
...Aku tak menyangka jika ditempatkan bersama seorang wanita yang menurutku pasti akam membuat kesusahan....
...~Reno Akmal alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
Sinar matahari mulai muncul dari ufuk timur. Angin pagi menyelinap menerobos masuk melalui celah jendela kaca. Udara dingin nan menusuk itu membuat tidur seorang perempuan merasa terganggu.
Perlahan bibirnya menguap lebar. Dia menggosok kedua matanya dan mulai menarik otot tangannya ke atas. Perempuan itu lekas mendudukkan dirinya dan bersandar di ranjang.Â
Matanya menatap ke seluruh kamarnya dengan nyawa yang masih belum berkumpul. Dia adalah, Adeeva. Sosok perempuan yang bekerja sebagai asisten dari Jonathan terlihat begitu cantik walau dalam kondisi baru saja bangun dari tidurnya.
Dirinya menarik nafasnya begitu dalam lalu dihembuskan. Setelah itu, Adeeva segera meraih air mineral untuk diteguknya membasahi tenggorokan. Sambil menikmati air putih, dia juga meraih ponselnya.
Menggeser layar itu hingga matanya terfokus akan pesan yang ada di pop up layar ponselnya. Sebuah nama yang sangat familiar membuat Adeeva tanpa berpikir panjang segera menekan layar pesan tersebut.
"Apa!" pekik Adeeva terkejut.
Mata wanita itu terbelalak. Dia segera meletakkan gelas kaca itu lalu melakukan panggilan penting kepada orang yang mengirimkannya pesan.
"Selamat pagi, Pak. Maaf saya mengganggu waktu Anda pagi-pagi sekali," kata Adeeva memulai.
"Tidak apa-apa, Deeva. Kenapa?"Â
"Kenapa saya harus ke perusahaan Pak Bara? Apa saya ada pekerjaan disana?" tanya Adeeva dengan penasaran.
"Ya. Untuk sementara kamu bantu suami Almeera, 'yah! sahut Jonathan dengan suara santai. "Mereka membutuhkan bantuanmu."
"Hah?" Adeeva membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa wanita itu bekerja di perusahaan suami sahabatnya sendiri.
"Tapi…"
"Ini adalah perintah dari saya. Tidak ada penolakan!"Â
Setelah itu panggilan segera terputus. Adeeva mendengus kesal sambil melempar benda pipih itu di sisi ranjang yang lain. Jujur dirinya sudah sangat nyaman bekerja di perusahaan Almeera. Namun, mendengar ucapan Jonathan. Mau tak mau ia harus mau.
"Baiklah. Tenanglah, Deeva! Kamu pasti bisa, melakukan yang terbaik!" doanya dengan mengepalkan kedua tangannya di depan.Â
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
Akhirnya setelah melawan kemacetan di hari yang sangat ramai dan sibuk ini, Adeeva mulai menginjakkan kakinya di pelataran perusahaan milik Bara. Wanita itu segera menuju ke resepsionis dan memberikan tanda pengenalnya.Â
Kedua wanita yang berjaga itu sudah mengetahui kedatangan Adeeva dari bosnya, Gibran Bara Alkahfi. Akhirnya mereka segera menyuruh sahabat Almeera itu masuk dan menemui Bara di ruangannya.
Dengan langkah lebar, Adeeva mulai memasuki pintu lift yang terbuka. Namun, saat tangannya mulai menekan tombol lift, sebuah tangan kekar menahan pintu itu agar tak tertutup.
"Tunggu!"Â
Dua pasang mata itu tanpa sadar saling menatap. Seakan keduanya sedang menyelami manik antara satu dengan yang lain sampai pandangan itu terputus ketika mendengar suara dua orang karyawan yang berjalan di depan lift.Â
"Permisi," kata pria itu yang membuat Adeeva mengangguk.Â
Tak ada pembicaraan apapun di dalam lift. Bahkan kedua orang itu saling memandang ke depan dengan mulut yang terkunci. Hingga suara pintu lift yang terbuka, membuat keduanya spontan menoleh.
"Silahkan!" kata pria itu yang membuat Adeeva mengangguk.Â
"Terima kasih."Â
Adeeva berjalan lebih dulu. Matanya menatap ke sekeliling mencari seseorang yang mungkin dia kenal. Pergerakannya tentu saja membuat pria yang berjalan di belakangnya mulai menerka-nerka.
Apa jangan-jangan wanita ini adalah…. Gumamnya dalam hati hingga suara pria yang sangat dia kenal memanggil nama wanita itu.
"Kamu sudah sampai, Deeva?"Â
"Kamu baru sampai juga, Ren?"Â
Adeeva spontan menoleh. Menatap sosok pria yang satu lift dengannya.Â
"Ah baiklah, pumpung kalian berdua disini. Aku akan mengenalkan kalian berdua," jeda Bara yang membuat Adeeva dan Reno saling menatap walau sesaat.
"Ren, ini Adeeva, asisten Kak Jonathan. Dia akan menjadi partner kerjamu beberapa hari ke depan," kata Bara yang membuat Reno menghembuskan nafasnya lelah.Â
Ternyata apa yang dikatakan oleh sahabatnya adalah keseriusan. Reno berharap jika Bara bercanda akan perkataannya kemarin. Namun, sosok Adeeva di dekatnya membuat bukti bahwa dia akan bekerja dengan seorang perempuan.
Benar-benar merepotkan, umpat Reno dalam hati dengan kepala mengangguk.
"Dan, Deeva. Ini Reno, asistenku dan yang akan menjadi teman kerjamu."Â
"Adeeva," sapanya mengulurkan tangannya ke depan.
"Reno," timpalnya menerima uluran tangan itu.Â
__ADS_1
Sebuah jabat tangan yang erat membuat keduanya tanpa sadar akan bersama selama beberapa hari ke depan. Entah takdir apa yang membawa keduanya bisa berada di tempat ini, di ruangan yang sama dengan beberapa berkas yang terlihat banyak.
"Jika Anda sudah tak sanggup, segera berikan filenya kepada saya. Biar pekerjaan ini tak tertunda sampai hari besok," kata Reno ketika keduanya hendak memulai bekerja.
Adeeva lekas menoleh. Dia mengernyitkan alisnya saat mendengar nada suara Reno seakan meremehkan kemampuannya.
"Apa Anda meremehkan kemampuan saya?" tanya Adeeva dengan formal.
"Saya tidak mengatakan itu tapi kebanyakan perempuan akan…"Â
"Jika Anda belum tahu saya, jangan pernah menilai saya di awal pertemuan," seru Adeeva dengan suara ketusnya. "Itu namanya tidak sopan!"Â
Mata Reno menajam. Dia bisa melihat kemarahan di wajah Adeeva saat ini.
"Maaf. Saya…"Â
"Lebih baik kunci mulut, Anda. Daripada bersuara tapi hanya bisa menyakiti hati orang."Â
Hati Reno tersentil. Dia merasa bersalah dengan ucapannya sendiri. Namun, selama ini, selama dirinya bekerja dengan perempuan, selalu saja seperti itu. Mereka selalu lambat dan tak bisa diandalkan.Â
"Jika Anda banyak melamun, pekerjaan itu tak bisa selesai dengan sendirinya," sindir Adeeva yang membuat mata Reno membulat.Â
Dia tak menyangka jika asisten Jonathan itu memiliki mulut pedas untuk melawan dirinya. Namun, tak mau memperpanjang masalah, Reno segera menghidupkan laptopnya dan mulai memperbaiki laporan keuangan yang kacau karena perilaku Ilham.
Mengingat pria itu entah kenapa membuat darah Reno mendidih. Pria tak tahu diuntung yang bisa-bisanya melakukan hal gila hanya untuk perempuan sinting seperti Narumi.Â
Dua wajah berbeda dengan tangan saling menari diatas keyboard komputer begitu terlihat serius. Mata keduanya benar-benar tak henti berpaling dari layar yang menyala.Â
Baik Reno maupun Adeeva keduanya tak ada yang berbicara. Seakan mereka saling beradu lomba dan membuktikan bahwa kemampuan keduanya setara dan sama.
"Sudah," kata Adeeva menyerahkan sebuah map di dekat tangan Reno.
Hal itu tentu membuat pria itu menatap tak percaya.
"Kenapa?" tanya Adeeva dengan wajah dingin. "Terkejut karena saya sudah selesai?"Â
Adeeva tersenyum miring. Dia mencondongkan kepalanya hingga wajah dua orang yang baru saling kenal itu saling berhadapan. Mata mereka begitu menatap lekat dengan arti yang berbeda di dalamnya.Â
"Jika kerjamu saja yang lambat, jangan pernah menilai seseorang dengan seenak jidat," bisik Adeeva menatap Reno dengan tajam.
~Bersambung
__ADS_1
Hiyaa Ren Ren! Hihi lawanmu itu bukan kaleng-kaleng mah. Dududu. Mangkanya jadi orang jangan suka nyembur duluan mulutnya. Kan malu!
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.