Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Welcome Baby Girl


__ADS_3


...Akhirnya setelah kami menunggu terlalu lama, berjuang dengan sekuat tenaga dan pasrah pada takdir Tuhan. Tepat hari ini, Tuhan memberikan kebesaraannya. Buah hati yang sangat kita nanti akhirnya terlahir dengan selamat....


...~Jonathan Harrison...


...🌴🌴🌴...


"Bagaimana keadaan Kak Kayla, Ma?" tanya Almeera pada mamanya. 


"Dokter mulai membantu proses persalinan kakak iparmu, Nak. Doakan Kak Kayla dan calon keponakanmu," ucap Mama Tari dengan wajah yang tak bisa menutupi kekhawatirannya. 


Bagaimanapun sosok Kayla sudah seperti anak kandungnya. Dulu saat Kayla belum hamil, baik Mama Tari maupun Papa Darren tak pernah menuntut apapun. Keduanya bahkan dengan sabar menemani rumah tangga Jonathan dan Kayla sampai berada di titik ini. 


Ketika Jonathan dan Kayla hampir menyerah. Papa Darren dan Mama Tari yang menguatkan keduanya. 


"Meera pasti do'ain, semoga mereka semua selamat, Ma."


"Aamiin." 


"Kamu duduk aja, Sayang," ucap Papa Darren menuntun putrinya duduk. 


Dia sangat tahu jika Almeera paling tak bisa berdiri berlama-lama ketika hamil. Perempuan itu mudah sekali merasa lelah pada bagian pinggang dan punggungnya.


"Jangan khawatir, Papa. Meera yakin cucu dan putri papa itu pasti baik-baik saja," ujar Almeera dengan tulus. 


Papa Darren mengangguk. Semua anak-anaknya tak pernah ada yang iri pada Bara maupun Kayla. Dua menantu dari keluarga Harrison itu sudah dianggap seperti anak sendiri. 


Ketika mereka salah. Maka Papa Darren dan Mama Tari sama-sama menasehati seperti putri dan putra mereka sendiri. Tak ada hal yang bisa membedakan di antara mereka. 


Sikap dan sifat Mama Tari serta Papa Darren yang memang ramah dan bijaksana. Membuatnya sangat disukai oleh banyak orang. 


"Papa hanya takut Kakakmu shock di dalam, Sayang," sahut Papa Darren apa adanya. 


"Jadi Kakak ikut masuk?" 


"Iya. Semoga dia gak pingsan aja, kalau liat banyak darah," bisik Papa Darren yang membuat Almeera terkekeh. 


"Kalau sampai Kak Jo pingsan. Meera bakalan ketawa puas, Papa!"


...🌴🌴🌴...


Di dalam ruang bersalin. Terlihat Kayla sedang menggenggam tangan Jonathan dengan kuat. Wanita itu sudah berkeringat hebat. Sakit di perut dan punggungnya sangat amat kentara hingga membuatnya mengalihkan dengan mengucapkan istigfar dan menyebut nama Allah dalam setiap nafasnya.


"Yang kuat, Sayang. Aku yakin kamu bisa!" bisik Jonathan dengan mengusap kepala istrinya itu.


Dia menghapus keringat yang membasahi dahi istrinya. Perjuangan yang dilakukan Kayla tentu membuat hati Jonathan tercubit.

__ADS_1


Sekuat itukah seorang perempuan dengan berani mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan keturunan mereka. Melihat bagaimana kuatnya mereka menahan sakit. Membuat Jonathan berpikir, bagaimana bisa masih banyak pria yang menyakiti seorang wanita.


Bagaimana mereka tak pernah terpikir bahwa para pria juga lahir dari diri seorang perempuan. Dari perempuan juga mereka bisa melihat bagaimana fananya dunia ini. 


"Bagaimana, Sus?" tanya dokter yang sudah mendekati posisi Kayla.


"Kepala bayi sudah terlihat, Dok." 


Dokter itu mengangguk. Dia mulai mengukur dengan memasukkan jarinya dan waktunya sudah tiba. 


"Jangan mengejan dulu ya, Bu. Jika saya sudah memberikan instruksi. Baru Anda boleh mengejan," kata Dokter menjelaskan. 


"Baik, Dok." 


Kayla mulai melihat kakinya diangkat dan dilebarkan. Dia juga mulai merasakan sakit seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari inti tubuhnya.


Saat sakit itu datang lagi dan suara dokter yang menyuruhnya mengejan. Ia mulai mencengkram tangan Jonathan dan bersamaan dengan suaranya yang mulai berusaha mengejan. 


"Sakit, Sayang!" bisik Kayla saat Jonatan menciumi wajahnya. 


"Kamu pasti bisa, Kaylaku. Aku yakin itu," bisik Jonathan sambil meneteskan air mata. 


Dia benar-benar tak tega dengan perjuangan istrinya. Bahkan wajah Kayla sudah begitu memerah yang menandakan jika ia menahan sakit yang amat luar biasa. 


"Eughhhh!" jerit Almeera setelah menghirup udara begitu banyak. 


Kayla merasa mulai kelelahan. Nafasnya memberat dan dia ingin tidur. Sampai saat dirinya hampir memejamkan matanya. Sebuah tetesan air mata di wajahnya dengan bisikan nama-nama Allah membuat sesuatu dalam dirinya mulai bersemangat.


"Kamu bisa, Sayang. Ya Allah, berilah istriku kekuatan!" 


Kayla mulai membuka matanya. Dia menatap wajah Jonathan yang ternyata sedang menatapnya balik. Bisa dia lihat suaminya benar-benar menangis.


Mata dan hidung Jonathan memerah sampai membuat hatinya tersentil. Dia tak boleh menyerah. Ada sosok suami dan dirinya yang menanti kehadiran anak yang ada dalam perutnya ini. 


Sosok malaikat kecil yang sangat dinanti keduanya harus bisa ia keluarkan dengan selamat. Harapan banyak orang ada dalam dirinya. Baik suaminya, mertuanya, adik iparnya pasti sama-sama menanti kehadiran anak mereka. 


"Jangan menangis, Sayang. Aku akan mengeluarkan anak kita dengan selamat." 


"Ayo, Bu! Sekali lagi," kata Dokter dengan memberikan semangat.


"Ridhoi aku, Sayang." 


"Aku meridhoi setiap langkahmu, Kayla. Kamu adalah istri sholehah dan aku sangat mencintaimu." 


Setelah perkataan Jonathan berakhir. Kayla mulai mengambil napas sekuat mungkin. Setelah ia dia mulai mengejan kembali dengan suara teriakan yang lumayan nyaring hingga tak lama suara tangis bayi begitu kencang mulai memenuhi ruangan itu. 


Kayla menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Di menangis haru tatlala telinganya menangkap suara khas bayi itu. Jonathan juga tak kalah terharunya.

__ADS_1


Dia menjatuhkan banyak kecupan di wajah Kayla dengan mengatakan kalimat-kalimat manis.


"Anak kita, Mas!" kata Kayla saat dokter meletakkan bayi mereka di atas dada Kayla. 


"Bayinya perempuan, Bu. Sangat cantik," kata dokter saat bibir bayi mungil itu mencari sumber minumnya.


Kayla mencoba menatap wajah putrinya. Rambut yang tebal begitu hitam. Kulit putih kemerahan dengan tangan lentik membuatnya begitu menggemaskan.


"Masya allah. Dia cantik sepertimu, Sayang," kata Jonathan sambil menatap anaknya yang sedang berusaha mencari puncak asinya.


Hingga akhirnya perjuangan itu berakhir. Bayi mungil itu berhasil meraup puncak dada Kayla dan mulai menyesap asi yang dihasilkan.


"Dia lucu sekali, Sayang," kata Jonathan mengusap pipi putrinya. "Bibirnya begitu lahap." 


"Iya. Dia pasti sangat haus." 


Kedua pasangan orang tua baru itu saling menatap bayi mereka dengan pasangan yang tak bisa dijabarkan. Rasa bahagia, bersyukur dan senang saling bercampur aduk.


Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan untuk keduanya. Hari dimana mereka sangat menanti kehadiran bayi mungil di antara mereka. Walau Jonathan mengatakan meski Kayla tak bisa memberikan keturunan. Dia tak mempermasalahkannya. 


Jonathan selalu bilang. Anak itu hadiah. Anak itu bonus. Pernikahan yang benar tak melulu perihal keturunan. Namun, pernikahan adalah ibadah terpanjang keduanya.


Bila Allah tak bisa memberikan keturunan dari perut istrinya. Maka mereka masih bisa mengambil anak angkat. Itulah pemikiran dewasa dari seorang Jonathan Harrison. 


"Kami bersihkan dulu bayinya ya, Bu," kata seorang suster yang mulai mengambil bayi itu dari atas dada Kayla.


Suara tangisan mulai terdengar kembali hingga membuat Jonathan geleng-geleng kepala. 


"Dia rakus sekali, Sayang. Barusan udah tenang sambil minum. Dilepas nangis lagi. Bener-bener maruk, aww." 


Kayla mencubit perut suaminya. Jonathan benar-benar sangat gila. Anaknya sendiri dibilang maruk.


"Apa kamu gak ngaca? Kamu juga kemaruk kalau udah minum ini," seru Kayla melirik tempat dimana asi milik anaknya keluar.


"Ya harus, Sayang. Ini, 'kan punya aku!" 


"Sudah bukan punya kamu lagi. Ini punya putri kita!" kata Kayla meralat.


"No! Ini masih punya aku. Putri kita hanya minum ketika dia haus saja. Kalau aku bisa setiap saat." 


"Astaga. Dasar, Bapak Gila! Gak mau ngalah sama anak sendiri." 


~Bersambung


Ya ya, gimana yah. Gak adiknya gak kakaknya pada sengklek otaknya. Kebanyakan tanya sama Mas Bar sih, haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2