Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kesedihan Zelia


__ADS_3


...Aku bahagia melihat sahabatku sudah bisa merasakan kebahagiaan. Mereka adalah support sistemku sejak dulu. Jika mereka bahagia maka aku juga lebih bahagia. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Bisa-bisanya ganti baju aja sampai setengah jam. Gila-gila!" gerutu Almeera yang tak habis pikir.


Adeeva meringis malu. Membayangkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan suami membuatnya tak bisa menjelaskan kepada sahabatnya.


Namun, dirinya juga tak bisa menyalahkan Reno seorang, karena dirinya juga tak menolak ketika diajak bertarung. Pertarungan yang sangat membuatnya candu dan mesum secara bersamaan hingga lupa akan keberadaan sahabatnya dibawah. 


"Ya ya maaf. Tadi air di kamar mandi macet, jadi Reno benerin dulu," ujar Adeeva beralasan.


"Tau gitu, 'kan panggil Mas Bara bisa toh. Biar kalian gak repot sendiri," kata Almeera penuh perhatian.


"Iya, maaf oke. Kita kan cuma gak enak aja mau minta tolong," ucap Adeeva menjelaskan.


Almeera akhirnya cuma mengangguk pasrah. Ibu dua anak itu yang menyetir hari ini. Di sampingnya sosok Zelia yang duduk dengan tenang sambil menatap ke arah jalanan. 


Entah kenapa gadis itu sejak tadi hanya diam! Seakan ada sesuatu yang mengusik pikirannya.


"Kamu baik-baik aja, 'kan, Li?" tanya Adeeva yang sama menyadari sikap Zelia.


Gadis itu menoleh. Dia menganggukkan kepalanya seakan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, baik Adeeva maupun Almeera yang sudah sangat mengenal betul sifat mereka bertiga tak percaya.


"Jangan berbohong pada kami, Li. Kalau kamu memang gak siap buat cerita. Kita gak maksa kok tapi plis jangan bohong pada kami berdua," kata Almeera saat mobil mereka berhenti di lampu merah.


Terlihat wajah Zelia begitu tertekan. Dia menghapus air matanya yang mengalir tanpa pamit.


"Aku kepikiran sakitnya mamaku," kata Adeeva dengan jujur. "Entah kenapa semakin hari keadaan mama bukannya membaik malah semakin buruk." 


"Maksud kamu bagaimana?" tanya Zelia semakin memajukan tubuhnya. 


"Sejak semalam mama susah makan. Katanya dia lagi gak lapar. Tadi pagi juga begitu," ujarnya dengan suara serak seakan menahan tangisannya agar tak kembali menetes. 


"Terus gimana keadaan Tante sekarang?" 


"Aku dan Papa tadi pagi berhasil membujuknya dan Mama mau makan. Entahlah nanti siang, drama apalagi yang harus kulakukan supaya Mama mau makan," ujar Zelia terlihat begitu kebingungan.


"Tenanglah. Bicaralah pada mamamu pelan-pelan. Jangan memaksanya, Li. Tapi cobalah berusaha memahami keinginan mamamu. Oke?" 


Zelia mengangguk. Dia menghela nafas kasar mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. 

__ADS_1


Perlahan kendaraan yang dikemudikan oleh Almeera mulai terparkir rapi di parkiran taman. Ketiganya segera turun dan berjalan ke arah Sekolah Dasar yang biasanya menjadi pangkalan para penjual Cilur dan Milung.


"Nah itu!" seru Adeeva dengan heboh.


Mata Almeera berbinar. Dia begitu bahagia hanya dengan melihat gerobak penjual cemilan kesukaannya.


Akhirnya mereka segera menyebrang jalan raya untuk bisa sampai ke sana. Lalu ketiganya segera memesan makanan yang harganya sangat amat murah


"Lima ribuan 6 ya, Pak," kata Almeera yang membuat Adeeva dan Zelia terperangah.


"Buat siapa aja, Ra?" 


"Ya buat anak-anakku sama suamiku," ujarnya dengan santai.


Mereka benar-benar takjub akan nafsu makan Almeera kali ini. Perempuan itu benar-benar bisa memakan semuanya tanpa mengenal lapar atau kenyang.


"Kenapa kalian bisa tiba-tiba ingat makanan ini?" tanya Adeeva yang hampir lupa menanyakan ini.


"Tadi pagi dia chat aku duluan, Va," ujar Zelia menunjuk Almeera dengan dagunya. "Tiba-tiba bilang temenin aku makan cilur dan milung dong!" 


"Hee dasar. Kek orang ngidam aja," sindir Adeeva yang membuat Almeera membulatkan matanya.


"Ngidam?" ulangnya yang langsung mendapatkan anggukan kepala dua sahabatnya. "Kayaknya gak mungkin deh." 


"Kok gak mungkin?" tanya Zelia dengan bingung.


"Udah dateng bulan?" tanya Adeeva menyahuti.


"Belum waktunya woy. Kurang beberapa hari lagi jadwal mens ku bulan ini," kata Almeera dengan apa adanya.


"Yaudah. Penting jangan lupa di cek-cek. Kan kalian berdua sudah kembali bersama," ujar Adeeva mengingatkan.


"Pastinya." 


Pembicaraan mereka berhenti tatkala penjual mulai memberikan pesanan mereka bertiga yang akan dimakan dulu.


"Kami tunggu di kursi taman itu ya, Pak. Kalau sudah selesai bisa antar kesana ndak?" 


"Bisa kok, Neng."


Akhirnya ketiga orang itu duduk di kursi taman sambil menunggu pesanan mereka yang belum jadi.


Almeera benar-benar begitu kalap. Bahkan ibu dua anak itu dengan begitu bersemangat mengunyah cilor di tangannya. 


"Pelan-pelan, Istrinya Pak Bara. Cilormu nggak bakal kabur," sindir Adeeva dengan diiringi kekehan lucu. 

__ADS_1


"Ini beneran enak loh!" seru Almeera setelah menelan kunyahannya. 


"Ya memang enak. Kalau gak enak kita gak bakal jadi langganan," sindir Zelia dengan tertawa. 


Almeera dan Adeeva ikut tertawa. Mereka benar-benar menikmati waktu bertiga yang bisa kembali ketiganya rasakan. Jika dulu saat kuliah, waktu seperti ini bisa mereka rasakan setiap hari.


Namun, setelah menikah, baik Almeera, Adeeva maupun Zelia sedikit lebih sulit. Zelia dan Adeeva yang bekerja sedangkan Almeera sibuk dengan keluarganya.


"Bagaimana kabar Kak Jim, Li?" tanya Almeera pada kekasih kakaknya.


"Aku bahkan tak tahu. Dia sangat sibuk sekali akhir-akhir ini, Ra," ujar Zelia dengan wajah sedikit lesu.


Almeera menarik nafasnya pelan. Sepertinya pertanyaannya barusan adalah kesalahan. Namun, jujur di dasar hatinya dia merindukan kakaknya. Beberapa hari ini pesannya tak di balas bahkan nomornya tak aktif. 


"Tenanglah, Li!" kata Adeeva mengelus punggung sahabatnya itu. "Kak Jim pasti sedang bekerja." 


Zelia menghela nafas kasarnya yang entah keberapa. Dia menatap langit seperti mencoba menerima takdir yang dia jalani. 


Pikiran tentang mamanya dan sang kekasih bergelut di pikirannya beberapa hari ini. Entah kenapa dia mulai merasa takut. Takut kehilangan keduanya tanpa bisa dipertahankan.


Almeera yang memulai pembahasan itu tentu merasa bersalah.


"Li, maaf…" 


Zelia menggeleng. Dia menatap sosok adik dari kekasihnya dengan memaksakan senyuman.


"Gapapa. Ini kan udah resiko memilih jatuh cinta dan menerima cinta seorang agen rahasia seperti Kak Jim. Aku harus bisa menerima tanggung jawabnya yang besar ke negara," ujarnya dengan mencoba menerima lapang dada. "Tapi aku juga takut." 


"Takut apa?" tanya Adeeva dengan menatap sahabatnya sendu.


"Aku takut kehilangan semuanya." 


Ah Zelia akhirnya tak bisa menahan air matanya lagi. Dia menangis terisak ketika bayangan tentang kesehatan mamanya yang semakin memburuk.


Permintaan mamanya yang ingin cepat dirinya menikah agar ada seseorang yang menjaganya. Lalu kekasihnya yang jarang mengabari karena tugas. Tentu semakin membuat Zelia ada diambang kebingungan.


"Maafkan aku, Li. Sebagai adiknya Kak Jim, aku…" 


Zelia menggeleng. Dia menggenggam tangan sahabatnya dengan lembut.


"Ini bukan kesalahanmu. Ini perkara hati yang tak bisa memilih harus jatuh cinta pada siapa, Ra," kata Zelia dengan apa adanya. "Hatiku memilihnya dan aku jatuh cinta kepada Kak Jim. Maka apapun yang terjadi, ini adalah konsekuensi untukku yang harus aku terima." 


~Bersambung


Pokoknya cerita Bang Jim ya begini. Gak bakal ada Bang Jim lagi kayaknya tapi liat nanti.

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2