Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kue Kacang


__ADS_3


...Seberapa dewasanya anak perempuan. Dia tetaplah anak kecil untuk ayahnya....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Ada apa, Sayang?" tanya Bara yang melihat perubahan pada istrinya. 


Sejak kepulangan Almeera dengan sahabat-sahabatnya sampai mereka mengantar Zelia ke rumahnya. Bara melihat perbedaan pada istrinya itu. Almeera terlihat muram dengan wajah seakan memikirkan sesuatu hal.


"Apa kabar Kak Jimmy, Mas?" tanya Almeera pada Bara. "Dia tak ada kabar apapun beberapa hari ini dan…" 


"Dan apa?" tanya Bara yang melihat istrinya tak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Mamanya Zelia lagi sakit," lanjutnya dengan menghapus air mata yang menetes tanpa pamit.


"Terus apa hubungannya dengan Kak Jim?" tanya Bara yang tak paham.


"Zelia mengatakan mamanya tak mau makan. Aku berpikir pasti Tante sedang banyak pikiran," lirihnya dengan lesu. "Apa Tante memikirkan nasib Zelia yang tak kunjung menikah?" 


Bara menarik nafasnya begitu dalam. Dia baru paham tentang maksud istrinya itu. Namun, Bara juga tak memiliki jawaban. 


"Untuk urusan itu bukan perihal masalah kita, Sayang," kata Bara menasehati.


"Tapi Kak Jim adalah kakakku," ujar Almeera dengan pelan. "Seharusnya kakak memberikan kepastian pada Zelia dan orang tuanya. Siapa yang mau melihat anaknya yang hampir berumur 40 tahun tapi belum menikah?" 


Almeera lagi-lagi harus menepis air mata yang kembali mengalir. Entah kenapa dia semellow ini. Merasa ikut sakit hati saat hubungan temannya menggantung. Tak ada kepastian yang pasti dan membuatnya takut. 


Almeera tak akan berada di pihak kakaknya. Dia akan ada di pihak tengah. Jika Jimmy menyakiti sahabatnya maka dia akan ada di garda terdepan membela Zelia. Begitu pun sebaliknya.


Dia benar-benar netral kali ini. Kenapa? Karena dua-duanya adalah orang yang sangat dia sayangi.


"Mas tau tapi Kak Jim bukan orang biasa atau seperti Reno. Yang bisa menikah dengan mudah," ujar Bara penuh kehati-hatian. "Keselamatan Kak Jim juga dalam bahaya. Identitasnya memang tersembunyi tapi jika dia menikah dan identitasnya terbongkar maka bagaimana dengan istri dan anak-anaknya?" 


Almeera merenung. Dia mendengar segala hal yang dikatakan oleh suaminya. 


"Kak Jim cuma ingin menyelesaikan pekerjaannya saja. Setelah itu dia akan berhenti, 'kan? Jadi berikan dia waktu sedikit lagi untuk bekerja." 


Almeera tak memberikan jawaban. Perempuan itu memilih menyandarkan punggungnya dengan menatap jalanan. Dia tak tahu kenapa harus ikut memikirkan masalah yang rumit ini.


Biasanya dia adalah manusia paling bodo amat. Namun, mungkin perasaannya karena di antara sahabat dan kakak kandungnya yang membuatnya ikut-ikut berpikir.


Akhirnya mobil yang dikendarai Bara sampai di rumah orang tua Almeera. Ya, keduanya berniat menjemput Bia dan Abraham. 


"Mas, aku mau ke kamar mandi dulu yah," pamit Almeera saat keduanya baru saja keluar dari mobil.


"Bukankah kamu baru saja selesai buang air?" tanya Bara yang sangat ingat betul istrinya juga ke kamar mandi sebelum pulang dari rumah Zelia.


"Mungkin karena aku banyak minum, Mas," sahut Almeera yang mulai berjalan terburu-buru.


"Jangan lari, Sayang. Hati-hati!" 


Almeera hanya mengacungkan jempolnya. Bara menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya iti. Mood Almeera benar-benar berubah-ubah akhir-akhir ini. Namun, entah kenapa ayah dua anak itu merasa bahagia.

__ADS_1


Menurutnya, istrinya semakin manja dan tak malu untuk meminta duluan!


"Papa!" teriak Bia dengan heboh saat Bara baru saja keluar dari pintu penghubung antara rumah dan taman belakang. "Lihat, Pa! Kakek punya kelinci." 


Bia menarik tangan papanya menuju tiga kandang besar yang berisi kelinci kecil-kecil.


"Sejak kapan Daddy merawat kelinci?" tanya Bara pada mertuanya.


"Sejak kemarin. Mangkanya Daddy meminta cucu-cucu diantar kesini agar mereka tahu dan betah diam di sini," kata Darren apa adanya. 


"Kalau anak-anak disini terus. Almeera pasti akan mengomel, Daddy," ujar Bara yang duduk di sebelah mertuanya.


"Biarkan saja istrimu mengomel! Dia selalu tak mengizinkan anak-anak tinggal disini lama-lama. Padahal kami berdua kesepian," ucap Darren dengan menatap Bia dan Abraham.


Bara menghela nafas pelan. Dia memang membenarkan ucapan mertuanya ini. Rumah besar ini hanya ditinggali para pelayan, Papa Darren dan Mama Tari. Jika ada Kak Jim, keduanya masih ada teman.


Namun, jika Kak Jim sudah berangkat lagi. Maka hanya tinggal mereka berdua. Kak Jonathan dan istrinya ada di rumah mereka sendiri. Lalu dirinya dan Almeera juga berpisah. 


"Almeera juga kesepian kalau tak ada anak-anak, Dad. Mangkanya dia kadang gak betah kalau gak ada anak-anak." 


Darren mengangguk. "Mangkanya kalian cepat berikan cucu lagi pada Daddy. Biar rumah ini makin ramai."


Bara tersenyum. Dia memeluk ayah mertuanya yang pernah dia sakiti dan lukai. Pernah dilawan dengan mulutnya sendiri. Namun, lihatlah sekarang!


Papa Darren tak menaruh dendam. Bahkan pria tua itu semakin mendukungnya menjadi sosok yang lebih baik. 


"Doakan saja, Dad. Masih proses," kata Bara penuh harap.


"Tanyakan pada istrimu tentang masa menstruasinya. Jangan sampai kalian terlambat mengetahui keberadaannya. Paham?" 


...🌴🌴🌴...


Di dalam rumah.


Almeera yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tanpa sengaja mencium aroma kue kesukaannya. Langkah kakinya segera berjalan menuju asal dari aroma kue ini.


Ternyata kakinya membawa Almeera menuju dapur. Disana, dia bisa melihat mamanya yang sedang mengecek kue buatannya apakah sudah matanya.


Almeera berjalan mengendap-ngendap. Dia ingin membuat kejutan untuk mamanya.


"Siapa?" tanya Mama Tari sambil memegang kedua tangan yang menutup matanya.


"Tebak," ujar Almeera merubah suaranya.


"Meera, 'kan?" 


Almeera membuka tangannya. Dia memeluk mamanya dari belakang dan mencium pipinya.


"Mama selalu tau anak-anaknya," ujar Almeera dengan tersenyum.


"Pastinya. Kalian adalah anak-anak Mama yang paling Mama sayang," balas Mama Tari dengan ikut tersenyum.


"Mama lagi bikin kue kesukaan aku yah?" 


"Iya. Nih coba! Enak gak?" tanya Mama Tari mengambilkan sepotong kue lalu menyodorkan ke mulut anaknya. 

__ADS_1


Almeera membuka mulutnya dan mulai menerima suapan itu. Rasa kacang dengan bahan lainnya begitu terasa enak hingga membuatnya mengacungkan jempolnya. 


"Dari dulu kue kacang Mama, paling ter debest!" 


"Kamu sama kakakmu memang pandai memuji Mama," ujar Mama Tari memukul lengan anaknya. "Sana bawa kue ini ke taman belakang." 


Almeera membawa dua buah toples berisi kue kacang. Mulutnya juga sambil mengunyah makanan. Hal itu tentu membuat Bara yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kalau makan duduk, Sayang," kata Bara saat mengambil toples itu dari tangan istrinya.  


Almeera nyengir kuda. "Maaf, Mas. Kuenya enak sih, mangkanya Meera gak sabar buat makan." 


"Lain kali gak boleh yah." 


"Siap." 


Almeera akhirnya memanggil kedua anaknya yang asyik bermain dengan kelinci. Mereka meminta Bia dan Abraham untuk cuci tangan. 


"Ngapain Papa ngerawat kelinci segala?" 


"Biar anak-anakmu betah disini," balas Darren dengan jujur.


Bibir Meera mencebik. Namun, ibu dua anak itu juga dengan lancar menyuapkan kue kacang ke dalam mulutnya.


"Tanpa kelinci pun, Bia sama Abra betah disini," ujar Meera dengan mulut mengunyah.


"Tapi mereka juga takut sama kamu." 


Almeera terkekeh. Dia beranjak berdiri dan memilih duduk di pangkuan papanya. "Aku akan tinggal disini kalau hamil cucu Papa lagi." 


Mata Darren membulat. Dia menatap anaknya yang duduk di pangkuannya. Almeera memang anak perempuannya yang manja. 


"Beneran?" 


"Iya, Papa." 


"Kamu sekarang lagi hamil?" tanya Darren antusias.


"Belum lah, Pa," sahut Meera mulai beranjak dan kembali duduk lalu mengambil satu toples kue kering dan membawanya ke pangkuan. "Ini aja belum waktunya aku dapet tamu bulanan." 


"Tapi Meera doyan makan loh, Pa," celetuk Bara yang membuat Darren menoleh.


"Serius, Bar?" 


"Iya, Pa." 


"Lebih baik kamu cek sekarang, Ra! Takutnya kamu memang udah hamil." 


~Bersambung


Mbak Meera beneran hamil gak yah? hayoo?


Kalian siap gak yah. Kalau novel ini otw tamat. Terus Lanjut Syakir Humai dan Manggala Fayola. Tapi gak dua-duanya langsung publish. Gantian!


Kalau kalian minta dua-duanya langsung. 1 novel 1 bab, haha. Kalau publish 1 novel, bisa update 2-3 bab perharinya. Dah pilih!

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote dulu. Biar author mangat update


__ADS_2