak Manggala?" tanya Bara begitu sopan.
"Saya baik, Pak Bara. Anda sendiri bagaimana? Sepertinya sudah lama sekali kita tak bertemu," ucap Manggala dengan jujur.
Hubungan keduanya memang sangat dekat. Kerjasama dengan untung yang begitu adil. Membuat pertemanan mereka begitu terlihat harmonis.
"Iya. Terakhir kita bertemu saat tanda tangan berakhirnya kerja sama kita, Pak. Setelah itu ya kita sibuk dengan kesibukan masing-masing."
Manggala tertawa. Namun, dia tak menyangkal bahwa apa yang dikatakan oleh Bara memang benar.
"Oh saya hampir lupa. Kenalkan ini istri saya, Almeera," ujar Bara mengenalkan.
"Saya sudah banyak melihat potret istri Anda juga di majalah bisnis. Suami dan istri benar-benar menginspirasi sekali."
Almeera tersenyum. Dia merasa lucu dengan perkataan Manggala. Jika pria itu tahu alasan ia dulu bekerja kembali karena untuk mengalihkan masalahnya, pasti dia tak akan mengatakan hal seperti itu.
"Terima kasih, Tuan. Tapi istri Anda juga benar-benar luar biasa," puji Almeera yang membuat Manggala tertawa.
__ADS_1
"Ini Isvara."
"Halo, Almeera. Salam kenal," sapa Isvara begitu sopan.
"Hai. Semoga kita bisa berteman," ujar Almeera dengan apa adanya.
"Tentu. Saya sangat susah mendapatkan teman di dunia bisnis suamiku," curhat Isvara pada Almeera.
"Itu sudah menjadi hal biasa, No…"
"Panggil aja Isvara," sela istri Manggala dengan pandangan intens.
Entah kenapa melihat pandangan Isvara kepada Almeera membuat ibu dua anak itu merasa risih. Tatapan itu akan sangat berbeda dengan tatapan wanita pada umumnya.
"Iya, Isvara. Hal seperti itu banyak sekali terjadi pada istri seorang pebisnis."
Almeera yang merasa tak nyaman akhirnya segera berbisik pada suaminya.
"Aku izin ke Zelia dulu ya, Mas," pamit Meera yang membuat Bara mengangguk.
"Saya pamit dulu ya, Tuan Manggala dan Isvara. Saya ingin ke sahabat saya yang baru datang," ujarnya saat melihat Zelia telah hadir.
Hah Almeera bisa menghela nafas lega. Seakan kehadiran Zelia menjadi penyelamatnya. Entah kenapa Isvara seperti perempuan aneh menurut Almeera.
Perempuan itu menatapnya seperti pandangan pria ke wanitanya. Begitu berarti dan mendalam yang membuat istri Bara ingin kabur.
"Aaa, hai, Sayangku," pekik Zelia begitu histeris.
"Bagaimana kabar Tante?"
"Mama udah mendingan. Ini aja aku titipin ke suster takut Mama cariin aku lagi," ujar Zelia apa adanya.
"Tante sakit apa?"
"Darahnya naik," ujar Zelia begitu lesu. "Entah apa yang dipikirkan oleh Mama."
"Tenanglah. Mamamu mungkin sedang ada masalah. Bisa 'kan?"
"Ya bisa tapi semua kebutuhan belanja atau materi sudah dipenuhi oleh Papa. Lalu apa lagi yang dipikirkan oleh mama?" tanya Zelia dengan bingung.
Jujur hal itu sejak kemarin yang terus berputar di otak Zelia. Apa yang memang menjadi beban pikiran mamanya sampai darahnya naik setinggi itu. Keluarga bahagia mereka punya. Kasih sayang, papanya sangat setia pada mamanya.
"Kau tau?" kata Almeera sambil menggengam tangan sahabatnya. "Sebagai orang tua terkadang pikiran bukan cuma tentang uang, materi atau cinta."
Zelia diam. Dia menunggu sahabatnya melanjutkan perkatannya.
"Pikiran orang tua tiap malem bercabang. Apalagi kalau udah punya anak. Nanti mereka mikir, kalau anakku udah dewasa gimana? Kalau mereka begini, begitu gimana yah?"
Tanpa anak sadari, orang tua selalu memikirkan anak-anaknya. Lebih tepatnya mereka mengkhawatirkan nasibnya jauh berbeda dengan kehidupan mereka.
Zelia tertegun. Dia merasa tertohok oleh ucapan sahabatnya. Hingga pikirannya kembali melayang pada percakapannya dengan mamanya kemarin.
"Apa kamu yakin, Jimmy serius sama kamu?" tanya Mama Zelia dengan mengelus kepala Zelia yang tertidur di pangkuannya.
__ADS_1
"Aku yakin, Mama. Dia sekarang sedang menyelesaikan tugas agar bisa segera keluar dari dunia kerjanya," kata Zelia meyakinkan.
Mama Zelia mengangguk. Namun, dari raut wajahnya sepertinya wanita paruh baya itu tak puas dengan jawaban putrinya.
"Jika hubungan kalian tak ada keputusan akhir atau mau dibawa ke jenjang yang serius. Lebih baik pikirkan matang-matang," nasehat Mamanya yang membuat Zelia mengerutkan keningnya.
"Apa Mama tak setuju pada hubungan kami?" tanya Zelia dengan takut.
"Bukan seperti itu." Mama Zelia menggeleng. "Mama hanya takut kalian berdua hanya sedang menjaga jodoh orang."
"Lebih baik Mama doakan saja hubungan kami yah. Semoga Kak Jimmy segera menyelesaikan pekerjaannya."
Apa Mama memikirkan hubunganku dengan Kak Jimmy? Atau Mama memikirkan nasibku yang belum tau akan berakhir apa hubunganku kali ini? Gumamnya dalam hati.
"Lia!"
"Hah, yah?" Zelia terkejut.
Lamunannya langsung buyar ketika dia merasakan pukulan di pundaknya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Itu, 'kan hanya tebakanku saja," ujar Almeera yang membuat Zelia tersenyum dengan sangat dipaksakan. "Lebih baik kita makan aja. Gimana?"
Zelia langsung tertawa saat melihat tingkah sahabat di depannya ini. Baru saja Almeera bersikap begitu bijak. Lalu sekarang dia mengajaknya makan.
"Baiklah ayo!"
Akhirnya Zelia dan Almeera mulai mendekati stand makanan. Jika tadi Meera makan hanya menyemili satu-satu. Sekarang ia mengambil sepiring nasi dan lauk pauk. Makanan utama mulai dia ambil hingga membuat Zelia melongo.
"Kamu lagi khilaf apa gimana, Ra?" tanya Zelia begitu tercengang.
"Aku lagi lapar, yaelah!"
"Lapar?" cicit Zelia tak percaya. "Jika itu mah bukan lapar tapi kamu doyan makan."
Almeera mencebik. Dia menggembungkan pipinya tak terima di hina oleh sahabatnya.
"Utut utur. Ayang aku!" bujuk Zelia mengusap kedua pipi Meera setelah meletakkan piringnya sementara di atas meja. "Sahabat aku gak boleh ngambek."
"Berarti aku boleh makan, 'kan?"
"Iya boleh. Untukmu semua boleh dimakan," ujar Zelia dengan antusias yang membuat kedua sahabat itu saling tertawa.
"Kali ini walau aku gendut. Mas Bara gak bakal berani selingkuh," ucap Almeera dengan jujur.
"Ya jelas lah! Dia mau bangunin macan gitu. Bisa-bisa senjatanya kamu potong kalau dia macam-macam."
~Bersambung
Ku kasih clue lagi tuh tentang Manggala dan Isvara. Kalau yang baca teliti pasti ngeh, haha.
BTW Mbak Meera sekarang meski gendut, Mas Bara gak bakal aneh-aneh. Dah takut!
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
__ADS_1